Orang Ketiga
Awalnya hidupku
seperti layakmya orang normal biasanya. Namun, seperti waktu yang tak bisa
berhenti sejenak, hidupku seketika berubah drastis.
Aku tiba-tiba menjadi
gadis yang jahat. Jika aku melepas topengku, semua mata akan tahu diriku yang
sebenarnya.
Dari luar, aku
terlihat seperti ibu peri ataupun malaikat baik hati. Namun, kau tak akan tahu
aku tak sebaik yang kau pikirkan.
Tentu, kau akan
bertanya-tanya mengapa aku sebenarnya?
Kenapa aku menyebut
diriku “gadis yang jahat”? apa yang membuatku berbeda dari gadis lainnya?
Kau pasti tak akan
percaya, aku jatuh cinta pada seseorang yang tak seharusnya ku cintai. Tak
seharusnya aku memiliki perasaan aneh terhadapnya dan tak semestinya aku
memimpikan memilikinya seutuhnya.
Apakah menurutmu,
cintaku bertepuk sebelah tangan?
Kau salah. Ia juga
memiliki perasaan yang sama seperti halnya diriku. Namun, perasaan ini tak pada
tempatnya.
Itulah mengapa aku
menyebut diriku jahat.
Kau masih bingung?
Aku akan mengungkapkan jati diriku yang sebenarnya.
Aku adalah seorang
gadis lajang yang mencintai seorang pria yang telah berkeluarga. Pria itu sudah
memiliki keluarga bahagia sebelum aku hadir ditengah kehidupannya.
Dulu, ia sangat
menyayangi istri dan buah hati kecilnya. Namun, suatu hari ia tergoda oleh
pesonaku dan jatuh kedalam pelukanku.
Apakah ia pria kaya?
Kebetulan memang begitu adanya. Lalu, kau pikir karena ia pria kaya, lalu aku
jatuh hati dan mengambil hartanya?
Itukah yang kau
pikirkan tentang perempuan seperti diriku? Kau salah besar.
Apakah kalau ku
katakan karena “cinta” tak masuk akal olehmu? Apakah perempuan biasa sepertiku
tak bisa mengenal dan merasakan cinta?
Walaupun ku tahu
cinta yang kurasakan saat ini adalah salah. Apakah perempuan sepertiku tak
pantas untuk dicintai atau bahkan aku bisa mendapatkan sosok pria yang pantas
untukku cintai, yang tak lain bukan suami orang?
Bayangkan bagaimana
jika aku diposisi seorang istri yang
dilukai perasaannya oleh suaminya sendiri karena wanita lain?
Begitukah yang kau
pikirkan tentangku? Lantas karena seorang istri, aku tak pantas merebut
kebahagiaannya dan seharusnya aku pergi ke neraka karena perbuatanku.
Apakah perempuan
seperti diriku harus kau hakimi? Aku bahkan tak pernah mengganggu kehidupanmu.
Lalu, kenapa kau mencampuri dan mengusik kehidupanku?
Aku mencintai pria
itu. Begitu pula dirinya. Bahkan, ia mengatakan ia sanggup meninggalkan
kehidupannya demi diriku. Sungguh, aku tak percaya.
Lalu, saat pria yang
sangat kucintai berani mengorbankan segalanya, aku malah meninggalkannya?
Niatan seperti itu
pun tak pernah terlintas dipikirkanku. Kalau kau pikir, aku telah memberikan
segalanya padanya bahkan kehormatanku, itu salah.
Aku mencintainya
bukan karena materi, ia pun begitu. Ia mencintaiku bukan karena paras ataupun
tubuhku..
Aku bahagia saat
tangannya menggengam erat tanganku, saat jemarinya membelai rambutku hingga
mencubit pipiku. Aku bahagia saat ia membisikkan “aku mencintaimu”
Aku bahagia saat ia
memelukku erat, mencium kening, pipi hingga bibirku.
Namun, yang membuatku
paling bahagia adalah ia berada disisiku walaupun aku tau waktunya terbagi dua.
Tak hanya kepadaku namun untuk keluarga kecilnya.
Aku tak pernah
memintanya untuk meninggalkan keluarga kecilnya hanya untuk perempuan seperti
diriku. Namun, ia rela meninggalkan itu semua untuk diriku.
Bukankah itu sangat
membingungkan? Disatu sisi, aku tak ingin disebut orang ketiga maupun perebut
suami orang. Namun, disisi lainnya, aku mencintai pria itu, Tuhan.
Sedangkan, apakah aku
bisa bersatu dengannya namun, disisi lain aku membuat orang lain menangis dan
menderita karena kebahagiaanku?
Aku sungguh masih
memikirkan hal itu. Kalau, aku mengabaikan hal itu sudah sejak dulu aku meminta
pria itu meninggalkan kehidupan lamanya dan membangun kehidupan baru bersamaku.
Namun, pikiran jahat
itu tak kuturuti sampai hari ini. Karena untuk saat ini, aku hanya membutuhkan
dia disisiku, tak ada yang lain.
Pria ini sungguh
membuatku jatuh cinta. Ia pekerja keras dan sangat penyayang.
Yang istimewa, ketika
pertama kali menatap matanya, jantungku berdebar kencang dan timbul perasaan
aneh seperti tiba-tiba aku memikirkannya tanpa sebab.
Awalnya kedekatan
kami hanya sebagai partner kerja, ia adalah atasanku dan aku adalah bawahannya.
Namun, waktu yang lebih banyak kuhabiskan dikantor, membuatku terjebak menghabiskan
malamku bersamanya.
Mungkin, karena
kebiasaan seperti itu timbul benih-benih cinta.
Itu adalah hal diluar
kendaliku dan tanpa sengaja. Aku tak kuasa menahannya sampai memberanikan diri
mengungkapkan isi hatiku dengan kenyakinan ia akan menolak perasaanku.
Seperti tersambar
petir, ia malah memelukku dan membalas perasaanku. Sungguh diluar dugaanku,
bukan?
Sepanjang apapun aku
menjelaskan, tetap dimatamu aku adalah tersangka, aku yang salah telah merusak
rumah tangga orang.
Ia pernah mengatakan,
cinta itu kenyamanan, percaya dan dukungan. Kalau menurutmu tidak, aku tidak
peduli.
Aku akan melanjutkan
kisahku bersamanya di cerita selanjutnya.
Selamat menantikan..
0 komentar:
Posting Komentar