Seseorang selalu ingin didengar dan punya tempat untuk bercerita. Sedang aku memilih berteman dengan sepi. Di satu ruang aku mampu menumpahkan segala lara yg tak mampu kuutarakan lewat kata. Tak apa, karna ini tentang dia yg membuatku jatuh cinta. Kadang kecewa, kadang juga bahagia. Meski dia sering kali menciptakan mendung dan airmata di langitku. Tapi, aku percaya bukankah akan ada pelangi setelahnya?

Minggu, 26 Desember 2021

Cinta & Perjuangan

Desember 26, 2021 Posted by Debby Nuramiruddin No comments

Cinta & Perjuangan

 

            Ponsel Rhea berdering. Sebuah panggilan masuk dari sahabatnya, Meita membangunkan dirinya. Diraihnya ponsel yang terletak di meja dan mengangkatnya dengan keadaan setengah mengantuk.

“Halo..” jawab Rhea masih terkantuk-kantuk. Suara Meita sudah mengganggu jatah tidur panjangnya di hari libur.

“Rhe! Lo masih tidur? Nyokapnya Dimas meninggal..” walau kantuk menguasai dirinya, suara Meita dapat terdengar jelas. Rhea sontak terbangun dengan jantung berdebar kencang.

“Lo serius, Mei?” tanya Rhea masih tak percaya. Dia mengingat jelas semalam dia dan Dimas masih berbincang dan bercanda ria dari balik telepon.

“Gue sama anak yang lain mau ke rumah Dimas. Kita tunggu lo disana ya” telepon pun ditutup. Rhea segera mengecek ponselnya. Beberapa pesan masuk dari teman-temannya dan juga Dimas. Dia membuka dan membaca isinya “Mama aku meninggal..” membuat hatinya berkecamuk. Pesan itu dikirim 2 jam setelah mereka mengobrol semalam. Dia mencoba menekan nomor dan menghubungi Dimas, sang kekasih. Namun, berkali-kali tak mendapat jawaban. Sama hal dengannya, Dimas pasti masih shock atas kejadian ini. Rhea mempercepat langkahnya ke kamar mandi, bersih-bersih diri dan segera menemui kekasihnya disana.

*****

            Rhea tiba di rumah Dimas. Terdapat bendera kuning di depan rumah dan banyak orang keluar masuk, mungkin dari kerabat dekat dan tetangga sekitar. Ketika di dalam, tampak semua orang mengerubungi dan membacakan doa untuk Almarhum. Meita dan temen-teman sekelasnya sudah hadir lebih dulu dibanding dirinya. Melihat kedatangan Rhea, Meita menghampiri dan menepuk pundaknya.

“Mei, Dimas dimana?” Rhea mencari-cari keberadaan Dimas namun, tak jua ia temukan.

“Dia di dalam kamarnya, Rhe. Gue rasa dia butuh lo sekarang..” ucapan Meita benar. Rhea mengangguk dan berlari menunju kamar Dimas.

“Dimas..” Pintu tak dikunci rupanya. Rhea tertegun melihat dimas yang tengah duduk terdiam di tempat tidur. Pikirannya tampak kosong. Dimas pasti terpukul berat atas kepergian Mamanya. Rhea tahu kekasihnya itu sangat menyayangi Sang Mama. Semenjak ditinggalkan oleh Ayahnya, hanya Sang Mama yang menjadi penyemangat dan panutan baginya. Mamanya sudah berjuang keras untuknya.

Rhea membelai punggung Dimas. Tatapan matanya terpancar kesedihan yang mendalam.

“Maaf, aku datang terlambat. Sekarang aku disini..” ujar Rhea.

Dimas menghujamnya dengan sebuah pelukan. Dia menangis tersedu-sedu di balik punggung Rhea. Rhea masih membelai punggung Dimas dan mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja. Tak banyak kata yang bisa diberikan olehnya. Mungkin yang Dimas butuhkan adalah tempat bersandar untuk menumpahkan segala kesedihan dan kehilangan. Tempat yang menenangkan baginya untuk pulang.

*****

            Sudah seminggu semenjak peristiwa itu, Dimas masih belum menampakkan dirinya di sekolah. Teman-teman sekelasnya selalu menanyakan kondisi terkini Dimas pada Rhea. Kebetulan hari ini Rhea akan kembali menjenguk. Dia juga tak lupa membawakan makanan kesukaan Dimas yang mungkin bisa menghibur suasana hatinya saat ini. Ia menekan bel rumah namun, tak ada jawaban. Rhea mengambil ponsel dari saku seragamnya dan menelepon Dimas. Tetap sama, tak ada juga jawaban.

“Sepertinya memang engga ada siapa-siapa..” ujar Rhea. Lalu, menggantungkan kantong plastik berisi Hokben kesukaan Dimas di pagar pintu gerbang. Dia memutuskan untuk pulang dan kembali lagi esok. Saat ia melangkah, sosok Dimas telah berdiri di hadapannya. Rhea tersenyum. Rupanya dia habis dari mini market, terlihat dari kantong plastic bawaannya.

“Kamu dari mana aja? Aku telpon engga diangkat..” Rhea langsung menyambar ke dalam pelukan paling hangat menurutnya.

“Ayo, masuk ke dalam” jawab Dimas. Dimas berjalan mendahuluinya dan mengambil kantong plastik yang digantungkan Rhea. Entah mengapa Rhea merasa ada yang berbeda dari sikap Dimas atau mungkin hanya perasaannya saja.

Suasana rumah terlihat sepi. Rhea tak bisa membayangkan Dimas harus tinggal seorang diri, tak ada siapapun yang menemaninya di saat seperti ini.

“Kamu udah makan belum? Aku tadi bawain Hokben kesukaan kamu” ucap Rhea bersemangat sambil menyajikan makanannya di atas meja.

Dimas tak menjawab dan hanya diam. Seperti ada sesuatu yang sedang dia pikirkan. Rhea menghampiri Dimas yang termenung di sofa.

“Kamu kenapa? Kalau ada masalah cerita ke aku” Rhea meraih tangan Dimas seraya memberikan isyarat bahwa ia akan selalu ada untuknya kapan pun Dimas butuhkan.

“Ayahku tadi datang, Rhe. Dia pengen aku tinggal sama dia. Setelah sekian lama, dia muncul setelah Mama sudah engga ada” Dimas mulai bercerita. Ada airmata yang menumpuk di pelupuk matanya.

“Aku benci sama dia, Rhe. Dia udah meninggalkan aku dan Mama demi wanita lain” Dimas tertunduk dan melampiaskan seluruh kesedihan yang lama bersemayam di hatinya.

“Aku udah engga punya siapa-siapa lagi, Rhe..” Dimas masih hanyut dalam kesedihan yang belum juga pergi, masih menghantui.

Rhea memeluk Dimas sambil berkata “Kamu masih punya aku, Dim. Aku akan selalu ada buat kamu. Jangan sedih lagi, ya” Rhea ingin dia tahu bahwa dirinya tak sendirian. Masih ada hadirnya yang akan selalu di sisi Dimas.

“Makasih, Rhe” hanya itu yang dia katakan, sudah cukup mewakili bahwa Dimas mengerti kata-kata yang ia ucapkan.

*****

            “Rhe, Dimas belum juga masuk sekolah?” tanya Meita yang memperhatikan Rhea masih asyik menyalin materi di papan tulis ke dalam buku catatannya.

“Dia masih down, Mei..” Rhea menjawab. Dia juga tidak tahu sampai kapan Dimas akan bersikap seperti ini.

“Ini sudah 3 minggu lho, Rhe! Gue tau dia sedih atas kepergian nyokapnya. Tapi, kan engga berlarut-larut gini, Rhe. Lo udah coba ngomong ke dia?” Rhea terdiam. Perkataan sahabatnya itu memang benar. Apalagi tahun depan mereka sudah kelas 3 SMA.

“Lo bener, Mei. Setelah pulang sekolah gue ke rumah dia lagi deh” ucapan Rhea mendapat anggukan setuju dari Meita. Sebenarnya, ada hal yang belum diceritakan Rhea. Akhir-akhir ini Dimas sudah jarang menelepon ataupun sekedar mengirimkan pesan padanya. Rhea benar-benar kehilangan sosok kekasih yang dulu membuatnya tersenyum dan tertawa. Bahkan menghabiskan waktu bersama. Rhea mencoba bersabar dan membuat dirinya mengerti bahwa ini hanya masalah waktu saja. Bahwa semua akan baik-baik saja dan kembali seperti biasanya.

Rhea meraih ponselnya dan mengirimkan pesan ke Dimas yang isinya “Pulang sekolah, aku ke rumah kamu, ya”. Rhea menunggu, menantikan balasan. Tapi, ponselnya tak menunjukkan reaksi apa-apa.

“Lo kenapa, Rhe?” Meita seolah tahu suasana hatinya yang kini sedang tak baik. Dia tengah merindukan dan mencemaskan Dimas yang tak kunjung memberikan kabar.

“Engga papa, Mei..” jawab Rhea cengar-cengir. Dia tak ingin membuat sahabatnya khawatir. Cukup Rhea pendam saja dan selesaikan masalahnya sendiri.

*****

          Rhea sudah menginjakkan kakinya di depan rumah Dimas. Tapi, kali ini pintu rumah dalam keadaan terbuka, membuat Rhea sedikit lega. Dibukanya pintu gerbang dan masuk ke dalam. Ternyata Dimas sedang berbaring di sofa.

“Dimas..” Rhea berkata sambil mengetuk pintu. Sontak membuatnya terbangun dan menyadari kehadiran Rhea yang tersenyum ke arahnya. Rhea menghampiri Dimas dan duduk di sebelahnya.

“Gimana keadaan kamu, Dim? Udah baikan?” ucap Rhea. Dimas tetap diam.

“Mau sampai kapan kamu begini terus, Dim? Pasrah pada keadaan” sambungnya. Rhea menekankan kata-katanya, mengungkapkan sesuatu yang mengganjal hatinya belakangan ini.

“Kamu ngomong apa, Rhe?” akhirnya Dimas bersuara.

“Kapan kamu kembali ke sekolah, Dim? Teman-teman nanyain kamu” Rhea kembali bertanya. Satu-persatu pertanyaan yang menghantuinya akan ia keluarkan saat ini.

“Aku engga tau, Rhe” jawab Dimas. Sebuah jawaban yang tak memuaskan hati Rhea.

“Kamu bisa dikeluarkan dari sekolah, Dim”

“Aku engga peduli” sungguh Rhea tak bisa menerima jawaban Dimas kali ini.

“Apa? Kamu mau menghancurkan masa depan kamu sendiri?” nada suara Rhea mulai meninggi sambil menggelengkan kepala, tak percaya. Tak ada jawaban lagi dari Dimas.

“Kamu engga boleh begini terus, Dim! Kamu harus bangkit!” ujar Rhea menggebu-gebu.

“Kamu engga akan pernah ngerti apa yang aku rasain, Rhe!” bentak Dimas.

“Aku pernah di posisi kamu, Dim. 2 tahun lalu, Ayahku juga meninggal. Aku ngerti rasanya kehilangan orang yang paling kita sayang..” tanpa sadar airmata menetes di pipi Rhea. Dimas bahkan melupakan cerita itu. Cerita tentang Rhea yang merasakan kehilangan paling berat tapi, kehadiran Sang Mama membuat dirinya tegar dan bisa melewati semuanya.

“Aku cuma engga mau kamu terpuruk terus, Dim. Mama kamu juga sedih ngelihat kamu kayak gini..” nada Rhea merendah, mencoba menenangkan dirinya dan Dimas.

“Mending kamu pulang. Engga perlu kesini lagi. Aku bisa mengurus diriku sendiri” Rhea tak menyangka ucapan yang terlontar dari mulut Dimas. Entah mengapa, kata-kata itu begitu menyakitkan didengar. Kepeduliannya kini diacuhkan.

Rhea diam dan menatap Dimas yang tak memandang dirinya. Kemudian dia pergi tanpa mengatakan apa-apa. Mungkin Dimas membutuhkan waktu sendiri. Rhea juga membutuhkan waktu untuk mengerti yang sedang terjadi. Lagi dan lagi ini hanya masalah waktu.

Semesta, mengapa begini jadinya?

Mengapa jarak kini mulai terasa?

Aku harus bagaimana?

Pergi atau bertahan saja?

*****

            Malam ini turun hujan, menambah rasa pilu yang tersimpan di hati. Sekedar pesan ataupun telepon dari Dimas yang tak membuat kian cemas tak kunjung dia terima. Semenjak hari itu Dimas semakin bungkam. Pesan-pesan yang dikirimkan juga tak mendapat jawaban. Rhea semakin dibuat bingung oleh sikap Dimas yang seolah menutup diri. Kali ini, dia mencoba menelepon kekasihnya itu. Menunggu hingga suara yang paling ingin didengar menyapanya begitu hangat. Tidak lagi diangkat atau memang sengaja tak diangkat.

“Dimas, aku kangen kamu..” nada suara Rhea lirih. Airmata kembali jatuh di pipi.

Angin berbisik lirih di telingaku

Menembus celah hujan kala itu

Terlintas bayanganmu menyapaku

Ataukah hanya ilusi sebab setumpuk rindu?

Entah bagaimana Rhea menepis rindu yang kian menggebu. Entah apa yang sedang menyelimuti hati dan pikiran Dimas. Rhea tak mengenal lagi sosok itu. Dimas telah banyak berubah dan berbeda. Sosok yang dulu selalu ada untuknya, membuatnya tertawa, kini menghilang tanpa kata-kata.

Rhea mencoba mengirimkan pesan ke Dimas. Entah sudah keberapa kalinya. “Dimas, kamu baik-baik saja, kan? Tolong jangan buat aku semakin khawatir. Aku kangen kamu, Dim. Kangen kita menghabiskan waktu bersama kayak dulu..” pesan itu terkirim. Dia berharap kali ini dia mendapatkan jawaban yang menyenangkan hati.

Tiba-tiba ponselnya berbunyi, sebuah pesan masuk. Rhea meraih ponselnya dan betapa terkejutnya sebuah balasan dari Dimas yang telah ditunggu-tunggu selama ini. Ada senyum yang tersungging di bibirnya ketika membaca pesan yang berbunyi “Besok sore, aku ke rumah kamu”. Sungguh, inilah yang dia mau, berbaikan dengan Dimas dan kembali seperti sedia kala.

*****

            “Aku udah di depan rumahmu..” sebuah pesan masuk dari Dimas menyita perhatian Rhea. Dia begitu antusias menunggu hari ini tiba. Kedatangan Dimas yang paling ditunggu-tunggunya sedari tadi. Dia bahkan sudah berias sejak pagi. Pertemuan yang sangat istimewa dari biasanya. Jantungnya sedikit berdebar-debar ketika membuka pintu, sosok Dimas tengah berdiri di hadapannya. Wajah yang sudah lama tak dilihatnya. Rambutnya sedikit berantakan tapi, dia masih Dimas yang sama.

“Dimas..” sapa Rhea yang langsung menyambar ke pelukan Dimas. Ia merindukan tempat ternyaman itu.

“Ayo, masuk ke dalam..” Rhea melepaskan pelukannya. Dimas hanya diam dari tadi.

“Disini aja, Rhe. Ada yang pengen aku omongin” Dimas mulai berbicara. Tatapan matanya terlihat begitu serius, hingga mengundang tanya.

“Kita ngomong di dalam aja, Dim” jawab Rhea menarik tangan Dimas. Namun, tiba-tiba saja Dimas melepaskan genggamannya.

“Aku cuma sebentar saja kesini. Cuma mau bilang.. kita udahan saja, Rhe” ucapan Dimas seolah menghujam jantung Rhea dengan benda keras, terasa menyakitkan.

“Kamu ngomong apa sih, Dim?” Rhea bertanya, menggeleng kepala. Mungkin saja ia salah dengar atau Dimas mencoba mengerjainya.

“Kita putus saja, Rhe” Dimas mempertegas kalimatnya. Rhea semakin tak berdaya. Dimas berpaling, berniat pergi.

“Kamu kenapa sih, Dim? Aku kira kamu kesini buat baikan. Tapi, kenapa malah putus? Salah aku apa, Dim?” Rhea menghentikan langkah Dimas. Dia menoleh dan melihat Rhea sudah berlinang air mata. Lagi-lagi ia membuatnya menangis. Padahal Dimas hanya ingin membebaskan Rhea sepenuhnya yaitu dengan tidak bersamanya. Berhenti menyakiti hati gadis itu lagi.

“Maafin aku, Rhe. Aku engga pantas buat kamu. Kamu bisa mendapatkan cowok yang lebih baik dari aku. Aku pergi, Rhe.." ucap Dimas menyudahi kata-katanya.

“Kamu jahat, Dim..” airmata Rhea menetes tanpa henti. Tapi, Dimas tak juga menghentikan langkahnya. Ia berlalu pergi, meninggalkan Rhea dengan kesedihannya yang baru.

Mengapa rasanya sesakit ini?

Bukan memperbaiki, kamu malah menyudahi

Apakah menyerah jawabannya?

Ketika kita sudah tak lagi sama arahnya

Rhea melangkah masuk ke dalam kamarnya, mencari dan mengambil kotak yang berisi barang-barang pemberian Dimas. Hari itu dia sudah sangat melukai hatinya. Masih berat hati tapi, dia mencoba membuang semua kenangan bersama Dimas ke dalam tong sampah. Ceritanya bersama Dimas benar-benar telah berakhir.

*****

Rhea mencoba menghadapi hari-harinya seolah tak terjadi apa-apa. Namun, kabar putus Rhea dan Dimas sudah terdengar oleh Meita. Dia tak habis pikir Dimas berani melakukan hal yang menyakiti sahabatnya berulang kali. Sebagai sahabat yang baik, Meita mencoba menenangkan dan menghibur Rhea yang sedang gundah.

“Lupain Dimas, Rhe! Dia emang engga pantes buat lo. Masih banyak cowok yang lebih baik dari Dimas” Meita mengelus lembut punggung Rhea.

“Engga bisa. Aku engga bisa membiarkan Dimas nyelesaiin masalahnya sendiri. Gimana kalau Dimas nekat dan melakukan sesuatu yang bahaya buat dirinya sendiri?” begitu banyak pertanyaan-pertanyaan yang mengganggu pikiran Rhena seperti bom yang mau meledak.

Di sekolah, Rhea tak fokus belajar. Pikirannya terus tertuju pada Dimas, ditambah ketika dia tahu Dimas dikeluarkan dari sekolah. Semakin membuatnya khawatir tak karuan.

“Makan yuk, Rhe!” Ajakan Meita untuk makan siang di kantin ditolaknya mentah-mentah. Pada jam istirahat, Rhea memilih menyendiri di ruang kelas. Ia hanya ingin sendiri, menatap langit dari balik jendela ruang kelasnya. Bahkan, mentari begitu ceria siang hari ini. Berbeda dengan suasana hati Rhea. Di pikiran dan hatinya masih terselip satu nama, Dimas. Keputusannya mengakhiri hubungan nyatanya tak merubah keadaan. Padahal hatinya sudah sering disakiti. Tapi, tetap saja Dimas masih tersimpan di relung hati. Entah sampai kapan ia masih bertahan dengan rasa yang seharusnya sudah mati. Rhea hanya saja belum menemukan jawaban yang pasti.

Langit seolah merekah bahagia

Tapi, mengapa aku tak secerianya?

Mengapa yang singgah hanya sepi?

Meski tahu ia telah pergi

Mungkinkah yang disana merasa demikian?

Tapi, mengapa yang terucap kata perpisahan?

Kamu memilih menghilang dibanding berjalan berdampingan

*****

            Kini, Rhea sudah berada di depan rumah Dimas. Hatinya yang telah menuntunnya untuk menemui Dimas. Pintu rumah dalam keadaan tertutup. Rhea mengetuk pintu rumah. Namun, tak ada jawaban. Dia tahu Dimas sedang menutup diri dari dunia luarnya. Hal itu yang selalu mengganggu pikiran Rhea.

“Dim, Aku tau kamu ada di dalam. Buka pintunya, Dim. Aku pengen ngomong sama kamu” tak ada balasan dari ucapan Rhea. Hanya sunyi di sore hati.

“Aku engga terima kamu mutusin aku gitu aja. Kalo emang kamu engga mau ketemu hari ini, aku bakal terus dateng besok, besoknya lagi sampe kamu mau nemuin aku..” Rhea mengungkapkan seluruh isi hatinya. Dia ingin membantu Dimas melewati ini semua.

Rhea pun pergi dan esok akan kembali lagi. Di dalam rumah, dari balik jendela, Dimas memperhatikan langkah kaki Rhea yang mulai menjauh. Dia tak ingin menemui Rhea bahkan untuk sekedar menyapanya.

Hari-hati berikutnya Rhea kembali mengunjungi Dimas. Tanpa kata menyerah dan tekadnya sungguh kuat, dia tak akan meninggalkan Dimas sendirian. Rhea terus menunggu hingga pintu rumah itu terbuka. Berkali-kali dia mencoba menghubungi namun, nomornya tidak aktif.

“Dim, kamu dimana?” Rhea benar-benar khawatir. Dia akan menunggu Dimas sebentar lagi. Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Sebuah panggilan masuk dari “Mama” langsung dijawabnya.

“Sayang, kamu ko belum pulang?” sepertinya mamanya mencemaskan dirinya.

“Maaf, Rhea lupa bilang, Ma. Rhea lagi di rumah Dimas. Sebentar lagi Rhea pulang ya..”

“Jangan malam-malam pulangnya ya, Rhe” ujar mamanya. Rhea mengiyakan dan kemudian telepon ditutup.

Rhea sedari tadi duduk di lantai yang dingin sambil sesekali melihat ke arah pintu. “Apa Dimas bener engga ada di rumah?” tanyanya dalam hati. Tapi, dia tak mengurungkan niatnya untuk segera pulang. Dimas tak tahan, mendiamkan Rhea yang sedari tadi menunggu dirinya. Dia akhirnya berniat menemui Rhea untuk memintanya pulang dan tak menemuinya lagi.

Pintu pun terbuka. Begitu senangnya ketika sosok yang ditunggu-tunggu menampakkan dirinya.

“Dimas..” Rhea langsung berdiri. Senyumnya merekah ketika wajah yang selama ini ingin dilihat, di hadapannya saat ini.

“Pulang, Rhe! Kamu ngapain masih di sini?” kata Dimas bergetar.

“Kamu pucet, Dim. Kamu baik-baik aja, kan?” Rhea membelai wajah Dimas namun, Dimas langsung menangkisnya.

“Aku bilang kamu pulang. Kenapa kamu masih ngeyel sih!”

“Aku khawatir sama kamu, Dim. Biarin aku berada di samping kamu” Rhea berharap Dimas mengerti perkataannya kali ini.

“Aku engga butuh kamu, Rhe. Aku bisa urus diri aku sendiri” Dimas ternyata masih keras kepala.

“Kamu kenapa sih, Dim? Aku kesini buat kamu” Rhea mencoba memberi pengertian.

“Kita udah putus, Rhe!” Dimas seolah menekankan kata-katanya agar Rhea menyerah dan mengerti keadaannya saat ini.

“Aku engga pernah bilang iya” Rhea menyanggah ucapan Dimas.

“Terserah” Dimas menatap Rhea. Wajah yang selalu singgah di pikirannya setiap malam.

“Kamu udah makan belum, Dim? Aku bawain makanan dari warung Bu Ijah. Kamu pasti suka” di Kantin sekolah, Rhea dan Dimas selalu makan di warung Bu Ijah kalau jam istirahat. Selain masakannya yang enak, harganya juga murah meriah untuk kalangan pelajar seperti mereka.

Entah mengapa, pandangan Dimas seolah kabur. Rhea yang berdiri di hadapannya tak terlihat begitu jelas. Dimas terjatuh dan tersungkur.

“Dimas, kamu kenapa?” Rhea terkejut. Dia mencoba membantu Dimas berdiri.

“Rhe, aku..” ujar Dimas terbata-bata. Dalam sekejap Dimas tak sadarkan diri.

“Dimas! Bangun! Kamu kenapa?” Rhea trus memanggil namanya sambil menggoyang-goyangkan tubuh Dimas namun, tak bereaksi apa-apa. Dia segera mengambil ponselnya dan menghubungi orang yang dapat membantunya.

*****

            “Kamu yakin engga ikut Mama pulang?” tanya Mamanya ketika melihat kecemasan di wajah putri tunggalnya itu.

“Rhea mau nemenin Dimas sebentar ya, Ma” Mamanya mencoba mengerti keadaan yang sedang dialami Rhea. Dia mengangguk dan pergi.

Dimas masih belum sadarkan diri. Rhea kembali mengingat ucapan Dokter yang mengatakan bahwa Dimas kekurangan asupan makanan hingga tubuhnya lemas dan pingsan. Ia tak habis pikir dengan jalan yang Dimas pilih.

“Apa Dimas ingin pelan-pelan mengakhiri hidupnya?” Rhea terus memandang Dimas yang masih di ruang perawatan. Tangannya diinfus dan ia belum juga bangun. Karena kondisinya yang lemah, Dimas harus dirawat di Rumah Sakit.

Rhea masuk ke dalam ruangan, memperhatikan wajah Dimas yang sedang tertidur dan terbaring di ranjang. Rhea mendekat dan kemudian mencium kening Dimas. Tak sedikit pun hatinya ingin pergi. Hatinya terus berkata untuk bertahan.

“Aku sayang banget sama kamu, Dim” airmata Rhea tiba-tiba jatuh. Dia sungguh tak ingin kehilangan Dimas.

Malam sudah menampakkan dirinya. Rhea akan berjaga di Rumah Sakit hingga Dimas tersadar. Ia sudah memberitahukan Mamanya agar tidak perlu mencemaskan dirinya. Dia ingin ada di sini ketika Dimas membuka matanya. Rhea akan menemaninya sampai dia sembuh dan bisa kembali pulang.

Aku berada di titik paling berat yaitu merelakan

Tapi, bagaimana itu mudah jika kamu masih tersimpan dalam ingatan?

Bahwa aku tak pernah sepenuhnya mengikhlaskan

Bahwa aku benci mengakui kehilangannya begitu menyakitkan

Mungkin semesta senangnya menggoda atau membuat aku berduka

*****

            Dimas melihat Rhea tertidur di samping ranjang. Dia pasti lelah, sudah menjaganya semalaman. Seperti ada dorongan dari hatinya, Dimas membelai rambut gadis yang masih dicintainya itu. Rhea merasakan sesuatu yang menyentuh rambutnya. Dia pun terbangun dan melihat Dimas sudah sadarkan diri.

“Dimas, kamu udah sadar? Kamu engga papa? Aku panggilin Dokter ya” Dimas menarik tangan Rhea agar ia tak beranjak kemana-mana.

“Aku engga papa, Rhe” ucap Dimas pelan.

Rhea kembali duduk di sebelahnya dan memandangi wajah Dimas dengan sangat lega. Keduanya saling menatap satu sama lain. Keheningan tercipta ketika tak satu pun kata mampu terucap. Rhea mencoba mengeluarkan pikiran yang mengganggunya sejak malam. “Dl im, kenapa kamu jadi kayak gini? Kamu pengen kelarin hidup kamu pelan-pelan ya! Apa sih yang ada di pikiran kamu itu, Dim? Sampe-sampe aku engga ngerti sama jalan pikiran kamu” Rhea kembali menitikkan airmata. Jika sudah menyangkut isi hatinya, terkadang airmata juga menjadi saksi.

“Kenapa kamu engga sekalian minum Baygon atau loncat dari gedung tinggi biar mati sekalian!” Rhea melanjutkan kata-katanya dengan penuh emosi.

Dimas hanya diam. Lagi-lagi dia sudah membuat Rhea menangis. Dia sudah melepaskannya tapi, Rhea datang kembali mengisi kekosongan jiwanya.

“Kamu tau engga, sih? Mama kamu di atas sana engga akan seneng ngelihat kamu kayak gini! Kenapa kamu keras kepala banget sih, Dim!” Rhea meluapkan seluruh kekesalan di hatinya. Dia hanya ingin Dimas kembali seperti dulu, yang selalu membuatnya tersenyum.

“Aku juga belum siap kehilangan kamu..” tagisan Rhea semakin menjadi-jadi. Rhea menutup wajahnya, menyembunyikan tangis itu.

Dimas langsung menarik Rhea ke dalam pelukan dan berkata “Maafkan aku, Rhe. Kenapa kamu masih peduli sama aku?” Dimas menyerah. Karena sikap keras kepalanya, dia benar-benar sudah melukai hati Rhea terlalu dalam. Tangis Rhea pecah di balik punggungnya. Dimas membelai rambutnya begitu lembut dan mempererat pelukannya.

“Aku sayang sama kamu, Dim. Kamu jangan kayak gini lagi ya” Rhea berkata, masih dipenuhi isak tangis. Dimas mengangguk. Dia tak akan lagi membuat Rhea menangis. Rhea yang selalu ada untuknya meski Dimas memintanya pergi. Dia selalu di tempat yang sama, mengulurkan tangan untuknya. Saat ini, Dimas ingin menjalani hati-hari barunya bersama Rhea.

*****

            Dimas mengalami banyak perubahan baik. Setelah pulang dari Rumah Sakit, Rhea tak pernah absen mengunjungi Dimas di rumahnya. Dimas merasa dirinya tak sendirian lagi. Kehadiran Rhea memberi semangat baru baginya. Ponselnya bordering, sebuah panggilan masuk dari “Rhea” selalu membuat Dimas tersenyum.

“Iya, Rhe..” Dimas menjawab lembut.

“Pulang sekolah aku ada tugas kelompok. Jadinya aku engga bisa nemuin kamu” ada suara kecewa yang bisa ia rasakan.

“Engga papa, Rhe. Aku juga baru mau ngasih tau kamu. Aku juga mau pergi” kata-kata Dimas menggantung, membuat Rhea bertanya-tanya.

“Aku mau ke rumah Ayah, Rhe. Dia ngundang aku makan malam di rumahnya” mendengar ucapan Dimas membuat Rhea lega. Dimas sudah mulai berdamai dengan kehidupannya.

“Kamu hati-hati ya. Jangan lupa kabarin aku” akhirnya telepon pun ditutup. Dimas segera bergegas melangkah keluar, menyongsong hari yang baru.

Dimas telah sampai di rumah Ayahnya. Dia mengingat kembali di masa terpuruknya, Ayahnya selalu datang berkunjung. Namun, Dimas tak berani menemuinya. Selalu ada surat yang ditinggalkan di depan pintu rumah. Sebuah surat berisi permintaan maaf karena telah meninggalkan dia dan ibunya serta keinginan untuk memperbaiki kesalahannya di masa lalu. Ayahnya ingin Dimas tinggal bersamanya dan menjadi bagian dari keluarga kecilnya. Selain itu, nasehat-nasehat yang selalu Rhea berikan menjadi bahan pertimbangan baginya. Mungkin juga ini adalah keinginan Mamanya yang telah tiada. Bahwa Dimas harus bisa berdamai dengan hati dan masa lalunya. Kini, dia ingin menebus kesalahannya dan memulai kembali tanpa ada rasa kebencian dan dendam di hati.

“Ayah..” pintu rumah dibuka. Sosok Ayahnya kini berdiri di hadapannya.

“Dimas! Gimana kabar kamu, nak? Kamu sehat, nak?” tanya Ayahnya dengan penuh semangat.

“Baik, yah” jawab Dimas. Ayahnya langsung memeluk putra yang telah dia tinggalkan dulu.

“Ayo masuk, nak!” ayahnya mempersilakan dan menuntun Dimas masuk ke dalam rumah.

“Bu, Dafa, Luna! Ka Dimasnya udah dateng nih” teriakan Ayahnya seolah menggema seisi rumah.

“Gimana sekolah kamu, nak?” tatapan Ayahnya penuh cinta. Kedatangan Dimas disambut hangat olehnya.

“Aku dikeluarin dari sekolah, yah” mungkin ucapan Dimas akan membuat Ayahnya kecewa.

“Engga papa, nak. Nanti Ayah urus sekolah kamu yang baru disini ya” Dimas tersenyum mendengar perkataan Ayahnya.

“Halo! Ini yang namanya Ka Dimas, ya!” seruan bocah membuat Dimas sedikit terkejut. Mereka memberi salam dan memperkenalkan diri kepada Dimas lalu, mencium tangannnya seperti seorang adik yang menghormati kakaknya.

“Ka Dimas bakal tinggal sama kita kan, bu?” tanya Luna, si bungsu.

“Coba tanya sama Ka Dimasnya..” semua menatap ke arah Dimas.

“Ka Dimas mau kan, ya? Jadi bisa nemenin Dafa maen mobil-mobilan” perkataan Dafa membuat Dimas tersenyum. Dimas mengelus kepala si kecil Dafa.

“Iya, kalau boleh..” jawab Dimas malu-malu dan masih terlihat canggung.

“Tentu aja boleh, nak!” Ayahnya melanjutkan kata-kata Dimas.

Hati Dimas kini sudah benar-benar lega. Dia tak sabar menceritakan kepada Rhea tentang keluarga barunya. Tak ada lagi yang mengganjal di hati Dimas. Dia ingin melanjutkan hidupnya bersama orang-orang di sekitarnya yang menyayangi dirinya. Kini, Dimas sudah menemukan sepenuh kebahagiannya.

*****

Kehilangan mengajarkan kita untuk belajar mengikhlaskan walau terkadang menyakitkan. Bukan bersembunyi tapi, dihadapi! 

Tentang Dia

Desember 26, 2021 Posted by Debby Nuramiruddin No comments

Tentang Dia

 

Sore itu, pekerjaanku tak terlalu banyak dan dapat kuselesaikan tepat waktu. Jam sudah menunjukkan pukul 6 sore, jam pulang perkantoran di Jakarta. Aku pun menyambar tas, mulai beranjak dan berpamitan pada teman-temanku yang masih betah rupanya.

“Pulang dulu ya, semuanya..” ujarku sambil melambaikan tangan dan bergegas turun ke bawah.

“Hati-hati Ra..” sahut Winda, membalas ucapanku.

Perkenalkan namaku Naura. Aku telah bekerja selama 2 tahun di perusahaan Property dan kebetulan divisiku berada di lantai 2 dari gedung bertingkat 4 ini. Lingkungan kerja dengan rekan-rekan dan pekerjaan yang menyenangkan menjadi salah satu alasanku nyaman bekerja hingga saat ini.

       Sayang, tiba-tiba hujan datang tanpa diundang. Ia menyapaku di sore menjelang malam. Aku kelimpungan dan segera berlari menuju Halte Bus, tidak jauh dari kantor. Bodohnya, aku suka teledor orangnya, tidak sedia payung sebelum hujan. Jarak rumah dan kantor yang terletak di Jakarta Selatan, pusat perkantoran dengan gedung-gedung bertingkat cukup jauh dan memakan waktu 1 jam di perjalanan. Rasanya, aku akan pulang terlambat. Tak jadi masalah karena kurasa aku ingin menetap sebentar saja. Aroma hujan terasa menggoda daripada biasanya. Entah mengapa aku menyukai cara hujan turun ke bumi, tak mau melewatkannya dan merasakan setiap partikel-partikel kecil yang jatuh dengan jemariku.

“Belum pulang nih” suara yang tak asing olehku dan dari sepatu lusuhnya aku tahu siapa pemiliknya. Aku menoleh dan benar dia sudah berdiri sambil tersenyum ke arahku. Dalam sekejap, jantungku berdebar-debar kencang.

“Kamu sendiri belum pulang?” Tanyaku mencoba bersikap wajar dan apa adanya.

Dia adalah Saga, teman sekantorku dari divisi Technology. Suatu kebetulan bisa berada di halte yang sama. Sebelumnya, aku tak melihatnya di dalam dan pikirku mungkin ia sudah pulang sedari tadi. Kini, semesta membuatku terjebak bersama Saga, manusia yang tak banyak bicara, suka menyendiri, kurang bersosialisasi dengan teman sekantor ─ kalau itu kata mereka. Tapi, aku tak sependapat dengan mereka. Menurutku, bukanlah hal buruk dan mungkin itu adalah salah satu keunikannya. Jika kamu sudah mengenalnya lebih dekat, ia adalah seorang teman yang baik walaupun terkadang menyebalkan. Ia cukup jahil dan aku adalah korban setiap kejahilannya. “Kenapa ya? Aku selalu antusias ketika bercerita tentangnya”. Mungkinkah karena aku mempunyai rahasia yang telah lama kusimpan rapat-rapat? Hanya semesta yang tahu bahwa diam-diam aku memendam perasaan untuknya.

Kamu yang selalu terlintas di benakku

Bagai pelangi yang datangnya ditunggu-tunggu,

Memberi warna di hidupku

Seperti kopi yang membuatku candu,

Aku ingin tahu segala tentangmu

“Hujan, kan. Jadi engga bisa pulang..” Bodohnya aku, ucapku dalam hati. Sekian kalinya, ia tersenyum dan selalu berhasil melelehkan hatiku bahkan untuk sekedar pertanyaan bodoh yang kulontarkan.

“Paling bentar lagi juga reda ya” Aku berharap langit kali ini setuju dengan perkataanku. Aku paling tidak bisa berlama-lama bila berada di dekatnya, akan selalu ada kebodohan yang kuciptakan tanpa sengaja.

            Entah mengapa seketika hujan mulai agak reda. Sulit dipercaya permintaanku seketika dikabulkan semesta. Dalam hati, aku tertawa sendiri dan berpikir untuk segera pergi menjauh dari medan yang penuh ketegangan ini. Baru saja ingin kupergi, langkah kakiku sekejap terhenti. Sebuah kata-kata yang terucap darinya kembali membuat jantungku berdebar-debar tak karuan. Itulah kehebatannya yang banyak orang tak tahu.

“Makan dulu, yuk!” Hari ini aku dibuat bahagia olehnya, selain hujan. Aku paling tak bisa menolak ajakan darinya dan membuang kesempatan yang begitu langka. Tanpa pikir panjang aku mengangguk, mengiyakan.

            Kemudian, ia seolah memberiku kode untuk segera beranjak. Namun, kedua kalinya tanpa disangka ia menarik tanganku dan menggengamnya, membungkam bibirku yang kehilangan kata-kata. Dibawah rintik hujan dan berselimut kecemasan, kami berlarian kecil menuju sebuah cafe di ujung jalan. Tampak punggungnya yang indah dari belakang, membuatku mengkhayal yang bukan-bukan. Aku segera membuyarkan jauh-jauh khayalan itu.

Hujan, bisikkan kepadanya

Tentang rasa yang bersemayam di dada

Tentang rindu yang sering singgah tiba-tiba

Hanya karena dia, Saga..

Mungkinkah ada kisah antara aku dengannya?

            Semesta seolah memberi petujuk atas fenomena yang terjadi hari ini. Mungkin ini adalah waktu yang tepat bagiku untuk memberanikan diri menjadi pejuang katakan cinta dan pensiun menjadi seorang penakut atau pengecut.

“Apakah ini saatnya?” aku bertanya-tanya dalam hati, berharap mendapatkan jawaban yang kubutuhkan tanpa ada rasa penyesalan nantinya. Mulutku mulai terbuka dan keluarlah satu nama sebelum memulai aksi yang tidak kurencanakan “Saga..” Ucapku. Disela-sela suara hujan, kuharap suaraku terdengar lantang sampai ke telinganya.

“Kenapa? Cacing-cacing di perutmu sudah kelaparan?” katanya dibarengi oleh segelintir tawa. Sayangnya, suara hatiku tak menjawab apa-apa ataupun sekedar memberikan sinyal apakah ini merupakan langkah yang tepat untuk menyatakan perasaan yang telah kupendam sekian lama.

Aku memang tak pernah bisa mengendalikan rasa takut yang terlanjur menetap di hati.  Ketakutan-ketakutan seperti ia akan menjauh dari sisi, berpura-pura tak mengenalku atau menghilang dari bumi, penuh di pikiranku. Mungkin alasan-alasan klise seperti itu yang membuat hubungan ini hanya akan sebatas teman sampai kapan pun. Tak masalah bagiku asalkan aku masih bisa melihatnya di Bumi setiap hari, mendengar tawanya dan juga merasakan hadirnya di dekatku. Bagiku, itu jauh lebih berarti.

“Iya. Kamu yang traktir, kan?” Kataku menggoda dan bersemangat. Tanganku belum juga ia lepaskan. Tak apa. Aku berharap sang waktu tak segera berakhir.

“Siaaapp….” Jawabnya lantang. Aku hanya tersenyum mendengarnya.

Dia memang Saga, yang selalu menjadi bahan perbincangan orang-orang di kantor karena hak keistimewaan yang dia punya. Dia sering datang terlambat ke kantor dan menjadi karyawan yang pulang lebih awal. Padahal, aku tahu alasan di balik itu semua dan sekedar untuk membersihkan namanya, ia memintaku menutup mulut dan tak perlu memikirkan perasaannya, apalagi mendengarkan mereka yang tak tahu apa-apa. Sesungguhnya, aku senang menghabiskan waktu bersamanya walau kadang jantungku tidak bisa diajak kerja sama. Untungnya, Saga tak mendengar suara detakannya. Hari-hari bersamanya selalu menjadi hari termanis dan istimewa yang kutulis di diary kecilku tentang Saga. Waktu yang terus berjalan kedepan, membuatku harus merekam moment-moment yang sudah lewat dan di diary ini bisa menjadi pengingatku tentang dia dan cerita-cerita manis bersamanya, tak ada habisnya.  

“Mungkin Sebagian orang lebih memilih memendam perasaannya karena menenangkan walau mereka tahu konsekuensinya yaitu penyesalan”

 *****

          Aku meregangkan kedua tangan dan leherku, pertanda aku sudah lelah dengan pekerjaan yang memaksaku untuk betah di kantor sampai dengan jam 9 malam.

“Sedikit, lagi. Semangat, Naura!” aku memang suka menyemangati diri sendiri. Tidak ada salahnya, bukan? Aku melihat sekeliling ruangan kosong, tak ada manusia lain. Hanya ditemani suara air dari aquarium ikan di pojokan, yang memecah keheningan. Kupercepat pekerjaan agar cepat selesai dan meninggalkan ruangan. Aku agak takut jika sendirian di suatu tempat, seketika bulu kuduk merinding. Kubuang rasa kecemasan itu dan kembali berkutik pada tugas di depan mata.

            Dengan sistem kebut semalam, akhirnya tugas itu rampung di jam 10 malam. Aku menghela nafas kemudian mematikan laptop dan berberes, memeriksa barang-barangku, jangan sampai ada yang tertinggal. Saat sedang memasukkan barang yang sekiranya perlu ke dalam tas, sebuah suara yang tak asing mengagetkanku “Belum pulang juga, ra?”

Aku menoleh dan mendapati seorang Saga bisa menyapaku di jam orang-orang bergegas untuk tidur. Aku terheran-heran dengan penampakan manusia satu itu, sungguh penampakan yang tidak biasa.

“Iya nih baru mau pulang. Kok masih di kantor, Ga?” tanyaku meresleting tas, mengambil aba-aba untuk segera beranjak dari tempat dudukku.

“Sama. Lagi males pulang..” jawab Saga sambil tertawa ringan. Aku mengernyitkan alis kemudian menyusul langkahnya yang hendak turun ke bawah.

“Terus kapan mau pulangnya? Emangnya orang rumah engga nyariin?” aku penasaran tumben-tumbennya dia bergurau atau memang sedang ada masalah?, pikirku.

Saga tak menjawab pertanyaanku. Sambil menuruni anak tangga bibirku langsung menyosor, tak terkontrol, menceritakan mengapa aku terjebak di kantor hingga malam. Tak butuh waktu lama, kaki kami sudah menginjak lantai bawah.

“Saga! Kamu dengerin engga sih?” Protesku ketika tak mendapat respon apa-apa darinya. Menyadarkanku bahwa sedari tadi aku sedang berbicara dengan diriku sendiri. Hanya punggungnya yang terlihat jelas olehku.

“Kamu ngomong apa sih, Ra?” Saga membalikkan badannya. Dia tersenyum menawan bak pangeran. Wajahnya mendekat, melekat, menatapku dalam hingga sontak membuat jantungku bergejolak tak karuan. Aku menelan ludah, menahan jantung yang serasa mau copot atau perut yang tiba-tiba mules.

Tuhan, kapan aku bisa melihatnya dengan nyaman?

Mengapa meresahkan?

Dia membuatku tertegun lama,

Ada yang membuncah di dada,

Berkejar-kejaran di kepala karena satu nama,

Senyuman yang kutahu paling indah di dunia,

Kini ingin kumiliki seutuhnya..

“Kok mukanya merah, Ra?” Sahutannya kali ini menyadarkanku yang sedari tadi diam mematung.

“Panas, Ga. Disini panas ya” Aku berdehem sambil meniup-niup dan mengibas-ngibaskan tanganku seolah aku sedang dipanggang di atas cinta yang membara.

“Kamu lucu juga ya, ra” Saga kembali membuatku salah tingkah hingga nafasku terengah-engah. Lalu, Saga melengos pergi, meninggalkanku seorang diri.

“Mau kemana, Ga?” sahutku tiba-tiba. Akhirnya aku bisa bernafas lega.

“Ke rumah teman. Dah, Ra..” Dia melambaikan tangannya. Lama-lama punggung itu tak terlihat lagi olehku.

“Dah, Saga..” suaraku pelan, terbawa angin malam. Aku pun bergegas pergi dari kantor dan kemudian berpamitan kepada security. Sebelum pulang, aku memutuskan ke alfa mart dekat kantor untuk membeli susu dan cemilan kesukaanku. Karena sudah sangat malam, aku memilih ojek online sebagai alternatif tercepat aku sampai ke rumah.

*****

            Pukul 12 siang waktu yang kutunggu-tunggu. Cacing-cacing di perut sudah mengajak demo sedari tadi. Temanku Winda, Sarah dan Tania mengajakku makan siang di warteg yang biasa kami kunjungi, yang sesuai kantong “murah meriah”.

Karena warteg ini dikenal “self service”, aku mengambil nasi ditambah sayur sup makaroni dan bakwan jagung menjadi menu andalanku hari ini.

Tidak seperti biasanya, warteg ini tidak terlalu ramai. Mungkin karyawan-karyawan yang lain masih banyak pekerjaan yang tidak bisa ditinggal. Hanya 3 orang yang duduk diseberang kami.

“Akhirnya kita makan juga” ucapan Tania kusertai dengan anggukan kepala dariku.

Ketika tengah menyantap makanan, Winda bertanya “semalam sampai jam berapa, ra?”

“Jam 10 win..” jawabku sambil tertawa ringan. Aku kembali menyantap sup makaroni favoritku.

“Malem banget, ra. Emang engga bisa dibesokin? Sarah menyambar.

“Si Boss minta diemail proposalnya hari ini sebelum jam 9” itulah alasanku lembur semalam. Aku bekerja di divisi Business Development atau lebih dikenal Marketing.

“Oh iya by the way, pas gue mau nemuin Pak Riswanto di ruangannya, gue ngelihat Saga habis ngasih surat gitu di mejanya. Kayaknya surat resign deh” omongan Tania kali ini membuatku berhenti makan seketika.

“Beneran lo, Tan? Salah lihat kali” ujar Sarah masih belum percaya.

“Yee, beneran. Makanya dengerin gue dulu. Gue kan belom selesai ngomong” aku menunggu kelanjutan cerita Tania. Hatiku berharap dia hanya bergurau atau jika ini lelucon, sangatlah tidak lucu buatku.

“Kan pas keluar gue tanya – “lo mau resign, Ga?” dia cuma senyum saja. Gue rasa bener deh, dia resign..” Deg. Ucapan Tania kali ini sungguh membuatku terdiam. Pertanyaan-pertanyaan tentang kebenaran dari berita yang kudenger saat ini seolah-olah menggema di kepalaku.

“Mungkin Tania bener. Nanti kita lihat saja” Sarah setuju dengan argumen Tania.

“Lo kenapa, ra?” tiba-tiba pertanyaan Winda menusuk ke arahku. Semuanya sekejap memperhatikanku. Aku memang diam sejak tadi. Kurasa aku tak bisa bertahan disini untuk waktu yang lama.

“Engga papa. Tiba-tiba perut gue sakit. Gue balik duluan ya” aku mencari-cari alasan dan mencoba bersikap biasa agar tidak ada yang mencurigai ketidakwajaranku. Aku segera berlari pergi, meninggalkan makananku yang masih tersisa.

“Ara yang aneh..” suara Sarah samar-samar terdengar di telingaku. Aku yang terus berlari, kakiku seolah tahu kemana yang kutuju. Kepalaku penuh diisi oleh Saga dan Saga. Aku belum bisa bernafas lega sebelum mendapat keterangan dan kebenaran dari dia.

Aku mengambil ponsel dari saku dan mengirim pesan ke Saga “Dimana?” kuharap ia segera membalas pesanku itu.

*****

            Kaki terus berlari dan tibalah di depan kantor. Aku terus melangkah ke atas, mungkin saja dia masih di ruangannya. Aku tahu betul dia jarang istirahat tepat waktu dan lebih mementingkan pekerjaaannya dibanding perut.

Mataku terus mencari keberadaannya ketika kulihat mejanya kosong. Aku memutar otak, berpikir dimana Saga sebenarnya. Tapi, yang kutemukan hanya Remy. Dia memang sedivisi dengan Saga dan langsung kuhampiri tanpa pikir panjang.

“Rem, lo lihat Saga dimana?” tanyaku cemas. Aku berharap mendapat jawaban yang tepat.

“Kayaknya di balkon deh. Paling ngerokok” katanya.

“Kenapa emangnya?” katanya sekali lagi yang tak gubris. Aku langsung melengos pergi dan naik ke lantai 4. Balkon memang terletak di lantai paling atas.

Sebelum ke balkon, aku melewati pantry. Ini adalah alasanku dan teman sekantor lebih memilih makan di luar ketimbang di pantry. Dan benar adanya, aku mendapati sosoknya sedang duduk dengan laptop di pangkuannya. Tapi, sebelum itu aku mengatur nafas terlebih dahulu agar ia tak curiga nantinya, menganggapku habis lomba marathon antar kampung.

“Saga...” panggilku. Kakiku melangkah, mendekatinya.

“Eh, Ra. Kenapa?” Saga menyadari kehadiranku. Aku mencoba duduk di kursi kosong, sebelahnya.

“Aku barusan ngechat kamu” jawabku. Dia memang tak pernah membalas cepat pesan dariku.

“Oh ya?” Ia mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Aku tak sengaja melihat isi ponselnya. Banyak chat masuk yang belum dibuka ataupun dibaca olehnya.

“Sorry, ra. Engga ngecek handphone dari tadi” jawabnya cengar cengir.

“Kok kamu betah sih disini?” aku mencoba mengalihkan pembicaraan. Inilah Saga. Dia memang tidak suka keramaian dan lebih memilih sendiri seperti saat ini.

“Biar bisa ngerokok, ra” jawabnya. Dia kemudian mematikan rokoknya.

“Ga, emang bener kamu mau resign?” aku langsung bertanya hal yang mengganggu pikiranku saat ini. Berharap rumor yang dikatakan Tania tidaklah benar.

“Sebenarnya udah kepikiran buat resign dari beberapa bulan yang lalu. Aku pikir sekarang udah waktunya..” Penjelasan dari orangnya langsung menampar hatiku. Rasanya perih sekali. Seperti dihujani hujan yang panas.

“Kenapa harus resign, Ga? Gara-gara omongan mereka? Kenapa kamu dengerin, sih!” Aku bertanya berharap kali ini dia memikirkan ulang keputusannya. Alasan mengapa Saga datang terlambat dan selalu pulang lebih awal merupakan kesepakatan antara dia dan Pak Riswanto, selaku Manager perusahaan ketika dia diterima bekerja. Dia harus menjaga toko percetakan milik keluarganya.

Saga menutup laptopnya dan berkata “Bokap sakit, Ra. Kanker Tiroid. Kasian nyokap ngejagain bokap sendirian. Ade juga sibuk kuliah. Mungkin aku bakal punya lebih banyak waktu kalau cuma jaga toko” ujarnya panjang lebar. Aku tidak tahu-menahu hal ini. Untuk pertama kalinya aku mendengar keluh kesah Saga. Aku tidak mungkin menyangkal omongannya dan memintanya untuk berpikir lagi karena bisa kulihat Saga tulang punggung keluarga.

“Jadi, kapan last daynya?” aku harus menyiapkan mental untuk kemungkinan terburuk nantinya.

“Hari ini, Ra. Pak Riswanto juga udah setuju” aku kaget setengah mati. Bagaimana mungkin hari ini adalah hari terakhirku melihat Saga di kantor. Butir-butir airmata sudah mulai memenuhi kelopak mataku. Aku tak bisa berkata apa-apa lagi.

“Udahan, yuk! Udah makan, Ra?” Saga berdiri, mengambil langkah kakinya untuk beranjak pergi.

“Udah..” jawabku singkat, mengikuti langkahnya. Aku benar-benar tak bisa berpikir apa-apa selain membayangkan bahwa esok dan hari-hari berikutnya tak akan ada lagi sosok Saga yang sering kuperhatikan diam-diam, yang membuatku bersemangat tiap kali datang ke kantor hanya untuk memastikan sosoknya masih disana. Tapi, kini semesta tidak sependapat denganku.

*****

Begitulah semesta dengan caranya, selalu punya kejutan.

Kadang bahagia dan duka selalu datang bersamaan.

 ******

“Ra, katanya ada pizza di pantry. Ambil yuk!” ajak Sarah menyadarkanku yang sedari tadi hanya melamun. Aku menoleh kearahnya, dan berkata dalam hati “Pizza?”. Seketika tanganku sudah ditarik oleh Sarah, menuju pantry. Walaupun harus naik tangga ke lantai 4, untuk urusan makanan tak menjadi masalah untuk Sarah. Ternyata tidak hanya dari divisi kami, semua mengambil bagiannya. Ada 2 kotak pizza yang siap disantap.

“Pizza dari siapa?” tanya Sarah kepada anak laki-laki divisi lain yang tak kukenal namanya. Sarah langsung menyambar 1 potong pizza dan diberikan padaku dan satu lagi untuknya.

“Dari saga..” ujarnya. Ia menunjuk sebuah notes yang tertempel di kotak pizza itu. Sebuah notes bertuliskan “Silakan dinikmati. Thank you, Saga” begitulah notes singkat darinya.

Aku terkejut dan teringat kata-kata Saga tadi di balkon. Aku segera beranjak dengan pizza di tangan. Yang kubutuhkan saat ini hanyalah melihat Saga. Aku terus mencarinya bagai orang bodoh. Aku ke mejanya dan lagi-lagi kulihat kosong. Seperti sebelumnya, ada Remy yang masih duduk tenang di meja sebelah.

“Rem, lihat Saga? Dia dimana, ya?” aku bertanya dan kuharap Remy tak berbalik nanya kepadaku. Aku sangat butuh jawabannya yang mungkin dapat membantuku menemukan Saga.

“Barusan dia pulang. Kenapa emang, Ra? Dari tadi nanyain Saga terus” aku yakin setelah ini ada gossip tentangku yang kelimpungan mencari Saga seharian ini.

“Okay. Thanks, Rem!” hanya itu yang bisa kujawab. Kuberikan sepotong pizza yang belum kumakan padanya. Selain itu, pikiranku hanya tertuju pada dimana Saga. Aku berlari menuruni anak tangga satu demi satu sambil berharap di dalam hati, memohon, aku bisa melihatnya walau untuk terakhir kalinya. Itu saja yang kuminta pada semesta.

*****

            Orang yang kucari-cari hari ini kini di depan mataku. Syukurlah, aku masih dikasih kesempatan oleh semesta untuk melihat wajah itu terakhir kalinya.

“Ga!” kupanggil dan saat itu juga dia menoleh.

“Kok udah mau pulang?” aku berjalan ke arahnya. Ada getaran di setiap langkahku saat ini. Terasa berat dan tak kuasa menahan ini sendiri.

“Mau mampir ke toko, Ra. Biasa ada masalah” ucap Saga. Aku melihat ada yang berbeda di sorotan matanya. Aku sendiri tak bisa mengartikan. Seperti perasaan sedih yang sedang kurasakan sekarang.

Jika ini terakhir kali aku melihatnya, seharusnya aku mengungkapkan perasaanku padanya. Setidaknya ini yang bisa kulakukan sebelum benar-benar diliputi oleh penyesalan nantinya. Kupikir, aku tak akan bisa bertemu lagi dengannya. Entah mengapa, aku memiliki keyakinan seperti itu.

“Ga, ada yang mau aku bilang” kataku terbata-bata. Aku kumpulkan keberanianku untuk mengatakan kata-kata yang hanya kusimpan di dalam hati untuk waktu yang lama.

“Mau bilang apa, Ra?” aku mencoba menghilangkan ragu yang tiba-tiba muncul di benakku.

“Aku.. aku..” aku mencoba mencari dan merangkai kata yang tepat agar dia bisa memahami maksud dari perkataanku. Padahal hanya tiga kata saja, mengapa begitu sulit?

“Atas nama Mas Saga..” sebuah ojek online membuyarkan keberanianku.

“Iya, pak” Saga mengangkat tangan dan segera menghampiri ojek online yang sedari tadi ia tunggu.

Akhirnya kuurungkan niatku dan hanya kata-kata ini yang bisa keluar dari mulutku “Ga! Kita masih bisa ketemu, kan?” kuharap ia mendengar suaraku yang lantang.

Saga yang sedang memasang helm di kepalanya dan segera duduk di atas motor, berkata “Aku masih di Jakarta kok, Ra! Jaga diri baik-baik ya” itulah kata-kata terakhir yang kuterima darinya. Dalam hitungan detik, motor itu melesat pergi. Saga dan bayangannya benar-benar telah pergi dari kehidupanku untuk selamanya. Aku yang sedari tadi diam mematung tak kuasa menahan air mata yang jatuh di pipi.

Bawalah rasa ini ikut bersamanya

Biarlah aku berkawan dengan sepi setelahnya

Aku hanya tak kuasa saja

Kupasrahkan, biarkan semesta yang bekerja

*****

Sudah 2 bulan sejak kepergian Saga, membuat konsentrasiku berantakan. Aku mencoba mengiriminya pesan namun sudah 3 hari dia tak kunjung membalas pesan dariku. Bukan itu saja, aku jadi sering melamun, menyendiri sampai tiba-tiba Winda mengajakku berbicara. Sepertinya dia menyadari perubahanku yang jarang ngumpul ataupun makan siang bersama. Aku lebih memilih duduk sendiri dan makan di mejaku. Aku juga tak banyak komentar ketika Sarah yang duduk di sebelahku mengajakku mengobrol.

Aku dan Winda kini sedang di balkon, tempat yang mungkin aman dari jangkauan orang. Aku diam, membiarkan Winda memulai pembicaraan ini.

“Lo kenapa, Ra? Kok akhir-akhir ini gue ngelihat lo murung” tanya Winda. Bisa dibilang Winda adalah sahabatku di kantor tapi, walaupun begitu aku bukan tipikal orang yang bebas mengeluarkan unek-uneknya dan ingin didengar. Aku lebih memilih menyimpannya sendirian.

“Hah? Engga papa ko, Win!” jawabku pura-pura santai.

“Karena Saga?” mataku terbelalak mendengar kalimatnya barusan. Aku bahkan tak pernah bercerita apa-apa padanya tentang perasaanku dulu dan sekarang.

Winda menghela nafas, kemudian berkata “Bener, kan? Kenapa cuma karena Saga, lo sampe harus kayak gini sih, Ra” mungkin sudah waktunya aku jujur pada Winda.

“Gue engga tau, Win” hanya itu yang bisa kukatakan ketika tak kuketahui lagi kabar Saga.

“Lo engga boleh kayak gini terus, Ra! Masih banyak cowok di luar sana. Engga cuma Saga!” Winda menegaskan. Aku tahu dia mencoba menghibur hatiku yang gundah, tetap saja omongannya seperti angin lalu bagiku.

“Gue tau kalo dia juga suka sama gue, Win” aku mencoba membuat Winda yakin bahwa perkataannya adalah salah. Dia tidak mengenal Saga sepenuhnya.

“Buktinya? Dia pernah nembak lo?” Winda mematahkan kata-kataku. Ucapannya memang benar tapi aku kembali menyanggah “Lo engga ngerti, Win” tiba-tiba airmataku untuk kesekian kalinya menetes hanya karena satu manusia yang entah dimana.

Aku menunduk dan menutup wajahku, malu karena Winda harus menyaksikan aku yang cengeng dan menangis di depan matanya. Winda memelukku. Kurasakan hangat pelukannya.

“Engga papa sekarang lo nangis, Ra. Suatu hari nanti lo bakal ketemu cowok yang bisa bikin lo bahagia dan itu bukan Saga” Ia mencoba menenangkanku.

Aku masih menangis dibalik punggungnya, kemudian membalas “Gue engga tau, Win” cuma itu yang bisa kukatakan karena aku sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya hati ini inginkan. Yang kutahu hati ini sangat ingin tahu kabarnya, apakah dia baik-baik saja disana.

Semesta, kemana harus kutuju?

Ketika yang kutahu hanya rindu

Sekeras apapun berlari dan mencari

Satu yang pasti, dia sudah tak lagi di sisi

*****

            Itu adalah kisahku 3 tahun yang lalu. Potongan-potongan memori kembali menguak ketika aku tak sengaja membereskan kamar, rencananya aku akan segera pindah rumah. Aku sedang packing barang yang mana yang mau kubawa. Perhatianku tiba-tiba teralihkan dengan sebuah buku kecil lama, diary berisi kenangan-kenanganku bersama dia yang pernah mengisi hari-hariku dulu. Seolah tergerak hatiku untuk kembali membacanya lembar per lembar. Seolah mengantarkan diriku kembali ke masa-masa itu. Aku telah sampai pada halaman terakhir buku ini, sebuah puisi yang kutulis ketika aku memutuskan untuk benar-benar melupakan dia, mengubur perasaan itu dalam-dalam.

Bersama sang malam, aku sendirian

Angin mengusik, berbisik sang pujaan

Menguak jauh ke dalam ingatan

Takdir yang mempertemukan dua insan

Takdir dengan tega memisahkan

Kala yang berjalan

Beriringan penyesalan dan kehilangan

Rindu yang tiada henti

Meski hati terasa sepi, sunyi bagai tak berpenghuni

Meski ku hilang arah,

Aku tahu bahwa ia baik-baik saja disana

Aku menutup buku yang penuh sejarah dan memasukkannya ke dalam tas. Tak ada lagi airmata yang turun di pipi karena kupikir kisahku dengannya telah usai bahkan belum sempat dimulai.

*****

“Begitulah kehidupan. Dimana ada pertemuan, ada perpisahan dan yang tersisa hanyalah kenangan. Kita hanyalah pemain yang menjalankan skenario yang dituliskan Sang Pencipta, sang sutradara kehidupan”