Seseorang selalu ingin didengar dan punya tempat untuk bercerita. Sedang aku memilih berteman dengan sepi. Di satu ruang aku mampu menumpahkan segala lara yg tak mampu kuutarakan lewat kata. Tak apa, karna ini tentang dia yg membuatku jatuh cinta. Kadang kecewa, kadang juga bahagia. Meski dia sering kali menciptakan mendung dan airmata di langitku. Tapi, aku percaya bukankah akan ada pelangi setelahnya?

Minggu, 16 Mei 2021

Sang Putri dari Sebuah Kastil

Mei 16, 2021 Posted by Debby Nuramiruddin No comments

Sang Putri dari Sebuah Kastil

 

Dahulu kala ada sebuah kastil tua di sebuah pelosok hutan yang berdiri kokoh tanpa ada penduduk di sekitarnya. Kastil itu dihuni sebuah keluarga, seorang Ayah, Ibu dan kedua putrinya yang sudah beranjak dewasa. Tak banyak orang tau tentang kastil ini. Mungkin karena letaknya di tempat terpencil atau memang hanya sebuah kastil tua biasa. Penduduk sekitar di luar kastil banyak beranggapan kastil ini tak berpenghuni atau berhantu dan banyak yang enggan melihat atau bahkan mendatangi kastil tua itu.

Keluarga ini seolah terlihat seperti keluarga bahagia. Bagaimana tidak? Sang Ayah yang bekerja sangat keras menginginkan kehidupan istri dan kedua putrinya dipenuhi sangat baik. Dari pangan yang berlimpah, gaun yang indah, perhiasan, serta mainan dan boneka. Tapi, sayangnya sang putri merasa kehidupannya begitu membosankan. Ia merasa kesepian, tidak mempunyai teman. Kesehariannya hanya di kastil itu, tidak diizinkan pergi keluar oleh sang ayah. Dari balik jendela kamarnya, ia selalu melihat pintu depan gerbang selalu digembok dan terkunci. Mungkin, itu adalah cara sang ayah agar tak satupun dari mereka berani melintasi pintu gerbang itu.

Di kamar, sang putri merasa sedih dan berpikir bagaimana kehidupan di luar sana? Apakah terasa menyenangkan? Sampai kapan ia akan berakhir menyedihkan di kastil ini? Bagaimana caranya ia keluar dan melarikan diri, melihat dunia luar yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Pertanyaan-pertanyaan aneh tiba-tiba menganggu pikirannya. Malam itu, ia tak bisa tidur nyenyak. Ia pun beranjak pergi ke kamar sang adik, melihat keadaannya. Ternyata dia sedang tertidur lelap dan tak tega membangunkannya hanya untuk mencurahkan isi hatinya. Akhirnya ia memutuskan kembali ke kamar dan membuang jauh-jauh pikiran buruknya.

Matahari bersinar terang dan cahayanya masuk dari balik jendela kamar sang putri, membangunkan ia dari tidurnya. Dilihatnya alarm yang sudah menunjukkan jam 9 pagi. Ia pun beranjak dari kasur dan bergegas cepat ke kamar mandi lalu segera kebawah untuk sarapan pagi dengan keluarganya. Ketika ia di ruang makan, wajah ayahnya sangat ketus melihat kedatangannya. Ia tau bahwa ini adalah salahnya. Ia membuat mereka menunggu hanya untuk sarapan bersama.

“Maaf Ayah, Ibu! Semalam aku tidak bisa tidur dan telat bangun jadinya..” ujar sang putri.

“Kakak, aku lapar menunggu kakak lama sekali!” ucap adiknya. Usia mereka hanya terpaut 2 tahun. Sang kakak kini sudah berusia 20 tahun.

“Tidak apa-apa, sayang. Mungkin, tiap malam ibu harus buatkan kamu jahe atau teh hangat agar kamu tidak susah tidur..” Ibunya memang paling tau perasaan hatinya. Dari raut wajahnya sepertinya ibunya tau ada masalah yang mengganggu pikiran anak sulungnya itu.

“Ayo kita makan! Sebelum makanan ini basi karena kelamaan” Sahut ayahnya. Ia tau perkataan ayahnya menyindir dirinya yang artinya kesalahan yang ia buat bukan masalah kecil.

Setelah makan, sang putri lekas beranjak ke kamarnya. Sang adik mengikutinya dan ia pun bertanya “kenapa kamu mengikutiku?”

“Karena kakak hanya satu-satunya temanku” ucapan adiknya tiba-tiba membuatnya terkejut. Karena saling bergantung sama lain, tanpa sadar mereka tak memiliki siapa-siapa lagi dan ia berpikir ini tidak benar adanya.

Kakinya melangkah ke arah jendela dan lagi melihat ke arah pintu gerbang. “kemarilah..” adiknya pun menghampiri sang kakak.

“Apa kamu pernah berpikir kehidupan di luar kastil ini? Pertanyaan sang kakak membuat adiknya aneh dan bertanya-tanya.

“Tidak. kenapa memangnya, kak? Sang adik terus memandangi arah pntu gerbang yang sudah lama tertutup dan terkunci.

“Kakak ingin keluar dari sini. Kakak ingin lihat dunia luar. Mungkin di luar sana, banyak penduduk atau hal menakjubkan yang belum kita jumpai” kedua mata sang kakak berseri-seri. Seperti ada semangat baru yang tumbuh dalam dirinya.

“Tapi, ayah pasti tidak akan menyukainya” ucapan adiknya tiba-tiba menghilangkan senyum di pipinya.

“Kita harus cari cara dan jangan sampai ketahuan” sang adik pun mengangguk. Ia berpikir omongan sang kakak ada benarnya juga. Ia bisa merasakan apa yang tiba-tiba dirasakan olehnya. Ia pun mendukung rencana kakaknya itu.

**********

Keesokkan harinya, sang putri mengajak adiknya ke depan pintu gerbang ketika mereka tau ayahnya telah pergi keluar, membawa barang untuk dijual ke pasar. Mereka juga tau bahwa ibunya sedang sibuk memasak di dapur. Ini adalah waktu yang tepat untuk mencari cara mengendap-endap keluar kastil tanpa ketahuan.

“Tinggi sekali, kak..” Mereka saling melihat betapa tingginya pintu gerbang itu ternyata. Dengan rok yang mereka kenakan sangat mustahil bisa memanjat pintu itu tanpa hambatan.

“Bagaimana kalau kita pakai tangga?” Sebuah ide muncul di pikiran sang putri. Adiknya hanya tersenyum lebar.

Mereka pun pergi ke Gudang untuk mencari apa yang mereka butuhkan. Namun, sialnya pintu Gudangnya terkunci. Mereka menghela nafas yang artinya gagal satu rencana mereka untuk keluar dari kastil ini. Mereka menduga pasti ayahnya yang menyimpan seluruh kunci pintu di kastil ini termasuk Gudang. Salahnya mereka lupa tidak mungkin ayahnya dengan mudahnya memberikan jawaban atas pertanyaan mereka.

“Lalu sekarang bagaimana, kak?” tanya adiknya. Ia pun meraih tangan adiknya dan kembali ke depan pintu gerbang.

Sang putri mengangkat roknya dan mulai aba-aba untuk memanjat pintu gerbang itu.

“Kakak yakin? Hati-hati, kak..” ujar adiknya cemas ketika kakaknya benar-benar ingin memanjat.

Perlahan sang putri mulai memanjat dan awalnya terlihat mudah. Ia tersenyum lebar bahwa sebentar lagi ia akan sampai puncak dan bebas keluar dari kastil ini. Adiknya masih harap-harap cemas dan dalam hati ia berkata kakaknya akan berhasil. Namun, tiba-tiba kaki sang putri tergelincir dan jatuh. Sang putri pun berteriak. Adiknya terkejut bukan main melihat kakaknya mendarat dengan cara yang tidak ada di daftar rencana mereka.

“Kakak tidak apa-apa?” ia mencoba membopoh kakaknya yang merasa kesakitan. Betapa kagetnya, ibunya menghampiri keduanya tiba-tiba. Teriakan sang putri ternyata cukup kencang dan terdengar sampai ke dalam.

“Ada apa ini? Kalian sedang apa?” Tampak ibunya khawatir. Kedua putrinya hanya diam dan tak menjawab. Ibunya pun membantu putrinya berjalan masuk ke dalam kastil.

Setelah kejadian hari itu, sang putri hanya diam di kamar karena tubuhnya memar-memar karena kecerobohannya. Beruntung ibunya segera mengobatinya dengan obat ramuannya. Karena hal itu, ibunya terpaksa berbohong kepada ayahnya tentang kejadian itu. Anehnya, di keluarga sang putri sekeras apapun penyakitnya tak ada yang berani memanggil dokter. Ibunya selalu menggunakan obat ramuannya yang katanya turun menurun dari kakek dan neneknya. Dan sayangnya sang putri telah gagal dengan rencananya.

“Sampai kapan pun aku akan berakhir di kastil ini..” ujarnya dalam hati. Airmatanya tiba-tiba menetes. Ini adalah penderitaan baginya, terkurung di kastilnya sendiri walaupun dalam keadaan melimpah. Membuat dadanya terasa sesak dan menangis sejadi-jadinya.

**********

Apakah sungguh tidak ada jalan keluar untuknya? Sang putri kembali melamun seorang diri di kamarnya sambil otaknya bekerja keras memikirkan cara keluar dari kastil atau cara mengendap-endap pergi. Namun, memorinya kembali mengingat pertistiwa demi peristiwa yang ia lewati selama 20 tahun, terkurung di kastil ini. Sifat ayahnya yang keras dan susah dibantah membuatnya menghabiskan hari-harinya seperti di pengasingan layaknya seorang tahanan di penjara. Tiba-tiba airmatanya menetes. Kenapa ayah dan ibunya begitu jahat? Apa yang menjadi alasan mereka mengurung ia dan adiknya dari jangkauan dunia luar? Apakah selamanya ia akan terjebak di kastil ini?

Ini sangat tidak adil baginya. Sementara sang ayah dan ibunya bebas keluar masuk kastil. Meskipun ia tau ayahnya pergi hanya untuk mengantar barang dan menjualnya ke pasar. Sang ayah aktif bekerja di ruang belakang, mereparasi barang-barang yang telah rusak lalu mengantar ke rumah pemiliknya atau menjualnya ke pasar. Begitu juga dengan ibunya. Kadang hasil ia bercocok tanam dan berkebun, ia jual ke pasar. Sementara ia dan adiknya hanya berdiam diri di rumah. Sungguh membosankan.

TIba-tiba pintu kamarnya diketuk. Dilihatnya sang ibu membawakan cemilan, pisang goreng untuknya. “Dimana adikmu” tanyanya ketika dilihatnya putri sulungnya hanya sendirian di kamarnya.

“Mungkin sedang tidur di kamarnya, bu” jawab sang putri. Ibunya meletakkan cemilan di atas meja belajar anaknya itu.

“Kamu kenapa, sayang? Kenapa akhir-akhir ini terlihat murung?” Ia mengusap rambut putrinya dengan lembut. Ada sedikit kecemasan yang terpancar di wajahnya.

“Bolehkah aku bertanya sesuatu pada ibu? Si putri memberanikan diri, mencoba menyampaikan unek-unek dalam hatinya belakangan ini. Ibunya hanya mengangguk.

“Kenapa aku tidak boleh keluar selama ini, bu? Kenapa aku tidak mempunyai teman? Kenapa aku merasa bosan tinggal di kastil ini? Pertanyaan bertubi-tubi dari putrinya lantas sama sekali tidak membuat ibunya terkejut.

“Putri ibu sudah dewasa ya sekarang..” Ibunya hanya tersenyum. Kelak, ia akan menghadapi pertanyaan karena rasa keingintahuan putrinya yang sudah beranjak dewasa. Ia tidak menyalahkan pemikiran putrinya itu.

Tiba-tiba ibunya merogoh saku roknya dan memberikan sebuah kunci kepada putrinya itu.

“Ini adalah kunci pintu gerbang kastil ini. Kamu bisa memilikinya tapi..” Sang putri memasang wajah aneh kepada ibunya. Kenapa begitu tiba-tiba ibunya memberikan jawaban atas masalahnya selama ini.

“Tapi apa, bu? Lalu ibu bagaimana? Hanya keluar kata-kata itu. Dia tidak menyangka ibunya dengan mudah memecahkan teka-teki yang selama ini ia cari.

“Ibu punya dua kunci, sayang. Jangan sampai ayahmu tau mengenai hal ini” ujar ibunya sambil tersenyum. Sang putri tak banyak tanya. Ia langsung menerima kunci itu dengan wajah gembira. Kemudian memeluk ibunya erat dan mengucapkan terima kasih. Ibunya hanya membalas dengan kecupan hangat di kening putrinya itu. Sang ibu pun beranjak pergi, meninggalkan putrinya seorang diri. Ia tau yang ia lakukan adalah benar. Putrinya berhak menemukan kebahagiannya di luar sana, yang mungkin sudah lama menunggunya.

Malam itu, di dalam kamar yang sunyi, sang putri tak henti-hentinya berkelana lewat segudang asa di pikirannya. Senyum bahagia merekah di wajahnya. Ia akan meninggalkan har-hari yang membosankan di kastil ini, bertemu banyak penduduk yang belum pernah ia jumpai, atau sekedar memandang langit biru yang tak akan sama dari biasanya. Sebuah helaan nafas panjang keluar dari rongga dadanya. Sangat lega, pikirnya. Bayangkan hari yang telah lama ia nanti, akan tiba esok dengan sekumpulan rencana yang sudah terkumpul rapi dalam buku catatannya.

**********

Mentari bersinar hangat. Sinarnya menyapa dari jendela sang putri, membangunnya yang terlalu lelap bersama sang mimpi. Ia segera beranjak dari kasur dan mendekat ke arah jendela.

“Selamat pagi, putri..” senyuman masih merekah di wajahnya. Dari balik jendelanya, ia melihat sang ayah telah pergi dengan kudanya, melewati gerbang dan disambut senang oleh sang putri.

Sang putri langsung keluar kamar dan bergegas ke kamar sang adik, menyapa sekaligus membawa berita menyenangkan.

“Hari ini kita siap-siap menjelajah dunia..” ucapnya kegirangan. Ia berputar-putar dan menarik tangan adiknya, merasakan getaran yang tak beraturan, saking ia tak bisa menahan gejolak kebahagiaan di dalam dirinya.

Kedua alis sang adik mengkerut, tanda ia belum mengerti. Ia berusaha bertanya “ada apa, kak? Sang putri pun berhenti dan dilihat wajah adiknya dengan seksama. Ia pun tersenyum lebar, matanya berbinar-binar sambil menunjukkan sebuah kunci di depan mata adiknya.

“Kita jalan-jalan keluar..” ucapan sang kakak disambut dengan anggukan darinya. Adiknya pun bisa merasakan aura kebahagiaan terpancar karena berita gembira itu, dipeluknya sang kakak dan kembali menari-nari, tak terkendali. Teriakan-teriakan kecil juga menggema di dalam ruangan. Pertanyaan-pertanyaan dan kegelisahan mereka sudah terjawab dan siap berpetualang ke dunia yang belum pernah mereka pijaki. Tak peduli halangan, hambatan sekalipun, mereka yakin mencari kehidupan yang belum pernah mereka rasakan selama tinggal di kastilnya. Bukan berarti mereka sudah bebas. Hanya berusaha tak terlihat dan menyimpan sendiri perjalanan mereka nantinya. Ayahnya tak boleh tau mengenai hal ini, sekecil apapun rencanya.

**********

Selasa, 11 Mei 2021

Tak bisa bersama

Mei 11, 2021 Posted by Debby Nuramiruddin No comments

 Tak bisa bersama



Sore itu hujan masih setia, belum reda juga

Kakiku masih enggan melangkah rupanya..

Ketika aroma basah hujan lebih menggoda, aku menghiraukannya

Seseorang dengan sepatu lusuhnya, menyapa tanpa sepatah kata

Bagaimana bisa hanya dengan senyuman, aku terpikat begitu dalam?

Meresahkan, kapan aku bisa melihatmu dengan nyaman?

Parasmu yang menawan selalu terngiang-ngiang di waktu malam

Apakah mungkin menghindarimu tanpa perlawanan?

Kamu mengisi hari-hariku yang tak selalu indah, tanpa disadari aku sendiri lengah

Ruang yang telah lama kubiarkan sendiri, mendadak memiliki penghuni

Aku jatuh hati dengan caranya bicara, tertawa dan aroma tubuhnya

Aku suka tiap kali matanya menatapku, caranya memanggil namaku

Semua yang ia lakukan, memang paling bisa membuatku terkesan

Ia seolah membawaku jatuh ke dalam lubang berisi harapan

Bahwa yang mustahil, bisa menjadi mungkin

Tapi, sejenak aku takut bermimpi yang bukan-bukan

Dari banyaknya manusia, mengapa kamu orangnya? Mengapa harus dirimu yang tak kusangka?

Apakah semesta sengaja mempertemukan?

Mengapa kamu menjadi orang yang sangat menyenangkan?

Ataukah semesta sedang bercanda?

Tapi, mengapa di dekatmu bahagia begitu hebat rasanya?

Apakah kamu juga merasakan demikian?

Setiap bersamanya satu hal yang aku lupakan

Akankah Tuhan menyatukan dua insan walau berbeda keyakinan?

Jika mendoakan cara terakhir yang kubisa, mungkinkah berujung di amin yang sama?

Tuhan maha pendengar yang baik, bukan? Mengapa sulit bagiku menghapusnya dari ingatan?

Jika aku dengannya memiliki keyakinan yang sama, apakah semesta menakdirkan bersama?

Sekeras apapun mencoba, ada yang mesti dikorbankan dan kita sama-sama tau kisah ini berakhir tak bahagia..

Karena sejak awal aku dengannya tak bisa bersama..

Selasa, 04 Mei 2021

Partner Hidup

Mei 04, 2021 Posted by Debby Nuramiruddin 1 comment

 Partner Hidup


Hmm.. mulai dari mana ya?

Mungkin ini tentang keisenganku yang tanpa kuduga ternyata merubah hidupku. Ini kisah tentangku atau mungkin beberapa orang yang bernasib sama.

Apa menurutmu tentang orang-orang yang kalian temui di dunia maya?

Kadang sebagian orang lebih nyaman mengekspresikan tentang diri mereka di dunia maya dibanding bercerita langsung dengan teman atau keluarga mereka. Kadang sebagian orang lebih mudah bergaul di dunia maya ketimbang di dunia nyata. Lebih asyik, katanya.

Dulunya aku berpikir dunia maya adalah hal yang tak lazim untukku. Bagaimana mungkin kamu berani bertemu dengan orang yang kamu tak tau nyatanya seperti apa. Lalu bagi sebagian orang, berpacaran dengan orang yang mereka temui di media sosial contohnya adalah sah-sah aja. Bahkan tidak jarang belum bertemu tapi sudah berpacaran katanya. Apakah itu masuk akal? Bagaimana cinta hadir diantara keduanya?

Aku tidak sampai sejauh itu. Awalnya aku hanya iseng ketika merasa tak percaya diri dengan diri sendiri. Berpikir lebih banyak kurangnya dibandng kelebihan. Merasa kisah cintaku selalu berujung kandas atau bisa dibilang kurang beruntung dalam hal percintaan. 

Lalu, ketika aku buka facebook sebuah iklan dari satu aplikasi dating online menarik perhatianku. Entah kesambet apa, aku mengunduh aplikasi itu dan mulai mencari tahu isi di dalamnya. Sejujurnya mudah tapi, aneh. Kamu hanya perlu menggeser ke kanan atau ke kiri kalau kamu merasa cocok dengan orang itu atau orang itu sesuai kriteria yang kamu mau. Semudah itu, bukan?

Sampai aku melihat foto orang ini. Senyumnya terlihat menawan dengan pipinya yang tembem dan matanya yang sipit. Lucu sih, kataku saat itu. Aku memang sedang suka-sukanya dengan pria berwajah oriental. Mungkin karena K-POP yang mulai booming pada tahun itu. Sampai aku bermimpi dan menjadikan visual mereka sebagai kriteria laki-laki yang aku cari. Karena hal itu, aku menggeser ke kanan yang artinya aku tertarik dan ingin berkenalan dengannya.

Kita mulai chat satu sama lain. Cuma hal-hal yang dibahas dengannya saat itu sangat berbeda. Lebih banyak ingin tahu soal hobbyku. Ketika aku katakan suka menulis, ia secara tiba-tiba ingin membaca tulisanku. Karena aku tidak mengarang, kukirimkan link blogku kepadanya. Aku pikir hanya sampai disitu saja. Ternyata ia memberikan komentar baik dan menyukai coretanku yang tak banyak pembacanya. Sebuah pujian ia ungkapkan dan entah mengapa membuat hatiku cukup berbunga-bunga. 

Setelah mengobrol singkat dengannya, ia mengajakku bertemu. Sungguh, itu adalah pengalaman pertama dan bingung harus bagaimana dan berbuat apa. Aku tidak mungkin menolak ajakannya. Aku juga ingin bertemu tapi, itu terlalu cepat bagiku. Aku belum lama mengenalnya. Namun, aku malah mengiyakan tawarannya dan permintaanku bertemu langsung di tempat, tanpa perlu menjemputku di rumah. Karena aku tak ingin dia tau alamat rumahku karena kita adalah orang asing satu sama lain dan belum sedekat itu. Setelah mulai terbuka satu sama lain, kita memutuskan mengakhiri obrolan di aplikasi itu dan berpindah ke Line agar lebih memudahkan sebenarnya.

Aku pun bertemu dengannya. Agenda hari itu minum chattime dan menonton bioskop. Kita berdua lebih banyak mengobrol hari itu. Lagi-lagi menceritakan kesibukan dan hobby masing-masing. Kesan pertama yang aku dapat sangat positif. Anak yang baik dan manis, pikirku. Jujur, aku suka sekali dengan senyuman yang terukir ketika kami bertemu. Aku kira setelah hari itu, ia tak akan menghubungiku kembali. Tapi, ternyata hubungan kami terus berlanjut sampai saat ini.

Ya, percaya engga percaya sejak sebulan setelah bertemu kami memutuskan berpacaran dan telah bersama sampai saat ini. Tahun pertama seperti kebanyakan orang yang baru berpacaran perjalanan masih belum mulus-mulusnya. Hal-hal kecil masih menjadi bahan perdebatan dan pertengkaran. Ia yang emosinya belum terkontrol dengan baik, pernah membuatku terbesit mencari orang lain. Tapi tetap saja yang aku tunggu adalah notifikasi pesan masuk darinya. Karena kemungkinan-kemungkinan itu, kami sempat berpisah sebentar namun kemudian berpacaran lagi.

Saat memutuskan kembali bersama, aku menegaskan bahwa saat itu aku mencari sosok laki-laki yang akan membawaku ke jenjang yang serius,  bukan waktunya main-main lagi. Usiaku saat itu 25 tahun yang mana sudah berpikiran "pacaran untuk menikah" . Walau sebenarnya tak ada desakan dari keluarga ataupun target menikah di umur kesekian. Namun, aku memang mencari laki-laki yang benar-benar serius dan berpegang dengan omongannya. Bukan laki-laki dengan rayuan gombal. Ia bukan laki-laki seperti itu. Bahkan awal pendekatan, ia sangatlah berbeda. Kami lebih banyak bercerita tentang diri masing-masing. Sangat jarang "Kamu lagi apa? sudah makan atau belum?" menjadi bahan pembicaraan. Disitulah aku mulai menyukainya.

Tahun kedua, hubungan kami semakin membaik. Walau, aku belum melihat "lampu hijau" untuk ke jenjang yang lebih serius. Aku juga bukan tipe orang yang memaksa dirinya untuk segera menikahiku. Seperti air mengalir saja, kataku dalam hati. Jika diingat kembali, beberapa orang di sekitarku beranggapan aku tak akan lama bersama dia. Tak mungkin bersama, kata mereka. Hubungan tak direstui keluarga besarnya, ada juga yang bilang begitu. Rasanya telingaku panas mendengarnya. Memang siapa mereka? berhak menghakimi dan menilai seseorang seakan-akan mereka lebih tau. Bodohnya diriku, kadang suka terngiang dan tanpa sadar memikirkan kata-kata yang seharusnya aku tak terima.

Pernah aku jadikan alasan untuk berpisah dengannya. Entah roh jahat mana yang merasuki otakku saat itu. Lalu apa reaksi dia? sungguh diluar dugaanku, ia meneteskan airmata. Tak mau pisah dan untuk apa mendengarkan omongan orang lain tentang kita, katanya. Jujur saja hatiku terenyuh dan sulit melepaskan dia. Karena aku akan sulit menemukan orang yang bisa menerimaku baik luar dan dalam seperti dia yang menerimaku apa adanya. Ia menerima sifatku yang manja dan kekanak-kanakan walau sebenarnya usiaku diatasnya. Pemikirannya lebih dewasa untuk orang seusianya. Bisa dibilang, ia yang banyak membimbingku.

Hari itu ditutup dengan kami berbaikan. Aku juga tak peduli lagi bagaimana tanggapan orang tentang hubunganku dengannya. Aku hanya berharap dan berdoa yang terbaik kepada Sang Pencipta. Tuhan maha pendengar yang baik, bukan? Jika hambanya bersungguh-sungguh, tak ada yang tak mungkin baginya. Benar adanya, doaku seketika dijawab olehNya tanpa aku duga. Karena satu peristiwa, ia secara tidak resmi melamarku. Dipikiranku saat itu, aku lebih mencemaskan dirinya ketimbang diriku sendiri. Aku tak bisa diam begitu saja, melihatnya kesulitan. Aku mencari bantuan dan akhirnya masalah itu selesai. 

Setelah mengantarku pulang, ia mengucapkan kata-kata yang membuatku tertegun. Dia ingin aku menikah dengannya dan memintaku menunggu sampai finansialnya terasa cukup. Cincinnya juga menyusul, katanya. Lucunya, dia bertanya apakah cara melamarnya sudah benar dan sesuai? Ia sendiri juga tidak mengerti. Bukan cuma dia, bagaimana aku tau? belum pernah ada laki-laki yang melamarku sebelumnya. Aku akhirnya menerima tawaran itu. Itulah moment yang aku tunggu-tunggu. Walaupun tidak direncanakan tapi cara kerja semesta memang luar biasa.

Banyak peristiwa-peristiwa yang merubah kehidupan kita setelah itu. Aku merasa Tuhan memudahkan jalan dan segala urusan serta memberikan apa yang kami butuhkan. Impian kami seolah hanya selangkah lagi dan sudah menunggu di depan mata. Tak henti-hentinya kami bersyukur atas karuniaNya. Tapi, tak ada yang berubah di rutinitas kami. Tempat yang kami kunjungi, makanan yang sering dimakan atau obrolan-obrolan yang tak ada habisnya dibicarakan. Kami tak pernah jenuh. Entah mengapa rasanya bahagia ketika bertemu walau ke tempat yang sama. Selalu dia dan dia yang menjadi tempat ternyaman.

Aku tak pernah lupa satu hal yang menjadi permintaanmu sejak awal bahwa kita harus saling terbuka satu sama lain. Apapun masalah atau hal yang mengganjal di hati mesti diceritakan dan tak boleh dipendam sendiri. Mencari solusi dan jalan keluar bersama. Itulah komitmen yang kita sepakati ketika memulai hubungan ini. Aku hampir lupa, kita bahkan mulai jarang bertengkar sejak lamaran spontan itu. Kalaupun selisih pendapat tak butuh waktu lama untuk berbaikan. Karena aku tak bisa sehari tanpa kabar darinya. Karena yang aku mau adalah dia.

Empat tahun sudah kami menjalani komitmen ini bersama. Empat tahun juga bertepatan dengan ia datang melamarku secara resmi. Pertemuan keluarga yang hangat seolah menyadarkanku bahwa ini bukan lagi sekedar bunga tidur, tanpa aku harus bangun karena ini adalah nyata. Langkah kami berdua menuju "pernikahan" semakin mendekat. Sungguh lega dan bahagianya diriku saat itu. Aku dan dia akan dihadapi dengan kesibukan-kesibukan menjelang hari bahagia kami. Meski menyita banyak waktu. Kadang ia suka mengeluh karena persiapan-persiapan itu. Alhasil aku juga dibuat kesal dengan sikapnya. Bukan cuma dia yang ingin ini cepat selesai. Aku pun begitu. Tapi ya namanya pasangan. Wajar berselisih paham. Kadang maunya pengen diturutin. Kita masih sama-sama belajar menjadi yang terbaik bagi satu sama lain.

Ada hal kecil yang kadang membuatku senyum-senyum sendiri. Yaitu kecemburuannya dengan coretan-coretanku di blog. Dibilang, aku masih memimpikan orang lain, masih belum move on. Padahal jelas-jelas aku memilih bersamanya. Artinya dia telah memiliki hatiku sepenuhnya. Tidakkah kamu percaya bahwa tak ada selain kamu yang memenuhi otakku? Percayalah, keinginanku masih sama dan akan selalu sama. Baik dulu ataupun sekarang. Tak pernah ada bedanya. Aku masih ingin berbagi duniaku denganmu. Karena inginku hanyalah bersamamu selamanya.

Ketika dia memintaku menikah dengannya, aku tengah memikirkan bahwa aku bukan mencari seorang suami. Tanggung jawabnya bukan hanya sekedar menafkahi atau memenuhi segala kebutuhanku. Aku mencari seorang partner di hidupku. Ketika aku memutuskan bersamanya, bukan berarti hidupku akan jauh lebih baik nantinya. Karena aku ingin berjuang bersama-sama dalam keadaan suka maupun susah. 

Apakah kamu ingin menghabiskan sisa waktumu bersamaku? Apa kamu ingat apa yang menjadi impian kita? Bilang ya kalau aku mengada-ada. Tinggal di sebuah pedesaan atau jauh dari keramaian kota. Merasakan udara yang belum becampur dengan polusi. Memiliki rumah yang nyaman dan dikelilingi tawa canda anak-anak yang manis. Bukankah bahagia sesederhana itu? Lalu, di akhir cerita menjadi pasangan yang saling setia hingga rambut memutih dan maut memisahkan. 

Aku tau sejatinya kehidupan bukan seperti cerita di negeri dongeng. Tapi, bukan berarti bermimpi itu salah. Apalagi kebanyakan mimpi, kata mereka. Asalkna percaya pada mimpi-miimpi itu perlahan, pelan-pelan kita wujudkan satu-persatu mimpi itu menjadi nyata.

Terakhir yang ingin kusampaikan "Terima kasih telah hadir di duniaku dan menjadi tempat ternyaman untukku pergi dan pulang. Aku bersyukur bertemu dengan manusia sepertimu diantara milyaran manusia di Bumi. Aku menyayangimu sepenuh hatiku. Aku berharap, aku menjadi satu-satunya wanita yang ada di hatimu untuk hari ini, esok dan sampai kapan pun.