Seseorang selalu ingin didengar dan punya tempat untuk bercerita. Sedang aku memilih berteman dengan sepi. Di satu ruang aku mampu menumpahkan segala lara yg tak mampu kuutarakan lewat kata. Tak apa, karna ini tentang dia yg membuatku jatuh cinta. Kadang kecewa, kadang juga bahagia. Meski dia sering kali menciptakan mendung dan airmata di langitku. Tapi, aku percaya bukankah akan ada pelangi setelahnya?

Rabu, 14 Maret 2018

Rumah Kedua

Maret 14, 2018 Posted by Debby Nuramiruddin No comments

Rumah Kedua


Ini sebuah kisah tentang pertemuan, pertemanan hingga tanpa sadar berubah tingkatannya menjadi “keluarga” bagiku.
Ini benar kisahku, sebuah cerita dari perjalanan hidupku. Jika kuceritakan pada kalian, tak akan ada habisnya. Sebuah tempat yang menjadi “Rumah Kedua” bagiku.
Sebenarnya ini adalah kisah lama. Tak terasa waktu telah berjalan cepat, tanpa sadar aku sedang mengenang masa lalu.
Ya, cepat sekali rasanya waktu memainkan perasaanku atau memang itulah kehidupan. Ada seseorang yang datang lalu seseorang itu akan pergi, ada seseorang yang pergi lalu digantikan seseorang lain yang datang.
Setiap pertemuan akan ada sebuah perpisahan nantinya. Setiap pertemuan tak akan berarti tanpa tahu makna dan arti dari sebuah pertemuan itu. Percaya atau tidak, begitulah memang kehidupan.
Itulah yang terjadi 2 tahun yang lalu. Tepatnya dipertengahan tahun. Tahun itu penuh dengan cerita yang hingga detik ini masih tersimpan, sulit terlupakan bahkan akan selalu terkenang dalam memori otakku.
Kisah ini tak berjalan lama, namun entah mengapa sangat membekas dihatiku. Aku bersyukur karena Tuhan telah mempertemukanku dengan orang-orang hebat dan beruntung aku pernah mengenal mereka.
Ini kisahku. Aku harap kau tak akan bosan membaca dan mengikuti kisahnya.
Ketika aku tengah mencari sebuah dunia baru, disitulah kutemukan, disitulah akan kuhabiskan separuh waktuku ditempat itu.
Awalnya, tempat itu masih asing untukku. Namun, setelah satu-persatu manusia memasukinya, tempat itu tak berasa sepi lagi. Penuh cerita dengan penuh berbagai makna. Masing-masing manusia itu memiliki karakternya masing-masing, karakter yang berbeda-beda. Aku dengan karakterku, begitu juga dengan mereka.
Karakter-karakter yang berbeda itu menjadi sebentuk cerita yang indah.
Ada aku, yang bawel dan kekanak-kanakkan. Pecinta kpop dan drama korea. Terkadang bodoh dan memalukan diri sendiri.
Mas bobby, tubuhnya yang atletis bagai binaragawan tak membuat ia tampak menakutkan. Tubuhnya memang atletis, namun hatinya lembut bagaikan kapas. Ia seperti guru yang kadang mengajariku.  
Lalu, pak ronny. Pertama kali mengenalnya, ia tak banyak bicara. Sempat ku pikir, ia tak mudah didekati. Namun, ternyata lucu juga. Terbukti saat ia tahu aku adalah penggemar kpop, seorang fans dari Sungjae, ia membuat plesetan dari idolaku itu yaitu “susujahe” .
Setelah kami bertiga, muncullah dua perempuan yang menemaniku diantara dua lelaki.
Namanya Firsta dan Rara.
Firsta, itu nama panggilannya dulu. Sekarang, ia adalah “Stupa”, sahabatku ditempat itu. Aku tak menyangka dari yang hanya biasa saja, ia menjadi orang yang berarti ditempat itu. Walaupun kebanyakan sifatnya buruk, aku tak pernah malu mengakui bahwa ia adalah sahabatku. Bukankah untuk menjadi sahabat, siap untuk menerima apa adanya? Siap menerima segala kekurangannya dan melengkapi kekurangan itu.
Tempat itu menjadi ramai karena “stupa”. Mungkin yang lain tak sepemikiran denganku. Tingkahnya yang konyol kadang hanya untuk membuat kau tertawa walau ia hanya mempermalukan dirinya sendiri. Dialah stupa.
Berbeda dengan stupa, rara yang memiliki pemikiran dewasa dan kadang menjadi penengah diantara kami. Sifatnya yang ceplas-ceplos membuat ia terlihat apa adanya, tidak dibuat-buat.
Selain Mas Bobby dan Pak Ronny, hadirlah laki-laki seumuran denganku. Namanya Malkan. Ia merupakan designer sama seperti Mas Bobby. Yang membedakan hanya tubuhnya yang kurus dan kulitnya yang sawo matang. Penyuka musik dan pintar bermain gitar dan harmonika. Berbakat menjadi musisi rupanya. Aku tak heran saat ia tak ada ditempatnya, ia pasti sedang diruangan tanpa pendingin, memainkan harmonikanya. Kadang, aku terbuai dengan suara harmonika yang ia lantunkan. Walaupun aku tak mengerti lagu atau syair apa yang sedang ia mainkan. Aku sangat menikmati setiap nada yang keluar dari harmonika itu.
Sebulan kemudian, muncullah manusia-manusia baru untuk menemani dan menghabiskan waktu bersama.
Kumpulan bapak-bapak dan seorang pemuda. Mereka adalah Pak Ben, Pak Iqbal, Pak Endang, Pak Ferry dan Hendra.
Pak Ben, memiliki suara yang serak dan berkacamata. Ia suka merokok. Sering mengerjai dan membullyku.
Pak Iqbal, asli dari bandung. Memiliki lesung pipi dan logat bandungnya sangat melekat didalam dirinya.
Pak Endang, orangnya lucu dan suka melawak. Genit dan menurutnya ia “tampan” tapi, tidak menurut banyak orang. Sok misterius tentang kehidupan pribadinya.
Pak Ferry, ia sangat ramah dan sangat taat beribadah. Jujur, aku pernah sholat berjamaah bersama dan ia menjadi imamnya. Aku sangat menyukai bacaan sholatnya. Mendengarnya, membuat hatiku teduh dan damai.
Hendra, nama lengkapnya Hendra Anggrian, sukanya menyendiri dan jarang bersosialisasi. Tapi, kalau kau tahu siapa ia sebenarnya, ia adalah manusia yang baik walaupun menyebalkan. Hobbynya mengoding. Pekerjaan sampingannya menjahili orang. Aku adalah korban kesehariannya. Terkadang sifatnya kekanak-kanakkan, membuat ia terlihat lucu. Kau tahu, ia mempunyai satu kelebihan. Yaitu keningnya seperti lapangan sepak bola dan seperti sulap, saat ia tertawa kedua matanya menghilang. Bukankah itu lucu?
Tidak berapa lama, hadirlah pendatang baru dan bergabung bersama kami.
Satu lagi perempuan yang akan menemaniku, Rara dan Firsta. Ia adalah Aisyah. Gadis bertubuh kurus sepertiku, dan satu kampus denganku walaupun berbeda jurusan. Ia mantan anak paduan suara, tidak heran saat bernyanyi suaranya jauh lebih bagus daripada suaraku.
Setelah Aisyah, ada Delfrinando Pranata, biasa dipanggil nando. Namun, aku biasa memanggilnya dengan sebutan khas pertemananku dengannya “padang”. Bukannya rasis, ia memang satu kampung halaman denganku. Hanya berseberangan, aku dari medan dan dia dari padang. Nando, tubuhnya atletis karena ia suka ngegym. Kulitnya sawo matang. Suka memakai kemeja yang fit dibadannya. Suka ngegossip, polos, narsis, eksis di media sosial dan sedikit gemulai. Itulah dia. Namun, satu yang kukagumi dari dia, ia sangat pintar dan sering membantuku.
Setelah Nando, hadirlah Fajar Ramadhan. Sama seperti Malkan, ia juga seorang designer. Hobbynya sama denganku, suka menulis dan travelling. Sama seperti Hendra, ia juga mempunyai keahilan menyulap. Walaupun berkacamata, saat tertawa matanya juga tetap menghilang. Hebat, bukan?
Setelah Aisyah, tambah satu perempuan lagi yang akan menemani kami berempat. Ia adalah Mediana. Jurusan hukum. Awalnya masih pemalu, masih belum tahu sifat aslinya. Kini ia adalah sahabatku. Aku tak pernah menduga hal itu. Aku bahkan mempunyai “panggilan”  khusus untuknya. Aku dan Stupa lebih tepatnya. “Soul” itulah panggilan kami untuknya. Hobbynya mengomeliku karena kebodohanku. Ia tahu tentangku dan rahasiaku. Bersama Stupa, kami berdua menikmati hari-hari dengan penuh kegokilan. Tanpa ada Soul dan Mate, tidak ada Stupa. Begitu pula sebaliknya. Karena “Soul” dan “Mate” adalah belahan jiwa “Stupa”.
Setelah itu, ada Pak Hardi dan Pak Yohan. Dua kepribadian yang berbeda.
Saat mengenal Pak Hardi, ia orang yang tegas dan keras. Sementara Pak Yohan, ia sangat ramah dan murah senyum. Kuberitahu sebuah rahasia, ia adalah bapak favoritku ditempat itu. Sama seperti Hendra dan Fajar, ia juga bisa sulap. Wajahnya memerah ketika ia tertawa. Sebagai seorang mualaf, ia sangat rajin beribadah. Aku pernah asal bicara padanya, aku ingin mempunyai calon suami seperti dia. Mendengar ucapanku, dia hanya tertawa memerah. Saat bersamanya, Ia bisa menjadi seorang ayah dan kakak untukku. Sering memberikanku nasehat yang membangun. Aku banyak belajar darinya.
Bertambah satu perempuan lagi, namanya Ka Zhani. Jurusan hukum juga, sama seperti Mediana. Lancar berbahasa melayu dan cerewet.
Lalu, ada Cahyo. Bertubuh tinggi dan kurus. Suka tidak jelas. Malkan dan Hendra adalah sahabat karibnya. Hobbynya sama seperti Malkan, suka bermusik dan bisa memainkan gitar. 
Setelah itu, ada Mukhlis. Laki-laki bertubuh tinggi dan berkacamata. Aku sering memanggilnya “Mukh-Mukh”. Rajin membawa bekal makan siang. Yang kuingat darinya, sering memakai kemeja kotak-kotak berwarna pink dan ia juga lucu.
Ada Pak Edwin. Ia keseringan mengobrol dengan bapak-bapak, jadi aku tak banyak bicara dengannya. Namun, satu yang kutahu, beliau orang yang lucu.
Keluargaku semakin lengkap dengan kehadiran pendatang-pendatang baru.
Christine, Mas Donny, Pak Ray, Bang Leo, Nina, Pak Irwan dan Ka Priska.
Christine, gadis bertubuh tinggi dan berkulit putih. Terkadang sifatnya kekanak-kanakan. Pintar dan lucu. Suka memakai baju tanpa lengan.    
Mas Donny, ia memiliki lesung dipipinya. Suatu kebetulan, Ia ternyata alumni dari kampusku. Sungguh tidak terduga. Mas Donny, orang yang murah senyum dan aku suka pada senyumnya yang kadang terlihat malu-malu. Selain ngoding, ia ternyata penyuka anime.
Lalu, ada Pak Ray. Pria berkacamata dan bertubuh gemuk ini cukup humoris di kalangan kami semua. 
Bang Leo, dari sebutannya “Bang”, ia berasal dari Batak. Logat Bataknya sangat kental. Saat mengobrol denganku, ia suka tertawa dan terlihat konyol.
Pak Irwan, duduknya disebelah Nando. Suka memakai masker. Kalau Hendra suka menyendiri dipojokan, Pak Irwan juga suka asyik sendiri didepan komputernya dan lebih pendiam dari Hendra. Tapi, sebenarnya Pak Irwan orang yang baik. Lebih dekat dengan stupa, soul dan aku. Namun, kadang kami yang banyak bicara. 
Lalu, ada Ka Priska. Aku biasa memanggilnya “eonnie”. Panggilan itu tercipta karena ia lulusan dari seoul/korea, negara favoritku. Namun, ia bukan pencinta kpop ataupun drama korea. Ia lebih suka drama taiwan. Cantik, pintar, baik dan selalu ceria. Teman makan barengku, soul dan stupa. Aku biasa dipanggil “deboy” dan soul “medoy” olehnya. Temanku bercerita. Ia juga sedikit tahu tentang rahasiaku karena mediana keceplosan/bocor. Aku kagum pada Ka Priska, satu-satunya programmer perempuan yang pernah kutemui.  
Terakhir, Nina. Sama seperti Bang Leo, ia juga orang batak. Menurutku ia cantik. Awal mengenalnya, sedikit pendiam namun ternyata cerewet juga. Ia juga programmer perempuan setelah Eonnie Priska.

Itulah cerita singkat tentang mereka yang pernah mengisi hari-hariku. Di tempat itu, aku bertemu dengan orang-orang hebat seperti mereka. Kalau kau pikir, masih bersama hingga hari ini, tebakanmu salah. Itu dulu, 2 tahun yang lalu.
Sayangnya, kebersamaan itu hanya sesaat. Satu-persatu dari kami harus mengucapkan selamat tinggal dan menerima perpisahan yang telah ditakdirkan Tuhan.
Ya, itulah kehidupan. Kita tak akan pernah tahu kedepannya akan seperti apa. Setiap pertemuan, akan selalu ada perpisahan. Suka atau tidak suka, terima atau tidak terima, kau hanyalah pemain yang menjalankan skenario yang telah dituliskan olehNya.
Terkadang, aku rindu tawa dan canda dari mereka. Rindu, walau hanya mendengar suara mereka. Rindu, walau hanya melihat saja. Rindu, walau hanya sekedar menyapa.
Mereka seperti “Rumah Kedua” bagiku.
Benar sebuah pepatah yang mengatakan, kita akan benar-benar merasa seseorang itu berarti ketika merasakan kehilangan.
Kadang, aku bertanya “ Apa kabar kalian?, apakah baik-baik saja? Kapan bisa berkumpul bersama lagi”
Hanya pertanyaan-pertanyaan sederhana untuk melepas kerinduan. Mungkin, sebagian sudah saling melupakan. Namun, aku tidak akan pernah melupakan kenangan yang telah mereka berikan. Terlalu manis untuk dilupakan.
Hanya sekedar doa sepintas kepada Tuhan, terkadang aku meminta hal ajaib “pertemuan kedua setelah sekian lama tak bertemu”.

*Foto ini sebagai kenangan tentang kalian*


0 komentar:

Posting Komentar