Bumi
Bagaimana rasanya jika
sendirian berada di Bumi? Tak ada teman untuk berbicara, bermain atau bahkan
sekedar menyapa saja. Tak bisa saling menguatkan, menggengam tangan, menangis
bersama dan berpelukan tanda bahagia. Apa jadinya bumi, jika hanya ada
pepohonan, hutan, lautan, binatang, langit dan awan? Apa rasanya bumi, jika tak
ada manusia untuk saling melengkapi? Jika sudah saling melengkapi, bukankah
indah jadinya hidup di bumi?
Bumi yang kusayangi bertambah
hidup jika dikelilingi oleh orang-orang yang disayangi. Seberapa pun besar cobaan
hidup yang diberikan, asalkan ada mereka, semua masalah terasa tak menjadi
masalah karena adanya dukungan dari orang-orang yang berarti. Namun, ketika tak
mendapat dukungan dari orang-orang tersebut, tak perlu khawatir karena Tuhan pasti
mempunyai cara dan rencana lain untuk membuat kita bertahan dan tetap semangat
menjalani kehidupan.
Entah darimana lagi aku
bercerita, cara Tuhan memberikan dia di hidupku memanglah sangat ajaib. Hingga sampai
saat ini aku masih tak percaya, kehadirannya membuatku menjadi salah satu manusia
di bumi paling bahagia memilikinya. Bahkan ketika aku tak mendapatkan dukungan
dari orang-orang terdekatku, dia menjadi tempatku untuk tetap tersenyum
menghadapi apapun yang menjadi pilihan dan keputusan yang diambil. Benar atau
salah lantas tak harus membuatku terpuruk dan bersedih.
Jika hanya ada satu manusia
seperti dia di bumi, aku seakan tak membutuhkan manusia-manusia lain untuk
melengkapi jalan cerita di hidupku. Kami mencoba saling menguatkan, bertukar
cerita, membuat dan mengumpulkan cerita bahagia, bahkan pernah menangis
bersama. Ia adalah pelukan paling hangat yang membuat hatiku tentram berada di
dekatnya. Walaupun ia memiliki sikap menyebalkan namun merindukannya adalah hal
pertama yang kulakukan ketika tak ku dengar kabar darinya.
Sudah kukatakan sebelumnya,
Tuhan mempertemukanku dengan manusia satu itu dengan cara yang benar-benar
ajaib. Melalui dunia maya, akhirnya aku tau ada manusia seperti dia di bumi,
tempatku berpijak. Ia tak membiarkanku terlalu lama berlarut-larut dalam
kesedihan, menemaniku di hari-hari yang tersulit ketika tak mendapat dukungan
dari orang-orang terdekatku. Justru dia yang malah menguatkan dan menjadi
tempatku berteduh. Ketika bumi ini bahagia, ia menjadi salah satu alasanku
untuk bahagia dan bahkan ketika bumi ini menangis, ia adalah tempat paling
nyaman untuk aku pulang dan bersandar di bahunya. Sampai dengan hari ini,
permintaan yang selalu kutitipkan kepada Tuhan, ia tetap menjadi bumiku yang
paling nyaman hingga tak terbatas dan tak terhitung lamanya.