Seseorang selalu ingin didengar dan punya tempat untuk bercerita. Sedang aku memilih berteman dengan sepi. Di satu ruang aku mampu menumpahkan segala lara yg tak mampu kuutarakan lewat kata. Tak apa, karna ini tentang dia yg membuatku jatuh cinta. Kadang kecewa, kadang juga bahagia. Meski dia sering kali menciptakan mendung dan airmata di langitku. Tapi, aku percaya bukankah akan ada pelangi setelahnya?

Minggu, 18 Juli 2021

Tak berdaya

Juli 18, 2021 Posted by Debby Nuramiruddin No comments

 Tak berdaya



Sebuah lagu merayuku ke masa lalu. Mendayu-dayu, mengalun indah bisikan tentangmu.
Membawa kembali cerita lama ketika kita merasa menjadi pasangan paling sempurna, cerita bahagia yang telah kita ukir bersama, lenyap ketika sama-sama merasa paling benar adanya.
Sama-sama memilih menyerah tanpa berusaha mengalah, bukan memperbaiki tapi yang terbaik adalah menyudahi.
Kukira hanya sementara dan secepatnya kita akan menjadi pasangan paling bahagia seperti biasanya.
Awan yang semula putih berubah mendung.
Kamu tak kunjung pulang, bahkan untuk sekedar kembali dalam pelukan.
Kamu benar-benar pergi dari gengaman.
Aku tak kuasa menahan sesak di dada, begitu menyiksa tanpa bisa berkata.
Aku berada di titik paling berat yaitu merelakan tapi, bagaimana itu mudah jika kamu masih tersimpan dalam ingatan?
Bahwa aku terjebak di satu lubang yang dalam berisi kenangan.
Bahwa aku tak pernah sepenuhnya mengikhlaskan. Bahwa aku benci mengakui kehilangannya begitu menyakitkan. Bahwa aku masih terbelenggu rindu yang tak berkesudahan.
"Hei kamu, aku kangen.." berkali-kali kutulis namamu dalam buku, berharap kau tahu kalau hatiku masih berlabuh di kamu.
Tak bisa kubendung lagi, airmata jatuh di pipi.
Tak bisa kupungkiri kehadirannya dulu jauh lebih berarti dibanding kini.
Senyummu yang tak lagi kulihat, membuatku berselimut kabut.
Pelukanmu yang menjadi tempat ternyaman, tatapanmu yang meneduhkan, aroma tubuhmu yang menggodaku tak karuan atau kecupanmu yang mampu menerbangkanku ke atas awan, tak bisa sirna walau hanya sebatas lamunan.
Aku takut berlindung di balik kata kesepian dan bagaimana mungkin itu datangnya karena aku takut sendirian?
Mengapa aku merasa sendirian jika kamu yang kutemui hanya bayangan?
Di kamar yang bisu, duduk termenung seorang diri. Sudikah kamu merajut kisah yang pernah pergi?
Aku di tempat yang sama, menunggumu kembali membawa asa.
Mungkinkah ceritanya akan berbeda jika kamu masih di sisi?
Kalau saja saat itu aku tak banyak meminta, mungkin kita masih baik-baik saja.
Kalau saja saling meredam amarah, sama-sama mau mengalah, mungkin aku tak perlu menyeka mataku yang basah, mungkin jemarimu kini membelai rambutku mesra.
Yang sudah terjadi, bagaimana menyembuhkan luka yang kian tumbuh kian terasa?
Mungkinkah aku hanya bisa memimpikan kisah ini selamanya? Apakah kamu juga sama atau sedang bersandiwara bahwa ini semua tak mengapa?
Mungkin semesta senangnya menggoda atau membuat aku berduka.
Kesempatan yang mungkin kuinginkan sekali lagi, masih enggan bermuara ke permukaan.
Sang pemberi kemungkinan mencoba mematahkan, apakah aku pantas menerima kejutan? atau ia ingin merampas seluruh kisah tentangnya, menggantikan kepergian dengan pertemuan?
Tapi, aku percaya suatu saat rotasi kami akan kembali bersinggungan dan saatnya tiba, aku akan menerjangnya dengan bertubi-tubi pelukan.
Di kamarku yang tak bersuara, aku akan selalu tak berdaya dihujani rindu yang tak banyak bicara. 


Sabtu, 10 Juli 2021

Jika saja aku bisa

Juli 10, 2021 Posted by Debby Nuramiruddin No comments

 Jika saja aku bisa



Malam berbintang, sembunyi dalam lamunan

Layaknya bintang bersinar paling terang, kamu selalu memenuhi angan

Semesta, mengapa ada makhluk seindah itu di bumi? Aku jadi tak kuasa menahan hasrat ingin memiliki

Tapi, rasanya seperti mimpi karena.. aku tak percaya diri

Jadi... biarkan aku terlelap lebih lama lagi

Sayangnya mentari yang lebih senang menyambut pagiku ketimbang kamu

Bukan salah kamu.. kalau aku saja memilih menyembunyikan rasa

Sebab, sulit menyangkal bila rasa takut ini lebih besar adanya

Takut langit berubah mendung kala perasaanku membuatmu bingung

Tak apa jika hanya bisa melihatmu tanpa bisa menyentuhmu walau ingin sekali rasanya...

Meski melihatmu saja, jantungku sudah berdebar-debar luar biasa

Bagaimana jadinya bila kamu menatapku lebih lama? 

Mungkin akan kuhentikan waktu, sebentar saja ya..

Tatapan itu ingin sekali kucuri bersama senyuman yang kubawa pergi

Itulah mengapa ia bukan suku kata, satu kata saja tak cukup menjabarinya

Meski begitu mendambanya, aku tau dia tetaplah senja dan aku langit yang tak akan beranjak 

kemana-mana, tak memiliki batas untuk mencintainya, tetap setia menanti datangnya

Jika saja langit dan senjanya berani melukiskan cerita bersama, 

mungkin bumi menjadi tampak tak biasa

Tapi, aku terlalu penakut dan berlindung di balik kata semesta

Jika saja semudah itu mengucap sapa, mungkin aku tak perlu menciptakan jarak diantara kita

Jika saja aku tak mempunyai perasaan apa-apa, mungkinkah realitanya akan sama?

Jika saja aku tak menaruh hati, mungkinkah tak sebegitu menyiksa seperti ini?

Jika saja bisa mengutarakan yang sebenarnya, apakah penolakan yang justru kuterima?

Jika saja aku bisa membencimu ratusan kali, apakah perasaan ini dengan mudah akan pergi?

Jika saja aku bukan pengecut, mungkinkah bahagiaku menjadi berlipat-lipat?

dan jika saja kamu tak selalu melihat ke arah yang sama, mungkinkah kamu membalas rasa?


Inilah aku yang hanya bisa berandai "jika saja..."