Serakah
Sungguh tak kerasa,
setahun telah kita bersama. Asam manisnya hubungan telah mewarnai sampai sejauh
ini. Namun, tak berkurang sedikit pun rasa yang terpendam di hatiku.
Setiap saat, setiap
waktu, ingin ku lewatkan hanya bersama dirimu.
Tak pernah ada kata
jenuh.
Kehadiranmu sudah
menjadi pelengkap di hidupku. Seolah, aku tak membutuhkan orang lain untuk
membuat hariku terasa bahagia.
Selama kau masih
berada di duniaku, bahagia itu terasa menjadi sederhana.
Waktu terasa begitu
cepat saat aku tenggelam di pelukanmu. Rasanya ingin ku hentikan saja.
Sejujurnya perasaan
ini membuatku serakah untuk memilikimu seutuhnya. Sungguh tak boleh orang lain
merebut perhatianmu dariku.
Apakah sifat manusia
memang ditakdirkan begitu? Manusia tak akan pernah puas walaupun satu persatu
keinginannya terwujud.
Rasa serakah di dalam
diri ini membuatku berpikir, hanya aku yang boleh menggengam tanganmu seorang..
Hanya aku yang boleh
melihatmu tersenyum.
Hanya aku seorang
yang boleh memeluk tubuhmu yang terasa begitu hangat. Pelukanmu adalah tempat
yang menjadi sandaran favoritku.
Hanya aku, yang boleh
mencium pipi, kening hingga bibirmu.
Seluruhnya adalah
milikku.
Tolong, jangan menyalahkan
rasa serakah ini. Jangan merasa rasa serakah ini membuatmu tak nyaman.
Aku hanya ingin kau
jadikan itu adalah alasanmu untuk tetap menyayangiku selamanya.
Karena, bersama
denganmu selamanya adalah impianku.
Bisa membayangkan
bersanding dan memilikimu seutuhnya dalam ikatan pernikahan.
Tak akan ada yang
berubah walaupun waktu bergerak cepat.
Kebiasaan itu tak
akan hilang ketika status telah berubah.
Semakin sering perlu
dilakukan bersama.
Makan, jalan-jalan,
berbelanja, memasak, menonton bioskop.
Bercanda, tertawa berdua
denganmu
Saling menggelitik ataupun
sekedar menonton film kesukaan di tengah malam.
Bahkan bercerita
sampai lupa waktu.
Atau kita saling terjaga
dalam pelukan hingga pagi datang.
Semua itu terasa
seperti bunga tidur ketika aku memimpikan hidup berdua denganmu.
Tak hanya ingin sekedar
bunga tidur saja, aku berharap mimpiku menjadi nyata.
Seperti kutipan dari
@sekedar.rahasia yang kutemukan hari ini, menjadi permintaan sekaligus doaku.
“Awalnya kita beriringan, kemudian saling berbagi bahu
dan lengan bersama,
saling meringakan beban, Semoga kita sampai ke tujuan yang
selama ini kita inginkan”
