Seseorang selalu ingin didengar dan punya tempat untuk bercerita. Sedang aku memilih berteman dengan sepi. Di satu ruang aku mampu menumpahkan segala lara yg tak mampu kuutarakan lewat kata. Tak apa, karna ini tentang dia yg membuatku jatuh cinta. Kadang kecewa, kadang juga bahagia. Meski dia sering kali menciptakan mendung dan airmata di langitku. Tapi, aku percaya bukankah akan ada pelangi setelahnya?

Minggu, 28 Januari 2018

365 Hari Bersamamu

Januari 28, 2018 Posted by Debby Nuramiruddin No comments

365 Hari Bersamamu


Hari ini tepat 365 hari yang sudah kita lalui bersama.
Tentang kamu?
Bagaimana rasanya melewatkan satu tahun bersamamu?
Awal ketemu, kau memang bukan tipe orang yang banyak bicara.
Cenderung pendiam.
Sehinga aku yang bawel bisa memecah suasana dan memancingmu bicara.
Mengenalmu pertama kali, kau bukan sosok yang penuh dengan kepura-puraan.
Kau memang apa adanya.
Aku berani menjadi diriku yang apa adanya ketika bersamamu.
Aku senang saat ku tau, kesamaan kita tak jauh berbeda.
Aku suka membaca, kau pun begitu.
Aku suka menulis dan kau penasaran ingin membaca tulisanku.
Aku merasa tersanjung saat kamu menyukai tulisan di blogku dan itu adalah hal pertama kau menyukaiku.
Aku suka menggambar, kau pun juga mengomentari gambarku bahwa kau menyukainya.
Aku senang melihat orang lain bisa menikmati tulisan dan gambarku.
Aku juga suka menonton anime dan kesukaan kita pun sama.
Disitulah awal mula rasa ketertarikan itu muncul.

Kau bukan sosok romantic, kau juga bukan sosok yang pandai merangkai kata.
Namun, dari matamu seolah terpancar kehadiranku sangat berarti bagimu.
Apakah begitu?
Kau tak jarang menasehatiku bahkan memarahiku saat aku terlihat bodoh, saat aku keras kepala karena susah diberitahu.
Aku tau maksudmu baik, namun aku kadang tak bisa mengerti sampai pada akhirnya ucapanmu benar dan aku sendiri kena batunya.
Kau bahkan menyemangatiku saat aku memberi berita bahwa aku ikut tes cpns.
Disitu kau memberikanku dukungan dan hadiah penyemangat jika aku lulus tes.
Aku yang tak percaya diri kala itu, seperti memberi khotbah jumatan kau menasehatiku.
Hingga dipikiranku saat itu, aku harus lulus. Sampai aku belajar sebelum mendekati hari tes. Namun, usahaku kurang keras rupanya. Aku gagal dan ku lihat wajahmu kecewa saat itu.
Walau kau mencoba menahan biasa saja, tapi aku tau aku benar-benar mengecewakan kekasihku.

Tak Cuma itu. dulu kau sangat emosian. Segala sesuatu tak terkontrol dan saat kau marah, emosimu meledak-ledak dan akhirnya “bush” meledak seperti bom atom dan mengani sasarannya. Akulah yang menjadi sasaran amarahmu.
Tapi, sejauh ini kurasa sudah mulai berkurang. Seperti mempunyai kata magic, kata-kata itu mampu mengurangi emosimu.
Senang sih, hanya saja aku ingin kau bisa jauh lebih menahan dan mengontrol emosi. Karena itu juga baik untuk dirimu.
Aku tak ingin emosimu semakin memuncak hingga kau tak segan-segan bermain tangan.
Jika itu terjadi, mungkin hari itu aku memutuskan untuk pergi.
Tetapi, aku masih yakin kau bukan orang seperti itu, seemosi-emosinya dirimu.

Kau itu cengeng. Dibalik kata-kata kasar yang terkadang keluar dari mulutmu, ternyata aku bisa melihat airmata jatuh dipipimu.
Ingat, saat aku merasa hubungan ini tak akan bisa berjalan dengan baik, saat itu kau menangis dihadapanku.
Mengungkapkan seluruh perasaanku dan disitu membuatku terdiam.
Tak pernah ada laki-laki yang menangis untukku seperti dirimu. Entah mengapa aku merasa istimewa.
Bisa saja itu tangis kepura-puraan, tapi aku tak melihat ada kebohongan dari sorot mata itu.
Hanya pelukan yang mampu mengobati rasa sesak dihati.
Aku selalu ingin menjadi rumah bagimu, dan aku selalu ingin menjadi pelukan dan sandaranmu tiap saat.

Kau juga sering kali membuatku menangis.
Pernah dengar? Seseorang yang paling kamu sayangi adalah seseorang yang juga akan sering membuatmu menangis dan terluka.
Apakah itu tandanya seseorang itu sangat berarti dihidupmu?
Tapi, mengapa harus selalu membuatmu menangis dan terluka? Kenapa bukan bahagia yang ia selalu berikan?
Memang benar seperti itu. Tapi, kau tak akan tau bahwa seperti itulah cinta semestinya.
Cinta membuatmu bahagia tapi orang yang kamu cintai bisa membuatmu menangis karena memikirkannya.

Cinta juga membuat perasaanmu campur aduk.
Ada rasa kecewa, marah, sebal.
Itulah bumbu-bumbu manis karena cinta.
Suatu saat aku akan rindu bertengkar denganmu ketika hari dimana aku tau kau memutuskan untuk pergi.
Perpisahan itu menyakitkan karena itu tetaplah bersamaku tanpa memikirkan kata perpisahan dikepalamu.
Aku tau, kedepan semakin akan ada banyak hal yang terjadi yang kita tidak tau, mungkin rintangan atau ujian untuk membuat jarak diantara aku dan kamu.
Pegang tangan ini, bahwa kita mampu melewati itu semua.
Peluk tubuh ini saat merasa sesak didada.
Ucapkan maaf tanpa malu untuk mengakui kesalahan.
Jaga hatimu yang hanya untukku karena hubungan yang kita bina ini tanpa kepalsuan.
Jangan sampai pengkhianatan membuat usaha kita selama ini untuk terus bersama menjadi sia-sia.
Ku rasa begitu saja sudah cukup.

Bisa bertemu denganmu bukan rencanaku dan bisa bersama denganmu hingga saat ini juga bukan kuasaku.
Sampai saat ini tujan masih menakdirkan bersama.
Aku tak ingin tuhan bosan, lalu membuat jarak diantara kita. Tidak! itu bukan inginku.
Apa yang terjadi hari ini bersama denganmu, aku masih bisa melewatkan hari esok dan seterusnya denganmu.
Aku hanya berdoa pada tuhan dan meminta kepadanya untuk mengizinkan kebersamaan ini terus ada dan menakdirkan kebersamaan ini hanya bisa terpisahkan oleh maut.
Itu doaku.
Aku hanya ingin bisa melewatkan suka dan duka bersamamu.

Masih banyak hal diduniaku yang ingin ku bagi denganmu esok, lusa hingga waktu berhenti.
Masih ingin bersepeda denganmu, menonton film denganmu, mencoba makanan-makanan baru denganmu, mengabadikan moment-moment bersamamu dalam sebuah gambar.
Namun, satu inginku yang belum terwujud. Keinginan sekaligus harapan.
Kau membawa dan mengenalkanku pada orangtuamu.
Memegang erat tanganku kala rasa gugup menyelimuti dan membisikkan “tak ada yang perlu kamu takuti.”
Aku menunggu hari itu.
Memang salahku. Karena sikapku dan kata-kata yang ku utarakan bahwa aku belum merasa yakin kala itu, membuatmu tak akan memaksaku bertemu kedua orang tuamu.
Kau pernah bilang “pernikahan itu tidak hanya untuk dua orang tapi juga dua keluarga”.
Ucapanmu benar. Aku tak mungkin membuatmu meninggalkan keluarga demi diriku.
Bersama dengan keluargamu jauh lebih lama ketimbang aku.
Untuk saat ini, aku hanya perlu memperbaiki diri, membuat kedua orang tuamu menyukaiku dan berusaha membuat keluarga kita bisa saling melengkapi.
Saat kau berkata “kau mampu mengambil hatiku. Masa tidak untuk orang tuaku?”
Ucapanmu saat itu seolah-olah membuatku yakin bahwa aku pasti bisa membuat orang tuamu menyukaiku.

Aku menunggu hari itu tiba.
Itu saja. agar aku masih mempunyai banyak waktu yang bisa ku berikan untuk membuat hati orang tuamu senang.
Aku tidak menuntutmu untuk cepat-cepat menikahiku.
Kita jalani saja ini semua.
Kalau kau memang jodohku, akan ada hari dimana kau ingin hidup bersamaku.
Kalau kau memang takdirku, akan ada hari dimana kau dengan berani bersama keluargamu datang untuk melamarku.
Selalu ku panjatkan doa kepada tuhan yang terbaik untuk hubungan ini.
Karena hanya dia lah sutradaranya. Kita hanya pemain yang menjalankan scenario yang sudah ditulisnya.

0 komentar:

Posting Komentar