Seseorang selalu ingin didengar dan punya tempat untuk bercerita. Sedang aku memilih berteman dengan sepi. Di satu ruang aku mampu menumpahkan segala lara yg tak mampu kuutarakan lewat kata. Tak apa, karna ini tentang dia yg membuatku jatuh cinta. Kadang kecewa, kadang juga bahagia. Meski dia sering kali menciptakan mendung dan airmata di langitku. Tapi, aku percaya bukankah akan ada pelangi setelahnya?

Senin, 29 Oktober 2018

Seperti bintang yang sulit kujangkau

Oktober 29, 2018 Posted by Debby Nuramiruddin No comments

Seperti bintang yang sulit kujangkau


Langit malam sungguh indah, ditemani gemerlap bintang-bintang dan sinar rembulan.

Aku tengah duduk di teras, menatap bintang-bintang dan setengah mengkhayal hal-hal di luar jangkauan.

Malam ini bintang-bintang bersinar dengan terang. Bintang yang terlalu jauh dari jangkauan tangan ini, membuatku hanya bisa memandang kelap-kelip indahnya. 

Sama seperti bintang, kau adalah hal yang sulit kujangkau. Ibarat seperti bintang, kau adalah bintang yang paling terang, menuntunku dikala tersesat.

Namun, kau terlalu sibuk dengan duniamu, tak sedikit saja melirik ke arahku.

Bisakah melihatku sebentar saja?

Tapi, bagiku itu tak masalah. Mengkhayal tentangmu sudah menjadi bagian dari rutinitasku yang tak pernah terlewatkan.

Seperti hari ini, aku bisa berjam-jam di teras, hanya duduk memandang bintang dan memikirkanmu yang menyihirku dengan pesona yang kau miliki.

Duduk menyendiri terkadang bisa membuat pikiran menjadi tenang, menikmati alam sejenak tanpa memikirkan yang menjadi masalahmu.

Bintang di malam ini enggan membuatku beranjak, membuatku bertanya tentang banyak hal. Berharap bintang-bintang di atas langit mempunyai jawabannya.

“Jika aku bisa meraih satu bintang saja, apa aku juga bisa menjangkaunya?”

“Jika tau itu adalah hal yang sulit, mengapa tak menyerah saja?”

Kenyataannya bintang juga tak mampu menjawabku. Hanya aku seorang diri yang tau bagaimana menyakitkan memendam perasaan tanpa memberitahu perasaanmu pada orang itu.

Bukan tak mau, hanya saja sudah tau akhirnya. Seperti juga bintang yang sulit kujangkau, seperti juga kamu yang sulit kuraih.

Rabu, 03 Oktober 2018

Selamat Tinggal

Oktober 03, 2018 Posted by Debby Nuramiruddin No comments

Selamat Tinggal


Hari itu tak secerah biasanya. Langit sore tampak mendung.
Entah mengapa perasaan menjadi tak enak. Detak jantung menjadi tak karuan,
Rupanya seperti sudah sebuah firasat. Hatiku tak dapat menahan rasa sesak hingga rasanya ingin menangis sekencang mungkin.
Namun, tak bisa. Aku harus menahan karena situasi yang tak tepat.
Hari itu, menjadi hari perpisahanku dengannya. Tanpa berpikir panjang, aku langsung berlari menemui dirinya.
Sikapnya kala itu sangat tenang, seperti tak terjadi apa-apa. Tapi, hanya aku seorang yang menganggap itu tak biasa.
Andai saja jari ini bisa mendekap wajahnya dan membelai rambutnya.
Andai saja bisa kukatakan, tak bisa jauh darinya.
Andai saja aku punya keberanian, ingin kuungkap perasaan yang kumiliki untuknya.
Semua itu bagai sebuah khayalan, ketika aku cuma bisa berdiri kaku di depannya.
Aku mulai mengajaknya berbicara, bersikap wajar seperti teman biasa yang sedang berusaha menahan diri.
Senyuman masih terhias di wajahnya. Tapi, hanya aku yang berpura-pura. Aku menjadi manusia paling bodoh saat itu.
Mengapa waktu bersamanya terasa cepat?
Mengapa aku tak diberikan waktu lebih lama lagi mengenalnya?
Mengapa kepergiannya tak kuasa kuterima?
Tuhan tak adil. Ia adalah bahagiaku yang sederhana. Namun, waktu merenggut kebahagiaan itu dariku.
Walaupun sangat sulit kuraih, aku hanya butuh waktu lebih lama lagi sampai berpikir mengungkap rasa tak sesulit menyimpan rasa.
Sampai tiba saatnya waktu dan detik itu adalah saat yang tepat untuk mengungkapkan perasaan.
Ingin kuhentikan waktu agar tak berlalu cepat.
Baru saja akan kulontarkan sebuah kata namun, tiba-tiba ia berdiri dan mengajakku beranjak keluar.
Aku terdiam, mencoba menahannya.
Tapi, ia berlalu tanpa mempedulikan kata-kataku.
Waktu seolah menghentikan niatan dan usahaku.
Langkah kaki kami pun menjauh dan kembali ke ruangan itu.
Namun, aku mendapatkan sebuah pemandangan berbeda.
Entah hanya sebuah perasaan saja, ia menatapku dari kejauhan. Bukan untuk waktu yang sebentar, hal itu membuatku salah tingkah.
Semua berpamitan dengannya dan mendoakan yang terbaik untuknya.
Waktu seakan berjalan cepat, hanya aku dan ia yang tersisa di ruangan itu.
Akhirnya, aku dan dia meninggalkan tempat itu.
Tak kuasa menghadapi hari esok tanpa kehadirannya.
Malam itu akan menjadi malam terakhir bisa melihat dan mencium aroma tubuhnya.
Aku bahkan tak bisa membuat dia tak pergi. Rasanya sulit mengucapkan kata perpisahan.
Bibirku bungkam dan ia pun mulai pergi menjauh sampai bayangannya mulai tak terlihat.
Airmata yang terlalu lama kutahan akhirnya menetes di pipi.
Tangisanku menjadi tak karuan, bercampur aduk dengan kenyataan pahit yang terima.
Apakah kisahku dengannya harus berakhir seperti ini?
Apakah aku ditakdirkan hanya mencintai tanpa dicintai?
Aku bahkan belum sempat mengatakan bahwa aku menyukainya.
Aku bahkan belum sempat mengungkapkan perasaan yang sudah lama kurasakan.
Bagaimana jantung ini berdebar-debar setiap kali melihat dan berada di sekitarnya.
Bagaimana rasanya menyimpan dan menyembunyikan rasa terlalu lama.
Semua seolah terlambat dan pada akhirnya aku hanya akan merasakan kehilangan.

“Selamat tinggal untukmu yang pernah mengisi dan membuat hari-hariku indah seperti warna pelangi”