Yang Kedua
Aku, diantara
benar dan salah.
Tak peduli siapa
yang menang ataupun kalah. Aku hanya tak ingin mengalah.
Hanya saja, kenapa
aku gelisah?
Kenapa begitu
resah tentang apa kata semesta? Kenapa peduli?
Cukup aku dan kamu
dengan rasa yang sama.
Kau bilang, aku
menjadi wanita satu-satunya di hati. Meski, tetap saja aku tak bisa selalu di
sisi.
Katanya, aku
adalah dunia. Bagimu, aku adalah segalanya.
Nyatanya, aku
hanya menjadi yang kedua.
Kuberikan sepenuh
hatiku untuknya. Namun, setengah hatimu dimilikinya.
Lantas, mengapa
aku memilih bersama jika hanya merasakan luka?
Jika karena
mencinta, apakah layak diterima?
Aku hanya
pecundang, tak kuasa tuk berhenti sayang.
Bukankah aku
tampak menyedihkan?
Apakah aku harus
mencari pembenaran? atau memasrahkan pada keadaan?
Memang manusia
bodoh, aku berharap keajaiban.
Sekalipun mereka
menyerapah ingin aku menyerah.
Untuk dia, aku tak
mungkin melepaskan.
Namun, sewajarnya
wanita aku juga membutuhkan kepastian.
Sampai kapan aku
hanya menjadi tempat persinggahan?
Sedangkan aku ingin
menjadi tempat ternyaman.
Sampai kapan aku
menjadi orang asing yang menantimu datang?
Sedang aku ingin
menjadi tempatmu pulang.
Sampai kapan kau
membiarkanku berdiri bersama penantian?
Sementara kau tak
jua memberiku jawaban, menggantungkan harapan tanpa tujuan.
Mengapa kau
membuatku terjebak pada situasi menyulitkan?
Terkadang, aku
lelah tanpa alasan.
Walau, aku
sangat mendambanya, Tuhan.

