Seseorang selalu ingin didengar dan punya tempat untuk bercerita. Sedang aku memilih berteman dengan sepi. Di satu ruang aku mampu menumpahkan segala lara yg tak mampu kuutarakan lewat kata. Tak apa, karna ini tentang dia yg membuatku jatuh cinta. Kadang kecewa, kadang juga bahagia. Meski dia sering kali menciptakan mendung dan airmata di langitku. Tapi, aku percaya bukankah akan ada pelangi setelahnya?

Senin, 12 November 2018

Sebuah planet untuk tempatku sembunyi

November 12, 2018 Posted by Debby Nuramiruddin No comments

Sebuah planet untuk tempatku sembunyi

Adakah planet disana, tempat untukku bersembunyi?
Bersembunyi tentang perasaan yang aku tutupi.
Bersembunyi dari bumi, tempat ia berpijak.
Bersembunyi dari mentari yang menyapaku tiap pagi tentang bagaimana perasaanku hari ini.
Bersembunyi dari angin, seraya bergetar tiap kali membisikkan namamu di telingaku.
Bersembunyi dari hujan, kala dibunuh perasaan yang teramat dalam hingga airmata menetes jatuh di pipi.
Juga bersembunyi dari malam, waktu yang leluasa kumiliki memikirkan tentang dirimu.
Bersembunyi dari segalanya, dari semesta.
Karena kupikir bumi bukan lagi tempat yang aman, bebas berkeliaran untuk seseorang yang diam-diam memendam rasa.
Dimanapun aku bersembunyi, mereka bisa menemukan kehadiranku.
Dimanapun aku bersembunyi, aku benar-benar tidak sepenuhnya bersembunyi dari bayangannya.
Dimanapun aku bersembunyi, aku masih berada disekitarnya.
Aku ingin berlari, sejauh mungkin, hingga tak bisa ditemukan.
Aku ingin terbang, ke angkasa, hingga tak ada yang bisa menangkapku.
Aku ingin menghilang, dari bumi, tak perlu lagi ada rasa yang membara.
Aku ingin pergi, ke planet lain, di tempat kamu tak berada. Hingga aku bisa bernafas lega, tak lagi merasa sesak di dada.
Jika ada planet disana, aku tak perlu lagi kesulitan menutupi rasa dan menyembunyikannya dari dunia.
Adakah planet disana untukku sembunyi lebih lama? Atau aku tetap dengan rasa yang sama?


Puisi : Merasa sendiri

November 12, 2018 Posted by Debby Nuramiruddin No comments


Judul Puisi : Merasa sendiri


Langit jingga kemerahan
Matahari terbenam tampak berseri-seri
Di hiruk pikuk kota aku merasa sendirian
Tanpa tau apa yang sedang dicari

Puisi : Sebuah Penantian

November 12, 2018 Posted by Debby Nuramiruddin No comments


Judul Puisi : Sebuah Penantian


Langit tampak mendung
Sepertinya akan turun hujan
Penantianku masih tak berujung
Hingga aku lelah tak beralasan

Puisi : Merindu

November 12, 2018 Posted by Debby Nuramiruddin No comments


Judul Puisi : Merindu


Malam bertaburan bintang terang benderang
Selimut kutarik dalam pelukan
Sendirianku dengan pikiran jauh melayang
Terbayang kamu dalam satu ingatan

Senin, 05 November 2018

Puisi : Hidup adalah pembelajaran

November 05, 2018 Posted by Debby Nuramiruddin No comments

Judul Puisi : Hidup adalah pembelajaran


Hidup terkadang tak sejalan sesuai harapan
Namun, bukan menjadi alasan untuk terus terpuruk dengan keadaan
Jadikan saja sebagai satu pembelajaran
Untuk meraih kesuksesan di masa depan





Puisi : Lembaran baru

November 05, 2018 Posted by Debby Nuramiruddin No comments


Judul Puisi : Lembaran baru


Akan ada pagi setelah malam
Akan ada pelangi setelah hujan
Akan ada hari yang cerah setelah melewati hari yang kelam
Dan akan ada senyuman setelah kesedihan

Puisi : Pelangi

November 05, 2018 Posted by Debby Nuramiruddin No comments

Judul Puisi : Pelangi


Seperti pelangi yang muncul sehabis hujan
Aku ingin menjadi sepertinya
Menjadi warna yang indah setelah hitam
Menjadi senyuman setelah airmata

Ketika kamu merasa bersedih

November 05, 2018 Posted by Debby Nuramiruddin No comments


Ketika kamu merasa bersedih


Apa yang membuatmu bersedih hingga wajahmu ditekuk begitu? Apa yang membuat kamu terdiam, enggan berbicara? Apa yang memenuhi isi kepalamu itu?
Apa yang membuatmu menderita hingga tak ingin makan, mengurung diri di kamar, enggan berbagi cerita sama orang lain? Kenapa kamu malah memilih menyimpan masalahmu seorang diri?
Bukankah akan terasa lega jika sudah mengeluarkan semua unek-unek yang bersemayam di kepalamu? Bukankah itu bisa sedikit mengurangi bebanmu?
Lantas mengapa kamu malah memilih diam saja? Ungkapkan semua kekesalanmu, kesedihanmu jika itu bisa membuat dirimu lebih baik. Kamu bisa bercerita semua kesedihanmu padaNya. Menangis sejadi-jadinya. Setelah itu, kamu akan merasa perasaan yang lebih baik, lebih tenang dari sebelumnya.
Jangan pernah berpikir lari dari masalah yang kamu hadapi. Ketika kamu merasa Tuhan sedang memberikanmu ujian berupa kesedihan, kecewa, ia hanya ingin melihat seberapa kuat kamu melewatinya. Apakah ujian itu bisa membuatmu semakin dekat dengannya?
Aku selalu ingat akan satu hal yaitu Tuhan tidak akan memberikanmu ujian di luar kemampuanmu. Ia sudah tau seberapa kuat dan lemahnya dirimu. Ia hanya akan menguji tidak lebih dari itu.
Jadi, kamu harus menyakini diri bahwa kamu mampu melewatinya. Walau kamu harus merasakan jatuh kemudian jatuh lagi sampai akhirnya di satu titik membuat dirimu harus bangkit dari keterpurukan selama ini. Bisa jadi itu juga sebagai tamparan bahwa kamu mulai menjauh dariNya. Tuhan hanya membutuhkan perhatian. Jika dengan memberikanmu ujian akan membuatmu mengingatNya, Ia tak akan segan-segan melakukan itu. Ia memegang kuasa atas dirimu dan seluruh alam semesta ini.
Aku pernah berada di posisi seperti itu. Ketika Tuhan membuatku terjebak dalam satu situasi yang sulit. Situasi dimana aku harus memilih diantara dua pilihan. Ketika aku sudah menentukan pilihan itu, aku juga harus siap menerima resiko yang baik atau bahkan buruk nantinya. Tetap saja harus kuputuskan mana yang terbaik. Aku bahkan tidak bisa memastikan jika keputusanku adalah memang yang terbaik untukku atau bukan yang terbaik untukku menurutNya.
Aku hanya bisa berencana dan berusaha yang terbaik menurutku namun, Ia lah yang menentukan akhirnya kan seperti apa dan bagaimana. Pada akhirnya kehidupan tak sejalan dengan apa yang aku inginkan dan apa yang menjadi pilihanku. Semua berbeda dari apa yang aku bayangkan dan rencanakan dari awal. Ketika itu aku merasa pada posisi ditinggalkan dan kehilangan. Bagaimana perasaanku ketika itu? Tentunya berjuta rasanya. Sedih! Marah! Menyesal! Bahkan sampai menyalahkan diri sendiri!
Sedih, kenapa ini bisa terjadi padaku? Kenapa harus aku yang mengalami ini semua? apa karena kesalahanku yang kurang bersyukur?. Pertanyaan-pertanyaan seperti itu menempel di kepalaku ketika tak bisa kusembunyikan kesedihanku dari dunia. Kesedihan karena apa yang sudah menjadi pilihan untuk mengejar impianku harus berhenti di tengah jalan karena tak mendapat dukungan dari orang-orang terdekatku. Sedih karena harus merasakan kehilangan yang bukan menjadi pilihanku. Kupikir pilihanku adalah yang terbaik tapi ternyata bukan yang terbaik menurutNya.
Marah, karena aku harus mendengarkan anggapan-anggapan mereka tentang apa yang terbaik untukku. Hingga akhirnya dari yang ragu untuk memilih, aku mantap memilih pilihan berdasarkan saran dan masukan dari mereka. Tapi, bukan berarti karena mereka. Aku telah memikirkan sekaligus mempertimbangkan hingga menemui jawaban yang sama.
Menyesal. Waktu tak berhenti ketika kamu berpikir salah membuat keputusan. Apa yang sudah terjadi tak mungkin kembali walaupun itu buruk sekalipun. Aku percaya setiap permasalahan di hidup ini, suka dan tidak suka, akan selalu ada hikmah setelahnya. Kejadian itu membuatku benar-benar terpuruk. Padahal semestinya aku tau Tuhan tak akan meninggalkanku dan akan selalu bersamaku dalam keadaan apapun. Jangan merasa sendiri, ketika kamu sendiri takut akan sepi.
Setelah menyesal, aku malah hanya bisa menyalahkan diriku. Aku kembali pada potongan-potongan dari ingatan kala itu, bagaimana seharusnya aku yang lebih tau mana yang terbaik untukku, bukan orang lain. Tapi, mereka juga tidak memaksa untuk mengikuti sesuai pilihannya. Disinilah kesalahanku. Aku tak menyalahkan mereka. Aku menyalahkan diriku sendiri. Kejadian ini akan mengingatkanku terus akan satu hal “jika hati kecilmu merasa yakin, maka ikutilah kata hatimu. Begitu pula sebaliknya. Jangan ikuti yang lain”.
Begitulah ceritaku tentang bagaimana kehidupan belum berpihak pada apa yang menjadi keputusanku. Saat ini, aku merasa diriku lebih baik dari hari-hari terburuk itu. Aku juga mendapat banyak dukungan dari orang-orang yang kusayangi. Kehadiran mereka sudah cukup membuat diriku bahagia bahwa di Bumi ini aku tidaklah sendirian. Mungkin apa yang sudah terjadi denganku adalah jalan yang sudah dituliskan Tuhan dan mungkin Ia mempunyai rencana yang indah yang tidak aku ketahui. Apapun dan bagaimana itu, aku berharap yang terbaik untuk masa depanku. Yang sudah terjadi biarlah terjadi dan sudah waktunya untukku membuka lembaran baru dan menjadikan pembelajaran serta pengalaman hidup. Jangan pernah berhenti berharap, terus berusaha dan pantang menyerah mewujudkan impianmu. Satu hal lagi, selalu berdoa dalam setiap langkahmu sekalipun kamu disibukkan oleh urusan dunia. J