Seseorang selalu ingin didengar dan punya tempat untuk bercerita. Sedang aku memilih berteman dengan sepi. Di satu ruang aku mampu menumpahkan segala lara yg tak mampu kuutarakan lewat kata. Tak apa, karna ini tentang dia yg membuatku jatuh cinta. Kadang kecewa, kadang juga bahagia. Meski dia sering kali menciptakan mendung dan airmata di langitku. Tapi, aku percaya bukankah akan ada pelangi setelahnya?

Senin, 16 Oktober 2017

Pesan singkatku diabaikan

Oktober 16, 2017 Posted by Debby Nuramiruddin No comments

Pesan singkatku diabaikan


Kau diam. Pesan singkatku tak kau hiraukan.
Sepatah kata membuatmu membisu. Sebuah kata yang kau kira lelucon, ku tanggapi serius membuat hening suasana. Hanya sebuah kata saja membuat kita merasa kecewa.
Tidakkah kau percaya bahwa aku tak berkata yang sesungguhnya?
Aku hanya menimpali kata yang ku pikir serius, namun tak sama yang dirasakan hatiku.
Sudah ku katakan yang sebenarnya, namun tak juga membuatmu mengatakan hal yang serupa.
Aku pikir, kau sudah terlanjur kecewa. Begitu menyebalkannya diriku hingga kau mengacuhkan pengakuanku.
Aku tak berkata yang sesungguhnya. Sampai saat ini dan sejauh ini, kau lah yang menjadi alasanku tersenyum, cemberut, sedih hingga menangis.
Bukankah itu cukup membuktikan bahwa kehadiranmu sudah bersemayam terlalu dalam di hatiku dan betapa kau sangat berarti.
Aku memang tak mampu membuktikan, hanya lewat kata aku mampu melukiskan perasaan yang tercipta untukmu.
Beginilah aku, aku yang memang aneh bagimu.
Kau yang menyebalkan bagiku namun, kau adalah manusia yang paling ku rindukan saat tak ku terima sapaanmu dan tak ku jumpai hadirmu.
Kau memang bukan pujangga, yang pandai merangkai kata cinta tapi ku tahu kau sepenuhnya mencintai dan menyayangiku.
Dalam setiap doaku, selalu ku sebut namamu dan selalu ku pinta padaNya “utuhkan rasa cinta dihatinya hanya untuk diriku”.
Jangan pernah berubah rasamu terhadapku. 
Aku akan terus mencari dan terus mencari sosokmu ketika merasa kehilangan. 
Hingga aku tanpa lelah bertahan pada cinta yang seperti ini.
Aku rela menunggu. Carilah aku dan sapa diriku ketika aku memang tengah menunggu seseorang, yaitu dirimu.

Selasa, 18 Juli 2017

Mungkinkah ada kisah untuk kita tanpa mempedulikan perbedaan?

Juli 18, 2017 Posted by Debby Nuramiruddin No comments

Mungkinkah ada kisah untuk kita tanpa mempedulikan perbedaan?

Aku terbangun. Ku lihat alarm diatas meja, jam masih menunjukkan pukul 2 pagi. Tidurku terasa tak begitu nyenyak. Pikiranku seakan menerawang, mengingat percakapanku dengannya semalam.
Aku menghela nafas dan menghembuskannya.
Entahlah.
Sebuah cairan keluar dari mataku, tiba-tiba menetes jatuh dipipiku.
Percakapan denganmu, membuat sesak didada. Kau tau, bagaimana bisa melepaskan jika kau sendiri tak ingin melepaskan.
Apakah mesti ku lakukan padahal ku tak ingin?
Apa yang sudah ku gengam erat, kini harus ku lepaskan bukan tanpa alasan tapi perbedaan yang mungkin menentang kisah ini.
Perbedaan? Apakah hal itu yang menjadi penghalang kisah diantara kita?
Walau tak ingin, tapi apakah perbedaan itu akan tetap memaksa tanpa memikirkan bahwa akan ada hati yang terluka.
Siapa yang menginginkan perbedaan kalau perbedaan itu hanya membuatmu dan dia menjauh, menjadi tembok penghalang yang tak mudah kau hancurkan, membuatmu berpikir mungkinkah ada kisah untukmu dan dirinya, membuatmu tak lagi bisa disisinya di waktu yang ada.
Apakah tuhan sudah menakdirkannya? Atau apakah kita sendiri yang menginginkan perbedaan itu?
Bukan keinginanku memiliki mata yang besar, warna kulit sawo matang dan islam yang ku yakini menjadi keyakinanku.
Apakah aku yang memilih dari mana ku berasal, di keluarga apa ku dilahirkan, dan keyakinan yang ku miliki.
Lalu, bagaimana dengannya? Apakah menjadi salahnya memiliki mata yang sipit dengan warna kulit kuning langsat?
Apakah itu menjadi salah kita berdua? Sehingga perbedaan seperti itu membuat kita sulit bersama walau keyakinan kita sama?
Sehingga tak mudah meruntuhkan pemikiran-pemikiran mereka yang meyakini bahwa hal seperti itu tak mungkin dapat diwujudkan, tak mungkin untuk bersama.
Bukankah semua itu adalah warisan yang telah digariskan Tuhan?
Lalu bagaimana itu menjadi sebuah masalah bagi sebagian orang?
Ketika itu menjadi masalah, waktu dan perasaan yang dipertaruhkan. Tak peduli seberapa besar keinginan untuk bersama selamanya, tak peduli seberapa kuat perjuangan yang dilakukan, tetap saja perbedaan menjadi penghalang.
Lalu, kalau begitu apakah sudah seharusnya menyerah saja? Yang artinya aku akan merasakan kehilangan. Kata-kata “kehilangan” membuat dadaku semakin sesak dan tanpa sadar airmata jatuh tanpa henti.
Baru memikirkannya saja, hal yang belum terjadi membuatku sulit untuk melupakan.
Apakah aku benar-benar harus melepaskan hal yang tak ingin ku lepaskan? Walaupun terpaksa, harus ku lakukan.
Apakah begitu yang benar?
Atau apakah aku harus berdiam diri dan menunggu takdirku diputuskan? Dan apakah hal seperti itu yang salah?
Bimbang dan ragu yang terpendam didalam hati. Saat hati tak sejalan dengan pikiran dan kenyataan.
Apakah aku sanggup membiarkan dia pergi walau sebenarnya hati tak ingin.
Apakah aku dapat menghadapi dan melewati mereka yang memandang dan beranggapan perbedaan tak mungkin bersama?
Apakah dia tahu, ketika memikirkan hal ini sangat menyakitkan hati.
Padahal aku tetap ingin bertahan dan membagi duniaku sepenuhnya hanya untuk dirinya.
Lalu mengapa aku ragu? Aku takut saat kau lelah berjuang denganku, kau akan memilih perbedaan itu dan pergi meninggalkanku dengan rasa yang sudah terlanjur mendalam.
Airmataku jatuh tak terbendung. Sungguh, sungguh, aku tak ingin hal yang ku takutkan terjadi.
Kau pasti bertanya, lantas bagaimana dengan dirinya? Apakah hanya aku saja yang merasakan?
Kau salah besar. Jauh sebelum kisah ini dimulai, ia lah yang jauh lebih dulu memikirkannya. Dulu, tekad untuk terus bersamaku belum pernah terpikirkan.
Namun, suatu hari kau membuatku tertegun dengan kata-kata spontan yang tercetus dari mulutmu.
Kau ingin membina hubungan ke jenjang yang lebih serius dan menjalaninya bersamaku.
Sungguh, secepat itu pikiran itu terlintas dipikiranmu dan terbesit dihatimu.
Tak pernah terduga olehku dan diam-diam tanpa sengaja hatiku bahagia mendengarnya. Walaupun kau sendiri tahu sebuah perjuangan keras perlu kita lakukan untuk menepis bahwa perbedaan tak memungkinkan untuk bersama.
Ketika raut wajahku malah menyinarkan sebuah keraguan, membuat dirimu lemas, tak bisa berkata, pikiran bercampur aduk, bahkan pikiran untuk berpisah adalah hal yang membuat matamu berkaca-kaca dan meneteskan airmata didepanku. Walau kau berusaha tegar namun rasa kekhawatiran dihatimu jauh lebih bersar sehingga membuat tangismu pecah.
Sebesar itukah rasa ingin bersamaku?
Sebesar itukah rasa cinta yang kau miliki terhadapku?
Seorang gadis yang tak secantik putri di negeri dongeng, seorang gadis yang jauh dari kesempurnaan.
Kau menangisi hanya untuk gadis seperti itu.
Lalu, kau beranggapan bahwa yang merasakan rasa cinta itu hanya dirimu seorang sehingga dengan mudahnya aku merasa ragu untuk terus bersama denganmu.
Langsung ku dekap wajahmu ke dalam pelukanku.
Apakah hal itu bisa menjadi alasan untuk menepis anggapanmu yang salah?
Sudah pernah ku katakana, aku jatuh cinta padamu dan akan selalu cinta dan terus cinta padamu.
Selama kita masih ingin bersama, selama rasa itu masih ada di hati tanpa berkurang sedikit pun, walau kau begitu menyebalkan namun aku tetap saja merindukanmu, selama itu masih ada, kisa itu masih dituliskan.
Tuhan yang mengatur scenario ini, maka Tuhan pula yang menuliskan akhir dari cerita ini.
Hatiku selalu berkata, “Tuhan, ijinkan aku merasakan cinta yang seperti ini”
“Utuhkan selalu hatinya hanya untuk diriku”
“Aku hanya ngin merasakan lebih lama lagi hidup bersama dengannya”
Aku tak tahu skenario seperti apa yang Tuhan rencanakan. Dapat melewati hari-hari bersamamu di sepanjang usiaku, sesederhana itulah permintaanku padaNya.
Bukan hanya sebatas harapan, namun bisa menjadi sebuah kenyataan itu yang aku dan ia nantikan.

Sabtu, 13 Mei 2017

Kau adalah duniaku sekarang

Mei 13, 2017 Posted by Debby Nuramiruddin No comments
Kau adalah duniaku sekarang


Pertemuan denganmu seperti teka-teki yang harus ku pecahkan atau potongan-potongan puzzle yang mesti ku susun rapi.
Tak pernah ku duga aku mampu menyelesaikan. Bersama denganmu kini, seperti soal matematika yang kadang sulit dimengerti dan perlu ekstra belajar memahami untuk mudah menjawab.
Aku jatuh cinta tiap kali aku mampu menyelesaikan satu soal matematika hingga aku beralih ke soal lainnya, membuat rasa penasaranku semakin meningkat, menguji kemampuanku untuk berhasil menyelesaikannya.
Tapi, cinta bukanlah seperti soal ataupun rumus-rumus matematika yang rumit. Cinta tak membutuhkan rumus apapun. Bahkan cinta lebih rumit daripada rumus-rumus itu.
Berawal dari sebuah cinta, aku memilikimu diduniaku sekarang.
Kau memberiku cinta yang aneh, yang belum pernah ku rasakan namun membuatku kecanduan walau aku pernah terluka karena cinta itu sendiri.
Dibalik rasa cinta yang tersembunyi itu, Tuhan memang telah sengaja mempertemukanku denganmu dalam dimensi yang tak biasa, yang membuatku sadar bahwa masih ada cinta yang lain. Tuhan ingin menghentikanku yang terlalu lama terlarut dalam kesendirian, kesedihan dan penantianku yang tak kunjung usai.
Entah mengapa, melalui senyumanmu yang tulus kala kita bertemu, tanpa sadar pelan-pelan membiarkanmu mengetuk pintu hatiku lalu memasukinya. Memang benar, kita tak akan pernah tahu kapan cinta itu akan datang. Yang ku tahu, tiba-tiba cinta datang menghampiriku.
Kau adalah manusia favoritku yang paling menyebalkan, dan jatuh cinta padamu adalah kesalahan terindah yang pernah aku buat didalam hidupku.
Walau kau tak seromantis romeo, sikapmu yang terkesan apa adanya mampu melumpuhkan hatiku. Aku bukan pula seorang Juliet untukmu. Kita bukan pasangan drama romeo dan Juliet. Kita hanya pasangan biasa yang mempunyai rasa yang tak biasa.
Kau bukan orang yang pandai bernyanyi sambil bermain gitar atau membuatkan puisi romantis untukku. walau ku akui perempuan memang menyukai hal-hal yang berbau romantis. Tapi, tidak dengan diriku. Aku lebih menyukai seseorang yang dapat membuatku tersenyum dan tertawa karenanya. Bukan karena kata-kata ataupun tingkahnya membuatku terpesona.
Selain itu, kau mampu menerima segala keanehan yang ku miliki. Aku yang tak secantik putri negeri dongeng juga mampu menaklukkan hatimu, membuat jantungmu berdebar-debar untuk pertama kali.
Kau bilang, aku unik. Keunikkan itu membuat kau diam-diam telah jatuh hati.
Hal itulah yang ku butuhkan dari seseorang yang ingin mendapatkan perhatian sekaligus cinta dariku. Sikapmu yang juga sederhana kala itu mampu menaruh namamu diantara sekian banyak nama yang berpengaruh bahkan penting dikehidupanku. Namun, hanya namamu yang mempunyai tempat teristimewa dihatiku.
Bagiku, kau seperti matahari yang ku lihat setiap pagi hingga tengah hari, mampu menyinariku dengan senyumanmu itu.
Kau seperti bintang yang berkedap-kedip menemani malamku. Saat bersedih, kau seperti payung teduh bagiku dan pelangi yang muncul setelah hujan turun.
Walau sifatmu terkesan cuek, satu yang akhirnya ku ketahui tentang dirimu yaitu hatimu seperti boneka hello kitty. Bukan bermaksud meledek, aku tahu kau begitu menyayangiku walaupun aku sering membuatmu sebal, kecewa dan marah. Kehadiranku dihidupmu tanpa kau sadari memberi pengaruh penting.
Aku tau ini baru dimulai tapi aku akan tetap menjaga yang menjadi milikku dan tak akan melepaskannya. Tuhan yang menakdirkan bersama, maka dengan cara Tuhan juga yang mengakhiri kisah ini.
Tapi, aku tak ingin memikirkan hal yang belum terjadi. Aku selalu berkata dalam hatiku, “berikan aku kesempatan merasakan cinta yang seperti ini, Tuhan. aku ingin tahu apakah ini nyata”.
Kenyataan yang mesti ku akui, aku bahagia memilikimu diduniaku sekarang. Aku ingin berbagi duniaku yang belum kau tahu sepenuhnya hanya padamu. Maka izinkan kehadiranku lebih lama dalam hidupmu tanpa ada rasa ingin pergi menjauh lalu, menghilang dariku.
Kenyataan yang ingin ku katakan, bertemu denganmu adalah kejutan terbaikku. Aku jatuh cinta sebanyak kau jatuh cinta padaku. Aku ingin memelukmu erat lebih lama dari biasanya tanpa ingin kulepaskan.
Tetaplah bersamaku selama kau ingin kita tetap bersama. Hari-hariku pasti akan berbeda, kehilangan yang akan kurasakan saat sosokmu tak lagi menemani sepiku.

(Teruntuk : F.M)




Seorang Programmer

Mei 13, 2017 Posted by Debby Nuramiruddin No comments

Seorang Programmer



Bagi banyak orang sudah tak asing lagi dengan kata “programmer”, sebuah profesi dibidang teknologi dan informasi dimana setiap kurun waktu perkembangannya sudah tak diragukan lagi.
Namun, ini bukan tentang ceritaku dan juga bidangku bukan itu. Aku yang sudah belajar dan menekuni akuntansi sejak pendidikan di sekolah menengah atas hingga perguruan tinggi, mengagumi profesi seorang programmer.
Bagiku, mereka yang berkecimpung didunia itu adalah orang-orang hebat dan jenius. 

Bagaimana tidak?
Bayangkan, mereka mampu menciptakan sebuah sistem atau aplikasi yang dapat digunakan dan dimanfaatkan bagi banyak orang dipenjuru dunia.
Sebagai contoh “facebook”. Jutaan orang bahkan lebih telah menggunakan facebook, dari usia tua hingga muda, dari kalangan biasa hingga pejabat tinggi, menjadikan facebook sebagai media berinteraksi dengan banyak orang dari belahan dunia tanpa perlu bertatap muka secara langsung.
Tidak hanya facebook, banyak juga sistem atau aplikasi yang diciptakan oleh anak negeri, sebuah karya anak bangsa yang tak kalah hebatnya.

Aku mengagumi profesi yang bukan dibidangku. “Mengagumi”, apakah kau pikir berarti ada rasa ketertarikan untuk mengenal dan mempelajari itu lebih dalam? atau apakah ada niat dalam diriku?
Boleh ku katakan jujur?

Walaupun aku mengatakan kekagumanku, tak ada rasa ingin mempelajari lebih dalam ataupun lebih jauh lagi. 
lalu, kalau niat? Jawabanku, ada. Walau hanya sebersit niat kecil dari hatiku.

Kau ingin tau, sejak kapan rasa kekaguman dalam diriku itu ada?

Ku rasa belum lama, baru tahun kemarin ketika masih berada dikantor lamaku. Iya, aku pernah bekerja disebuah perusahaan IT dan mobile solution. Bukan sebuah perusahaan besar ataupun terkenal. Tapi, dari situlah yang menjadi titik awalku sampai aku bertemu banyak orang-orang hebat.
Dulu, aku hanya sekedar tahu tentang IT, tapi ketika menjadi bagian dari perusahaan itu bagiku IT itu seperti sebuah tongkat sihir. Kau pernah melihat itu di negeri dongeng, bukan?
Sebelum seorang peri membaca mantra, mengayunkan hingga mengetukkan tongkat sihir itu, kau akan lebih dulu terpukau oleh sinarnya.

Benar, aku terpukau ketika melihat teman-temanku begitu serius didepan layar komputer mengotak-atik kata demi kata, karakter, kalimat menjadi seperti sebuah rumus layaknya rumus matematika (tapi, bukan) yang tak ku mengerti. Mungkin, aku hanya bisa melongo saja.
Mereka menyebutnya “ngoding”. Dari coding-codingan itu bisa menciptakan sebuah sistem atau aplikasi siap pakai, yang bisa dipergunakan untuk kepentingan internal ataupun eksternal perusahaan. Bahkan perusahaan sendiri dapat meraup untung yang tidak hanya sedikit selain bermanfaat bagi banyak orang.

Apakah kau setuju denganku, bahwa programmer itu hebat?

Bila ku ingat, seorang teman pernah berkata “kita programmer, kalau bisa milih engga mau ngoding karna ngoding itu memusingkan”
Ternyata, kata-katanya itu benar. Sewaktu kuliah aku pernah belajar “coding” itu walau hanya dasar. Benar-benar itu sangat memusingkan lebih dari akuntansi.
Aku saja yang sebagai penonton cukup melihat saja.

Tapi, lain hal dengan temanku yang satu ini. Cara berpikirnya berbeda. Ku pikir dia adalah manusia aneh dari planet lain yang menjejakkan kaki ke bumi.
Kala itu tengah hujan yang cukup deras. Aku dan dia berbincang dan menerobos hujan. Hanya sekedar pertanyaan spontan, aku bertanya sekaligus menebak bahwa ia akan lebih memilih mengoding daripada bersenang-senang bersama teman-temannya. Ternyata dugaanku itu benar. Ia langsung mengiyakan disertai sebuah tawa kecil. Menurut dia, mengoding itu bukan lagi sekedar kegemarannya tetapi seperti seolah sudah mendarah daging didalam dirinya.

Dimanapun dan kapanpun kegemaran itu sudah melekat dalam dirinya. Hal itu pernah terjadi.
Jadi, ada sebuah ruangan kecil dikantorku yang bisa dikatakan tempat mencari inspirasi, mengistirahatkan sejenak pikirannya dari kerjaan dan tempat untuk merokok.
Aku pernah melihatnya, tengah sendiri, seolah menyendiri, laptop dipangkuannya, dengan kondisi ruangan yang panas tanpa pendingin ruangan sedang mengoding. Tatapan matanya begitu serius seolah memancarkan ia mencari ketenangan yang ia dapatkan seorang diri di ruangan itu.

Itu tidak hanya sekali terjadi. Ada yang berbeda pada hari itu. Seorang temanku tiba-tiba mengingatkan dia bahwa hari itu adalah hari bersejarahnya. Yang anehnya, ia sendiri bahkan tak menyadarinya dan melupakan itu. Lalu, melalui inisiatifnya ia meneraktir kita semua dua kotak paket pizza. Sebagai balasan aku dan teman-temanku meberikan ucapan selamat atas hari kelahirannya.
Kami pun makan bersama dalam sebuah ruangan. Namun, ada pemandangan aneh yang menarik perhatianku. 

Ditengah suara-suara antusias pada sebuah pizza, yang sedang ulang tahun malah asyik sendiri dengan laptopnya sambil menikmati pizza pesanannya tanpa ingin menjadi bagian dari kami yang tengah asyik mengobrol.
Tiba-tiba seorang teman menepuk pundaknya, menyadarkan dia dan dia hanya tertawa saja. itu pemandangan aneh sekaligus lucu buatku. Ia memang mempunyai dunianya sendiri.

Mencoba mengingat kembali tentangnya, ia memang teman “aneh” yang hanya satu-satunya pernah ku miliki. Tapi, harus ku akui pada teman seperti itu, kekagumanku karena keanehan yang dimilikinya. Harus ku akui pula kecerdasannya.
Tidak hanya aku, menurut teman-temanku ia adalah salah seorang programmer yang hebat dikantorku.
Dibalik itu, sikapnya yang acuh, jarang bersosialisasi seolah menutup diri menjadi karakter utamanya. 

Kadang seseorang hanya melihat bagaimana karakter seseorang hanya dari kesan pertama bertemu dan menilai tanpa mengenal lebih jauh tentang orang itu.

Temanku itu memang tak peduli dengan lingkungan sekitarnya tapi bukan berarti dia hanya mempedulikan dirinya sendiri. Mungkin, bagi seseorang yang belum mengenalnya lebih dekat akan mudah berpikiran seperti itu.
Bila kau sudah mencoba mengenal lebih dekat dengannya, ia adalah manusia baik sebagai seorang teman. Walaupun tingkahnya menyebalkan, terkadang itu membuatnya terlihat lucu.

Nasihat yang secara tidak langsung pernah ia katakan bahwa aku juga harus mengejar apa yang menjadi keinginanku, yang menjadi bidangku.
Kupikir banyak yang ku pelajari darinya. Salah satunya jangan pernah menyerah untuk menggapai apa yang menjadi cita-citamu. Selain itu, setelah kau mendapatkannya jangan jadikan hal itu beban dihati dan pikiranmu. Tapi, jadikan “aku menyukai pekerjaan itu” maka akan mudah melewati tantangan maupun hambatan yang ada.

_Sekian_

Mimpi itu pernah ada

Mei 13, 2017 Posted by Debby Nuramiruddin No comments
Mimpi itu pernah ada



Ketika ingin menulis, aku menemukan sebuah tulisan yang belum ku terbitkan di blogku,. Sebuah tulisan lama dari kisah lama yang sudah ku tutup dan ku akhiri.
Tak bermaksud apa-apa, hanya ingin sekedar berbagi cerita tentang kisah lama itu bagi para pembaca blogku. Ini tentang sebuah mimpi yang nyata, bukan sebuah bunga tidur belaka.

Aku pernah bermimpi tentang dirimu. Mungkin aku yang terlalu memikirkanmu hingga sosokmu hadir dalam mimpiku setiap malam.
Aku pernah bermimpi mebuat jarak itu semakin dekat, membuatmu sedikit saja melihatku walau hanya sekedar melirik.
Aku pernah bermimpi memegang tanganmu walau terpaksa kulepaskan agar kau tak tahu betapa bahagianya hatiku kala itu.
Aku pernah bermimpi duduk disebelahmu, bercanda dan tertawa bersama. Namun, lagi-lagi aku harus menahan diri, bersikap seolah-olah biasa saja, tanpa ada reaksi berlebihan dari sikapku agar kau tak menyadari perasaan yang menjadi rahasiaku yang kumiliki untukmu.
Aku pernah bermimpi menyentuhmu. Menyentuh keningmu untuk pertama kali. Apa kau tahu bagaimana rasanya? Apakah seperti rasa nano-nano? Jantungku bahkan berdebar sangat kuat. Apakah kau bisa mendengarnya?
Aku pernah bermimpi berjalan berdampingan denganmu. Seolah berimajinasi, ingin ku pegang jemari tanganmu tapi aku malah mengacuhkan kehadiranmu saat itu.
Aku pernah bermimpi menari bersamamu ditengah hujan. Ketika itu kita bersama menerjang rintik-rintik hujan. Ada perasaan bahagia yang tersembunyi. Rasanya ingin ku hentikan waktu agar tak cepat berlalu. Hujan selalu mengingatkanku kembali tentang dirimu.
Aku pernah bermimpi memelukmu ketika ku harus menerima kepergianmu yang tak pernah sama sekali ku duga. Aku harus menahan diriku untuk tetap tegar, tersenyum walaupun hal itu berbanding terbalik dengan kenyataan. Airmataku dari kelopak mataku seolah ingin jatuh menetes tanpa henti dan hatiku seolah menangis dengan kepergiannya. Namun, tak bisa ku perlihatkan itu padamu.
Aku pernah bermimpi menatapmu lebih lama dari biasanya hanya untuk terakhir kali. Karena aku menyadari esok tak akan ada lagi kehadiranmu yang akan membuat hari-hariku tampak berbeda. Makhluk seperti dirimu sudah tak lagi menjadi pelengkap dan pewarna dihidupku.
Aku pernah bermimpi untuk menghentikan langkahmu yang mulai menjauh dan tak terlihat lagi bayanganmu. Ingin aku berteriak, memanggil namamu dan menghentikan kamu pergi.
Namun, aku membiarkan waktu yang mengambil alih peranku. Waktu yang mengambil kesempatan terakhirku yang semestinya ku lakukan tanpa berpikir panjang tapi, tidak ku lakukan. Aku kalah oleh sang waktu. Tapi, hati kecilku bertanya “tidak bisakah kau menoleh sekali saja?”
Berat, aku melepaskan kepergianmu yang tiba-tiba tanpa direncanakan. Sampai detik ini bayangan itu tak pernah sepenuhnya pergi. Bayanganmu masih disekitarku, membuatku sekali-kali merindukanmu dan menyadari aku belum melupakan makhluk sepertimu yang pernah membuat jantungku berdebar-debar setiap kali berada didekatmu.
Kenyataannya saat ini, kini itu hanya sekedar mimpi masa lalu yang harus ku tutup ceritanya. Waktu tak memberikanku kesempatan kedua untuk sekedar bertemu denganmu.
Tapi, setidaknya mimpi itu pernah ada. Setidaknya aku pernah bermimpi tentang sosok yang pernah menyita waktuku walau hanya dengan memikirkannya saja.

Tapi, pernahkah kau bermimpi menjadi diriku? J



Note : Oktober 2016

Rabu, 22 Maret 2017

Memilih mencintai dalam diam atau pergi mengatakannya?

Maret 22, 2017 Posted by Debby Nuramiruddin 2 comments
Memilih mencintai dalam diam atau pergi mengatakannya?



Pernahkah jatuh cinta? Setiap manusia pasti merasakannya.
Lalu seperti apa jatuh cinta diam-diam? Bagaimana rasanya? Bagaimana bisa seseorang mencintai dalam diam tanpa berani mengatakannya? Apakah tak punya nyali yang kuat? Atau memang itu adalah pilihan, menyembunyikan lebih baik daripada mengatakannya?
Bukankah itu hal yang lebih menyiksa daripada patah hati?
Tulisan ini kutujukan untuk seseorang yang lebih memilih mencintai dalam diam, memilih diam tanpa peduli rasa sakit yang sebenarnya ia rasakan, menyembunyikan rasa yang rasakan untuk seseorang yang istimewa ketika mulut tak mampu mengungkapkan.
Bukankah hal itu berat? Aku salut kepada mereka yang lebih memilih mencintai dalam diam.
Apa yang bisa mereka lakukan?
Tak banyak.
Memikirkan tentang dia dan mengkhayal tentang bayangannya.
Mungkin akan terlihat seperti ini isi pikiran dan khayalan mereka tentang si dia.


Bagaimana mungkin aku bisa jatuh cinta padamu?
Bagaimana bisa rasa sakit itu sesakit ini?
Aku tak pernah menginginkan seseorang sampai seperti ini.
Aku tak pernah menyalahkannya atas perasaan yang kurasakan dan bukan salah siapapun atas sesuatu yang tiba-tiba mengganjal dihatiku.
Bisakah aku untuk sebentar saja menyentuhmu dengan tanganku?
Bisakah aku menggapaimu jika aku mengatakan aku mencintaimu ratusan kali?
Bisakah kau mendengar debaran jantungku tiap kali kau lewat didepan mataku?
Bisakah kau tau isi hatiku jika aku menangis dan memohon padamu?
Atau jika itu tak mungkin, apakah aku harus membenci namamu ratusan kali?
Apakah itu mampu menghilangkan rasa yang telah mendalam, sementara pikiran ini masih saja tertuju padamu.
Apakah aku harus menghitung berapa banyak rasa sakit yang kumiliki dengan mencintaimu dalam diam?
Cintaku padamu terlalu dalam. Karena kau bukan seseorang yang dapat kumiliki.
Kau sendiri tak akan pernah tau apa yang kurasakan. Bahkan kau tak akan pernah merasakan hal yang sama denganku.
Ini karena aku terlalu menyukaimu. Hanya aku saja yang jatuh cinta pada semua yang ada didirimu.
Bahkan jika aku terluka puluhan kali, tak apa jika aku masih bisa tersenyum sekali.
Jika aku terluka puluhan kali, tak masalah asalkan aku bisa melihat senyumanmu.
Meskipun kau terlihat tak mempunyai rasa, tak apa-apa bagiku.
Melihat matamu yang sendu saja membuatku lupa tentang kau tak akan pernah tau apa yang ku rasakan.
Cukup berada didekatmu adalah kebahagiaanku. Bisa bersamamu adalah angan terbesarku.
Meskipun aku harus menunggumu lama, bukan masalah selama aku bisa melihatmu setiap saat.
Satu hari, satu bulan, bahkan satu tahun.
Meskipun juga kau tak akan pernah datang, aku tak akan semudah itu berpaling darimu.
Hingga aku terbuai dalam sebuah penantian, yaitu menunggumu.
Kapan aku bisa melihatmu dengan nyaman tanpa harus merasa gelisah ketika berbalik melihatku?
Kapan aku bisa menyingkirkan perasaan ini jauh-jauh?
Aku ingin tahu semua tentangmu.
Sejak kapan kau telah menempati ruang dihatiku tanpa aku sadari?
Aku ingin menyimpan namamu dan memilikimu untukku seorang. Tak boleh ada yang lain.
Bukankah aku egois? Aku tak peduli.
Karena bagiku, hanya kamu seorang. Jika bukan kamu, aku tak mau.
Menyendiri lebih baik ketika aku tak mampu berbagi kepada siapapun tentang dirimu.
Ditempat aku biasa menunggumu, berkhayal banyak tentang dirimu.


Itulah mengapa ku katakan mencintai seseorang dalam diam jauh lebih menyakitkan daripada patah hati. Dijelaskan pun kita tak akan mengerti bagaimana seseorang memilih diam untuk cintanya daripada mengungkapkannya.
Setiap orang mempunyai caranya masing-masing dalam jatuh cinta. Bila hal itu terjadi padaku, mungkin aku akan sama seperti itu. tapi resikonya, kau tak akan pernah tau jawabannya, apakah ia juga mencintaimu atau tidak. walaupun kau sebenarnya ingin tau, namun tak berani kau katakan.
Resiko yang lain, kau akan melihatnya dengan seseorang yang menjadi pilihannya, dan itu bukan kau.
Menunggu yang kau lakukan itu hanya akan menjadi sia-sia.  
Untuk apa kau ragu? Kau takut bila ia akan menjauhimu, bila ia akan menghindarimu setelah kau berani mengatakan cinta padanya?
Bagaimana kalau ia juga merasakan hal yang sama? Kau hanya terlambat mengungkapkannya sehingga ia telah bersama dengan orang lain.
Tidakkah kau akan menjadi manusia yang paling bodoh saat itu?
Kalau saja kau mempunyai nyali yang kuat untuk mengatakan “aku menyukaimu”, “aku jatuh cinta padamu”, mungkin seseorang yang kini bersamanya adalah dirimu.
Tidak pernahkah kau berpikir hal itu? singkirkan rasa takutmu dan ungkapkan kepadanya.
Ketika waktu telah pergi dan berlalu, kau akan menyesal karena tak pernah mengatakannya.

Sabtu, 11 Maret 2017

Persahabatan seperti filosofi “kaktus”

Maret 11, 2017 Posted by Debby Nuramiruddin No comments
Persahabatan seperti filosofi “kaktus”




Apa yang terlintas dipikiranmu tentang “kaktus”?
Kaktus, tanaman berduri, walau berduri, itulah caranya melindungi diri.
Bila diperhatikan luarnya, kaktus tak menarik sedikit pun, bukan?
Kaktus, ia biasanya tumbuh pada daerah panas dan kering. Lalu apakah cukup dengan bantuan sinar matahari, tanpa air ia dapat bertahan hidup?
Jawabannya iya.
Kaktus, tanaman yang tidak menyusahkan. tak masalah tidak disiram air pun setiap hari, ia akan tetap diam dan tak mengeluh. Berbeda dengan jenis tanaman lain. Ia akan layu bila tak sering disiram.
Kaktus dapat hidup walau dengan sedikit air dan mampu bertahan dicuaca yang ekstrem.
Kaktus, ia tak membutuhkan banyak perhatian. tetapi ia akan mati juga bila tak diperhatikan.
Walau kaktus tampak tak menarik bila diperhatikan, tapi pada waktunya ia akan menampakkan bunga yang indah. Hanya butuh kesabaran untuk merawatnya.

Itulah dia, “kaktus”. Aku ingin persahabatan kita seperti “kaktus”.

Persahabatan ini terjalin, tak membutuhkan waktu yang lama untuk saling mengenal. Tak butuh waktu yang lama untuk merasakan “kenyamanan” itu dan tak butuh waktu yang cukup lama untuk menyatakan “kita bersahabat”.

Sama seperti tanaman kaktus, butuh kesabaran dan waktu yang lama untuk tumbuh bunga yang indah.
Persahabatan ini masih panjang dan masih banyak cerita yang akan kita bagikan kepada dunia.
Butuh kesabaran dan rasa saling memahami didalam persahabatan ini. Waktu tak mungkin berhenti sampai disini. Ia akan terus berjalan tanpa kita minta sekalipun.
Aku tak ingin sang waktu akan membuat kita saling melupakan.
Melupakan waktu yang pernah kita lewati bersama. Kita saling tersenyum dan tertawa saat itu.
Aku tak ingin sang waktu akan membuat kita saling menjauh. Walau jarak menjauh, bukan berarti hati kita akan ikut menjauh, bukan?
Bahkan aku tak ingin sang waktu akan membuat kita canggung dan enggan saling menyapa.
Kita yang terlalu sibuk dengan dunia kita yang baru hingga melupakan cara untuk menyapa. Tegurlah aku jika aku berbuat salah dan jangan lupakan aku ketika bertemu sahabat baru.
Aku tak ingin sang waktu menenggelamkan persahabatan kita.

Kaktus akan diam, tak mengeluh bila ia tak disiram, bila tak diperhatikan. Namun, bila tak diperhatikan ia akan mati juga.
Sama halnya dengan persahabatan. Persahabatan tak selalu berjalan mulus tanpa lika-liku, bukan?
Perselisihan sudah menjadi hal yang tak asing lagi. Didiamkan bukanlah jalan yang baik.
Lebih baik kau memarahinya, mengomelinya dari pada didiamkan, jauh lebih menyakitkan.
Untuk itu, dalam persahabatan perlu usaha untuk mempertahankannya. Persahabatan tak memerlukan orang-orang yang sempurna hanya untuk terlihat sempurna. Tak ada persahabatan yang sempurna tanpa ada orang-orang yang berusaha mempertahankan dan menjadikannya sempurna. Hanya tangan seorang temanlah yang dapat mencabut duri yang tertancap dihati.

Kaktus, tanaman yang tak menarik,  mengajarkan kita untuk tidak menilai sesuatu atau seseorang dari tampak luarnya saja.
Aku berteman dengan kalian tanpa memandang apa yang namanya latar belakang itu. tak pernah memandang apapun. Kalian pun juga tau akan hal itu.
Tak pernah terduga dulu yang hanya sebatas teman sepermainan kini berubah status menjadi sahabat.
Walau usia pertemanan ini belum terlalu lama, aku pernah bersyukur kepada Tuhan yang sudah mengatur semuanya hingga aku bertemu dan mengenal perempuan-perempuan gila dan gokil seperti kalian.
Nama kalian berada pada deretan orang-orang yang paling ku sayangi dan tak pernah ingin kehilangan sosok seperti kalian.
Kalian berdua tak ada duanya, paling “the best” hahaha

Sebagai tanaman, kaktus juga tak menyusahkan. Begitu pula persahabatan kita bertiga. Persahabatan ini tak perlu campur tangan dari orang lain, sebisa mungkin tak akan pernah menyusahkan. Tak peduli pandangan orang, tak peduli apa yang dikatakan mereka tentang kalian, karena aku lebih tau dari orang-orang itu. cukup tutup telingamu saja dan anggap itu bukan apa-apa.

Tanaman kaktus mampu bertahan dalam kondisi cuaca yang ekstrem. Hal itu mengajarkan bahwa kita tak boleh menyerah dalam keadaan apa pun. Sebagai seorang sahabat, saling mendukung satu sama lain sangatlah diperlukan. Dalam hal pekerjaan, cita-cita bahkan soal percintaan.
Tak hanya berupa nasehat yang diberikan, kritikan diantara sahabat bukan menjadi masalah. Kritikan itu bisa membangun seseorang itu menjadi lebih baik lagi, bukan?
Sahabat yang baik tak akan diam, kadang bersikap berlebihan sebagai tanda kepeduliannya. Bersikap memalukan hanya untuk melihat tawa dan senyum terpancar dari wajahmu.
Ia bahkan tak akan lupa memberikan semangat dalam hal meraih apa yang kamu cita-citakan. Saling menguatkan satu sama lain.
Aku akan bawel setiap kali kalian sengaja tak mendengarkan. Apakah perlu ku ketuk kening itu untuk menyadarkan kalian?^^

Bukankah persahabatan juga memiliki makna seperti filosofi yang ingin disampaikan dari sebuah kaktus yang berduri?
Bagiku tanaman kaktus bukannya tak enak dipandang, ia mempunyai cara tersendiri untuk membuatnya tampak indah. Dari luar tampak berduri, namun ia menyembunyikan keindahannya itu setelah kau sabar merawatnya. Kau akan dapat melihat bunga yang indah dari sebuah kaktus. Setiap keindahan tak hanya dilihat oleh kasat mata saja, melainkan bisa dirasakan oleh hati. Bukankah itu yang terpenting?^^



Teruntuk :

<3  SoulMateStupa <3