Ternyata
bukan untukku
Kau melupakan janji yang telah kau buat,
Malam itu kau memegang jemariku, menatap kedua
bola mataku.
Tak seperti biasanya, membuatku merasa gugup
saja,
Hingga tak kusangka, terucap kata-kata manis dari
bibirmu, serasa membuat diriku terbang ke angkasa.
Kau mengeluarkan sesuatu dari balik kantong
celanamu.
Kau membuatku takjup saat itu. Sebuah kotak
cincin kau persembahkan di hadapanku.
“Maukah kamu menikah denganku? Menemaniku
hingga kita menua bersama” sambil tersenyum, kau memakaikan cincin yang cocok
di jari manisku.
Mataku berkaca-kaca, tak pernah memimpikan hari
ini.
Hari yang telah lama kutunggu. Kata-kata yang
telah kutunggu sejak dulu.
Aku menerimanya, memeluk pria yang sangat
kucintai itu.
Malam itu, ia membuatku sangat bahagia. Kalau
ini mimpi, mungkin ini adalah mimpi terindah dan tak ingin membuatku cepat
terbangun.
Biarkan aku tidur lebih lama lagi. Tapi, ini
bukanlah mimpi! Ini adalah kenyataan!
Tapi, sayang kenyataan yang kuidam-idamkan tak
berlangsung lama, seperti yang diimpikan.
Kukira yang menjadi milikku akan selamanya
menjadi milikku.
Kita tak akan pernah tau jalan hidup yang sudah
dituliskan Tuhan.
Aku cuma bisa pasrah menerima ketika seseorang
yang kau inginkan, tak ditakdirkan olehnya menjadi milikmu. Ketika takdir tak
berpihak padaku, aku memang bisa apa?
Apakah harus meratapi, menjadikan sebuah
kesedihan yang tak usai?
Apakah harus merasakan kesedihan yang
berkepanjangan?
Apakah harus menyerah, tidak bergairah
menjalani kehidupan?
Aku memang sedih tapi bukan berarti kesedihan
itu merenggut kebahagiaanku yang lain.
Sejak pertama bertemu dan mengisi hari-hariku,
tak pernah diriku meragu.
Sesungguhnya cinta ini memang hanya untukmu. Meski,
kini kau tak lagi nyata untukku.
Tak pernah kusesali, mengenal dirimu, hingga
kau meyakinkan diriku.
Tapi, mengapa bukan dirimu yang dituliskan untuk
menjadi takdirku?
Mengapa juga harus dirimu yang membuatku
terluka?
Sungguh ku tak bisa menahan, bila ternyata Tuhan
menuliskan dirimu memang bukan untukku.
Terkadang menerima sebuah kenyataan memang
sungguh menyakitkan.