Rumah Kedua
Ini sebuah kisah
tentang pertemuan, pertemanan hingga tanpa sadar berubah tingkatannya menjadi
“keluarga” bagiku.
Ini benar kisahku,
sebuah cerita dari perjalanan hidupku. Jika kuceritakan pada kalian, tak akan
ada habisnya. Sebuah tempat yang menjadi “Rumah Kedua” bagiku.
Sebenarnya ini adalah
kisah lama. Tak terasa waktu telah berjalan cepat, tanpa sadar aku sedang
mengenang masa lalu.
Ya, cepat sekali
rasanya waktu memainkan perasaanku atau memang itulah kehidupan. Ada seseorang
yang datang lalu seseorang itu akan pergi, ada seseorang yang pergi lalu
digantikan seseorang lain yang datang.
Setiap pertemuan akan
ada sebuah perpisahan nantinya. Setiap pertemuan tak akan berarti tanpa tahu
makna dan arti dari sebuah pertemuan itu. Percaya atau tidak, begitulah memang
kehidupan.
Itulah yang terjadi 2
tahun yang lalu. Tepatnya dipertengahan tahun. Tahun itu penuh dengan cerita
yang hingga detik ini masih tersimpan, sulit terlupakan bahkan akan selalu
terkenang dalam memori otakku.
Kisah ini tak
berjalan lama, namun entah mengapa sangat membekas dihatiku. Aku bersyukur
karena Tuhan telah mempertemukanku dengan orang-orang hebat dan beruntung aku
pernah mengenal mereka.
Ini kisahku. Aku
harap kau tak akan bosan membaca dan mengikuti kisahnya.
Ketika aku tengah
mencari sebuah dunia baru, disitulah kutemukan, disitulah akan kuhabiskan
separuh waktuku ditempat itu.
Awalnya, tempat itu
masih asing untukku. Namun, setelah satu-persatu manusia memasukinya, tempat
itu tak berasa sepi lagi. Penuh cerita dengan penuh berbagai makna.
Masing-masing manusia itu memiliki karakternya masing-masing, karakter yang
berbeda-beda. Aku dengan karakterku, begitu juga dengan mereka.
Karakter-karakter
yang berbeda itu menjadi sebentuk cerita yang indah.
Ada aku, yang bawel
dan kekanak-kanakkan. Pecinta kpop dan drama korea. Terkadang bodoh dan
memalukan diri sendiri.
Mas bobby, tubuhnya
yang atletis bagai binaragawan tak membuat ia tampak menakutkan. Tubuhnya
memang atletis, namun hatinya lembut bagaikan kapas. Ia seperti guru yang
kadang mengajariku.
Lalu, pak ronny.
Pertama kali mengenalnya, ia tak banyak bicara. Sempat ku pikir, ia tak mudah
didekati. Namun, ternyata lucu juga. Terbukti saat ia tahu aku adalah penggemar
kpop, seorang fans dari Sungjae, ia membuat plesetan dari idolaku itu yaitu
“susujahe” .
Setelah kami bertiga,
muncullah dua perempuan yang menemaniku diantara dua lelaki.
Namanya Firsta dan Rara.
Firsta, itu nama
panggilannya dulu. Sekarang, ia adalah “Stupa”, sahabatku ditempat itu. Aku tak
menyangka dari yang hanya biasa saja, ia menjadi orang yang berarti ditempat
itu. Walaupun kebanyakan sifatnya buruk, aku tak pernah malu mengakui bahwa ia
adalah sahabatku. Bukankah untuk menjadi sahabat, siap untuk menerima apa
adanya? Siap menerima segala kekurangannya dan melengkapi kekurangan itu.
Tempat itu menjadi
ramai karena “stupa”. Mungkin yang lain tak sepemikiran denganku. Tingkahnya
yang konyol kadang hanya untuk membuat kau tertawa walau ia hanya mempermalukan
dirinya sendiri. Dialah stupa.
Berbeda dengan stupa,
rara yang memiliki pemikiran dewasa dan kadang menjadi penengah diantara kami.
Sifatnya yang ceplas-ceplos membuat ia terlihat apa adanya, tidak dibuat-buat.
Selain Mas Bobby dan
Pak Ronny, hadirlah laki-laki seumuran denganku. Namanya Malkan. Ia merupakan
designer sama seperti Mas Bobby. Yang membedakan hanya tubuhnya yang kurus dan
kulitnya yang sawo matang. Penyuka musik dan pintar bermain gitar dan
harmonika. Berbakat menjadi musisi rupanya. Aku tak heran saat ia tak ada
ditempatnya, ia pasti sedang diruangan tanpa pendingin, memainkan harmonikanya.
Kadang, aku terbuai dengan suara harmonika yang ia lantunkan. Walaupun aku tak
mengerti lagu atau syair apa yang sedang ia mainkan. Aku sangat menikmati
setiap nada yang keluar dari harmonika itu.
Sebulan kemudian,
muncullah manusia-manusia baru untuk menemani dan menghabiskan waktu bersama.
Kumpulan bapak-bapak
dan seorang pemuda. Mereka adalah Pak Ben, Pak Iqbal, Pak Endang, Pak Ferry dan
Hendra.
Pak Ben, memiliki
suara yang serak dan berkacamata. Ia suka merokok. Sering mengerjai dan
membullyku.
Pak Iqbal, asli dari
bandung. Memiliki lesung pipi dan logat bandungnya sangat melekat didalam
dirinya.
Pak Endang, orangnya
lucu dan suka melawak. Genit dan menurutnya ia “tampan” tapi, tidak menurut
banyak orang. Sok misterius tentang kehidupan pribadinya.
Pak Ferry, ia sangat
ramah dan sangat taat beribadah. Jujur, aku pernah sholat berjamaah bersama dan
ia menjadi imamnya. Aku sangat menyukai bacaan sholatnya. Mendengarnya, membuat
hatiku teduh dan damai.
Hendra, nama
lengkapnya Hendra Anggrian, sukanya menyendiri dan jarang bersosialisasi. Tapi,
kalau kau tahu siapa ia sebenarnya, ia adalah manusia yang baik walaupun
menyebalkan. Hobbynya mengoding. Pekerjaan sampingannya menjahili orang. Aku
adalah korban kesehariannya. Terkadang sifatnya kekanak-kanakkan, membuat ia
terlihat lucu. Kau tahu, ia mempunyai satu kelebihan. Yaitu keningnya seperti
lapangan sepak bola dan seperti sulap, saat ia tertawa kedua matanya
menghilang. Bukankah itu lucu?
Tidak berapa lama,
hadirlah pendatang baru dan bergabung bersama kami.
Satu lagi perempuan
yang akan menemaniku, Rara dan Firsta. Ia adalah Aisyah. Gadis bertubuh kurus
sepertiku, dan satu kampus denganku walaupun berbeda jurusan. Ia mantan anak
paduan suara, tidak heran saat bernyanyi suaranya jauh lebih bagus daripada
suaraku.
Setelah Aisyah, ada Delfrinando
Pranata, biasa dipanggil nando. Namun, aku biasa memanggilnya dengan sebutan
khas pertemananku dengannya “padang”. Bukannya rasis, ia memang satu kampung
halaman denganku. Hanya berseberangan, aku dari medan dan dia dari padang.
Nando, tubuhnya atletis karena ia suka ngegym. Kulitnya sawo matang. Suka
memakai kemeja yang fit dibadannya. Suka ngegossip, polos, narsis, eksis di
media sosial dan sedikit gemulai. Itulah dia. Namun, satu yang kukagumi dari
dia, ia sangat pintar dan sering membantuku.
Setelah Nando,
hadirlah Fajar Ramadhan. Sama seperti Malkan, ia juga seorang designer.
Hobbynya sama denganku, suka menulis dan travelling. Sama seperti Hendra, ia
juga mempunyai keahilan menyulap. Walaupun berkacamata, saat tertawa matanya
juga tetap menghilang. Hebat, bukan?
Setelah Aisyah,
tambah satu perempuan lagi yang akan menemani kami berempat. Ia adalah Mediana.
Jurusan hukum. Awalnya masih pemalu, masih belum tahu sifat aslinya. Kini ia
adalah sahabatku. Aku tak pernah menduga hal itu. Aku bahkan mempunyai
“panggilan” khusus untuknya. Aku dan Stupa
lebih tepatnya. “Soul” itulah panggilan kami untuknya. Hobbynya mengomeliku karena
kebodohanku. Ia tahu tentangku dan rahasiaku. Bersama Stupa, kami berdua
menikmati hari-hari dengan penuh kegokilan. Tanpa ada Soul dan Mate, tidak ada
Stupa. Begitu pula sebaliknya. Karena “Soul” dan “Mate” adalah belahan jiwa “Stupa”.
Setelah itu, ada Pak
Hardi dan Pak Yohan. Dua kepribadian yang berbeda.
Saat mengenal Pak
Hardi, ia orang yang tegas dan keras. Sementara Pak Yohan, ia sangat ramah dan
murah senyum. Kuberitahu sebuah rahasia, ia adalah bapak favoritku ditempat itu.
Sama seperti Hendra dan Fajar, ia juga bisa sulap. Wajahnya memerah ketika ia
tertawa. Sebagai seorang mualaf, ia sangat rajin beribadah. Aku pernah asal
bicara padanya, aku ingin mempunyai calon suami seperti dia. Mendengar
ucapanku, dia hanya tertawa memerah. Saat bersamanya, Ia bisa menjadi seorang
ayah dan kakak untukku. Sering memberikanku nasehat yang membangun. Aku banyak
belajar darinya.
Bertambah satu
perempuan lagi, namanya Ka Zhani. Jurusan hukum juga, sama seperti Mediana.
Lancar berbahasa melayu dan cerewet.
Lalu, ada Cahyo.
Bertubuh tinggi dan kurus. Suka tidak jelas. Malkan dan Hendra adalah sahabat
karibnya. Hobbynya sama seperti Malkan, suka bermusik dan bisa memainkan
gitar.
Setelah itu, ada Mukhlis.
Laki-laki bertubuh tinggi dan berkacamata. Aku sering memanggilnya “Mukh-Mukh”.
Rajin membawa bekal makan siang. Yang kuingat darinya, sering memakai kemeja kotak-kotak
berwarna pink dan ia juga lucu.
Ada Pak Edwin. Ia
keseringan mengobrol dengan bapak-bapak, jadi aku tak banyak bicara dengannya.
Namun, satu yang kutahu, beliau orang yang lucu.
Keluargaku semakin
lengkap dengan kehadiran pendatang-pendatang baru.
Christine, Mas Donny, Pak Ray, Bang Leo, Nina, Pak Irwan dan Ka Priska.
Christine, gadis
bertubuh tinggi dan berkulit putih. Terkadang sifatnya kekanak-kanakan. Pintar
dan lucu. Suka memakai baju tanpa lengan.
Mas Donny, ia
memiliki lesung dipipinya. Suatu kebetulan, Ia ternyata alumni dari kampusku.
Sungguh tidak terduga. Mas Donny, orang yang murah senyum dan aku suka pada
senyumnya yang kadang terlihat malu-malu. Selain ngoding, ia ternyata penyuka
anime.
Lalu, ada Pak Ray. Pria berkacamata dan bertubuh gemuk ini cukup humoris di kalangan kami semua.
Lalu, ada Pak Ray. Pria berkacamata dan bertubuh gemuk ini cukup humoris di kalangan kami semua.
Bang Leo, dari
sebutannya “Bang”, ia berasal dari Batak. Logat Bataknya sangat kental. Saat
mengobrol denganku, ia suka tertawa dan terlihat konyol.
Pak Irwan, duduknya disebelah
Nando. Suka memakai masker. Kalau Hendra suka menyendiri dipojokan, Pak Irwan juga
suka asyik sendiri didepan komputernya dan lebih pendiam dari Hendra. Tapi,
sebenarnya Pak Irwan orang yang baik. Lebih dekat dengan stupa, soul dan aku.
Namun, kadang kami yang banyak bicara.
Lalu, ada Ka Priska. Aku
biasa memanggilnya “eonnie”. Panggilan itu tercipta karena ia lulusan dari
seoul/korea, negara favoritku. Namun, ia bukan pencinta kpop ataupun drama
korea. Ia lebih suka drama taiwan. Cantik, pintar, baik dan selalu ceria. Teman
makan barengku, soul dan stupa. Aku biasa dipanggil “deboy” dan soul “medoy”
olehnya. Temanku bercerita. Ia juga sedikit tahu tentang rahasiaku karena
mediana keceplosan/bocor. Aku kagum pada Ka Priska, satu-satunya programmer
perempuan yang pernah kutemui.
Terakhir, Nina. Sama
seperti Bang Leo, ia juga orang batak. Menurutku ia cantik. Awal mengenalnya,
sedikit pendiam namun ternyata cerewet juga. Ia juga programmer perempuan
setelah Eonnie Priska.
Itulah cerita singkat
tentang mereka yang pernah mengisi hari-hariku. Di tempat itu, aku bertemu dengan orang-orang hebat seperti mereka. Kalau kau pikir, masih bersama
hingga hari ini, tebakanmu salah. Itu dulu, 2 tahun yang lalu.
Sayangnya,
kebersamaan itu hanya sesaat. Satu-persatu dari kami harus mengucapkan selamat
tinggal dan menerima perpisahan yang telah ditakdirkan Tuhan.
Ya, itulah kehidupan.
Kita tak akan pernah tahu kedepannya akan seperti apa. Setiap pertemuan, akan
selalu ada perpisahan. Suka atau tidak suka, terima atau tidak terima, kau
hanyalah pemain yang menjalankan skenario yang telah dituliskan olehNya.
Terkadang, aku rindu
tawa dan canda dari mereka. Rindu, walau hanya mendengar suara mereka. Rindu,
walau hanya melihat saja. Rindu, walau hanya sekedar menyapa.
Mereka seperti “Rumah
Kedua” bagiku.
Benar sebuah pepatah
yang mengatakan, kita akan benar-benar merasa seseorang itu berarti ketika
merasakan kehilangan.
Kadang, aku bertanya
“ Apa kabar kalian?, apakah baik-baik saja? Kapan bisa berkumpul bersama lagi”
Hanya
pertanyaan-pertanyaan sederhana untuk melepas kerinduan. Mungkin, sebagian
sudah saling melupakan. Namun, aku tidak akan pernah melupakan kenangan yang
telah mereka berikan. Terlalu manis untuk dilupakan.
Hanya sekedar doa
sepintas kepada Tuhan, terkadang aku meminta hal ajaib “pertemuan kedua setelah
sekian lama tak bertemu”.
*Foto ini sebagai kenangan
tentang kalian*

0 komentar:
Posting Komentar