Seseorang selalu ingin didengar dan punya tempat untuk bercerita. Sedang aku memilih berteman dengan sepi. Di satu ruang aku mampu menumpahkan segala lara yg tak mampu kuutarakan lewat kata. Tak apa, karna ini tentang dia yg membuatku jatuh cinta. Kadang kecewa, kadang juga bahagia. Meski dia sering kali menciptakan mendung dan airmata di langitku. Tapi, aku percaya bukankah akan ada pelangi setelahnya?

Minggu, 09 Desember 2018

Bumi

Desember 09, 2018 Posted by Debby Nuramiruddin No comments

Bumi


Bagaimana rasanya jika sendirian berada di Bumi? Tak ada teman untuk berbicara, bermain atau bahkan sekedar menyapa saja. Tak bisa saling menguatkan, menggengam tangan, menangis bersama dan berpelukan tanda bahagia. Apa jadinya bumi, jika hanya ada pepohonan, hutan, lautan, binatang, langit dan awan? Apa rasanya bumi, jika tak ada manusia untuk saling melengkapi? Jika sudah saling melengkapi, bukankah indah jadinya hidup di bumi?
Bumi yang kusayangi bertambah hidup jika dikelilingi oleh orang-orang yang disayangi. Seberapa pun besar cobaan hidup yang diberikan, asalkan ada mereka, semua masalah terasa tak menjadi masalah karena adanya dukungan dari orang-orang yang berarti. Namun, ketika tak mendapat dukungan dari orang-orang tersebut, tak perlu khawatir karena Tuhan pasti mempunyai cara dan rencana lain untuk membuat kita bertahan dan tetap semangat menjalani kehidupan.
Entah darimana lagi aku bercerita, cara Tuhan memberikan dia di hidupku memanglah sangat ajaib. Hingga sampai saat ini aku masih tak percaya, kehadirannya membuatku menjadi salah satu manusia di bumi paling bahagia memilikinya. Bahkan ketika aku tak mendapatkan dukungan dari orang-orang terdekatku, dia menjadi tempatku untuk tetap tersenyum menghadapi apapun yang menjadi pilihan dan keputusan yang diambil. Benar atau salah lantas tak harus membuatku terpuruk dan bersedih.
Jika hanya ada satu manusia seperti dia di bumi, aku seakan tak membutuhkan manusia-manusia lain untuk melengkapi jalan cerita di hidupku. Kami mencoba saling menguatkan, bertukar cerita, membuat dan mengumpulkan cerita bahagia, bahkan pernah menangis bersama. Ia adalah pelukan paling hangat yang membuat hatiku tentram berada di dekatnya. Walaupun ia memiliki sikap menyebalkan namun merindukannya adalah hal pertama yang kulakukan ketika tak ku dengar kabar darinya.
Sudah kukatakan sebelumnya, Tuhan mempertemukanku dengan manusia satu itu dengan cara yang benar-benar ajaib. Melalui dunia maya, akhirnya aku tau ada manusia seperti dia di bumi, tempatku berpijak. Ia tak membiarkanku terlalu lama berlarut-larut dalam kesedihan, menemaniku di hari-hari yang tersulit ketika tak mendapat dukungan dari orang-orang terdekatku. Justru dia yang malah menguatkan dan menjadi tempatku berteduh. Ketika bumi ini bahagia, ia menjadi salah satu alasanku untuk bahagia dan bahkan ketika bumi ini menangis, ia adalah tempat paling nyaman untuk aku pulang dan bersandar di bahunya. Sampai dengan hari ini, permintaan yang selalu kutitipkan kepada Tuhan, ia tetap menjadi bumiku yang paling nyaman hingga tak terbatas dan tak terhitung lamanya.

Senin, 12 November 2018

Sebuah planet untuk tempatku sembunyi

November 12, 2018 Posted by Debby Nuramiruddin No comments

Sebuah planet untuk tempatku sembunyi

Adakah planet disana, tempat untukku bersembunyi?
Bersembunyi tentang perasaan yang aku tutupi.
Bersembunyi dari bumi, tempat ia berpijak.
Bersembunyi dari mentari yang menyapaku tiap pagi tentang bagaimana perasaanku hari ini.
Bersembunyi dari angin, seraya bergetar tiap kali membisikkan namamu di telingaku.
Bersembunyi dari hujan, kala dibunuh perasaan yang teramat dalam hingga airmata menetes jatuh di pipi.
Juga bersembunyi dari malam, waktu yang leluasa kumiliki memikirkan tentang dirimu.
Bersembunyi dari segalanya, dari semesta.
Karena kupikir bumi bukan lagi tempat yang aman, bebas berkeliaran untuk seseorang yang diam-diam memendam rasa.
Dimanapun aku bersembunyi, mereka bisa menemukan kehadiranku.
Dimanapun aku bersembunyi, aku benar-benar tidak sepenuhnya bersembunyi dari bayangannya.
Dimanapun aku bersembunyi, aku masih berada disekitarnya.
Aku ingin berlari, sejauh mungkin, hingga tak bisa ditemukan.
Aku ingin terbang, ke angkasa, hingga tak ada yang bisa menangkapku.
Aku ingin menghilang, dari bumi, tak perlu lagi ada rasa yang membara.
Aku ingin pergi, ke planet lain, di tempat kamu tak berada. Hingga aku bisa bernafas lega, tak lagi merasa sesak di dada.
Jika ada planet disana, aku tak perlu lagi kesulitan menutupi rasa dan menyembunyikannya dari dunia.
Adakah planet disana untukku sembunyi lebih lama? Atau aku tetap dengan rasa yang sama?


Puisi : Merasa sendiri

November 12, 2018 Posted by Debby Nuramiruddin No comments


Judul Puisi : Merasa sendiri


Langit jingga kemerahan
Matahari terbenam tampak berseri-seri
Di hiruk pikuk kota aku merasa sendirian
Tanpa tau apa yang sedang dicari

Puisi : Sebuah Penantian

November 12, 2018 Posted by Debby Nuramiruddin No comments


Judul Puisi : Sebuah Penantian


Langit tampak mendung
Sepertinya akan turun hujan
Penantianku masih tak berujung
Hingga aku lelah tak beralasan

Puisi : Merindu

November 12, 2018 Posted by Debby Nuramiruddin No comments


Judul Puisi : Merindu


Malam bertaburan bintang terang benderang
Selimut kutarik dalam pelukan
Sendirianku dengan pikiran jauh melayang
Terbayang kamu dalam satu ingatan

Senin, 05 November 2018

Puisi : Hidup adalah pembelajaran

November 05, 2018 Posted by Debby Nuramiruddin No comments

Judul Puisi : Hidup adalah pembelajaran


Hidup terkadang tak sejalan sesuai harapan
Namun, bukan menjadi alasan untuk terus terpuruk dengan keadaan
Jadikan saja sebagai satu pembelajaran
Untuk meraih kesuksesan di masa depan





Puisi : Lembaran baru

November 05, 2018 Posted by Debby Nuramiruddin No comments


Judul Puisi : Lembaran baru


Akan ada pagi setelah malam
Akan ada pelangi setelah hujan
Akan ada hari yang cerah setelah melewati hari yang kelam
Dan akan ada senyuman setelah kesedihan

Puisi : Pelangi

November 05, 2018 Posted by Debby Nuramiruddin No comments

Judul Puisi : Pelangi


Seperti pelangi yang muncul sehabis hujan
Aku ingin menjadi sepertinya
Menjadi warna yang indah setelah hitam
Menjadi senyuman setelah airmata

Ketika kamu merasa bersedih

November 05, 2018 Posted by Debby Nuramiruddin No comments


Ketika kamu merasa bersedih


Apa yang membuatmu bersedih hingga wajahmu ditekuk begitu? Apa yang membuat kamu terdiam, enggan berbicara? Apa yang memenuhi isi kepalamu itu?
Apa yang membuatmu menderita hingga tak ingin makan, mengurung diri di kamar, enggan berbagi cerita sama orang lain? Kenapa kamu malah memilih menyimpan masalahmu seorang diri?
Bukankah akan terasa lega jika sudah mengeluarkan semua unek-unek yang bersemayam di kepalamu? Bukankah itu bisa sedikit mengurangi bebanmu?
Lantas mengapa kamu malah memilih diam saja? Ungkapkan semua kekesalanmu, kesedihanmu jika itu bisa membuat dirimu lebih baik. Kamu bisa bercerita semua kesedihanmu padaNya. Menangis sejadi-jadinya. Setelah itu, kamu akan merasa perasaan yang lebih baik, lebih tenang dari sebelumnya.
Jangan pernah berpikir lari dari masalah yang kamu hadapi. Ketika kamu merasa Tuhan sedang memberikanmu ujian berupa kesedihan, kecewa, ia hanya ingin melihat seberapa kuat kamu melewatinya. Apakah ujian itu bisa membuatmu semakin dekat dengannya?
Aku selalu ingat akan satu hal yaitu Tuhan tidak akan memberikanmu ujian di luar kemampuanmu. Ia sudah tau seberapa kuat dan lemahnya dirimu. Ia hanya akan menguji tidak lebih dari itu.
Jadi, kamu harus menyakini diri bahwa kamu mampu melewatinya. Walau kamu harus merasakan jatuh kemudian jatuh lagi sampai akhirnya di satu titik membuat dirimu harus bangkit dari keterpurukan selama ini. Bisa jadi itu juga sebagai tamparan bahwa kamu mulai menjauh dariNya. Tuhan hanya membutuhkan perhatian. Jika dengan memberikanmu ujian akan membuatmu mengingatNya, Ia tak akan segan-segan melakukan itu. Ia memegang kuasa atas dirimu dan seluruh alam semesta ini.
Aku pernah berada di posisi seperti itu. Ketika Tuhan membuatku terjebak dalam satu situasi yang sulit. Situasi dimana aku harus memilih diantara dua pilihan. Ketika aku sudah menentukan pilihan itu, aku juga harus siap menerima resiko yang baik atau bahkan buruk nantinya. Tetap saja harus kuputuskan mana yang terbaik. Aku bahkan tidak bisa memastikan jika keputusanku adalah memang yang terbaik untukku atau bukan yang terbaik untukku menurutNya.
Aku hanya bisa berencana dan berusaha yang terbaik menurutku namun, Ia lah yang menentukan akhirnya kan seperti apa dan bagaimana. Pada akhirnya kehidupan tak sejalan dengan apa yang aku inginkan dan apa yang menjadi pilihanku. Semua berbeda dari apa yang aku bayangkan dan rencanakan dari awal. Ketika itu aku merasa pada posisi ditinggalkan dan kehilangan. Bagaimana perasaanku ketika itu? Tentunya berjuta rasanya. Sedih! Marah! Menyesal! Bahkan sampai menyalahkan diri sendiri!
Sedih, kenapa ini bisa terjadi padaku? Kenapa harus aku yang mengalami ini semua? apa karena kesalahanku yang kurang bersyukur?. Pertanyaan-pertanyaan seperti itu menempel di kepalaku ketika tak bisa kusembunyikan kesedihanku dari dunia. Kesedihan karena apa yang sudah menjadi pilihan untuk mengejar impianku harus berhenti di tengah jalan karena tak mendapat dukungan dari orang-orang terdekatku. Sedih karena harus merasakan kehilangan yang bukan menjadi pilihanku. Kupikir pilihanku adalah yang terbaik tapi ternyata bukan yang terbaik menurutNya.
Marah, karena aku harus mendengarkan anggapan-anggapan mereka tentang apa yang terbaik untukku. Hingga akhirnya dari yang ragu untuk memilih, aku mantap memilih pilihan berdasarkan saran dan masukan dari mereka. Tapi, bukan berarti karena mereka. Aku telah memikirkan sekaligus mempertimbangkan hingga menemui jawaban yang sama.
Menyesal. Waktu tak berhenti ketika kamu berpikir salah membuat keputusan. Apa yang sudah terjadi tak mungkin kembali walaupun itu buruk sekalipun. Aku percaya setiap permasalahan di hidup ini, suka dan tidak suka, akan selalu ada hikmah setelahnya. Kejadian itu membuatku benar-benar terpuruk. Padahal semestinya aku tau Tuhan tak akan meninggalkanku dan akan selalu bersamaku dalam keadaan apapun. Jangan merasa sendiri, ketika kamu sendiri takut akan sepi.
Setelah menyesal, aku malah hanya bisa menyalahkan diriku. Aku kembali pada potongan-potongan dari ingatan kala itu, bagaimana seharusnya aku yang lebih tau mana yang terbaik untukku, bukan orang lain. Tapi, mereka juga tidak memaksa untuk mengikuti sesuai pilihannya. Disinilah kesalahanku. Aku tak menyalahkan mereka. Aku menyalahkan diriku sendiri. Kejadian ini akan mengingatkanku terus akan satu hal “jika hati kecilmu merasa yakin, maka ikutilah kata hatimu. Begitu pula sebaliknya. Jangan ikuti yang lain”.
Begitulah ceritaku tentang bagaimana kehidupan belum berpihak pada apa yang menjadi keputusanku. Saat ini, aku merasa diriku lebih baik dari hari-hari terburuk itu. Aku juga mendapat banyak dukungan dari orang-orang yang kusayangi. Kehadiran mereka sudah cukup membuat diriku bahagia bahwa di Bumi ini aku tidaklah sendirian. Mungkin apa yang sudah terjadi denganku adalah jalan yang sudah dituliskan Tuhan dan mungkin Ia mempunyai rencana yang indah yang tidak aku ketahui. Apapun dan bagaimana itu, aku berharap yang terbaik untuk masa depanku. Yang sudah terjadi biarlah terjadi dan sudah waktunya untukku membuka lembaran baru dan menjadikan pembelajaran serta pengalaman hidup. Jangan pernah berhenti berharap, terus berusaha dan pantang menyerah mewujudkan impianmu. Satu hal lagi, selalu berdoa dalam setiap langkahmu sekalipun kamu disibukkan oleh urusan dunia. J

Senin, 29 Oktober 2018

Seperti bintang yang sulit kujangkau

Oktober 29, 2018 Posted by Debby Nuramiruddin No comments

Seperti bintang yang sulit kujangkau


Langit malam sungguh indah, ditemani gemerlap bintang-bintang dan sinar rembulan.

Aku tengah duduk di teras, menatap bintang-bintang dan setengah mengkhayal hal-hal di luar jangkauan.

Malam ini bintang-bintang bersinar dengan terang. Bintang yang terlalu jauh dari jangkauan tangan ini, membuatku hanya bisa memandang kelap-kelip indahnya. 

Sama seperti bintang, kau adalah hal yang sulit kujangkau. Ibarat seperti bintang, kau adalah bintang yang paling terang, menuntunku dikala tersesat.

Namun, kau terlalu sibuk dengan duniamu, tak sedikit saja melirik ke arahku.

Bisakah melihatku sebentar saja?

Tapi, bagiku itu tak masalah. Mengkhayal tentangmu sudah menjadi bagian dari rutinitasku yang tak pernah terlewatkan.

Seperti hari ini, aku bisa berjam-jam di teras, hanya duduk memandang bintang dan memikirkanmu yang menyihirku dengan pesona yang kau miliki.

Duduk menyendiri terkadang bisa membuat pikiran menjadi tenang, menikmati alam sejenak tanpa memikirkan yang menjadi masalahmu.

Bintang di malam ini enggan membuatku beranjak, membuatku bertanya tentang banyak hal. Berharap bintang-bintang di atas langit mempunyai jawabannya.

“Jika aku bisa meraih satu bintang saja, apa aku juga bisa menjangkaunya?”

“Jika tau itu adalah hal yang sulit, mengapa tak menyerah saja?”

Kenyataannya bintang juga tak mampu menjawabku. Hanya aku seorang diri yang tau bagaimana menyakitkan memendam perasaan tanpa memberitahu perasaanmu pada orang itu.

Bukan tak mau, hanya saja sudah tau akhirnya. Seperti juga bintang yang sulit kujangkau, seperti juga kamu yang sulit kuraih.

Rabu, 03 Oktober 2018

Selamat Tinggal

Oktober 03, 2018 Posted by Debby Nuramiruddin No comments

Selamat Tinggal


Hari itu tak secerah biasanya. Langit sore tampak mendung.
Entah mengapa perasaan menjadi tak enak. Detak jantung menjadi tak karuan,
Rupanya seperti sudah sebuah firasat. Hatiku tak dapat menahan rasa sesak hingga rasanya ingin menangis sekencang mungkin.
Namun, tak bisa. Aku harus menahan karena situasi yang tak tepat.
Hari itu, menjadi hari perpisahanku dengannya. Tanpa berpikir panjang, aku langsung berlari menemui dirinya.
Sikapnya kala itu sangat tenang, seperti tak terjadi apa-apa. Tapi, hanya aku seorang yang menganggap itu tak biasa.
Andai saja jari ini bisa mendekap wajahnya dan membelai rambutnya.
Andai saja bisa kukatakan, tak bisa jauh darinya.
Andai saja aku punya keberanian, ingin kuungkap perasaan yang kumiliki untuknya.
Semua itu bagai sebuah khayalan, ketika aku cuma bisa berdiri kaku di depannya.
Aku mulai mengajaknya berbicara, bersikap wajar seperti teman biasa yang sedang berusaha menahan diri.
Senyuman masih terhias di wajahnya. Tapi, hanya aku yang berpura-pura. Aku menjadi manusia paling bodoh saat itu.
Mengapa waktu bersamanya terasa cepat?
Mengapa aku tak diberikan waktu lebih lama lagi mengenalnya?
Mengapa kepergiannya tak kuasa kuterima?
Tuhan tak adil. Ia adalah bahagiaku yang sederhana. Namun, waktu merenggut kebahagiaan itu dariku.
Walaupun sangat sulit kuraih, aku hanya butuh waktu lebih lama lagi sampai berpikir mengungkap rasa tak sesulit menyimpan rasa.
Sampai tiba saatnya waktu dan detik itu adalah saat yang tepat untuk mengungkapkan perasaan.
Ingin kuhentikan waktu agar tak berlalu cepat.
Baru saja akan kulontarkan sebuah kata namun, tiba-tiba ia berdiri dan mengajakku beranjak keluar.
Aku terdiam, mencoba menahannya.
Tapi, ia berlalu tanpa mempedulikan kata-kataku.
Waktu seolah menghentikan niatan dan usahaku.
Langkah kaki kami pun menjauh dan kembali ke ruangan itu.
Namun, aku mendapatkan sebuah pemandangan berbeda.
Entah hanya sebuah perasaan saja, ia menatapku dari kejauhan. Bukan untuk waktu yang sebentar, hal itu membuatku salah tingkah.
Semua berpamitan dengannya dan mendoakan yang terbaik untuknya.
Waktu seakan berjalan cepat, hanya aku dan ia yang tersisa di ruangan itu.
Akhirnya, aku dan dia meninggalkan tempat itu.
Tak kuasa menghadapi hari esok tanpa kehadirannya.
Malam itu akan menjadi malam terakhir bisa melihat dan mencium aroma tubuhnya.
Aku bahkan tak bisa membuat dia tak pergi. Rasanya sulit mengucapkan kata perpisahan.
Bibirku bungkam dan ia pun mulai pergi menjauh sampai bayangannya mulai tak terlihat.
Airmata yang terlalu lama kutahan akhirnya menetes di pipi.
Tangisanku menjadi tak karuan, bercampur aduk dengan kenyataan pahit yang terima.
Apakah kisahku dengannya harus berakhir seperti ini?
Apakah aku ditakdirkan hanya mencintai tanpa dicintai?
Aku bahkan belum sempat mengatakan bahwa aku menyukainya.
Aku bahkan belum sempat mengungkapkan perasaan yang sudah lama kurasakan.
Bagaimana jantung ini berdebar-debar setiap kali melihat dan berada di sekitarnya.
Bagaimana rasanya menyimpan dan menyembunyikan rasa terlalu lama.
Semua seolah terlambat dan pada akhirnya aku hanya akan merasakan kehilangan.

“Selamat tinggal untukmu yang pernah mengisi dan membuat hari-hariku indah seperti warna pelangi” 

Jumat, 14 September 2018

Temanku adalah Jodohku

September 14, 2018 Posted by Debby Nuramiruddin No comments

Temanku adalah Jodohku



Jodohku?
Siapa yang tau akan jodoh?
Siapa yang tau “siapa yang akan menjadi jodohmu”.
Tak ada seorang pun di dunia yang tau.
Jodoh, sebuah rahasia Tuhan. Seperti yang Ia tuliskan, setiap manusia mempunyai jodohnya masing-masing. 
Kata jodoh seolah menjadi misteri, atau seperti teka-teki yang tak bisa dipecahkan, seolah tak mempunyai jawaban pasti.
Jodoh sama seperti saat kita sedang menunggu bis. Ditunggu atau tak ditunggu, datang atau tak kunjung datang, pada akhirnya ia akan tiba di pemberhentian yang tepat.
Siapapun ingin memiliki jodoh yang terbaik atau sesuai pilihan di hati. 
Itulah yang kualami saat ini.
Awalnya tak pernah terpikirkan atau bahkan terselip di hati, kamu yang akan menjadi jodohku.
Takdir membuat kita berteman, walau kala itu hanya teman biasa.
Seorang teman yang dulu dianggap seperti teman biasa, kini menjadi teman hidupmu.
Hari itu dengan penuh kemantapan hati, ia membuat sebuah komitmen yang tak disangka-sangka.
Bukan hanya sekedar untaian kata, kini kau wujudkan menjadi nyata.
Dirimu yang sama sekali tak pernah terpikirkan, menjadi yang paling dinantikan.
Aku tak pernah berencana bahkan bermimpi sekalipun menjadi pendampingmu nanti.
Hanya pernah terlintas memimpikanmu sesaat yang ternyata aku ada dalam mimpi-mimpi panjangmu.
Hanya pernah merasakan sesuatu yang ternyata kamu juga merasakan hal yang sama.
Terlepas bagaimana takdir mengubah jalan hidupku, Tuhan juga seakan mempunyai skenario lain untuk hidupku.
Rencana Tuhan tak bisa kupungkiri. Sungguh luar biasa, di luar kendaliku yang hanya menjadi pemain dalam cerita, sementara Ia adalah sutradara, penentu awal dan akhir dari cerita.
Seolah menjadi wanita paling bahagia di dunia.
Rasa syukur tak henti terucap bersamaan rasa bahagia memiliki dia.
Memimpikan hidup bersamamu, berbagi suka dan duka adalah keinginan.
Caramu yang membuat hatiku teryakinkan memantapkan hati menuju dan mengucap janji suci pernikahan.
Kau tak perlu gugup mengucapkan janji suci di depan sang penghulu.
Seperti di lautan lepas, lantangkan suaramu di sela-sela derai kencang dari suara ombak, katakan bahwa kamu bahagia memilikiku.
Aku menunggu dan harap-harap cemas menantikan babak baru di hidupku.
Hanya selangkah lagi menuju hari bahagia dan aku akan menjadi sepenuhnya milikmu, begitu juga denganmu.
Aku yang terbiasa melakukan segala hal sendiri, akan terasa menyenangkan bisa melakukan itu bersamamu.
Itu adalah salah satu nikmat Tuhan, menciptakan manusia berpasang-pasangan untuk saling menjaga dan melengkapi.

Tulisan ini kupersembahkan untuk seorang teman, saat sama-sama menempuh pendidikan di perguruan tinggi yang sama J

Jumat, 03 Agustus 2018

Menyimpan Rasa

Agustus 03, 2018 Posted by Debby Nuramiruddin No comments

Menyimpan Rasa


Hal apa yang membuat dada terasa sesak ketika mulut tak mampu berkata?
Kurasa itu adalah menyimpan sebuah rasa tanpa berani mengungkapkan.
Tak semudah itu ketika kau hanya menyapanya.
Tak semudah itu ketika kau hanya mampu melihat dan menatap dari kejauhan.
Tak semudah itu ketika kau hanya mampu merangkai kata diatas kertas tanpa memberikannya
Tak semudah itu ketika kau hanya mampu menahan diri ketika bersamanya.
Tak semudah itu ketika kau hanya mampu menyembunyikan perasaan tanpa ia tau.
Ini bukanlah hal yang biasa. Ketika kau diam-diam menyimpan rasa yang tak biasa untuk seseorang.
Kau bahkan tak punya nyali yang besar sekedar untuk menarik perhatiannya atau menunjukkan perasaanmu kepadanya.
Yang kau tau, hanya menyembunyikan dan menahan diri bila berada di dekatnya.
Orang lain pun tak akan tau kau mempunyai perasaan khusus terhadapnya.
Bukankah menahan perasaan sungguh menyakitkan?
Bukankah menahan perasaan sungguh menyiksa?
Bukankah hanya membuat luka saja, tanpa membuat diri sedikit bahagia?
Mungkin bagi sebagian orang, itu menjadi masalah.
Bagiku, bila hanya dengan melihatnya adalah bahagiaku yang sederhana, mengapa harus mengeluh pada dunia?
Kukatakan bahagia memang sesederhana itu,
Sesederhana ketika kau tersenyum dan mengkhayal bukan tanpa sebab, melainkan karena dirinya yang begitu indah hingga kau tak mampu berpaling dari bayangannya.
Sudah tak terhitung waktuku yang terbuang.
Memikirkanmu sudah banyak menyita waktuku.
Aku bukanlah seseorang yang mudah jatuh cinta.
Aku juga bukanlah seseorang yang mudah mengatakan aku jatuh cinta.
Tapi, mengapa kau buatku jatuh cinta?
Mengapa namamu yang tertanam di hati?
Seolah tak kutemukan jawaban, kini di pikiranku penuh dengan angan tentang dirinya.
Hingga hasrat terbesarku adalah bermimpi memiliki dirinya.
Namun, semua itu hanya akan menjadi angan belaka, bukan? jika pada akhirnya kau hanya bisa menyimpan rasa.
Jenuh bila terlalu lama memendam rasa, tanpa tau perasaan ia sebenarnya.
Tuhan, berikan diri ini sedikit keberanian untuk menyatakan rasa yang tersimpan terlalu dalam.

Minggu, 22 Juli 2018

Rasa yang tepat di waktu yang salah

Juli 22, 2018 Posted by Debby Nuramiruddin No comments

Rasa yang tepat di waktu yang salah


Kini malam terasa indah, banyak bintang di langit.
Sembari kau menggengam jemariku, tatapan mata kita saling beradu.
Kamu tiba-tiba mempertanyakan perasaanku untukmu.
Pertanyaan itu seharusnya tertuju untukmu.
Jangan tanyakan perasaanku, kalau kau saja tak bisa beralih ke arahku.
Jangan tanyakan perasaanku, kalau ketika denganku kau masih bersamanya.
Jangan tanyakan perasaanku, kalau hatimu hanya setengah untukku.
Hidup memang sebuah pilihan, bukan?
Aku memilih bersamamu, walau ku tau setengah hatimu juga untuk dia.
Lalu, untuk apa semesta mengirimkan dirimu untukku? Untuk apa kau datang di sisiku?
Mengapa Tuhan merencanakan semua ini?
Sungguh, bukan ini yang aku mau.
Kita tampak berjalan beriringan tapi sebenarnya tidak.
Kamu dan aku adalah rasa yang tepat namun di waktu yang salah.
Pergi saja kamu dariku. Berikan sedikit waktu untuk mengerti yang tak ku mengerti.
Bukan maksudku menyakitimu, namun tak semudah itu melupakanmu begitu saja.
Biar ku bunuh saja perasaan yang kuberikan untukmu.
Meski berat melangkah tanpa dirimu, hanya saja hatiku belum siap untuk terluka.

Sabtu, 07 Juli 2018

Kamu yang kutunggu

Juli 07, 2018 Posted by Debby Nuramiruddin No comments

Kamu yang kutunggu


Sore itu terasa sunyi. Tak ada sayup-sayup suara. Kesunyian menyita waktuku kala itu. 
Aku tengah duduk sendiri, menatap langit senja dari balik jendela kamarku.
Pernah berada dalam situasi yang kau sebut penantian?
Seperti mencari cinta sejati namun tak kau temukan.
Ketika kau hanya mampu pasrah hingga berujung pada suatu penantian yang penuh dengan segelintir harapan.
Ada doa yang terselip di balik penantianmu.
Terkadang, sebuah penantian membutuhkan kesabaran, bukan?
Butuh waktu lama hingga penantianmu terjawab sudah.
Kini, aku telah menemukan yang kuimpikan.
Tuhan telah menjawab pintaku. Kamu dikirimkanNya untuk melengkapi hariku, hari ini hingga nanti.
Kupikir, kamu memang disiapkan Tuhan untuk menjaga hatiku.
Segala kekurangan dan kelemahan, kau jadikan cinta.
Aku menemukan dan merasakan kesungguhan dari hatimu.
Hingga akhirnya kamu menjadi hasrat terindah yang kumau.
Tanpamu, aku tak lagi bisa tertawa lepas seperti saat bersamamu, sulit melewati hari-hari dengan biasa. Waktu seolah berhenti sejenak, tersadar ada kekosongan.
Membayangkannya saja membuat dada terasa sesak.
Perlu kukatakan ternyata kamu adalah yang kutunggu.
Penantianku telah berakhir sejak sosokmu hadir di hidupku.
Hingga aku membayangkan hal-hal yang indah bersamamu.
Menghabiskan sisa waktuku bersamamu. Menikmati secangkir teh hangat di pagi hari.
Bercerita hal apapun tanpa jenuh.
Menikmati makan malam bersama atau sekedar menonton film kesukaan.
Menjelang waktu tidur, kamu tak segan memelukku erat hingga pagi menjelang.
Banyak hal yang terlintas di pikiranku, yang ingin kulakukan bersamamu.
Hingga keinginan terakhirku, kita menua bersama. 

Rabu, 20 Juni 2018

Ternyata bukan untukku

Juni 20, 2018 Posted by Debby Nuramiruddin No comments

Ternyata bukan untukku


Kau melupakan janji yang telah kau buat,
Malam itu kau memegang jemariku, menatap kedua bola mataku.
Tak seperti biasanya, membuatku merasa gugup saja,
Hingga tak kusangka, terucap kata-kata manis dari bibirmu, serasa membuat diriku terbang ke angkasa.
Kau mengeluarkan sesuatu dari balik kantong celanamu.
Kau membuatku takjup saat itu. Sebuah kotak cincin kau persembahkan di hadapanku.
“Maukah kamu menikah denganku? Menemaniku hingga kita menua bersama” sambil tersenyum, kau memakaikan cincin yang cocok di jari manisku.
Mataku berkaca-kaca, tak pernah memimpikan hari ini.
Hari yang telah lama kutunggu. Kata-kata yang telah kutunggu sejak dulu.
Aku menerimanya, memeluk pria yang sangat kucintai itu.
Malam itu, ia membuatku sangat bahagia. Kalau ini mimpi, mungkin ini adalah mimpi terindah dan tak ingin membuatku cepat terbangun.
Biarkan aku tidur lebih lama lagi. Tapi, ini bukanlah mimpi! Ini adalah kenyataan!
Tapi, sayang kenyataan yang kuidam-idamkan tak berlangsung lama, seperti yang diimpikan.
Kukira yang menjadi milikku akan selamanya menjadi milikku.
Kita tak akan pernah tau jalan hidup yang sudah dituliskan Tuhan.
Aku cuma bisa pasrah menerima ketika seseorang yang kau inginkan, tak ditakdirkan olehnya menjadi milikmu. Ketika takdir tak berpihak padaku, aku memang bisa apa?
Apakah harus meratapi, menjadikan sebuah kesedihan yang tak usai?
Apakah harus merasakan kesedihan yang berkepanjangan?
Apakah harus menyerah, tidak bergairah menjalani kehidupan?
Aku memang sedih tapi bukan berarti kesedihan itu merenggut kebahagiaanku yang lain.
Sejak pertama bertemu dan mengisi hari-hariku, tak pernah diriku meragu.
Sesungguhnya cinta ini memang hanya untukmu. Meski, kini kau tak lagi nyata untukku.
Tak pernah kusesali, mengenal dirimu, hingga kau meyakinkan diriku.
Tapi, mengapa bukan dirimu yang dituliskan untuk menjadi takdirku?
Mengapa juga harus dirimu yang membuatku terluka? 
Sungguh ku tak bisa menahan, bila ternyata Tuhan menuliskan dirimu memang bukan untukku.
Terkadang menerima sebuah kenyataan memang sungguh menyakitkan.