Seseorang selalu ingin didengar dan punya tempat untuk bercerita. Sedang aku memilih berteman dengan sepi. Di satu ruang aku mampu menumpahkan segala lara yg tak mampu kuutarakan lewat kata. Tak apa, karna ini tentang dia yg membuatku jatuh cinta. Kadang kecewa, kadang juga bahagia. Meski dia sering kali menciptakan mendung dan airmata di langitku. Tapi, aku percaya bukankah akan ada pelangi setelahnya?

Jumat, 16 Desember 2016

Rindu yang mengesalkan

Desember 16, 2016 Posted by Debby Nuramiruddin No comments

Rindu yang mengesalkan


Aku berdiri disepanjang jalan, memperhatikan lalu lalang yang tak pernah sepi. Kadang menatap langit dan awan. Ada sebutir airmata dikelopak mataku.
Hari-hariku sekarang tak seindah sewaktu dia masih hadir dikehidupanku. Untuk kesekian kali yang tak terhitung, aku teringat makhluk itu. Entah sudah berapa kali, puluhan kali, atau bahkan ratusan kali aku masih bertahan dengan rasa yang tak pernah berkurang.

Sering kali aku bertanya dan memarahi diri ini, apakah aku sangat bodoh? Masih saja memikirkannya.

Kadang kesal sendiri dengan keadaan hati dan pikiran yang berlawanan. Hati yang terkadang tak bisa diajak kompromi.
Masih saja hatiku menyimpan nama dan perasaan untuk seseorang yang jelas-jelas tidak memikirkanku. Padahal otakku sudah meminta dengan keras untuk membuang perasaan itu jauh-jauh, membuang namanya.

Bukankah itu mengesalkan?Kalau sudah seperti itu, apa yang bisa ku lakukan?

Rindu ini sangat mengesalkan. Aku bahkan tidak tahu apa yang semestinya dilakukan. Hanya bisa menyimpannya dalam diam. Membiarkan sampai sejauh mana rasa ini bersemayam dihatiku.

Terkadang aku lelah kala aku merindukannya, rindu ini tak tersampaikan. Rindu ini hanya bisa dikatakan dalam diam.
Kala aku ingin melihat dan bertemu, hanya bisa memandang wajah sendu itu dalam gambar yang tersimpan dalam handphoneku.
Terkadang makhluk itu hadir dalam mimpiku. Seperti nyata,  saat terbangun semua sirna, itu hanyalah sekedar mimpi yang bahkan kita tak tau maknanya. Aku tak ingin segera terbangun dari tidurku, hanya untuk melihatnya lebih lama lagi walau hanya dalam dimensi yang berbeda.
Tak masalah. Itu cukup mengobati rasa rinduku yang tak tertahan. Aku sungguh.. sungguh.. sangat merindukan makhluk menyebalkan itu. Rindu suaranya, tingkahnya yang menyebalkan menjadi seorang pengganggu. Itulah hal yang paling kurindukan dari dirinya.

Setiap detik, menit, jam, hari, ia tak pernah tak terlintas dipikiranku. Selalu saja hatiku berkata “aku merindukanmu”
Bayangan makhluk itu tak pernah jauh dari pikiranku. Dimana pun aku berada, kadang mataku seperti menangkap kehadirannya. Aku pun tahu itu hanya halusinasi saja, karena rindu yang tak terbendung yang sedang ku rasakan.

Makhluk itu, benar-benar memberikan kenangan singkat yang sangat berarti dan sampai detik ini sulit terlupakan. Kalau waktu bisa kembali, aku ingin waktu yang lebih lama lagi untuk mengenalnya, berbicara, bercanda, tertawa dan mengahabiskan waktu bersamanya. Sungguh hanya itu keinginan sederhanaku.

“Tuhan, bisakah ia hadir kembali di kehidupanku?”