Seseorang selalu ingin didengar dan punya tempat untuk bercerita. Sedang aku memilih berteman dengan sepi. Di satu ruang aku mampu menumpahkan segala lara yg tak mampu kuutarakan lewat kata. Tak apa, karna ini tentang dia yg membuatku jatuh cinta. Kadang kecewa, kadang juga bahagia. Meski dia sering kali menciptakan mendung dan airmata di langitku. Tapi, aku percaya bukankah akan ada pelangi setelahnya?

Sabtu, 13 Mei 2017

Kau adalah duniaku sekarang

Mei 13, 2017 Posted by Debby Nuramiruddin No comments
Kau adalah duniaku sekarang


Pertemuan denganmu seperti teka-teki yang harus ku pecahkan atau potongan-potongan puzzle yang mesti ku susun rapi.
Tak pernah ku duga aku mampu menyelesaikan. Bersama denganmu kini, seperti soal matematika yang kadang sulit dimengerti dan perlu ekstra belajar memahami untuk mudah menjawab.
Aku jatuh cinta tiap kali aku mampu menyelesaikan satu soal matematika hingga aku beralih ke soal lainnya, membuat rasa penasaranku semakin meningkat, menguji kemampuanku untuk berhasil menyelesaikannya.
Tapi, cinta bukanlah seperti soal ataupun rumus-rumus matematika yang rumit. Cinta tak membutuhkan rumus apapun. Bahkan cinta lebih rumit daripada rumus-rumus itu.
Berawal dari sebuah cinta, aku memilikimu diduniaku sekarang.
Kau memberiku cinta yang aneh, yang belum pernah ku rasakan namun membuatku kecanduan walau aku pernah terluka karena cinta itu sendiri.
Dibalik rasa cinta yang tersembunyi itu, Tuhan memang telah sengaja mempertemukanku denganmu dalam dimensi yang tak biasa, yang membuatku sadar bahwa masih ada cinta yang lain. Tuhan ingin menghentikanku yang terlalu lama terlarut dalam kesendirian, kesedihan dan penantianku yang tak kunjung usai.
Entah mengapa, melalui senyumanmu yang tulus kala kita bertemu, tanpa sadar pelan-pelan membiarkanmu mengetuk pintu hatiku lalu memasukinya. Memang benar, kita tak akan pernah tahu kapan cinta itu akan datang. Yang ku tahu, tiba-tiba cinta datang menghampiriku.
Kau adalah manusia favoritku yang paling menyebalkan, dan jatuh cinta padamu adalah kesalahan terindah yang pernah aku buat didalam hidupku.
Walau kau tak seromantis romeo, sikapmu yang terkesan apa adanya mampu melumpuhkan hatiku. Aku bukan pula seorang Juliet untukmu. Kita bukan pasangan drama romeo dan Juliet. Kita hanya pasangan biasa yang mempunyai rasa yang tak biasa.
Kau bukan orang yang pandai bernyanyi sambil bermain gitar atau membuatkan puisi romantis untukku. walau ku akui perempuan memang menyukai hal-hal yang berbau romantis. Tapi, tidak dengan diriku. Aku lebih menyukai seseorang yang dapat membuatku tersenyum dan tertawa karenanya. Bukan karena kata-kata ataupun tingkahnya membuatku terpesona.
Selain itu, kau mampu menerima segala keanehan yang ku miliki. Aku yang tak secantik putri negeri dongeng juga mampu menaklukkan hatimu, membuat jantungmu berdebar-debar untuk pertama kali.
Kau bilang, aku unik. Keunikkan itu membuat kau diam-diam telah jatuh hati.
Hal itulah yang ku butuhkan dari seseorang yang ingin mendapatkan perhatian sekaligus cinta dariku. Sikapmu yang juga sederhana kala itu mampu menaruh namamu diantara sekian banyak nama yang berpengaruh bahkan penting dikehidupanku. Namun, hanya namamu yang mempunyai tempat teristimewa dihatiku.
Bagiku, kau seperti matahari yang ku lihat setiap pagi hingga tengah hari, mampu menyinariku dengan senyumanmu itu.
Kau seperti bintang yang berkedap-kedip menemani malamku. Saat bersedih, kau seperti payung teduh bagiku dan pelangi yang muncul setelah hujan turun.
Walau sifatmu terkesan cuek, satu yang akhirnya ku ketahui tentang dirimu yaitu hatimu seperti boneka hello kitty. Bukan bermaksud meledek, aku tahu kau begitu menyayangiku walaupun aku sering membuatmu sebal, kecewa dan marah. Kehadiranku dihidupmu tanpa kau sadari memberi pengaruh penting.
Aku tau ini baru dimulai tapi aku akan tetap menjaga yang menjadi milikku dan tak akan melepaskannya. Tuhan yang menakdirkan bersama, maka dengan cara Tuhan juga yang mengakhiri kisah ini.
Tapi, aku tak ingin memikirkan hal yang belum terjadi. Aku selalu berkata dalam hatiku, “berikan aku kesempatan merasakan cinta yang seperti ini, Tuhan. aku ingin tahu apakah ini nyata”.
Kenyataan yang mesti ku akui, aku bahagia memilikimu diduniaku sekarang. Aku ingin berbagi duniaku yang belum kau tahu sepenuhnya hanya padamu. Maka izinkan kehadiranku lebih lama dalam hidupmu tanpa ada rasa ingin pergi menjauh lalu, menghilang dariku.
Kenyataan yang ingin ku katakan, bertemu denganmu adalah kejutan terbaikku. Aku jatuh cinta sebanyak kau jatuh cinta padaku. Aku ingin memelukmu erat lebih lama dari biasanya tanpa ingin kulepaskan.
Tetaplah bersamaku selama kau ingin kita tetap bersama. Hari-hariku pasti akan berbeda, kehilangan yang akan kurasakan saat sosokmu tak lagi menemani sepiku.

(Teruntuk : F.M)




Seorang Programmer

Mei 13, 2017 Posted by Debby Nuramiruddin No comments

Seorang Programmer



Bagi banyak orang sudah tak asing lagi dengan kata “programmer”, sebuah profesi dibidang teknologi dan informasi dimana setiap kurun waktu perkembangannya sudah tak diragukan lagi.
Namun, ini bukan tentang ceritaku dan juga bidangku bukan itu. Aku yang sudah belajar dan menekuni akuntansi sejak pendidikan di sekolah menengah atas hingga perguruan tinggi, mengagumi profesi seorang programmer.
Bagiku, mereka yang berkecimpung didunia itu adalah orang-orang hebat dan jenius. 

Bagaimana tidak?
Bayangkan, mereka mampu menciptakan sebuah sistem atau aplikasi yang dapat digunakan dan dimanfaatkan bagi banyak orang dipenjuru dunia.
Sebagai contoh “facebook”. Jutaan orang bahkan lebih telah menggunakan facebook, dari usia tua hingga muda, dari kalangan biasa hingga pejabat tinggi, menjadikan facebook sebagai media berinteraksi dengan banyak orang dari belahan dunia tanpa perlu bertatap muka secara langsung.
Tidak hanya facebook, banyak juga sistem atau aplikasi yang diciptakan oleh anak negeri, sebuah karya anak bangsa yang tak kalah hebatnya.

Aku mengagumi profesi yang bukan dibidangku. “Mengagumi”, apakah kau pikir berarti ada rasa ketertarikan untuk mengenal dan mempelajari itu lebih dalam? atau apakah ada niat dalam diriku?
Boleh ku katakan jujur?

Walaupun aku mengatakan kekagumanku, tak ada rasa ingin mempelajari lebih dalam ataupun lebih jauh lagi. 
lalu, kalau niat? Jawabanku, ada. Walau hanya sebersit niat kecil dari hatiku.

Kau ingin tau, sejak kapan rasa kekaguman dalam diriku itu ada?

Ku rasa belum lama, baru tahun kemarin ketika masih berada dikantor lamaku. Iya, aku pernah bekerja disebuah perusahaan IT dan mobile solution. Bukan sebuah perusahaan besar ataupun terkenal. Tapi, dari situlah yang menjadi titik awalku sampai aku bertemu banyak orang-orang hebat.
Dulu, aku hanya sekedar tahu tentang IT, tapi ketika menjadi bagian dari perusahaan itu bagiku IT itu seperti sebuah tongkat sihir. Kau pernah melihat itu di negeri dongeng, bukan?
Sebelum seorang peri membaca mantra, mengayunkan hingga mengetukkan tongkat sihir itu, kau akan lebih dulu terpukau oleh sinarnya.

Benar, aku terpukau ketika melihat teman-temanku begitu serius didepan layar komputer mengotak-atik kata demi kata, karakter, kalimat menjadi seperti sebuah rumus layaknya rumus matematika (tapi, bukan) yang tak ku mengerti. Mungkin, aku hanya bisa melongo saja.
Mereka menyebutnya “ngoding”. Dari coding-codingan itu bisa menciptakan sebuah sistem atau aplikasi siap pakai, yang bisa dipergunakan untuk kepentingan internal ataupun eksternal perusahaan. Bahkan perusahaan sendiri dapat meraup untung yang tidak hanya sedikit selain bermanfaat bagi banyak orang.

Apakah kau setuju denganku, bahwa programmer itu hebat?

Bila ku ingat, seorang teman pernah berkata “kita programmer, kalau bisa milih engga mau ngoding karna ngoding itu memusingkan”
Ternyata, kata-katanya itu benar. Sewaktu kuliah aku pernah belajar “coding” itu walau hanya dasar. Benar-benar itu sangat memusingkan lebih dari akuntansi.
Aku saja yang sebagai penonton cukup melihat saja.

Tapi, lain hal dengan temanku yang satu ini. Cara berpikirnya berbeda. Ku pikir dia adalah manusia aneh dari planet lain yang menjejakkan kaki ke bumi.
Kala itu tengah hujan yang cukup deras. Aku dan dia berbincang dan menerobos hujan. Hanya sekedar pertanyaan spontan, aku bertanya sekaligus menebak bahwa ia akan lebih memilih mengoding daripada bersenang-senang bersama teman-temannya. Ternyata dugaanku itu benar. Ia langsung mengiyakan disertai sebuah tawa kecil. Menurut dia, mengoding itu bukan lagi sekedar kegemarannya tetapi seperti seolah sudah mendarah daging didalam dirinya.

Dimanapun dan kapanpun kegemaran itu sudah melekat dalam dirinya. Hal itu pernah terjadi.
Jadi, ada sebuah ruangan kecil dikantorku yang bisa dikatakan tempat mencari inspirasi, mengistirahatkan sejenak pikirannya dari kerjaan dan tempat untuk merokok.
Aku pernah melihatnya, tengah sendiri, seolah menyendiri, laptop dipangkuannya, dengan kondisi ruangan yang panas tanpa pendingin ruangan sedang mengoding. Tatapan matanya begitu serius seolah memancarkan ia mencari ketenangan yang ia dapatkan seorang diri di ruangan itu.

Itu tidak hanya sekali terjadi. Ada yang berbeda pada hari itu. Seorang temanku tiba-tiba mengingatkan dia bahwa hari itu adalah hari bersejarahnya. Yang anehnya, ia sendiri bahkan tak menyadarinya dan melupakan itu. Lalu, melalui inisiatifnya ia meneraktir kita semua dua kotak paket pizza. Sebagai balasan aku dan teman-temanku meberikan ucapan selamat atas hari kelahirannya.
Kami pun makan bersama dalam sebuah ruangan. Namun, ada pemandangan aneh yang menarik perhatianku. 

Ditengah suara-suara antusias pada sebuah pizza, yang sedang ulang tahun malah asyik sendiri dengan laptopnya sambil menikmati pizza pesanannya tanpa ingin menjadi bagian dari kami yang tengah asyik mengobrol.
Tiba-tiba seorang teman menepuk pundaknya, menyadarkan dia dan dia hanya tertawa saja. itu pemandangan aneh sekaligus lucu buatku. Ia memang mempunyai dunianya sendiri.

Mencoba mengingat kembali tentangnya, ia memang teman “aneh” yang hanya satu-satunya pernah ku miliki. Tapi, harus ku akui pada teman seperti itu, kekagumanku karena keanehan yang dimilikinya. Harus ku akui pula kecerdasannya.
Tidak hanya aku, menurut teman-temanku ia adalah salah seorang programmer yang hebat dikantorku.
Dibalik itu, sikapnya yang acuh, jarang bersosialisasi seolah menutup diri menjadi karakter utamanya. 

Kadang seseorang hanya melihat bagaimana karakter seseorang hanya dari kesan pertama bertemu dan menilai tanpa mengenal lebih jauh tentang orang itu.

Temanku itu memang tak peduli dengan lingkungan sekitarnya tapi bukan berarti dia hanya mempedulikan dirinya sendiri. Mungkin, bagi seseorang yang belum mengenalnya lebih dekat akan mudah berpikiran seperti itu.
Bila kau sudah mencoba mengenal lebih dekat dengannya, ia adalah manusia baik sebagai seorang teman. Walaupun tingkahnya menyebalkan, terkadang itu membuatnya terlihat lucu.

Nasihat yang secara tidak langsung pernah ia katakan bahwa aku juga harus mengejar apa yang menjadi keinginanku, yang menjadi bidangku.
Kupikir banyak yang ku pelajari darinya. Salah satunya jangan pernah menyerah untuk menggapai apa yang menjadi cita-citamu. Selain itu, setelah kau mendapatkannya jangan jadikan hal itu beban dihati dan pikiranmu. Tapi, jadikan “aku menyukai pekerjaan itu” maka akan mudah melewati tantangan maupun hambatan yang ada.

_Sekian_

Mimpi itu pernah ada

Mei 13, 2017 Posted by Debby Nuramiruddin No comments
Mimpi itu pernah ada



Ketika ingin menulis, aku menemukan sebuah tulisan yang belum ku terbitkan di blogku,. Sebuah tulisan lama dari kisah lama yang sudah ku tutup dan ku akhiri.
Tak bermaksud apa-apa, hanya ingin sekedar berbagi cerita tentang kisah lama itu bagi para pembaca blogku. Ini tentang sebuah mimpi yang nyata, bukan sebuah bunga tidur belaka.

Aku pernah bermimpi tentang dirimu. Mungkin aku yang terlalu memikirkanmu hingga sosokmu hadir dalam mimpiku setiap malam.
Aku pernah bermimpi mebuat jarak itu semakin dekat, membuatmu sedikit saja melihatku walau hanya sekedar melirik.
Aku pernah bermimpi memegang tanganmu walau terpaksa kulepaskan agar kau tak tahu betapa bahagianya hatiku kala itu.
Aku pernah bermimpi duduk disebelahmu, bercanda dan tertawa bersama. Namun, lagi-lagi aku harus menahan diri, bersikap seolah-olah biasa saja, tanpa ada reaksi berlebihan dari sikapku agar kau tak menyadari perasaan yang menjadi rahasiaku yang kumiliki untukmu.
Aku pernah bermimpi menyentuhmu. Menyentuh keningmu untuk pertama kali. Apa kau tahu bagaimana rasanya? Apakah seperti rasa nano-nano? Jantungku bahkan berdebar sangat kuat. Apakah kau bisa mendengarnya?
Aku pernah bermimpi berjalan berdampingan denganmu. Seolah berimajinasi, ingin ku pegang jemari tanganmu tapi aku malah mengacuhkan kehadiranmu saat itu.
Aku pernah bermimpi menari bersamamu ditengah hujan. Ketika itu kita bersama menerjang rintik-rintik hujan. Ada perasaan bahagia yang tersembunyi. Rasanya ingin ku hentikan waktu agar tak cepat berlalu. Hujan selalu mengingatkanku kembali tentang dirimu.
Aku pernah bermimpi memelukmu ketika ku harus menerima kepergianmu yang tak pernah sama sekali ku duga. Aku harus menahan diriku untuk tetap tegar, tersenyum walaupun hal itu berbanding terbalik dengan kenyataan. Airmataku dari kelopak mataku seolah ingin jatuh menetes tanpa henti dan hatiku seolah menangis dengan kepergiannya. Namun, tak bisa ku perlihatkan itu padamu.
Aku pernah bermimpi menatapmu lebih lama dari biasanya hanya untuk terakhir kali. Karena aku menyadari esok tak akan ada lagi kehadiranmu yang akan membuat hari-hariku tampak berbeda. Makhluk seperti dirimu sudah tak lagi menjadi pelengkap dan pewarna dihidupku.
Aku pernah bermimpi untuk menghentikan langkahmu yang mulai menjauh dan tak terlihat lagi bayanganmu. Ingin aku berteriak, memanggil namamu dan menghentikan kamu pergi.
Namun, aku membiarkan waktu yang mengambil alih peranku. Waktu yang mengambil kesempatan terakhirku yang semestinya ku lakukan tanpa berpikir panjang tapi, tidak ku lakukan. Aku kalah oleh sang waktu. Tapi, hati kecilku bertanya “tidak bisakah kau menoleh sekali saja?”
Berat, aku melepaskan kepergianmu yang tiba-tiba tanpa direncanakan. Sampai detik ini bayangan itu tak pernah sepenuhnya pergi. Bayanganmu masih disekitarku, membuatku sekali-kali merindukanmu dan menyadari aku belum melupakan makhluk sepertimu yang pernah membuat jantungku berdebar-debar setiap kali berada didekatmu.
Kenyataannya saat ini, kini itu hanya sekedar mimpi masa lalu yang harus ku tutup ceritanya. Waktu tak memberikanku kesempatan kedua untuk sekedar bertemu denganmu.
Tapi, setidaknya mimpi itu pernah ada. Setidaknya aku pernah bermimpi tentang sosok yang pernah menyita waktuku walau hanya dengan memikirkannya saja.

Tapi, pernahkah kau bermimpi menjadi diriku? J



Note : Oktober 2016