365 Hari Bersamamu
Hari ini tepat 365 hari yang sudah kita lalui bersama.
Tentang kamu?
Bagaimana
rasanya melewatkan satu tahun bersamamu?
Awal ketemu,
kau memang bukan tipe orang yang banyak bicara.
Cenderung
pendiam.
Sehinga aku
yang bawel bisa memecah suasana dan memancingmu bicara.
Mengenalmu
pertama kali, kau bukan sosok yang penuh dengan kepura-puraan.
Kau memang
apa adanya.
Aku berani
menjadi diriku yang apa adanya ketika bersamamu.
Aku senang
saat ku tau, kesamaan kita tak jauh berbeda.
Aku suka
membaca, kau pun begitu.
Aku suka
menulis dan kau penasaran ingin membaca tulisanku.
Aku merasa
tersanjung saat kamu menyukai tulisan di blogku dan itu adalah hal pertama kau
menyukaiku.
Aku suka
menggambar, kau pun juga mengomentari gambarku bahwa kau menyukainya.
Aku senang
melihat orang lain bisa menikmati tulisan dan gambarku.
Aku juga suka
menonton anime dan kesukaan kita pun sama.
Disitulah
awal mula rasa ketertarikan itu muncul.
Kau bukan sosok romantic, kau juga bukan sosok yang pandai
merangkai kata.
Namun, dari
matamu seolah terpancar kehadiranku sangat berarti bagimu.
Apakah begitu?
Kau tak
jarang menasehatiku bahkan memarahiku saat aku terlihat bodoh, saat aku keras
kepala karena susah diberitahu.
Aku tau
maksudmu baik, namun aku kadang tak bisa mengerti sampai pada akhirnya ucapanmu
benar dan aku sendiri kena batunya.
Kau bahkan
menyemangatiku saat aku memberi berita bahwa aku ikut tes cpns.
Disitu kau
memberikanku dukungan dan hadiah penyemangat jika aku lulus tes.
Aku yang tak
percaya diri kala itu, seperti memberi khotbah jumatan kau menasehatiku.
Hingga
dipikiranku saat itu, aku harus lulus. Sampai aku belajar sebelum mendekati
hari tes. Namun, usahaku kurang keras rupanya. Aku gagal dan ku lihat wajahmu
kecewa saat itu.
Walau kau
mencoba menahan biasa saja, tapi aku tau aku benar-benar mengecewakan kekasihku.
Tak Cuma itu. dulu kau sangat emosian. Segala sesuatu tak
terkontrol dan saat kau marah, emosimu meledak-ledak dan akhirnya “bush”
meledak seperti bom atom dan mengani sasarannya. Akulah yang menjadi sasaran
amarahmu.
Tapi, sejauh
ini kurasa sudah mulai berkurang. Seperti mempunyai kata magic, kata-kata itu
mampu mengurangi emosimu.
Senang sih,
hanya saja aku ingin kau bisa jauh lebih menahan dan mengontrol emosi. Karena
itu juga baik untuk dirimu.
Aku tak ingin
emosimu semakin memuncak hingga kau tak segan-segan bermain tangan.
Jika itu
terjadi, mungkin hari itu aku memutuskan untuk pergi.
Tetapi, aku
masih yakin kau bukan orang seperti itu, seemosi-emosinya dirimu.
Kau itu cengeng. Dibalik kata-kata kasar yang terkadang keluar
dari mulutmu, ternyata aku bisa melihat airmata jatuh dipipimu.
Ingat, saat
aku merasa hubungan ini tak akan bisa berjalan dengan baik, saat itu kau
menangis dihadapanku.
Mengungkapkan
seluruh perasaanku dan disitu membuatku terdiam.
Tak pernah
ada laki-laki yang menangis untukku seperti dirimu. Entah mengapa aku merasa
istimewa.
Bisa saja itu
tangis kepura-puraan, tapi aku tak melihat ada kebohongan dari sorot mata itu.
Hanya pelukan
yang mampu mengobati rasa sesak dihati.
Aku selalu ingin
menjadi rumah bagimu, dan aku selalu ingin menjadi pelukan dan sandaranmu tiap
saat.
Kau juga sering kali membuatku menangis.
Pernah
dengar? Seseorang yang paling kamu sayangi adalah seseorang yang juga akan
sering membuatmu menangis dan terluka.
Apakah itu
tandanya seseorang itu sangat berarti dihidupmu?
Tapi, mengapa
harus selalu membuatmu menangis dan terluka? Kenapa bukan bahagia yang ia
selalu berikan?
Memang benar
seperti itu. Tapi, kau tak akan tau bahwa seperti itulah cinta semestinya.
Cinta
membuatmu bahagia tapi orang yang kamu cintai bisa membuatmu menangis karena
memikirkannya.
Cinta juga membuat perasaanmu campur aduk.
Ada rasa
kecewa, marah, sebal.
Itulah
bumbu-bumbu manis karena cinta.
Suatu saat
aku akan rindu bertengkar denganmu ketika hari dimana aku tau kau memutuskan
untuk pergi.
Perpisahan
itu menyakitkan karena itu tetaplah bersamaku tanpa memikirkan kata perpisahan
dikepalamu.
Aku tau,
kedepan semakin akan ada banyak hal yang terjadi yang kita tidak tau, mungkin
rintangan atau ujian untuk membuat jarak diantara aku dan kamu.
Pegang tangan
ini, bahwa kita mampu melewati itu semua.
Peluk tubuh
ini saat merasa sesak didada.
Ucapkan maaf
tanpa malu untuk mengakui kesalahan.
Jaga hatimu
yang hanya untukku karena hubungan yang kita bina ini tanpa kepalsuan.
Jangan sampai
pengkhianatan membuat usaha kita selama ini untuk terus bersama menjadi sia-sia.
Ku rasa
begitu saja sudah cukup.
Bisa bertemu denganmu bukan rencanaku dan bisa bersama denganmu
hingga saat ini juga bukan kuasaku.
Sampai saat
ini tujan masih menakdirkan bersama.
Aku tak ingin
tuhan bosan, lalu membuat jarak diantara kita. Tidak! itu bukan inginku.
Apa yang
terjadi hari ini bersama denganmu, aku masih bisa melewatkan hari esok dan
seterusnya denganmu.
Aku hanya
berdoa pada tuhan dan meminta kepadanya untuk mengizinkan kebersamaan ini terus
ada dan menakdirkan kebersamaan ini hanya bisa terpisahkan oleh maut.
Itu doaku.
Aku hanya
ingin bisa melewatkan suka dan duka bersamamu.
Masih banyak hal diduniaku yang ingin ku bagi denganmu esok, lusa
hingga waktu berhenti.
Masih ingin
bersepeda denganmu, menonton film denganmu, mencoba makanan-makanan baru
denganmu, mengabadikan moment-moment bersamamu dalam sebuah gambar.
Namun, satu
inginku yang belum terwujud. Keinginan sekaligus harapan.
Kau membawa
dan mengenalkanku pada orangtuamu.
Memegang erat
tanganku kala rasa gugup menyelimuti dan membisikkan “tak ada yang perlu kamu
takuti.”
Aku menunggu
hari itu.
Memang
salahku. Karena sikapku dan kata-kata yang ku utarakan bahwa aku belum merasa
yakin kala itu, membuatmu tak akan memaksaku bertemu kedua orang tuamu.
Kau pernah
bilang “pernikahan itu tidak hanya untuk dua orang tapi juga dua keluarga”.
Ucapanmu
benar. Aku tak mungkin membuatmu meninggalkan keluarga demi diriku.
Bersama
dengan keluargamu jauh lebih lama ketimbang aku.
Untuk saat
ini, aku hanya perlu memperbaiki diri, membuat kedua orang tuamu menyukaiku dan
berusaha membuat keluarga kita bisa saling melengkapi.
Saat kau
berkata “kau mampu mengambil hatiku. Masa tidak untuk orang tuaku?”
Ucapanmu saat
itu seolah-olah membuatku yakin bahwa aku pasti bisa membuat orang tuamu
menyukaiku.
Aku menunggu hari itu tiba.
Itu saja.
agar aku masih mempunyai banyak waktu yang bisa ku berikan untuk membuat hati
orang tuamu senang.
Aku tidak
menuntutmu untuk cepat-cepat menikahiku.
Kita jalani
saja ini semua.
Kalau kau
memang jodohku, akan ada hari dimana kau ingin hidup bersamaku.
Kalau kau
memang takdirku, akan ada hari dimana kau dengan berani bersama keluargamu datang
untuk melamarku.
Selalu ku
panjatkan doa kepada tuhan yang terbaik untuk hubungan ini.
Karena hanya
dia lah sutradaranya. Kita hanya pemain yang menjalankan scenario yang sudah
ditulisnya.