Rasa
yang tepat di waktu yang salah
Kini malam terasa indah, banyak bintang di
langit.
Sembari kau menggengam jemariku, tatapan mata
kita saling beradu.
Kamu tiba-tiba mempertanyakan perasaanku
untukmu.
Pertanyaan itu seharusnya tertuju untukmu.
Jangan tanyakan perasaanku, kalau kau saja tak
bisa beralih ke arahku.
Jangan tanyakan perasaanku, kalau ketika
denganku kau masih bersamanya.
Jangan tanyakan perasaanku, kalau hatimu hanya
setengah untukku.
Hidup memang sebuah pilihan, bukan?
Aku memilih bersamamu, walau ku tau setengah
hatimu juga untuk dia.
Lalu, untuk apa semesta mengirimkan dirimu
untukku? Untuk apa kau datang di sisiku?
Mengapa Tuhan merencanakan semua ini?
Sungguh, bukan ini yang aku mau.
Kita tampak berjalan beriringan tapi sebenarnya
tidak.
Kamu dan aku adalah rasa yang tepat namun di
waktu yang salah.
Pergi saja kamu dariku. Berikan sedikit waktu
untuk mengerti yang tak ku mengerti.
Bukan maksudku menyakitimu, namun tak semudah
itu melupakanmu begitu saja.
Biar ku bunuh saja perasaan yang kuberikan
untukmu.
Meski berat melangkah tanpa dirimu, hanya saja
hatiku belum siap untuk terluka.