Seseorang selalu ingin didengar dan punya tempat untuk bercerita. Sedang aku memilih berteman dengan sepi. Di satu ruang aku mampu menumpahkan segala lara yg tak mampu kuutarakan lewat kata. Tak apa, karna ini tentang dia yg membuatku jatuh cinta. Kadang kecewa, kadang juga bahagia. Meski dia sering kali menciptakan mendung dan airmata di langitku. Tapi, aku percaya bukankah akan ada pelangi setelahnya?

Rabu, 11 Mei 2016

Sebab rasa takutku lebih hebat dari rasa rinduku.

Mei 11, 2016 Posted by Debby Nuramiruddin 2 comments
Sebab rasa takutku lebih hebat dari rasa rinduku.


Waktu membuat kita lama tak saling berbicara. Saling menyapa pun tidak. Kau diam, aku pun diam; aku menjauh, kau pun menjauh.
Apakah ini salahku? Apa kau begitu karena aku pun begitu terhadapmu? Sebenarnya apa yang kamu pikirkan? Tak ada maksud untuk menjauhimu, hanya menghindar sebentar dari sosok sepertimu. Sejujurnya bukan ini yang ku inginkan. Bila ada pilihan lain, mungkin akan ku ambil. Sedikit saja, atau pernahkah kamu merasakan yang sama terhadapku? Apa kamu tak merasakan rindu sama seperti yang ku rasakan belakangan ini?
Apa kau hanya menganggapnya hal biasa sehingga hanya aku seorang diri yang merasakannya? Sungguh, ini berat ku lakukan.
Aku merindukanmu ‘makhluk menyebalkan dibumi ini’. Aku rindu menyapamu bahkan berbicara lama tentang hal-hal tak penting bersama denganmu. Walaupun begitu, tetap saja yang selalu ingin ku lihat adalah dirimu.
Aku tahu, ini adalah sebuah keinginan dari logikaku, namun yang ku sesalkan mengapa kita berdua jadi seperti ini? Mengapa jarak itu perlahan-lahan semakin jauh? Kita berdekatan tapi saling tak bicara memecah kekosongan yang ada dan seperti tak saling mengenal. Lagi ku katakan dan tak bosan untuk ku ulangi kata-kata ini, aku merindukan sosok sepertimu dihari-hariku. Bolehkah bila aku katakan sangat merindukanmu? Dan bolehkah aku bertanya, apakah kamu juga begitu?
Rasanya ingin sekali ku ungkapkan bahwa aku rindu kamu. Tapi, apa daya, rasa takut itu lebih besar dari rasa rinduku.
Ku pikir, dengan menjauhimu, menghindarimu, pelan-pelan rasa yang ku sebut cinta ini akan berkurang. Tapi, aku salah. Rasa itu semakin bertambah dicampur dengan rasa sakit. Usahaku berarti sia-sia. Kau tahu, ini sangat menyakitkan.
Janganlah kau ikut pula menjauh karena aku menjauh darimu. Ku mohon, jangan menghindariku. Tidak bisakah kau bersikap seperti biasa saja? Tidak bisakah kau tidak meniru yang ku lakukan bila kau menyadarinya? Jangan merasa asing denganku.
Bisakah kau mulai menyapaku tanpa aku pinta? Bisakah kau yang mendekatiku terlebih dahulu ketika aku mulai menghindar darimu?

Dapatkah kau melakukan itu? Dapatkah kau merasakannya?


Senin, 09 Mei 2016

Punggungmu ...

Mei 09, 2016 Posted by Debby Nuramiruddin No comments
Punggung itu


Kau tahu apa yang ku suka?
Kau tahu apa yang ku lakukan dalam diam?
Kau tahu ketika mulutku tak bisa bersua, ketika aku tak bisa mengatakan apa yang ingin ku katakan?
Ketika itu aku sedang memperhatikan punggungmu. Iya, aku menyukai setiap kali melihat punggungmu dari belakang. Seperti kebiasaan yang diam-diam sering ku lakukan. Ketika kau dan yang lainnya tengah sibuk dengan urusannya, aku sedang sibuk dengan urusanku sendiri, sibuk mencuri-curi pandang hanya untuk melihat punggungmu dari kejauhan.
Aku menikmati kala itu, ketika aku tak mampu menatap wajahmu, aku lebih memilih melihat punggungmu, membuatku tak berkutik dengan duniaku sendiri. Tak akan ada orang yang tahu, begitu pula dirimu.
Entahlah mengapa aku menyukai hal itu.
Disaat seseorang lebih memilih menatap mata, aku mungkin berbeda. Aku akan memilih menatap punggungmu lebih lama tanpa seorang pun yang tahu, mengkhayal tentang khayalan gilaku tentangmu.
Pernah akalku bertanya, apakah rasanya bila bersandar dipunggungmu? Apakah rasanya seperti permen nano-nano? Berjuta rasanya, hingga hanya ada rasa bahagia didalam hatiku?
Tuhan andaikan khayalanku bisa bersandar dipunggungnya bukan hanya sekedar khayalan dapatkah aku merasakannya? Apakah akan berdebar-debar sama seperti aku hanya melihat dia?
Kadang sesekali aku memejamkan mata, membayangkan bersandar tanpa beban dipunggungmu dan kau sedang sibuk dengan duniamu. Lagi-lagi itu hanya sekedar khayalan, hanya khayalan semata.

Tapi, bila terbesit harapan kecil dihati ini, mungkinkah khayalan bukan hanya sekedar khayalan?


Mungkinkah kau menjawab semua pintaku Tuhan?

Mei 09, 2016 Posted by Debby Nuramiruddin No comments
Mungkinkah kau menjawab semua pintaku Tuhan?


Sekian kalinya kau mampu membuat waktuku selalu tersita memikirkanmu. Sekian kalinya pula hatiku selalu bertanya pernahkah terlintas dipikiranmu tentang diriku walau hanya sejenak?
Aku memang tak bisa bahkan sulit untuk menghapus ribuan anganku tentangmu. Kau yang selalu ingin ku lihat namun, tak bisa ku katakan. Aku benar-benar menyukaimu. Aku jatuh cinta padamu. Tidakkah kamu menyadarinya? Atau mungkinkah kamu merasakan hal yang sama?
Cinta ini hanya bisa ku bawa dalam diam. Dalam diam, aku Cuma bisa memperhatikanmu dari kejauhan dan walau kamu tak akan pernah tahu. Aku tak tahu bagaimana perasaan ini tumbuh dan akan berakhir seperti apa. Yang aku tahu hanya jatuh cinta.
Setiap kali jantung ini berdebar-debar, berdetak kencang ketika mataku menangkap kehadiranmu. Entah sampai kapan penantianku ini akan berujung bahagia. Aku hanya bisa menyimpannya dalam hati dan dalam diam. Sehari saja tak melihatmu, aku rindu. Apakah kamu juga begitu terhadapku?
Tuhan bila aku ingin dia yang menjadi jodohku, bisakah?
Bila perbedaan itu memungkinkan aku dan dia bersama, bisakah?
Bisakah dia yang menjadi imam sekaligus ayah dari anak-anakku nanti?
Mungkinkah hal itu menjadi kenyataan Tuhan?
Bukankah tidak ada yang tidak mungkin bagimu? Bukankah itu hal mudah bagimu? Mungkinkah kau menjawab semua pintaku Tuhan?