Pengagum Rahasia
TIba-tiba aku benci dengan diriku sendiri. Aku menangis sejadi-jadinya, meluapkan segala kecewa yang ada. Disaat seperti ini, punggungnya memang tempat ternyaman. Aku larut dalam sedih yang kurasakan. Tak banyak bicara, hanya sesegukan ketika seisi kepala runyam dan hati gelisah tak karuan.
“Engga papa kalo engga sesuai sama apa yang kita inginkan. Engga papa juga kalo jauh tertinggal di belakang dan engga papa kalo akhirnya kita malah gagal” Aku terdiam, kata-kata darinya seolah mencairkan hatiku yang beku.
“Kalo capek, boleh ko berhenti dulu sebentar, kamu engga perlu berlari buat sampai tujuan” aku menemukan sebuah bulan sabit nan indah melengkung di pipinya. Entah mengapa jantungku berdebar hebat dan aku tak menampik itu adalah hal yang kusukai darinya.
Aku menyeka air mataku. Kukira suasana hatiku perlahan membaik karenanya.
“Dah! Jangan nangis lagi, senyum tuh lebih indah..” ia mengacak-acak rambutku yang terurai dan sesekali terhempas angin.
Kesekian kalinya aku terhipnotis oleh dia yang selalu membuat langitku berwarna biru. Bagaimana bisa aku jatuh cinta berulang kali pada orang yang sama? Kadang, aku lupa kalau aku bukan orang yang istimewa, bahwa aku hanya sekedar teman saja. Tapi, kenapa sikapmu membuatku bertanya-tanya bahwa kamu memiliki rasa yang sama?
Entahlah, mungkin aku hanya terbawa suasana, dan jika cuma mengagumimu yang kubisa, biarkan ini tetap menjadi rahasia. Mungkin ia akan selalu menjadi bintang yang terlalu mustahil untuk kugapai, mungkin cukup aku kagumi saja ia dari bumi ini dan.. Cerita ini hanya bisa kusimpan sendiri.