Seseorang selalu ingin didengar dan punya tempat untuk bercerita. Sedang aku memilih berteman dengan sepi. Di satu ruang aku mampu menumpahkan segala lara yg tak mampu kuutarakan lewat kata. Tak apa, karna ini tentang dia yg membuatku jatuh cinta. Kadang kecewa, kadang juga bahagia. Meski dia sering kali menciptakan mendung dan airmata di langitku. Tapi, aku percaya bukankah akan ada pelangi setelahnya?

Minggu, 13 November 2016

Ingatkah kita?? (SoulMateStupa)

November 13, 2016 Posted by Debby Nuramiruddin No comments
Ingatkah kita?? (SoulMateStupa)


Waktu terasa begitu cepat, bahkan belum siap rasanya menerima kenyataan bahwa harus “berpisah”. Bukankah waktu tanpa permisi, tanpa berkata-kata lalu memutuskan, frekuensi pertemuan ini akan menjadi tidak sesering biasanya.
Tidak bisakah seminggu lagi, sebulan lagi, tidak! Lebih lama lagi merasakan kebersamaan ini?

Apakah hanya tersisa beberapa hari saja? Seolah-olah hanya menghitung hari saja, siap atau tidak itu yang akan terjadi. Inilah hari yang paling ku cemaskan.
Mengapa setiap pertemuan selalu berakhir pada perpisahan? Tak akan lagi ku lihat senyum kalian, canda dan tawa kalian lagi yang ku rasakan. Haruskah berakhir seperti ini? apakah ini jalan kehidupan yang telah ditakdirkan untuk kita?

Apakah tidak ada pilihan lain untuk ku dan kalian tetap bertahan disini?
Cukup bersamamu aku merasa bahagia. Tak membutuhkan orang lain, cukup denganmu duniaku serasa hidup, walau untuk sejenak aku mampu untuk tidak mengingat dan memikirkan makhluk itu.

Cukup seorang teman sepertimu yang kubutuhkan, untuk melengkapi cerita dikehidupanku. Cukup seorang tangan teman sepertimu, yang akan selalu berada disisiku walaupun jarak memisahkan.

"Ingatkah hari-hari yang selalu kita lalui bersama?"
"Ingatkah tangisan pertama yang kita rasakan?"
"Ingatkah saat aku duduk disampingmu?"
"Ingatkah kita saling menjahili saat sibuk dengan dunianya sendiri?"
"Ingatkah kita bermain ditaman rekreasi hanya untuk menghilangkan penat?"
Menghilang pikiran bahwa kebersamaan ini tak akan lama lagi.

Ada cerita manis dan pahit  yang telah kita ukir bersama. Walaupun tak dapat ku rasakan lagi, akan ku ingat dan kenang dihatiku.
Rasanya begitu nyata bahwa kita harus sama-sama pergi. Kita berpisah lebih cepat dari yang ku duga.

"Tapi, akankah kita bisa tersenyum dan tertawa bersama lagi seperti hari ini?"

Walau nanti sulit bertemu, bisakah kita menyempatkan diri?
Bisakah tidak saling lupa untuk menghubungi? Bisakah ditengah kesibukkan, tidak membuat ikatan persahabatan ini menjadi renggang?
Walaupun tak banyak kata yang bisa terungkap, aku pernah memiliki hari-hari bahagia bersama teman sepertimu.

Kau begitu istimewa sehingga bukan ku anggap teman lagi, melainkan salah satu orang terpenting dihidupku, sahabatku. Walaupun pergi, banyak kenangan yang ku bawa tentang dirimu.
Aku akan merindukan saat-saat bersama lagi seperti itu.

Tak perlu khawatir, walau jarang bertemu nantinya, masih ku simpan gambar-gambar kita yang memenuhi memori ponselku.
Betapa cerianya dan bahagianya saat kita masih bersama. Asalkan bersama kalian berdua, hari-hariku dikantor terasa menyenangkan dan berwarna (ditambah lagi kehadiran makhluk yang satu itu ^_^)

Setelah dari kita ada yang pergi, membuat airmata pun harus mengiringi kepergiannya yang secara tiba-tiba, bahkan tak memberikan aba-aba untuk sekedar menghabiskan waktu bersama, mengadakan pesta perpisahan.
Seperti drama sinetron, kita bahkan tak mempunyai malu mengantarkan kepergian teman dengan tangis.

Seperti sudah firasat dan pertanda, ia menghadapinya dengan baik-baik saja. Padahal sebelumnya aku berbagi cerita bahagiaku padanya. Lalu aku dihadapkan dengan kabar buruk, dengan kepergian salah satu temanku.
Aku tau saat itu hatinya sedang tidak baik-baik saja walaupun ia mencoba menutupinya dengan senyuman tersungging diwajahnya.

Ketika kepergiaannya telah diputuskan, seakan tidak bisa dipertimbangkan lagi, mungkin kala itu terpikirkan, bagaimana hari esok tanpanya?
Apakah akan terasa sepi? Apakah akan terasa ada yang hilang? Tak ada lagi manusia unik dan langka seperti dia.

Stupa, kami benar-benar kehilangan sosoknya dikantor. Suasana terasa sepi. Dia sudah seperti hiburan yang dapat menghilangkan penat dikantor.
Stupa, nama yang kami berikan kala ia berpenampilan aneh waktu itu. Bila ku ingat, saat itu ia menguncir rambutnya ke atas dan tampak seperti stupa sebuah candi borobudur (hahahaha)
Sejak saat itu aku dan dia memanggilnya stupa, tanpa merasa diejek atau dihina, temanku yang satu itu malah senang dirinya dipanggil dengan sebutan “stupa”.
Bukankah itu lucu? Melihat ekspresi gembiranya ia saat dipanggil stupa.
Stupa adalah “mainan”, dalam arti tanpa kehadirannya terasa tak sempurna. Dia mampu membuat kami tersenyum, tertawa dan melupakan bahwa bahagia dalam pertemanan tidaklah selalu hal-hal yang manis.
Stupa adalah orang “gila”.
Stupa adalah orang yang tidak tau “malu”.
Itulah karakternya, tapi kami berdua sangat menyayanginya.
Berteman dengannya membuat kami sadar, berteman tak memandang latar belakang seseorang atau apa pun.

Apakah ia membawa pengaruh buruk atau baik padamu, lagi-lagi itu kembali pada dirimu sendiri. Kau yang menentukan. Selama kau sudah berpikiran dewasa, kau sudah bisa menentukan mana yang baik, mana yang buruk.
Orang-orang berpikiran buruk tentangnya, tapi kami lebih tau dari mereka.
Hari esok, setelah kepergiannya, aku dan dia benar-benar merasakan kehilangannya. Tak ada lagi yang membuat kami ceria dan tertawa hanya dengan melihat tingkahnya. Semua itu telah hilang dan semakin hari kami perlu membiasakan diri tanpa kehadirannya.

Setelah kepergian seorang teman berhargaku, lagi-lagi takdir menamparku dengan kepergian makhluk itu. Membuatku seolah-olah tersambar petir, membuyarkan segala angan-anganku tentangnya.
Sangat ku sesali, mengapa Tuhan memisahkan jarak antara aku dan orang-orang yang berharga didalam dihidupku?
Tidak bisakah Tuhan tak merampas mereka yang sudah menjadi bagian yang berarti dalam hidupku sehingga untuk bertemu dan melihat saja sudah tidak akan bisa sesering dulu.
Aku hanya butuh orang-orang seperti mereka yang membuat hari-hariku terasa biasa menjadi luar biasa.
Tapi, kenapa sebuah perpisahan membuatku harus terima, bahwa inilah kehidupan. Tak selamanya seperti ini.

Lagi dan lagi, aku harus dipaksakan oleh kehidupan yang kadang tak sejalan dengan keinginan. Keinginan yang ingin bersama setiap saat. Keinginan yang tidak ingin tergantikan dengan kehilangan.
Kehilangan yang akan dirasakan setelah perpisahan, yang akan membuat mengerti betapa penting arti sebuah pertemuan.
Kadang hanya sebuah duka yang akan ditemui kala perpisahaan itu datang. Walau dengan adanya perpisahan, bukankah akan ada kenangan yang tersimpan saat masih bersama dulu?

Setelah temanku stupa pergi, kini giliran ku mengucapkan selamat tinggal pada temanku yang satu itu.
Dia, ku habiskan waktu bersama dengan suka dan tawa. Hal-hal yang menjengkelkan sekali pun kita lewati bersama.
Bersamanya, aku dan ia saling bercerita tentang banyak hal, bahkan tentang seseorang yang bahkan sudah bukan menjadi rahasia diantara kami.
Seperti mempunyai kartu mati satu sama lain, itulah kami berdua.
Dia, “soul” panggilanku padanya. Dan ia memanggilku “mate”.
Bila nama panggilan kami bertiga digabungkan, “Soul-Mate-Stupa” yang artinya soul mate adalah belahan jiwa Stupa. Tanpa ada soul mate, maka tak akan ada stupa.

Setelah stupa pergi, maka kini giliran soul mate mengikuti jejaknya.
Soul mate stupa sering kali mulut kami berkata pedas menyebalkan, namun tak pernah dimasukkan hati.
Bohong, bila kami tidak pernah berselisih paham. Bohong, bila tak pernah berbeda pendapat. Namun, semua itu tak menjadi alasan untuk menjauh, untuk memutus ikatan yang sudah terjalin ini.
Bukankah hal seperti itu adalah hal manis dalam sebuah persahabatan yang selalu akan dikenang ketika perpisahan?

Kini, kita harus mengucapkan salam perpisahan. Hari-hari yang begitu singkat dikantor, tak akan membuat persahabatan ini hanya berakhir sampai disini saja, bukan?
Kita mungkin akan segera merasakan udara pagi hari ditempat yang berbeda, menatap langit biru ditempat yang berbeda, merasakan makanan ditempat yang berbeda, bahkan berjalan pun ditempat yang berbeda. 

"Bukankah kita akan merindukan kebiasaan yang sering kita lakukan bersama?" Iya, jawabannya pasti aku merindukannya.

Hal-hal yang biasanya ku lakukan bersamamu, kini akan ku lewati seorang diri. Tak ada lagi ku dengar ocehan bahkan omelan darimu.Telingaku yang sudah terbiasa mendengarnya akan merindukan itu.
Dan tentunya kau akan merindukan wajah lugu, polos, manis dan imut ini (hahaha).
Kau akan rindu memarahi keluguanku, kebodohanku, kecerobohanku dan diriku yang menjadi alasanmu tertawa, bukankah begitu? ^^
Karena sama halnya denganmu, aku akan merindukan hal-hal yang kau lakukan padaku, sekecil apapun itu.

Terlebih lagi, peristiwa-peristiwa yang telah terjadi selama ini. Pergi ke dufan saat itu, adalah moment terindah yang soul mate stupa lakukan bersama. Bahkan puluhan gambar, tidak! lebih dari puluhan gambar, kita abadikan sebagai pengingat kita pada hari bersejarah itu. Bukankah saat itu kita benar-benar melepaskan semua beban?

Bukankah hari itu terasa begitu cepat sampai tak sadar kita diburu oleh sang waktu? kenapa saat menghabiskan waktu bersama, waktu serasa begitu cepatnya?
Aku tidak hanya ingin pergi ke dufan saja, pergi ke suatu tempat, menghabiskan waktu bersama dengan sentuhan dan petualangan yang berbeda. Tidakkah itu akan terasa menyenangkan? Membayangkannya saja sudah membuatku senyum-senyum sendiri.

Soul mate stupa, akan selalu menjadi soul mate stupa, kan? Walau waktu dan jarak memisahkan? Tak peduli dimana pun soul mate stupa berada, soul mate stupa akan menjadi soul mate stupa yang seperti biasanya dan tak akan berubah.
Benar, kan? Aku harap persahabatan yang terjadi dikantor ini, tidak membuat kita akan saling melupakan. Berakhirnya hari-hari kita dikantor ini, bukan berarti persahabatan kita juga berakhir, kan?

Soul mate stupa akan selamanya menjadi soul mate stupa. Tak membutuhkan pandangan orang lain. Karena hanya kita bertigalah yang mengerti dan merasakan.
Aku bahkan akan merindukan lagu soul mate stupa yang selalu didengarkan dan pula didendangkan. Dapatkan lagi kita menyanyikannya bersama? Dapatkah lagi kita bergoyang bersama? Serasa semua beban hilang.

Soul mate stupa akan menjadi bagian dari cerita panjang hidupku, yang pernah hadir dan menghiasi hari-hariku yang penuh arti. Perpisahan bukan menjadi penutup cerita manis kita, tapi akan menjadi pembuka cerita-cerita baru lagi yang mungkin tidak terjadi disini, tapi diluar sana, sebuah tempat indah yang sedang direncanakan Tuhan, yang kita bertiga pun tidak tahu akhir dari kisah ini.

Beberapa gambar dari moment-moment yang pernah kita lewatkan bersama, akan membuatku mengenang bahwa aku pernah memiliki hari-hari bersama kalian dengan senyuman.


Cerita indah ketika jam pulang kantor telah tiba, kita malah membuat sebuah video iseng dan tidak penting sampai lupa waktu ^^










Foto ini diambil saat kita jalan-jalan bersama ke sebuah mall *I*R*L*N*. Makan, belanja dan nyalon (hahaha)

Dan terakhir moment yang tak akan pernah terlupakan sepanjang sejarah (hahaha). Seharian kita bersenang-senang didufan, melepaskan penat dan beban, dan sadar kita sedang dikejar oleh waktu dan sebuah video pun menjadi saksi bersejarah kala itu.


Rabu, 09 November 2016

Setiap hari terasa sama

November 09, 2016 Posted by Debby Nuramiruddin No comments

Setiap hari terasa sama


Apa yang lebih indah melihat mentari dipagi hari bersinar seakan tersenyum padamu? Sinar teriknya yang membangunkanmu dari balik jendela kamarmu.
Apa yang lebih indah masih bisa melihat langit yang berwarna biru kecerahan?
Dan apa yang lebih indah masih bisa diberi kesempatan menghirup udara namun kau masih belum bersyukur? Bukankah itu termasuk nikmat dari tuhan?
Bukankah kau semestinya menikmati harimu selagi Tuhan memberikan nikmat yang sesederhana itu?
Masihkah kau terus mengeluh? Tidakkah kau malu pada matahari dengan wajahmu yang ditekuk seperti itu?
Apakah hanya karena sesuatu atau seseorang membuatmu enggan menjalani kehidupan? Membuatmu terhenti seolah jarum jam ikut berhenti dan kau tidak tau apa yang mesti dilakukan esok, lusa dan seterusnya?
Bukankah keluarga dan teman-teman terdekatmu bisa menjadi alasan kau bertahan, tersenyum setiap pagi datang?
Apakah kepergian seseorang meruntuhkan duniamu? Lalu kau menjadi seorang tanpa tujuan dan kehidupan hanya sekedar kehidupan saja, tak berarti apa-apa buatmu?

Buang jauh-jauh pikiran seperti itu. Bahagia itu sederhana. Kehadiran keluarga dan orang-orang yang menyayangimu selalu berada disampingmu, bukankah itu sudah cukup?
Bila kepergian salah seorang dari mereka, apakah itu berarti orang lain juga akan pergi meninggalkanmu?
Kenapa harus mengkhawatirkan seseorang yang bahkan memikirkanmu saja tidak? Kenapa harus membuang-buang waktu berhargamu hanya untuk memikirkan orang seperti itu?
Apakah kau tidak mempunyai kesibukkan lain selain memikirkan hal yang tidak berguna?


Tapi, apakah salah bila menempatkan seseorang sebagai penyemangatmu menyambut pagi hari? pemanis hari-harimu yang biasa saja menjadi sesuatu yang istimewa karena dia?
Apakah salah bila dia dijadikan alasan kau bergegas bahkan terburu-buru berangkat ke kantor lalu semua itu terbayar setelah melihat kehadirannya yang membuatmu senyum-senyum sendiri?
Hal itu sangatlah sederhana, cukup melihatnya duduk ditempatnya tanpa ucapan selamat pagi darinya. 

Tapi, bukankah itu sama saja terlihat bodoh?

Seperti rutinitas harimu yang terjadi setiap hari bahkan sama sekali tak terasa membosankan.

Lalu bagaimana bila takdir berkata lain? Bagaimana takdir tanpa basa-basi dahulu merampasnya dari hidupmu? Membuat jarak antara dia dan dirimu dari semakin dekat menjadi semakin jauh?
Apakah itu membuat hidupmu seketika berakhir? Tidakkah itu berlebihan?
Tidak bisakah kau melanjutkan hidupmu, mencapai cita-citamu dan melupakan kenangan itu?
Tidak bisakah kau tidak mengeluh hanya karena tak lagi kau rasakan kehadirannya didekatmu, tak lagi bisa kau dengar suaranya, dan tak lagi bisa kau lihat wajah bahkan senyumnya.
Tidak bisakah kau melupakan semuanya dan membuka lembar hidupmu yang baru? Tak perlu begitu terhanyut terlalu dalam dan melupakan bahwa kau masih mempunyai keluarga dan teman-teman yang menyayangimu. Bahkan Tuhan pun akan selalu setia bersamamu walau tanpa kau pinta.
Apakah tuhan perlu mengetuk keningmu untuk mengingatkanmu?
Atau Tuhan perlu menamparmu untuk menyadarkanmu dari mimpi-mimpimu yang telah usai itu?


Aku bukannya tidak bersyukur atas nikmat yang diberikan Tuhan. Aku bukannya tidak menghargainya memberikan keluarga dan teman-teman yang menyayangiku.
Dan aku bukannya menyalahkan Tuhan atas kepergiannya yang secara tiba-tiba merubah hidupku.
Aku bahkan berterimakasih padaNya karena ia memberikanku kesempatan mengenal makhluknya yang lain. Memberikanku kenangan telah melewatkan hari-hariku bersamanya.
Namun yang ku kesalkan adalah waktu yang terasa singkat. Aku masih butuh waktu sehari lagi, tidak! seminggu lagi, tidak! sebulan lagi, tidak! lebih lama lagi untuk berbagi duniaku bersamanya sebelum Tuhan menakdirkan sebuah perpisahan.
Cuma itu yang kubutuhkan, waktu yang lebih lama lagi. Setelah itu aku tidak peduli bila Tuhan tidak menakdirkanku bertemunya lagi.

Waktu yang terlalu singkat itu, membuatku belum bisa beranjak dari ingatan-ingatan masa lalu. Bukannya terpuruk dan mengabaikan masa depan, hanya saja apakah salah bila mengingat masa lalumu yang begitu indah tanpa ada keinginan untuk melupakan atau menghapusnya? Bukankah masa lalu dijadikan sebagai pembelajaran untuk menyambut masa depan? Dan bukankah akan ada hikmah dari setiap peristiwa yang telah terjadi?
Menurutku, kenangan dimasa lalu bukanlah untuk dilupakan tapi, untuk dikenang. Dan apakah aku tidak boleh berharap pada takdir? Bahwa bila dipertemukan kembali dengannya, banyak yang ingin ku tanyakan.

“Hai, bagaimana kabarmu?”
“Apakah semua baik-baik saja? Apakah harimu menyenangkan?”
“Apakah kau lelah?”

Hanya pertanyaan-pertanyaan sederhana seperti itu. Mulutku bahkan tak akan mampu mengucapkan “apakah kau tidak merindukanku? Aku sangat merindukanmu” bila ia dihadapanku kini.
Bagiku, setiap hari terasa sama. Tak ada bedanya. Ketika masih bisa kurasakan kehadirannya, hariku tidaklah terasa sama.
Senin, selasa, rabu, kamis, jumat, hal yang ku lakukan bersamanya, saling menyapa, berbicara, mengganggunya yang sedang serius, membuatnya merasa jengkel, tertawa bersama dan terkadang, bukan! sering ia bersikap menyebalkan padaku.
Itulah keseharian yang kujalani ketika dia didekatku. Dan aku merindukan kebiasan-kebiasan kecil seperti itu.
Bukankah benar hal kecil adalah hal yang paling sulit dilupakan?
Iya, aku masih belum bisa melupakan makhluk seperti dia. Seolah masih mencari keberadaannya, aku bahkan melupakan sekellilingku.
Aku memang salah. Terlalu memikirkannya tak akan membuatnya kembali bukan?

Senin, aku masih menunggunya.
Selasa, aku bahkan masih menunggu untuk melihatnya kembali, menunggu kabar bahwa ia baik-baik saja.
Rabu, kau masih tidak ada disini, bahkan di pagi hari, atau pada saat hari sudah gelap.
Kamis, tempat itu sudah kosong. Tak lagi ku lihat sosok makhluk sepertimu tengah duduk disitu.
Jumat, sabtu atau bahkan minggu, aku masih tidak bisa menemukan bayanganmu. 

Dan tidak ada satu pun hari dimana aku tidak merindukanmu.
Dan tidak ada satu pun hari dimana akan membuatmu menoleh dan kembali ke hari-hari yang telah berlalu saat masih bersamaku.
Hari dimana aku bertemu denganmu, Hari dimana aku mulai dekat denganmu. Hari dimana kau menyentuh keningku, membuatku serasa melayang diudara, membuatku senyum-senyum seperti orang gila.
Hari dimana berbicara denganmu, Hari dimana kau mendengarkanku, sampai timbul pertanyaan, sampai kapan akan seperti ini? aku sendiri tidak tahu jawabannya.

Berapa banyak bulan atau tahun, berapa banyak jutaan memori kita yang lalu yang aku tidak pernah tidak merindukanmu.
Bulan Juli telah berlalu semenjak kepergianmu.
Agustus pun telah berlalu tanpa kehadiranmu lagi dihidupku.
September, aku kehilangan harapanku untuk bisa bertemu denganmu lagi.
Oktober, terasa tidak mudah melewatkan hari tanpa dirimu didalamnya.
November, terasa kosong.
Jika kau bertanya, Butuh berapa lama akan seperti ini? aku juga tidak tahu.
Jawaban yang ku tahu, tidak ada hari aku tidak merindukannya. Benar, aku sangat merindukan makhluk itu.

Mengatakan padanya kalau aku merindukannya? Kenapa aku begitu malu hanya untuk menanyakan kabarnya? Mengapa aku begitu malu untuk mengetik pesan singkat dan mengirimkan padanya?
Karena aku takut ia memikirkan yang aneh-aneh ketika sebuah nada pesan handphonenya berbunyi dan terlihat itu adalah pesan singkat dariku.
Aku tidak ingin membayangkan reaksi wajahnya itu. Bukahkah rasa takutku itu terlalu berlebihan?
Ia tidak mungkin akan langsung membenciku kan hanya karena sapaan pesan singkatku padanya?
Aku berhubungan baik dengannya. Walau usia pertemanan kita begitu singkat, tapi ia merupakan salah satu teman langka dari daftar teman yang ku punya.

Jika aku mempunyai kesempatan, aku ingin mengatakan perasaanku sesungguhnya padanya.
Bahwa aku sudah lama diam-diam menatapnya, melihat ke arahnya.
Jika saja ia melihatku dan mengatakan apa yang ia pikirkan, mungkin saat itu aku akan mempunyai keberanian dan menyingkirkan rasa takutku itu.
Aku hanya berharap sebuah kemungkinan walaupun itu kecil, aku ingin kembali bertemu dengannya.
Aku tidak meminta banyak pada Tuhan. Dimana pun ia berada, semoga ia baik-baik saja dan hari-harinya menyenangkan.
Itu saja permintaanku kepada Tuhan.

Senin, 07 November 2016

Origami

November 07, 2016 Posted by Debby Nuramiruddin No comments

Origami


Kala itu, sebuah kertas tissue kau lipat menjadi lipatan-lipatan dan terbentuk sebuah burung bangau yang indah. Dengan mudahnya jari-jari tanganmu merangkai menjadi sebuah origami indah, walau hanya terbuat dari kertas tissue. Tanpa sengaja dan ingin membuatkannya, kau memberikannya padaku. Sungguh hal kecil seperti itu pun tak membuatku mampu melupakan tentang dirimu.

Masih ingatkah kau?

Tahukah kamu, tanpa perlu kau tahu, aku yang bodoh ini masih menyimpan karya seni tanganmu yang indah. Setiap kali melihatnya, selalu saja teringat dirimu.
Ku tanyakan pada bangau kertas itu, “Hei, apa kabarnya penciptamu itu? Apakah ia sedang terbang bebas disana dan telah melupakanku?”

Bahkan bangau kertas itu tak mempunyai jawaban, ia tak tahu keberadaanmu.
Saat tak mendapatkan jawaban, ku katakan lagi pada bangau kertas  itu, “Aku merindukannya..”
Aku tahu ungkapanku itu pun tak akan mendapat sebuah jawaban.
Kalau saja mengungkapkan rasa semudah melipat kertas, semudah membuat origami, tak tahu seberapa banyak kertas lipat yang telah ku buat menjadi origami. Sebanyak itulah aku merindukan dirimu.

Dapatkah kau merasakannya bahkan dari kejauhan?

Walau jarak kini memisahkan, tetap saja pikiranku dan arahku masih tertuju padamu. Berat hati ku katakan, aku belum bisa melupakan, masih dengan perasaan yang sama, menyukaimu.

Kalau saja melupakanmu semudah melipat origami, mungkin sudah sejak lama aku mampu menghapus rasa itu tanpa ada bekas.
Namun pada kenyataannya, kepergianmu tak juga menyadarkanku, aku masih ditempat yang sama, merindukanmu tanpa batas. Dikehidupanku kini, tanpa keberadaanmu, tak terasa seistimewa saat senyum dan tawamu masih dapat ku lihat.

Dipagi hari mentari tersenyum bersinar, langit kebiru-biruan tampak cerah, namun, tanpa keberadaanmu, itu tidaklah berarti apa-apa untukku.
Hari-hariku terasa tak sempurna tanpa melihat wajah sendumu, mendengar tawa dan candamu. Mengetahui keberadaanmu saja sudah cukup buatku.

Melihatmu saja sudah membuatku bahagia. Aku menjadi manusia paling bersyukur dibumi ini. Ketika orang lain banyak meminta, maka permintaanku sederhana, bisa selalu melihatnya setiap hari, itu sudah lebih dari cukup. Bukankah bahagia sesederhana itu? Apa yang lebih menyenangkan dari mendapatkan bahagia yang sederhana? ^_^

Tetapi semua itu pupus. Kehidupan tak selamanya berpihak kepadaku. Tanpa belas kasihan takdir membuatku semakin jauh darimu. Apakah takdir bertanya bagaimana perasaanku? apakah aku tidak suka? Takdir bahkan basa-basi menyapa pun tidak. Tidak peduli bagaimana perasaanmu, terima ataupun tidak, yang terjadi begitulah terjadi. Itulah takdir yang memutuskan. Keberadaanmu tak lagi bisa ku rasakan. Radar dikepalaku tak mampu menangkap sinyal keberadaanmu.
Sepi, aku merasa sepi tanpa kehadiranmu. Walaupun kau menjadi makhluk paling menyebalkan, namun kau makhluk yang paling ku rindukan.

Apakah aku perlu melipat kertas dan membentuknya menjadi sebuah origami untuk menyampaikan perasaanku untukmu?
Butuh berapa banyak kertas lipat yang kubutuhkan untuk ku bentuk menjadi origami? Bila rasa rinduku tak dapat ku ukur?

Andaikan mengungkapkan rasa itu semudah melipat kertas, aku akan membentuk seribu lipatan kertas menjadi origami bangau hanya untuk menyampaikan perasaanku terhadapmu.
Tapi, itu hanyalah pengandaian yang kau sendiri pun tahu jawabannya.