Memilih mencintai dalam
diam atau pergi mengatakannya?
Pernahkah
jatuh cinta? Setiap manusia pasti merasakannya.
Lalu
seperti apa jatuh cinta diam-diam? Bagaimana rasanya? Bagaimana bisa seseorang
mencintai dalam diam tanpa berani mengatakannya? Apakah tak punya nyali yang
kuat? Atau memang itu adalah pilihan, menyembunyikan lebih baik daripada
mengatakannya?
Bukankah
itu hal yang lebih menyiksa daripada patah hati?
Tulisan
ini kutujukan untuk seseorang yang lebih memilih mencintai dalam diam, memilih
diam tanpa peduli rasa sakit yang sebenarnya ia rasakan, menyembunyikan rasa
yang rasakan untuk seseorang yang istimewa ketika mulut tak mampu
mengungkapkan.
Bukankah
hal itu berat? Aku salut kepada mereka yang lebih memilih mencintai dalam diam.
Apa
yang bisa mereka lakukan?
Tak
banyak.
Memikirkan
tentang dia dan mengkhayal tentang bayangannya.
Mungkin
akan terlihat seperti ini isi pikiran dan khayalan mereka tentang si dia.
Bagaimana mungkin aku bisa jatuh
cinta padamu?
Bagaimana bisa rasa sakit itu
sesakit ini?
Aku tak pernah menginginkan
seseorang sampai seperti ini.
Aku tak pernah menyalahkannya atas
perasaan yang kurasakan dan bukan salah siapapun atas sesuatu yang tiba-tiba
mengganjal dihatiku.
Bisakah aku untuk sebentar saja
menyentuhmu dengan tanganku?
Bisakah aku menggapaimu jika aku
mengatakan aku mencintaimu ratusan kali?
Bisakah kau mendengar debaran
jantungku tiap kali kau lewat didepan mataku?
Bisakah kau tau isi hatiku jika aku
menangis dan memohon padamu?
Atau jika itu tak mungkin, apakah aku
harus membenci namamu ratusan kali?
Apakah itu mampu menghilangkan rasa
yang telah mendalam, sementara pikiran ini masih saja tertuju padamu.
Apakah aku harus menghitung berapa
banyak rasa sakit yang kumiliki dengan mencintaimu dalam diam?
Cintaku padamu terlalu dalam. Karena
kau bukan seseorang yang dapat kumiliki.
Kau sendiri tak akan pernah tau apa
yang kurasakan. Bahkan kau tak akan pernah merasakan hal yang sama denganku.
Ini karena aku terlalu menyukaimu. Hanya
aku saja yang jatuh cinta pada semua yang ada didirimu.
Bahkan jika aku terluka puluhan
kali, tak apa jika aku masih bisa tersenyum sekali.
Jika aku terluka puluhan kali, tak masalah
asalkan aku bisa melihat senyumanmu.
Meskipun kau terlihat tak mempunyai
rasa, tak apa-apa bagiku.
Melihat matamu yang sendu saja
membuatku lupa tentang kau tak akan pernah tau apa yang ku rasakan.
Cukup berada didekatmu adalah
kebahagiaanku. Bisa bersamamu adalah angan terbesarku.
Meskipun aku harus menunggumu lama,
bukan masalah selama aku bisa melihatmu setiap saat.
Satu hari, satu bulan, bahkan satu
tahun.
Meskipun juga kau tak akan pernah
datang, aku tak akan semudah itu berpaling darimu.
Hingga aku terbuai dalam sebuah
penantian, yaitu menunggumu.
Kapan aku bisa melihatmu dengan
nyaman tanpa harus merasa gelisah ketika berbalik melihatku?
Kapan aku bisa menyingkirkan
perasaan ini jauh-jauh?
Aku ingin tahu semua tentangmu.
Sejak kapan kau telah menempati
ruang dihatiku tanpa aku sadari?
Aku ingin menyimpan namamu dan
memilikimu untukku seorang. Tak boleh ada yang lain.
Bukankah aku egois? Aku tak peduli.
Karena bagiku, hanya kamu seorang. Jika
bukan kamu, aku tak mau.
Menyendiri lebih baik ketika aku
tak mampu berbagi kepada siapapun tentang dirimu.
Ditempat aku biasa menunggumu,
berkhayal banyak tentang dirimu.
Itulah
mengapa ku katakan mencintai seseorang dalam diam jauh lebih menyakitkan
daripada patah hati. Dijelaskan pun kita tak akan mengerti bagaimana seseorang
memilih diam untuk cintanya daripada mengungkapkannya.
Setiap
orang mempunyai caranya masing-masing dalam jatuh cinta. Bila hal itu terjadi
padaku, mungkin aku akan sama seperti itu. tapi resikonya, kau tak akan pernah tau
jawabannya, apakah ia juga mencintaimu atau tidak. walaupun kau sebenarnya
ingin tau, namun tak berani kau katakan.
Resiko
yang lain, kau akan melihatnya dengan seseorang yang menjadi pilihannya, dan
itu bukan kau.
Menunggu
yang kau lakukan itu hanya akan menjadi sia-sia.
Untuk
apa kau ragu? Kau takut bila ia akan menjauhimu, bila ia akan menghindarimu
setelah kau berani mengatakan cinta padanya?
Bagaimana
kalau ia juga merasakan hal yang sama? Kau hanya terlambat mengungkapkannya
sehingga ia telah bersama dengan orang lain.
Tidakkah
kau akan menjadi manusia yang paling bodoh saat itu?
Kalau
saja kau mempunyai nyali yang kuat untuk mengatakan “aku menyukaimu”, “aku
jatuh cinta padamu”, mungkin seseorang yang kini bersamanya adalah dirimu.
Tidak
pernahkah kau berpikir hal itu? singkirkan rasa takutmu dan ungkapkan kepadanya.
Ketika
waktu telah pergi dan berlalu, kau akan menyesal karena tak pernah
mengatakannya.
