Cinta & Perjuangan
Ponsel
Rhea berdering. Sebuah panggilan masuk dari sahabatnya, Meita membangunkan
dirinya. Diraihnya ponsel yang terletak di meja dan mengangkatnya dengan
keadaan setengah mengantuk.
“Halo..” jawab Rhea masih
terkantuk-kantuk. Suara Meita sudah mengganggu jatah tidur panjangnya di hari
libur.
“Rhe! Lo masih tidur? Nyokapnya Dimas
meninggal..” walau kantuk menguasai dirinya, suara Meita dapat terdengar jelas.
Rhea sontak terbangun dengan jantung berdebar kencang.
“Lo serius, Mei?” tanya Rhea masih
tak percaya. Dia mengingat jelas semalam dia dan Dimas masih berbincang dan
bercanda ria dari balik telepon.
“Gue sama anak yang lain mau ke rumah
Dimas. Kita tunggu lo disana ya” telepon pun ditutup. Rhea segera mengecek
ponselnya. Beberapa pesan masuk dari teman-temannya dan juga Dimas. Dia membuka
dan membaca isinya “Mama aku meninggal..” membuat hatinya berkecamuk. Pesan itu
dikirim 2 jam setelah mereka mengobrol semalam. Dia mencoba menekan nomor dan
menghubungi Dimas, sang kekasih. Namun, berkali-kali tak mendapat jawaban. Sama
hal dengannya, Dimas pasti masih shock atas kejadian ini. Rhea mempercepat
langkahnya ke kamar mandi, bersih-bersih diri dan segera menemui kekasihnya
disana.
*****
Rhea
tiba di rumah Dimas. Terdapat bendera kuning di depan rumah dan banyak orang
keluar masuk, mungkin dari kerabat dekat dan tetangga sekitar. Ketika di dalam,
tampak semua orang mengerubungi dan membacakan doa untuk Almarhum. Meita dan
temen-teman sekelasnya sudah hadir lebih dulu dibanding dirinya. Melihat
kedatangan Rhea, Meita menghampiri dan menepuk pundaknya.
“Mei, Dimas dimana?” Rhea
mencari-cari keberadaan Dimas namun, tak jua ia temukan.
“Dia di dalam kamarnya, Rhe. Gue rasa
dia butuh lo sekarang..” ucapan Meita benar. Rhea mengangguk dan berlari
menunju kamar Dimas.
“Dimas..” Pintu tak dikunci rupanya. Rhea
tertegun melihat dimas yang tengah duduk terdiam di tempat tidur. Pikirannya
tampak kosong. Dimas pasti terpukul berat atas kepergian Mamanya. Rhea tahu
kekasihnya itu sangat menyayangi Sang Mama. Semenjak ditinggalkan oleh Ayahnya,
hanya Sang Mama yang menjadi penyemangat dan panutan baginya. Mamanya sudah
berjuang keras untuknya.
Rhea membelai punggung Dimas. Tatapan
matanya terpancar kesedihan yang mendalam.
“Maaf, aku datang terlambat. Sekarang
aku disini..” ujar Rhea.
Dimas menghujamnya dengan sebuah
pelukan. Dia menangis tersedu-sedu di balik punggung Rhea. Rhea masih membelai
punggung Dimas dan mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja. Tak banyak kata
yang bisa diberikan olehnya. Mungkin yang Dimas butuhkan adalah tempat
bersandar untuk menumpahkan segala kesedihan dan kehilangan. Tempat yang
menenangkan baginya untuk pulang.
*****
Sudah
seminggu semenjak peristiwa itu, Dimas masih belum menampakkan dirinya di
sekolah. Teman-teman sekelasnya selalu menanyakan kondisi terkini Dimas pada Rhea.
Kebetulan hari ini Rhea akan kembali menjenguk. Dia juga tak lupa membawakan
makanan kesukaan Dimas yang mungkin bisa menghibur suasana hatinya saat ini. Ia
menekan bel rumah namun, tak ada jawaban. Rhea mengambil ponsel dari saku seragamnya
dan menelepon Dimas. Tetap sama, tak ada juga jawaban.
“Sepertinya memang engga ada
siapa-siapa..” ujar Rhea. Lalu, menggantungkan kantong plastik berisi Hokben
kesukaan Dimas di pagar pintu gerbang. Dia memutuskan untuk pulang dan kembali
lagi esok. Saat ia melangkah, sosok Dimas telah berdiri di hadapannya. Rhea
tersenyum. Rupanya dia habis dari mini market, terlihat dari kantong plastic
bawaannya.
“Kamu dari mana aja? Aku telpon engga
diangkat..” Rhea langsung menyambar ke dalam pelukan paling hangat menurutnya.
“Ayo, masuk ke dalam” jawab Dimas. Dimas
berjalan mendahuluinya dan mengambil kantong plastik yang digantungkan Rhea.
Entah mengapa Rhea merasa ada yang berbeda dari sikap Dimas atau mungkin hanya
perasaannya saja.
Suasana rumah terlihat sepi. Rhea tak
bisa membayangkan Dimas harus tinggal seorang diri, tak ada siapapun yang
menemaninya di saat seperti ini.
“Kamu udah makan belum? Aku tadi
bawain Hokben kesukaan kamu” ucap Rhea bersemangat sambil menyajikan makanannya
di atas meja.
Dimas tak menjawab dan hanya diam.
Seperti ada sesuatu yang sedang dia pikirkan. Rhea menghampiri Dimas yang
termenung di sofa.
“Kamu kenapa? Kalau ada masalah
cerita ke aku” Rhea meraih tangan Dimas seraya memberikan isyarat bahwa ia akan
selalu ada untuknya kapan pun Dimas butuhkan.
“Ayahku tadi datang, Rhe. Dia pengen
aku tinggal sama dia. Setelah sekian lama, dia muncul setelah Mama sudah engga
ada” Dimas mulai bercerita. Ada airmata yang menumpuk di pelupuk matanya.
“Aku benci sama dia, Rhe. Dia udah
meninggalkan aku dan Mama demi wanita lain” Dimas tertunduk dan melampiaskan
seluruh kesedihan yang lama bersemayam di hatinya.
“Aku udah engga punya siapa-siapa
lagi, Rhe..” Dimas masih hanyut dalam kesedihan yang belum juga pergi, masih
menghantui.
Rhea memeluk Dimas sambil berkata
“Kamu masih punya aku, Dim. Aku akan selalu ada buat kamu. Jangan sedih lagi,
ya” Rhea ingin dia tahu bahwa dirinya tak sendirian. Masih ada hadirnya yang
akan selalu di sisi Dimas.
“Makasih, Rhe” hanya itu yang dia katakan,
sudah cukup mewakili bahwa Dimas mengerti kata-kata yang ia ucapkan.
*****
“Rhe,
Dimas belum juga masuk sekolah?” tanya Meita yang memperhatikan Rhea masih
asyik menyalin materi di papan tulis ke dalam buku catatannya.
“Dia masih down, Mei..” Rhea
menjawab. Dia juga tidak tahu sampai kapan Dimas akan bersikap seperti ini.
“Ini sudah 3 minggu lho, Rhe! Gue tau
dia sedih atas kepergian nyokapnya. Tapi, kan engga berlarut-larut gini, Rhe.
Lo udah coba ngomong ke dia?” Rhea terdiam. Perkataan sahabatnya itu memang
benar. Apalagi tahun depan mereka sudah kelas 3 SMA.
“Lo bener, Mei. Setelah pulang
sekolah gue ke rumah dia lagi deh” ucapan Rhea mendapat anggukan setuju dari
Meita. Sebenarnya, ada hal yang belum diceritakan Rhea. Akhir-akhir ini Dimas
sudah jarang menelepon ataupun sekedar mengirimkan pesan padanya. Rhea
benar-benar kehilangan sosok kekasih yang dulu membuatnya tersenyum dan tertawa.
Bahkan menghabiskan waktu bersama. Rhea mencoba bersabar dan membuat dirinya
mengerti bahwa ini hanya masalah waktu saja. Bahwa semua akan baik-baik saja
dan kembali seperti biasanya.
Rhea meraih ponselnya dan mengirimkan
pesan ke Dimas yang isinya “Pulang sekolah, aku ke rumah kamu, ya”. Rhea menunggu,
menantikan balasan. Tapi, ponselnya tak menunjukkan reaksi apa-apa.
“Lo kenapa, Rhe?” Meita seolah tahu
suasana hatinya yang kini sedang tak baik. Dia tengah merindukan dan
mencemaskan Dimas yang tak kunjung memberikan kabar.
“Engga papa, Mei..” jawab Rhea
cengar-cengir. Dia tak ingin membuat sahabatnya khawatir. Cukup Rhea pendam
saja dan selesaikan masalahnya sendiri.
*****
Rhea
sudah menginjakkan kakinya di depan rumah Dimas. Tapi, kali ini pintu rumah
dalam keadaan terbuka, membuat Rhea sedikit lega. Dibukanya pintu gerbang dan
masuk ke dalam. Ternyata Dimas sedang berbaring di sofa.
“Dimas..” Rhea berkata sambil
mengetuk pintu. Sontak membuatnya terbangun dan menyadari kehadiran Rhea yang
tersenyum ke arahnya. Rhea menghampiri Dimas dan duduk di sebelahnya.
“Gimana keadaan kamu, Dim? Udah
baikan?” ucap Rhea. Dimas tetap diam.
“Mau sampai kapan kamu begini terus,
Dim? Pasrah pada keadaan” sambungnya. Rhea menekankan kata-katanya,
mengungkapkan sesuatu yang mengganjal hatinya belakangan ini.
“Kamu ngomong apa, Rhe?” akhirnya
Dimas bersuara.
“Kapan kamu kembali ke sekolah, Dim?
Teman-teman nanyain kamu” Rhea kembali bertanya. Satu-persatu pertanyaan yang
menghantuinya akan ia keluarkan saat ini.
“Aku engga tau, Rhe” jawab Dimas.
Sebuah jawaban yang tak memuaskan hati Rhea.
“Kamu bisa dikeluarkan dari sekolah,
Dim”
“Aku engga peduli” sungguh Rhea tak
bisa menerima jawaban Dimas kali ini.
“Apa? Kamu mau menghancurkan masa
depan kamu sendiri?” nada suara Rhea mulai meninggi sambil menggelengkan
kepala, tak percaya. Tak ada jawaban lagi dari Dimas.
“Kamu engga boleh begini terus, Dim!
Kamu harus bangkit!” ujar Rhea menggebu-gebu.
“Kamu engga akan pernah ngerti apa
yang aku rasain, Rhe!” bentak Dimas.
“Aku pernah di posisi kamu, Dim. 2
tahun lalu, Ayahku juga meninggal. Aku ngerti rasanya kehilangan orang yang
paling kita sayang..” tanpa sadar airmata menetes di pipi Rhea. Dimas bahkan
melupakan cerita itu. Cerita tentang Rhea yang merasakan kehilangan paling
berat tapi, kehadiran Sang Mama membuat dirinya tegar dan bisa melewati semuanya.
“Aku cuma engga mau kamu terpuruk
terus, Dim. Mama kamu juga sedih ngelihat kamu kayak gini..” nada Rhea
merendah, mencoba menenangkan dirinya dan Dimas.
“Mending kamu pulang. Engga perlu
kesini lagi. Aku bisa mengurus diriku sendiri” Rhea tak menyangka ucapan yang terlontar
dari mulut Dimas. Entah mengapa, kata-kata itu begitu menyakitkan didengar. Kepeduliannya
kini diacuhkan.
Rhea diam dan menatap Dimas yang tak
memandang dirinya. Kemudian dia pergi tanpa mengatakan apa-apa. Mungkin Dimas
membutuhkan waktu sendiri. Rhea juga membutuhkan waktu untuk mengerti yang
sedang terjadi. Lagi dan lagi ini hanya masalah waktu.
Semesta, mengapa begini
jadinya?
Mengapa jarak kini mulai
terasa?
Aku harus bagaimana?
Pergi atau bertahan
saja?
*****
Malam
ini turun hujan, menambah rasa pilu yang tersimpan di hati. Sekedar pesan
ataupun telepon dari Dimas yang tak membuat kian cemas tak kunjung dia terima. Semenjak
hari itu Dimas semakin bungkam. Pesan-pesan yang dikirimkan juga tak mendapat
jawaban. Rhea semakin dibuat bingung oleh sikap Dimas yang seolah menutup diri.
Kali ini, dia mencoba menelepon kekasihnya itu. Menunggu hingga suara yang
paling ingin didengar menyapanya begitu hangat. Tidak lagi diangkat atau memang
sengaja tak diangkat.
“Dimas, aku kangen kamu..” nada suara
Rhea lirih. Airmata kembali jatuh di pipi.
Angin berbisik lirih di
telingaku
Menembus celah hujan
kala itu
Terlintas bayanganmu menyapaku
Ataukah hanya ilusi
sebab setumpuk rindu?
Entah bagaimana Rhea menepis rindu
yang kian menggebu. Entah apa yang sedang menyelimuti hati dan pikiran Dimas. Rhea
tak mengenal lagi sosok itu. Dimas telah banyak berubah dan berbeda. Sosok yang
dulu selalu ada untuknya, membuatnya tertawa, kini menghilang tanpa kata-kata.
Rhea mencoba mengirimkan pesan ke
Dimas. Entah sudah keberapa kalinya. “Dimas, kamu baik-baik saja, kan? Tolong
jangan buat aku semakin khawatir. Aku kangen kamu, Dim. Kangen kita
menghabiskan waktu bersama kayak dulu..” pesan itu terkirim. Dia berharap kali
ini dia mendapatkan jawaban yang menyenangkan hati.
Tiba-tiba ponselnya berbunyi, sebuah
pesan masuk. Rhea meraih ponselnya dan betapa terkejutnya sebuah balasan dari Dimas
yang telah ditunggu-tunggu selama ini. Ada senyum yang tersungging di bibirnya
ketika membaca pesan yang berbunyi “Besok sore, aku ke rumah kamu”. Sungguh,
inilah yang dia mau, berbaikan dengan Dimas dan kembali seperti sedia kala.
*****
“Aku
udah di depan rumahmu..” sebuah pesan masuk dari Dimas menyita perhatian Rhea.
Dia begitu antusias menunggu hari ini tiba. Kedatangan Dimas yang paling
ditunggu-tunggunya sedari tadi. Dia bahkan sudah berias sejak pagi. Pertemuan
yang sangat istimewa dari biasanya. Jantungnya sedikit berdebar-debar ketika
membuka pintu, sosok Dimas tengah berdiri di hadapannya. Wajah yang sudah lama
tak dilihatnya. Rambutnya sedikit berantakan tapi, dia masih Dimas yang sama.
“Dimas..” sapa Rhea yang langsung menyambar
ke pelukan Dimas. Ia merindukan tempat ternyaman itu.
“Ayo, masuk ke dalam..” Rhea
melepaskan pelukannya. Dimas hanya diam dari tadi.
“Disini aja, Rhe. Ada yang pengen aku
omongin” Dimas mulai berbicara. Tatapan matanya terlihat begitu serius, hingga
mengundang tanya.
“Kita ngomong di dalam aja, Dim”
jawab Rhea menarik tangan Dimas. Namun, tiba-tiba saja Dimas melepaskan
genggamannya.
“Aku cuma sebentar saja kesini. Cuma
mau bilang.. kita udahan saja, Rhe” ucapan Dimas seolah menghujam jantung Rhea
dengan benda keras, terasa menyakitkan.
“Kamu ngomong apa sih, Dim?” Rhea
bertanya, menggeleng kepala. Mungkin saja ia salah dengar atau Dimas mencoba
mengerjainya.
“Kita putus saja, Rhe” Dimas
mempertegas kalimatnya. Rhea semakin tak berdaya. Dimas berpaling, berniat pergi.
“Kamu kenapa sih, Dim? Aku kira kamu
kesini buat baikan. Tapi, kenapa malah putus? Salah aku apa, Dim?” Rhea
menghentikan langkah Dimas. Dia menoleh dan melihat Rhea sudah berlinang air
mata. Lagi-lagi ia membuatnya menangis. Padahal Dimas hanya ingin membebaskan Rhea
sepenuhnya yaitu dengan tidak bersamanya. Berhenti menyakiti hati gadis itu
lagi.
“Maafin aku, Rhe. Aku engga pantas
buat kamu. Kamu bisa mendapatkan cowok yang lebih baik dari aku. Aku pergi,
Rhe.." ucap Dimas menyudahi kata-katanya.
“Kamu jahat, Dim..” airmata Rhea
menetes tanpa henti. Tapi, Dimas tak juga menghentikan langkahnya. Ia berlalu
pergi, meninggalkan Rhea dengan kesedihannya yang baru.
Mengapa rasanya sesakit
ini?
Bukan memperbaiki, kamu malah
menyudahi
Apakah menyerah
jawabannya?
Ketika kita sudah tak
lagi sama arahnya
Rhea melangkah masuk ke dalam
kamarnya, mencari dan mengambil kotak yang berisi barang-barang pemberian
Dimas. Hari itu dia sudah sangat melukai hatinya. Masih berat hati tapi, dia mencoba
membuang semua kenangan bersama Dimas ke dalam tong sampah. Ceritanya bersama
Dimas benar-benar telah berakhir.
*****
Rhea mencoba
menghadapi hari-harinya seolah tak terjadi apa-apa. Namun, kabar putus Rhea dan
Dimas sudah terdengar oleh Meita. Dia tak habis pikir Dimas berani melakukan
hal yang menyakiti sahabatnya berulang kali. Sebagai sahabat yang baik, Meita
mencoba menenangkan dan menghibur Rhea yang sedang gundah.
“Lupain Dimas, Rhe! Dia emang engga pantes
buat lo. Masih banyak cowok yang lebih baik dari Dimas” Meita mengelus lembut
punggung Rhea.
“Engga bisa. Aku engga bisa
membiarkan Dimas nyelesaiin masalahnya sendiri. Gimana kalau Dimas nekat dan
melakukan sesuatu yang bahaya buat dirinya sendiri?” begitu banyak
pertanyaan-pertanyaan yang mengganggu pikiran Rhena seperti bom yang mau
meledak.
Di sekolah, Rhea tak fokus belajar.
Pikirannya terus tertuju pada Dimas, ditambah ketika dia tahu Dimas dikeluarkan
dari sekolah. Semakin membuatnya khawatir tak karuan.
“Makan yuk, Rhe!” Ajakan Meita untuk
makan siang di kantin ditolaknya mentah-mentah. Pada jam istirahat, Rhea
memilih menyendiri di ruang kelas. Ia hanya ingin sendiri, menatap langit dari
balik jendela ruang kelasnya. Bahkan, mentari begitu ceria siang hari ini. Berbeda
dengan suasana hati Rhea. Di pikiran dan hatinya masih terselip satu nama,
Dimas. Keputusannya mengakhiri hubungan nyatanya tak merubah keadaan. Padahal
hatinya sudah sering disakiti. Tapi, tetap saja Dimas masih tersimpan di relung
hati. Entah sampai kapan ia masih bertahan dengan rasa yang seharusnya sudah
mati. Rhea hanya saja belum menemukan jawaban yang pasti.
Langit seolah merekah
bahagia
Tapi, mengapa aku tak
secerianya?
Mengapa yang singgah
hanya sepi?
Meski tahu ia telah
pergi
Mungkinkah yang disana
merasa demikian?
Tapi, mengapa yang
terucap kata perpisahan?
Kamu memilih menghilang dibanding
berjalan berdampingan
*****
Kini,
Rhea sudah berada di depan rumah Dimas. Hatinya yang telah menuntunnya untuk
menemui Dimas. Pintu rumah dalam keadaan tertutup. Rhea mengetuk pintu rumah.
Namun, tak ada jawaban. Dia tahu Dimas sedang menutup diri dari dunia luarnya.
Hal itu yang selalu mengganggu pikiran Rhea.
“Dim, Aku tau kamu ada di dalam. Buka
pintunya, Dim. Aku pengen ngomong sama kamu” tak ada balasan dari ucapan Rhea.
Hanya sunyi di sore hati.
“Aku engga terima kamu mutusin aku
gitu aja. Kalo emang kamu engga mau ketemu hari ini, aku bakal terus dateng
besok, besoknya lagi sampe kamu mau nemuin aku..” Rhea mengungkapkan seluruh
isi hatinya. Dia ingin membantu Dimas melewati ini semua.
Rhea pun pergi dan esok akan kembali
lagi. Di dalam rumah, dari balik jendela, Dimas memperhatikan langkah kaki Rhea
yang mulai menjauh. Dia tak ingin menemui Rhea bahkan untuk sekedar menyapanya.
Hari-hati berikutnya Rhea kembali
mengunjungi Dimas. Tanpa kata menyerah dan tekadnya sungguh kuat, dia tak akan
meninggalkan Dimas sendirian. Rhea terus menunggu hingga pintu rumah itu
terbuka. Berkali-kali dia mencoba menghubungi namun, nomornya tidak aktif.
“Dim, kamu dimana?” Rhea benar-benar
khawatir. Dia akan menunggu Dimas sebentar lagi. Tiba-tiba ponselnya berbunyi.
Sebuah panggilan masuk dari “Mama” langsung dijawabnya.
“Sayang, kamu ko belum pulang?”
sepertinya mamanya mencemaskan dirinya.
“Maaf, Rhea lupa bilang, Ma. Rhea
lagi di rumah Dimas. Sebentar lagi Rhea pulang ya..”
“Jangan malam-malam pulangnya ya,
Rhe” ujar mamanya. Rhea mengiyakan dan kemudian telepon ditutup.
Rhea sedari tadi duduk di lantai yang
dingin sambil sesekali melihat ke arah pintu. “Apa Dimas bener engga ada di
rumah?” tanyanya dalam hati. Tapi, dia tak mengurungkan niatnya untuk segera
pulang. Dimas tak tahan, mendiamkan Rhea yang sedari tadi menunggu dirinya. Dia
akhirnya berniat menemui Rhea untuk memintanya pulang dan tak menemuinya lagi.
Pintu pun terbuka. Begitu senangnya
ketika sosok yang ditunggu-tunggu menampakkan dirinya.
“Dimas..” Rhea langsung berdiri.
Senyumnya merekah ketika wajah yang selama ini ingin dilihat, di hadapannya
saat ini.
“Pulang, Rhe! Kamu ngapain masih di
sini?” kata Dimas bergetar.
“Kamu pucet, Dim. Kamu baik-baik aja,
kan?” Rhea membelai wajah Dimas namun, Dimas langsung menangkisnya.
“Aku bilang kamu pulang. Kenapa kamu
masih ngeyel sih!”
“Aku khawatir sama kamu, Dim. Biarin
aku berada di samping kamu” Rhea berharap Dimas mengerti perkataannya kali ini.
“Aku engga butuh kamu, Rhe. Aku bisa
urus diri aku sendiri” Dimas ternyata masih keras kepala.
“Kamu kenapa sih, Dim? Aku kesini
buat kamu” Rhea mencoba memberi pengertian.
“Kita udah putus, Rhe!” Dimas seolah
menekankan kata-katanya agar Rhea menyerah dan mengerti keadaannya saat ini.
“Aku engga pernah bilang iya” Rhea
menyanggah ucapan Dimas.
“Terserah” Dimas menatap Rhea. Wajah
yang selalu singgah di pikirannya setiap malam.
“Kamu udah makan belum, Dim? Aku
bawain makanan dari warung Bu Ijah. Kamu pasti suka” di Kantin sekolah, Rhea
dan Dimas selalu makan di warung Bu Ijah kalau jam istirahat. Selain masakannya
yang enak, harganya juga murah meriah untuk kalangan pelajar seperti mereka.
Entah mengapa, pandangan Dimas seolah
kabur. Rhea yang berdiri di hadapannya tak terlihat begitu jelas. Dimas
terjatuh dan tersungkur.
“Dimas, kamu kenapa?” Rhea terkejut.
Dia mencoba membantu Dimas berdiri.
“Rhe, aku..” ujar Dimas terbata-bata.
Dalam sekejap Dimas tak sadarkan diri.
“Dimas! Bangun! Kamu kenapa?” Rhea
trus memanggil namanya sambil menggoyang-goyangkan tubuh Dimas namun, tak
bereaksi apa-apa. Dia segera mengambil ponselnya dan menghubungi orang yang
dapat membantunya.
*****
“Kamu
yakin engga ikut Mama pulang?” tanya Mamanya ketika melihat kecemasan di wajah
putri tunggalnya itu.
“Rhea mau nemenin Dimas sebentar ya,
Ma” Mamanya mencoba mengerti keadaan yang sedang dialami Rhea. Dia mengangguk
dan pergi.
Dimas masih belum sadarkan diri. Rhea
kembali mengingat ucapan Dokter yang mengatakan bahwa Dimas kekurangan asupan
makanan hingga tubuhnya lemas dan pingsan. Ia tak habis pikir dengan jalan yang
Dimas pilih.
“Apa Dimas ingin pelan-pelan mengakhiri
hidupnya?” Rhea terus memandang Dimas yang masih di ruang perawatan. Tangannya
diinfus dan ia belum juga bangun. Karena kondisinya yang lemah, Dimas harus
dirawat di Rumah Sakit.
Rhea masuk ke dalam ruangan,
memperhatikan wajah Dimas yang sedang tertidur dan terbaring di ranjang. Rhea
mendekat dan kemudian mencium kening Dimas. Tak sedikit pun hatinya ingin
pergi. Hatinya terus berkata untuk bertahan.
“Aku sayang banget sama kamu, Dim”
airmata Rhea tiba-tiba jatuh. Dia sungguh tak ingin kehilangan Dimas.
Malam sudah menampakkan dirinya. Rhea
akan berjaga di Rumah Sakit hingga Dimas tersadar. Ia sudah memberitahukan
Mamanya agar tidak perlu mencemaskan dirinya. Dia ingin ada di sini ketika
Dimas membuka matanya. Rhea akan menemaninya sampai dia sembuh dan bisa kembali
pulang.
Aku berada di titik
paling berat yaitu merelakan
Tapi, bagaimana itu
mudah jika kamu masih tersimpan dalam ingatan?
Bahwa aku tak pernah
sepenuhnya mengikhlaskan
Bahwa aku benci mengakui
kehilangannya begitu menyakitkan
Mungkin semesta
senangnya menggoda atau membuat aku berduka
*****
Dimas
melihat Rhea tertidur di samping ranjang. Dia pasti lelah, sudah menjaganya
semalaman. Seperti ada dorongan dari hatinya, Dimas membelai rambut gadis yang
masih dicintainya itu. Rhea merasakan sesuatu yang menyentuh rambutnya. Dia pun
terbangun dan melihat Dimas sudah sadarkan diri.
“Dimas, kamu udah sadar? Kamu engga
papa? Aku panggilin Dokter ya” Dimas menarik tangan Rhea agar ia tak beranjak
kemana-mana.
“Aku engga papa, Rhe” ucap Dimas pelan.
Rhea kembali duduk di sebelahnya dan
memandangi wajah Dimas dengan sangat lega. Keduanya saling menatap satu sama
lain. Keheningan tercipta ketika tak satu pun kata mampu terucap. Rhea mencoba
mengeluarkan pikiran yang mengganggunya sejak malam. “Dl im, kenapa kamu jadi
kayak gini? Kamu pengen kelarin hidup kamu pelan-pelan ya! Apa sih yang ada di
pikiran kamu itu, Dim? Sampe-sampe aku engga ngerti sama jalan pikiran kamu”
Rhea kembali menitikkan airmata. Jika sudah menyangkut isi hatinya, terkadang
airmata juga menjadi saksi.
“Kenapa kamu engga sekalian minum
Baygon atau loncat dari gedung tinggi biar mati sekalian!” Rhea melanjutkan
kata-katanya dengan penuh emosi.
Dimas hanya diam. Lagi-lagi dia sudah
membuat Rhea menangis. Dia sudah melepaskannya tapi, Rhea datang kembali
mengisi kekosongan jiwanya.
“Kamu tau engga, sih? Mama kamu di
atas sana engga akan seneng ngelihat kamu kayak gini! Kenapa kamu keras kepala
banget sih, Dim!” Rhea meluapkan seluruh kekesalan di hatinya. Dia hanya ingin
Dimas kembali seperti dulu, yang selalu membuatnya tersenyum.
“Aku juga belum siap kehilangan
kamu..” tagisan Rhea semakin menjadi-jadi. Rhea menutup wajahnya,
menyembunyikan tangis itu.
Dimas langsung menarik Rhea ke dalam
pelukan dan berkata “Maafkan aku, Rhe. Kenapa kamu masih peduli sama aku?”
Dimas menyerah. Karena sikap keras kepalanya, dia benar-benar sudah melukai
hati Rhea terlalu dalam. Tangis Rhea pecah di balik punggungnya. Dimas membelai
rambutnya begitu lembut dan mempererat pelukannya.
“Aku sayang sama kamu, Dim. Kamu
jangan kayak gini lagi ya” Rhea berkata, masih dipenuhi isak tangis. Dimas
mengangguk. Dia tak akan lagi membuat Rhea menangis. Rhea yang selalu ada
untuknya meski Dimas memintanya pergi. Dia selalu di tempat yang sama,
mengulurkan tangan untuknya. Saat ini, Dimas ingin menjalani hati-hari barunya
bersama Rhea.
*****
Dimas
mengalami banyak perubahan baik. Setelah pulang dari Rumah Sakit, Rhea tak
pernah absen mengunjungi Dimas di rumahnya. Dimas merasa dirinya tak sendirian
lagi. Kehadiran Rhea memberi semangat baru baginya. Ponselnya bordering, sebuah
panggilan masuk dari “Rhea” selalu membuat Dimas tersenyum.
“Iya, Rhe..” Dimas menjawab lembut.
“Pulang sekolah aku ada tugas
kelompok. Jadinya aku engga bisa nemuin kamu” ada suara kecewa yang bisa ia
rasakan.
“Engga papa, Rhe. Aku juga baru mau
ngasih tau kamu. Aku juga mau pergi” kata-kata Dimas menggantung, membuat Rhea
bertanya-tanya.
“Aku mau ke rumah Ayah, Rhe. Dia
ngundang aku makan malam di rumahnya” mendengar ucapan Dimas membuat Rhea lega.
Dimas sudah mulai berdamai dengan kehidupannya.
“Kamu hati-hati ya. Jangan lupa
kabarin aku” akhirnya telepon pun ditutup. Dimas segera bergegas melangkah
keluar, menyongsong hari yang baru.
Dimas telah sampai di rumah Ayahnya.
Dia mengingat kembali di masa terpuruknya, Ayahnya selalu datang berkunjung.
Namun, Dimas tak berani menemuinya. Selalu ada surat yang ditinggalkan di depan
pintu rumah. Sebuah surat berisi permintaan maaf karena telah meninggalkan dia
dan ibunya serta keinginan untuk memperbaiki kesalahannya di masa lalu. Ayahnya
ingin Dimas tinggal bersamanya dan menjadi bagian dari keluarga kecilnya.
Selain itu, nasehat-nasehat yang selalu Rhea berikan menjadi bahan pertimbangan
baginya. Mungkin juga ini adalah keinginan Mamanya yang telah tiada. Bahwa
Dimas harus bisa berdamai dengan hati dan masa lalunya. Kini, dia ingin menebus
kesalahannya dan memulai kembali tanpa ada rasa kebencian dan dendam di hati.
“Ayah..” pintu rumah dibuka. Sosok
Ayahnya kini berdiri di hadapannya.
“Dimas! Gimana kabar kamu, nak? Kamu
sehat, nak?” tanya Ayahnya dengan penuh semangat.
“Baik, yah” jawab Dimas. Ayahnya
langsung memeluk putra yang telah dia tinggalkan dulu.
“Ayo masuk, nak!” ayahnya
mempersilakan dan menuntun Dimas masuk ke dalam rumah.
“Bu, Dafa, Luna! Ka Dimasnya udah
dateng nih” teriakan Ayahnya seolah menggema seisi rumah.
“Gimana sekolah kamu, nak?” tatapan
Ayahnya penuh cinta. Kedatangan Dimas disambut hangat olehnya.
“Aku dikeluarin dari sekolah, yah”
mungkin ucapan Dimas akan membuat Ayahnya kecewa.
“Engga papa, nak. Nanti Ayah urus
sekolah kamu yang baru disini ya” Dimas tersenyum mendengar perkataan Ayahnya.
“Halo! Ini yang namanya Ka Dimas,
ya!” seruan bocah membuat Dimas sedikit terkejut. Mereka memberi salam dan
memperkenalkan diri kepada Dimas lalu, mencium tangannnya seperti seorang adik
yang menghormati kakaknya.
“Ka Dimas bakal tinggal sama kita
kan, bu?” tanya Luna, si bungsu.
“Coba tanya sama Ka Dimasnya..” semua
menatap ke arah Dimas.
“Ka Dimas mau kan, ya? Jadi bisa
nemenin Dafa maen mobil-mobilan” perkataan Dafa membuat Dimas tersenyum. Dimas
mengelus kepala si kecil Dafa.
“Iya, kalau boleh..” jawab Dimas
malu-malu dan masih terlihat canggung.
“Tentu aja boleh, nak!” Ayahnya
melanjutkan kata-kata Dimas.
Hati Dimas kini sudah benar-benar
lega. Dia tak sabar menceritakan kepada Rhea tentang keluarga barunya. Tak ada
lagi yang mengganjal di hati Dimas. Dia ingin melanjutkan hidupnya bersama
orang-orang di sekitarnya yang menyayangi dirinya. Kini, Dimas sudah menemukan sepenuh
kebahagiannya.
*****
Kehilangan
mengajarkan kita untuk belajar mengikhlaskan walau terkadang menyakitkan. Bukan
bersembunyi tapi, dihadapi!