Seseorang selalu ingin didengar dan punya tempat untuk bercerita. Sedang aku memilih berteman dengan sepi. Di satu ruang aku mampu menumpahkan segala lara yg tak mampu kuutarakan lewat kata. Tak apa, karna ini tentang dia yg membuatku jatuh cinta. Kadang kecewa, kadang juga bahagia. Meski dia sering kali menciptakan mendung dan airmata di langitku. Tapi, aku percaya bukankah akan ada pelangi setelahnya?

Jumat, 30 Maret 2018

Debaran yang tak biasa

Maret 30, 2018 Posted by Debby Nuramiruddin No comments

Debaran yang tak biasa


Pernah merasakan jantungmu berdebar kencang karena suatu hal?
Bukan karena kau mengikuti suatu ajang pencarian bakat dan kau dinobatkan menjadi sang juara, atau semacam menang lotre.
Bukan karena sesuatu, debaran itu karena seseorang.
Ketika didekatmu, ada rasa yang aneh dan tak biasa. Diam-diam kau mulai memikirkan orang itu tanpa sebab. Diam-diam bayangannya memenuhi pikiranmu hingga terasa sesak.
Lebih anehnya lagi, kau merasa gelisah ketika kau tak berhasil menangkap kehadirannya.
Lalu kau mulai mencari “dillan, kamu dimana? Aku rindu” seperti film dillan yang sedang fenomenal saat ini. Kau mulai merindukannya. Lagi dan lagi adalah tanpa sebab.
Kau pernah merasakan hal seperti itu?
Perasaan seperti apa yang sedang kurasakan? Lantas, apakah aku sedang jatuh cinta? Apakah dewi cinta telah melepaskan panah cinta dan tepat mengenai diriku saat ini?
Lalu, aku harus bagaimana? Apakah harus kulepaskan anak panah yang sudah menancap dihatiku? Dengan begitu, seketika bayangannya akan menghilang.
Tapi, tidak begitu. Belakangan, aku menjadi sulit tidur. Hingga kemudian mataku mulai terpejam dan terlelap. Ketika terbangun, aku menyadari malam yang panjang, aku tanpa sengaja memimpikan ia.
Sepertinya aku mulai gila atau setengah waras. Rasa yang mulai menggebu, membuat hasratku ingin menyentuhnya.
Aku memang sudah tergila-gila dibuatnya.  Ia bukan sosok manusia sempurna, namun sosok makhluk aneh yang tersesat di bumi. Aneh dan mulai membuatku semakin penasaran mencari tahu semua tentangnya.
Pernah kau mencoba varian rasa baru dari lollipop yang sering kau beli?
Saat kau ragu dan mencoba jilatan pertama, ternyata rasa yang disembunyikan lollipop itu adalah nano-nano dan membuatmu berkali-kali menjilat lollipop itu. Rupanya kau merasa ketagihan dari rasanya.
Mungkin seperti itu hati yang tengah kurasakan. Ada satu hal hebat yang pernah ia lakukan, ia mampu membuat jantungku berdebar-debar kala berada didekatnya.
Bahkan ketika ia hanya melintas dihadapanku, jantungku berdebar-debar tak karuan.
Bukankah itu sangat aneh? Namun, rasa aneh itu berubah seketika menjadi sebuah kebahagiaan sederhana yang kudapatkan.
aku merasa seperti orang paling bahagia ketika hanya menatapnya dari kejauhan. Ketika diam-diam aku senang memperhatikan wajahnya yang serius.
Ketika aku senang melihat ia tersenyum dan tertawa. Bahkan ketika ia begitu menyebalkan.
Aku sendiri tak mampu melukiskannya. Hingga aku mendefinisikan bahwa bahagia sesederhana itu.

Sabtu, 17 Maret 2018

Hal Ajaib

Maret 17, 2018 Posted by Debby Nuramiruddin No comments

Hal Ajaib


Pernah mengalami hal ajaib di hidupmu?
Pernah merasakan seperti “kau yang paling beruntung”?
Pernah merasakan “kalau dipikir-dipikir aneh rasanya”
Pernah berpikir “apakah itu hanya kebetulan atau memang rencana dari Tuhan?”
Sepertilah itu diriku setahun yang lalu, bahkan sampai hari ini.
Kupikir, Tuhan mempunyai caranya sendiri menuliskan skenario untuk hidupku. Sebuah skenario ajaib mempertemukanku denganmu.
Hingga bisa bersamamu sampai detik ini, kuanggap itu adalah sebuah keberuntungan. Aku tak pernah bermimpi, menemukan sosok sepertimu untuk melengkapi kekosongan di hari-hariku.
Kau dengan segala kekuranganmu, membuatku sampai hari ini takut akan kehilangan dirimu.
Sungguh, sungguh dan sungguh aku tak mau seseorang seperti dirimu pergi dan tak mewarnai hidupku lagi. Aku tak berharap pikiran buruk itu terjadi, karena aku sangat bahagia memilikimu untuk sekarang ini.
Kalau flasback, cara Tuhan mempertemukan kita adalah hal ajaib yang pernah terjadi di hidupku dan tak pernah terduga olehku sebelumnya.
Tuhan memang mempunyai caranya yang sendiri untuk memberikan apa yang kita butuhkan. Karena ia memberikan apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan.
Kau sependapat denganku?
Ia bukan lelaki sempurna, namun aku membutuhkan seorang laki-laki yang bisa menerima kekanak-kanakkan dan sifat aneh yang kumiliki.
Bersamanya, aku tak takut menjadi pemimpi.
Bersamanya, aku tak takut menjadi diriku yang sebenarnya.
Bersamanya, aku tak takut menjadi bodoh.
Sampai hari ini dan seterusnya, aku selalu ingin berbagi duniaku dengannya.
Ketika kau telah menemukan seseorang yang tepat di hatimu, apakah dengan rela kau menerima bahwa waktumu bersamanya hanya sampai disini?
Ketika kau telah menemukan seseorang yang menjadi impianmu, apakah kau menyerah dan membiarkan dia pergi?
Kalau aku, selama dia selalu setia denganku, selalu akan ada kesempatan kedua, ketiga, dan beribu-ribu kesempatan untuknya.
Ia adalah hal ajaib yang dititipkan Tuhan, hanya untukku. Maka, akan kujaga dan kupegang erat-erat tangannya. Tak akan pernah kulepaskan, selama Tuhan menginginkan dan menakdirkan kami untuk terus bersama.
“hey, kau! Jangan pernah jenuh disampingku”
“jangan pernah coba pergi diam-diam”
“jangan pernah jenuh mencintai dan menyayangiku”
“jangan pernah jenuh mendengarkan ceritaku, mendengarkan kebawelanku”
“jangan pernah jenuh memarahiku kala aku membuat salah”
“jangan pernah jenuh memperhatikanku walau dengan caramu yang berbeda”
“jangan pernah lelah membuatku tertawa”
“jangan pernah jenuh menjadi tempatku bersandar”
“pelukanmu menjadi tempat terhangat bagiku”
“jangan pernah membuatku kecewa”
“jangan membuat seorang wanita terlalu lama menunggu, tanpa memberikannya sebuah kepastian”
Aku hanya ingin di hari ini, esok dan kedepannya akan ada sosok dirimu yang menemaniku, bukan hanya karena alasan rasa yang ingin selalu bersama, melainkan karena izin Tuhan menakdirkan kita bersama selamanya.

Rabu, 14 Maret 2018

Rumah Kedua

Maret 14, 2018 Posted by Debby Nuramiruddin No comments

Rumah Kedua


Ini sebuah kisah tentang pertemuan, pertemanan hingga tanpa sadar berubah tingkatannya menjadi “keluarga” bagiku.
Ini benar kisahku, sebuah cerita dari perjalanan hidupku. Jika kuceritakan pada kalian, tak akan ada habisnya. Sebuah tempat yang menjadi “Rumah Kedua” bagiku.
Sebenarnya ini adalah kisah lama. Tak terasa waktu telah berjalan cepat, tanpa sadar aku sedang mengenang masa lalu.
Ya, cepat sekali rasanya waktu memainkan perasaanku atau memang itulah kehidupan. Ada seseorang yang datang lalu seseorang itu akan pergi, ada seseorang yang pergi lalu digantikan seseorang lain yang datang.
Setiap pertemuan akan ada sebuah perpisahan nantinya. Setiap pertemuan tak akan berarti tanpa tahu makna dan arti dari sebuah pertemuan itu. Percaya atau tidak, begitulah memang kehidupan.
Itulah yang terjadi 2 tahun yang lalu. Tepatnya dipertengahan tahun. Tahun itu penuh dengan cerita yang hingga detik ini masih tersimpan, sulit terlupakan bahkan akan selalu terkenang dalam memori otakku.
Kisah ini tak berjalan lama, namun entah mengapa sangat membekas dihatiku. Aku bersyukur karena Tuhan telah mempertemukanku dengan orang-orang hebat dan beruntung aku pernah mengenal mereka.
Ini kisahku. Aku harap kau tak akan bosan membaca dan mengikuti kisahnya.
Ketika aku tengah mencari sebuah dunia baru, disitulah kutemukan, disitulah akan kuhabiskan separuh waktuku ditempat itu.
Awalnya, tempat itu masih asing untukku. Namun, setelah satu-persatu manusia memasukinya, tempat itu tak berasa sepi lagi. Penuh cerita dengan penuh berbagai makna. Masing-masing manusia itu memiliki karakternya masing-masing, karakter yang berbeda-beda. Aku dengan karakterku, begitu juga dengan mereka.
Karakter-karakter yang berbeda itu menjadi sebentuk cerita yang indah.
Ada aku, yang bawel dan kekanak-kanakkan. Pecinta kpop dan drama korea. Terkadang bodoh dan memalukan diri sendiri.
Mas bobby, tubuhnya yang atletis bagai binaragawan tak membuat ia tampak menakutkan. Tubuhnya memang atletis, namun hatinya lembut bagaikan kapas. Ia seperti guru yang kadang mengajariku.  
Lalu, pak ronny. Pertama kali mengenalnya, ia tak banyak bicara. Sempat ku pikir, ia tak mudah didekati. Namun, ternyata lucu juga. Terbukti saat ia tahu aku adalah penggemar kpop, seorang fans dari Sungjae, ia membuat plesetan dari idolaku itu yaitu “susujahe” .
Setelah kami bertiga, muncullah dua perempuan yang menemaniku diantara dua lelaki.
Namanya Firsta dan Rara.
Firsta, itu nama panggilannya dulu. Sekarang, ia adalah “Stupa”, sahabatku ditempat itu. Aku tak menyangka dari yang hanya biasa saja, ia menjadi orang yang berarti ditempat itu. Walaupun kebanyakan sifatnya buruk, aku tak pernah malu mengakui bahwa ia adalah sahabatku. Bukankah untuk menjadi sahabat, siap untuk menerima apa adanya? Siap menerima segala kekurangannya dan melengkapi kekurangan itu.
Tempat itu menjadi ramai karena “stupa”. Mungkin yang lain tak sepemikiran denganku. Tingkahnya yang konyol kadang hanya untuk membuat kau tertawa walau ia hanya mempermalukan dirinya sendiri. Dialah stupa.
Berbeda dengan stupa, rara yang memiliki pemikiran dewasa dan kadang menjadi penengah diantara kami. Sifatnya yang ceplas-ceplos membuat ia terlihat apa adanya, tidak dibuat-buat.
Selain Mas Bobby dan Pak Ronny, hadirlah laki-laki seumuran denganku. Namanya Malkan. Ia merupakan designer sama seperti Mas Bobby. Yang membedakan hanya tubuhnya yang kurus dan kulitnya yang sawo matang. Penyuka musik dan pintar bermain gitar dan harmonika. Berbakat menjadi musisi rupanya. Aku tak heran saat ia tak ada ditempatnya, ia pasti sedang diruangan tanpa pendingin, memainkan harmonikanya. Kadang, aku terbuai dengan suara harmonika yang ia lantunkan. Walaupun aku tak mengerti lagu atau syair apa yang sedang ia mainkan. Aku sangat menikmati setiap nada yang keluar dari harmonika itu.
Sebulan kemudian, muncullah manusia-manusia baru untuk menemani dan menghabiskan waktu bersama.
Kumpulan bapak-bapak dan seorang pemuda. Mereka adalah Pak Ben, Pak Iqbal, Pak Endang, Pak Ferry dan Hendra.
Pak Ben, memiliki suara yang serak dan berkacamata. Ia suka merokok. Sering mengerjai dan membullyku.
Pak Iqbal, asli dari bandung. Memiliki lesung pipi dan logat bandungnya sangat melekat didalam dirinya.
Pak Endang, orangnya lucu dan suka melawak. Genit dan menurutnya ia “tampan” tapi, tidak menurut banyak orang. Sok misterius tentang kehidupan pribadinya.
Pak Ferry, ia sangat ramah dan sangat taat beribadah. Jujur, aku pernah sholat berjamaah bersama dan ia menjadi imamnya. Aku sangat menyukai bacaan sholatnya. Mendengarnya, membuat hatiku teduh dan damai.
Hendra, nama lengkapnya Hendra Anggrian, sukanya menyendiri dan jarang bersosialisasi. Tapi, kalau kau tahu siapa ia sebenarnya, ia adalah manusia yang baik walaupun menyebalkan. Hobbynya mengoding. Pekerjaan sampingannya menjahili orang. Aku adalah korban kesehariannya. Terkadang sifatnya kekanak-kanakkan, membuat ia terlihat lucu. Kau tahu, ia mempunyai satu kelebihan. Yaitu keningnya seperti lapangan sepak bola dan seperti sulap, saat ia tertawa kedua matanya menghilang. Bukankah itu lucu?
Tidak berapa lama, hadirlah pendatang baru dan bergabung bersama kami.
Satu lagi perempuan yang akan menemaniku, Rara dan Firsta. Ia adalah Aisyah. Gadis bertubuh kurus sepertiku, dan satu kampus denganku walaupun berbeda jurusan. Ia mantan anak paduan suara, tidak heran saat bernyanyi suaranya jauh lebih bagus daripada suaraku.
Setelah Aisyah, ada Delfrinando Pranata, biasa dipanggil nando. Namun, aku biasa memanggilnya dengan sebutan khas pertemananku dengannya “padang”. Bukannya rasis, ia memang satu kampung halaman denganku. Hanya berseberangan, aku dari medan dan dia dari padang. Nando, tubuhnya atletis karena ia suka ngegym. Kulitnya sawo matang. Suka memakai kemeja yang fit dibadannya. Suka ngegossip, polos, narsis, eksis di media sosial dan sedikit gemulai. Itulah dia. Namun, satu yang kukagumi dari dia, ia sangat pintar dan sering membantuku.
Setelah Nando, hadirlah Fajar Ramadhan. Sama seperti Malkan, ia juga seorang designer. Hobbynya sama denganku, suka menulis dan travelling. Sama seperti Hendra, ia juga mempunyai keahilan menyulap. Walaupun berkacamata, saat tertawa matanya juga tetap menghilang. Hebat, bukan?
Setelah Aisyah, tambah satu perempuan lagi yang akan menemani kami berempat. Ia adalah Mediana. Jurusan hukum. Awalnya masih pemalu, masih belum tahu sifat aslinya. Kini ia adalah sahabatku. Aku tak pernah menduga hal itu. Aku bahkan mempunyai “panggilan”  khusus untuknya. Aku dan Stupa lebih tepatnya. “Soul” itulah panggilan kami untuknya. Hobbynya mengomeliku karena kebodohanku. Ia tahu tentangku dan rahasiaku. Bersama Stupa, kami berdua menikmati hari-hari dengan penuh kegokilan. Tanpa ada Soul dan Mate, tidak ada Stupa. Begitu pula sebaliknya. Karena “Soul” dan “Mate” adalah belahan jiwa “Stupa”.
Setelah itu, ada Pak Hardi dan Pak Yohan. Dua kepribadian yang berbeda.
Saat mengenal Pak Hardi, ia orang yang tegas dan keras. Sementara Pak Yohan, ia sangat ramah dan murah senyum. Kuberitahu sebuah rahasia, ia adalah bapak favoritku ditempat itu. Sama seperti Hendra dan Fajar, ia juga bisa sulap. Wajahnya memerah ketika ia tertawa. Sebagai seorang mualaf, ia sangat rajin beribadah. Aku pernah asal bicara padanya, aku ingin mempunyai calon suami seperti dia. Mendengar ucapanku, dia hanya tertawa memerah. Saat bersamanya, Ia bisa menjadi seorang ayah dan kakak untukku. Sering memberikanku nasehat yang membangun. Aku banyak belajar darinya.
Bertambah satu perempuan lagi, namanya Ka Zhani. Jurusan hukum juga, sama seperti Mediana. Lancar berbahasa melayu dan cerewet.
Lalu, ada Cahyo. Bertubuh tinggi dan kurus. Suka tidak jelas. Malkan dan Hendra adalah sahabat karibnya. Hobbynya sama seperti Malkan, suka bermusik dan bisa memainkan gitar. 
Setelah itu, ada Mukhlis. Laki-laki bertubuh tinggi dan berkacamata. Aku sering memanggilnya “Mukh-Mukh”. Rajin membawa bekal makan siang. Yang kuingat darinya, sering memakai kemeja kotak-kotak berwarna pink dan ia juga lucu.
Ada Pak Edwin. Ia keseringan mengobrol dengan bapak-bapak, jadi aku tak banyak bicara dengannya. Namun, satu yang kutahu, beliau orang yang lucu.
Keluargaku semakin lengkap dengan kehadiran pendatang-pendatang baru.
Christine, Mas Donny, Pak Ray, Bang Leo, Nina, Pak Irwan dan Ka Priska.
Christine, gadis bertubuh tinggi dan berkulit putih. Terkadang sifatnya kekanak-kanakan. Pintar dan lucu. Suka memakai baju tanpa lengan.    
Mas Donny, ia memiliki lesung dipipinya. Suatu kebetulan, Ia ternyata alumni dari kampusku. Sungguh tidak terduga. Mas Donny, orang yang murah senyum dan aku suka pada senyumnya yang kadang terlihat malu-malu. Selain ngoding, ia ternyata penyuka anime.
Lalu, ada Pak Ray. Pria berkacamata dan bertubuh gemuk ini cukup humoris di kalangan kami semua. 
Bang Leo, dari sebutannya “Bang”, ia berasal dari Batak. Logat Bataknya sangat kental. Saat mengobrol denganku, ia suka tertawa dan terlihat konyol.
Pak Irwan, duduknya disebelah Nando. Suka memakai masker. Kalau Hendra suka menyendiri dipojokan, Pak Irwan juga suka asyik sendiri didepan komputernya dan lebih pendiam dari Hendra. Tapi, sebenarnya Pak Irwan orang yang baik. Lebih dekat dengan stupa, soul dan aku. Namun, kadang kami yang banyak bicara. 
Lalu, ada Ka Priska. Aku biasa memanggilnya “eonnie”. Panggilan itu tercipta karena ia lulusan dari seoul/korea, negara favoritku. Namun, ia bukan pencinta kpop ataupun drama korea. Ia lebih suka drama taiwan. Cantik, pintar, baik dan selalu ceria. Teman makan barengku, soul dan stupa. Aku biasa dipanggil “deboy” dan soul “medoy” olehnya. Temanku bercerita. Ia juga sedikit tahu tentang rahasiaku karena mediana keceplosan/bocor. Aku kagum pada Ka Priska, satu-satunya programmer perempuan yang pernah kutemui.  
Terakhir, Nina. Sama seperti Bang Leo, ia juga orang batak. Menurutku ia cantik. Awal mengenalnya, sedikit pendiam namun ternyata cerewet juga. Ia juga programmer perempuan setelah Eonnie Priska.

Itulah cerita singkat tentang mereka yang pernah mengisi hari-hariku. Di tempat itu, aku bertemu dengan orang-orang hebat seperti mereka. Kalau kau pikir, masih bersama hingga hari ini, tebakanmu salah. Itu dulu, 2 tahun yang lalu.
Sayangnya, kebersamaan itu hanya sesaat. Satu-persatu dari kami harus mengucapkan selamat tinggal dan menerima perpisahan yang telah ditakdirkan Tuhan.
Ya, itulah kehidupan. Kita tak akan pernah tahu kedepannya akan seperti apa. Setiap pertemuan, akan selalu ada perpisahan. Suka atau tidak suka, terima atau tidak terima, kau hanyalah pemain yang menjalankan skenario yang telah dituliskan olehNya.
Terkadang, aku rindu tawa dan canda dari mereka. Rindu, walau hanya mendengar suara mereka. Rindu, walau hanya melihat saja. Rindu, walau hanya sekedar menyapa.
Mereka seperti “Rumah Kedua” bagiku.
Benar sebuah pepatah yang mengatakan, kita akan benar-benar merasa seseorang itu berarti ketika merasakan kehilangan.
Kadang, aku bertanya “ Apa kabar kalian?, apakah baik-baik saja? Kapan bisa berkumpul bersama lagi”
Hanya pertanyaan-pertanyaan sederhana untuk melepas kerinduan. Mungkin, sebagian sudah saling melupakan. Namun, aku tidak akan pernah melupakan kenangan yang telah mereka berikan. Terlalu manis untuk dilupakan.
Hanya sekedar doa sepintas kepada Tuhan, terkadang aku meminta hal ajaib “pertemuan kedua setelah sekian lama tak bertemu”.

*Foto ini sebagai kenangan tentang kalian*


Senin, 12 Maret 2018

Jodoh

Maret 12, 2018 Posted by Debby Nuramiruddin No comments

Jodoh


Apakah kau percaya akan jodoh pasti bertemu? Apakah kau percaya bahwa pasanganmu saat ini adalah yang menjadi takdirmu?
Lalu, mengapa sebagian orang masih meragu ketika hubungan itu telah terjalin lama? Sedangkan bagi mereka yang mempunyai hubungan yang hanya sekejap, dengan penuh keyakinan menuju pelaminan?
Kita tahu, dalam islam tak kenal akan istilah “pacaran”. Kita percaya, seorang laki-laki bila memang ditakdirkan untuk kita seorang, ia tak akan segan menemuimu bersama kedua orang tuanya, memintamu untuk melangkah ke jenjang pernikahan, melengkapi hidupnya hingga waktu berhenti.
Jika mengarah pada hukum islam, lelaki itu segera menghalalkanmu, tak membiarkanmu menanggung sebuah dosa/zina yang mungkin akan dilakukan saat berpacaran.
Allah sangat tak menyukai kepada hambanya yang lupa akan diriNya. Lupa akan menyebut namaNya dalam doa dan mengingatNya karena pikiran kita sibuk dengan lelaki yang secara tak sadar sangat didambakan.
Perhatian kita lebih tertuju padanya, hingga melupakan Allah.
Bukannya melupakan Sang Pengasih dan Penyanyang, aku hanyalah manusia biasa yang tak sempurna dan luput dari dosa.
Ketika Tuhan memberikan rasa “cinta” itu didalam diri ini, seketika pula cinta membuatku buta. aku tidak melanggar norma-norma agama yang diajarkan, aku hanyalah menjadi pengagum dari seorang laki-laki yang diam-diam membuat dada ini sesak dan berdebar-debar ketika berada didekatnya.
Awalnya aku ragu ini hanyalah perasaan biasa, sewaktu-waktu akan hilang. Namun, semakin aku memikirkannya tanpa sebab, semakin aku percaya ini bukanlah perasaan biasa.
“cinta” sebuah perasaan yang bila kau tak pandai mengendalikannya, ia akan membuatmu melayang dan terjatuh.
Bila ku jatuh cinta bukan berarti aku melupakan siapa Tuhanku, bukan berarti aku tak menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya.
Aku percaya suatu hari Ia akan mempertemukanku dengan seseorang yang menjadi jodohku nanti.
Setiap malam, dalam sujudku selalu kusebut nama lelaki itu, meminta kepadaNya untuk berjodoh dengannya atau memberikanku satu lelaki yang seperti dia untuk menjadi imamku kelak, menjadikan yang tak mungkin menjadi mungkin.
Seperti dalam Quran Surat Yasin ayat 36 yang artinya “Maha suci Allah yang menciptakan pasangan—pasangan semua, baik apa yang ditumbuhkan oleh bumi serta dari mereka maupun dari apa tidak mereka ketahui. (QS Yasin ayat 36)
Aku percaya ayat diatas. Allah lebih mengetahui dari apa yang tidak kita ketahui dan Allah telah merencanakan yang terbaik untuk setiap hambanya.
Allah tak membeda-bedakan setiap hambanya. Jika doamu belum dijabah olehNya, mungkin Ia mempunyai rencana yang lebih baik dari itu. Kita sebagai manusia hanya bisa berserah diri kepadaNya.
Berpegang dengan surat itu, aku percaya akan jodoh. Kita hanya perlu bersabar dan selalu bertawakkal kepadaNya. Karena sudah jelas dari QS Yasin ayat 36, bahwa manusia diciptakan berpasang-pasangan, kita hanya perlu bersabar menunggu waktu yang baik ketika Allah sudah menentukan.

Minggu, 11 Maret 2018

Orang Ketiga

Maret 11, 2018 Posted by Debby Nuramiruddin No comments

Orang Ketiga


Awalnya hidupku seperti layakmya orang normal biasanya. Namun, seperti waktu yang tak bisa berhenti sejenak, hidupku seketika berubah drastis.
Aku tiba-tiba menjadi gadis yang jahat. Jika aku melepas topengku, semua mata akan tahu diriku yang sebenarnya.
Dari luar, aku terlihat seperti ibu peri ataupun malaikat baik hati. Namun, kau tak akan tahu aku tak sebaik yang kau pikirkan.
Tentu, kau akan bertanya-tanya mengapa aku sebenarnya?
Kenapa aku menyebut diriku “gadis yang jahat”? apa yang membuatku berbeda dari gadis lainnya?
Kau pasti tak akan percaya, aku jatuh cinta pada seseorang yang tak seharusnya ku cintai. Tak seharusnya aku memiliki perasaan aneh terhadapnya dan tak semestinya aku memimpikan memilikinya seutuhnya.
Apakah menurutmu, cintaku bertepuk sebelah tangan?
Kau salah. Ia juga memiliki perasaan yang sama seperti halnya diriku. Namun, perasaan ini tak pada tempatnya.
Itulah mengapa aku menyebut diriku jahat.
Kau masih bingung? Aku akan mengungkapkan jati diriku yang sebenarnya.
Aku adalah seorang gadis lajang yang mencintai seorang pria yang telah berkeluarga. Pria itu sudah memiliki keluarga bahagia sebelum aku hadir ditengah kehidupannya.
Dulu, ia sangat menyayangi istri dan buah hati kecilnya. Namun, suatu hari ia tergoda oleh pesonaku dan jatuh kedalam pelukanku.
Apakah ia pria kaya? Kebetulan memang begitu adanya. Lalu, kau pikir karena ia pria kaya, lalu aku jatuh hati dan mengambil hartanya?
Itukah yang kau pikirkan tentang perempuan seperti diriku? Kau salah besar.
Apakah kalau ku katakan karena “cinta” tak masuk akal olehmu? Apakah perempuan biasa sepertiku tak bisa mengenal dan merasakan cinta?
Walaupun ku tahu cinta yang kurasakan saat ini adalah salah. Apakah perempuan sepertiku tak pantas untuk dicintai atau bahkan aku bisa mendapatkan sosok pria yang pantas untukku cintai, yang tak lain bukan suami orang?
Bayangkan bagaimana jika aku diposisi seorang  istri yang dilukai perasaannya oleh suaminya sendiri karena wanita lain?
Begitukah yang kau pikirkan tentangku? Lantas karena seorang istri, aku tak pantas merebut kebahagiaannya dan seharusnya aku pergi ke neraka karena perbuatanku.
Apakah perempuan seperti diriku harus kau hakimi? Aku bahkan tak pernah mengganggu kehidupanmu. Lalu, kenapa kau mencampuri dan mengusik kehidupanku?
Aku mencintai pria itu. Begitu pula dirinya. Bahkan, ia mengatakan ia sanggup meninggalkan kehidupannya demi diriku. Sungguh, aku tak percaya.
Lalu, saat pria yang sangat kucintai berani mengorbankan segalanya, aku malah meninggalkannya?
Niatan seperti itu pun tak pernah terlintas dipikirkanku. Kalau kau pikir, aku telah memberikan segalanya padanya bahkan kehormatanku, itu salah.
Aku mencintainya bukan karena materi, ia pun begitu. Ia mencintaiku bukan karena paras ataupun tubuhku..
Aku bahagia saat tangannya menggengam erat tanganku, saat jemarinya membelai rambutku hingga mencubit pipiku. Aku bahagia saat ia membisikkan “aku mencintaimu”
Aku bahagia saat ia memelukku erat, mencium kening, pipi hingga bibirku.
Namun, yang membuatku paling bahagia adalah ia berada disisiku walaupun aku tau waktunya terbagi dua. Tak hanya kepadaku namun untuk keluarga kecilnya.
Aku tak pernah memintanya untuk meninggalkan keluarga kecilnya hanya untuk perempuan seperti diriku. Namun, ia rela meninggalkan itu semua untuk diriku.
Bukankah itu sangat membingungkan? Disatu sisi, aku tak ingin disebut orang ketiga maupun perebut suami orang. Namun, disisi lainnya, aku mencintai pria itu, Tuhan.
Sedangkan, apakah aku bisa bersatu dengannya namun, disisi lain aku membuat orang lain menangis dan menderita karena kebahagiaanku?
Aku sungguh masih memikirkan hal itu. Kalau, aku mengabaikan hal itu sudah sejak dulu aku meminta pria itu meninggalkan kehidupan lamanya dan membangun kehidupan baru bersamaku.
Namun, pikiran jahat itu tak kuturuti sampai hari ini. Karena untuk saat ini, aku hanya membutuhkan dia disisiku, tak ada yang lain.
Pria ini sungguh membuatku jatuh cinta. Ia pekerja keras dan sangat penyayang.
Yang istimewa, ketika pertama kali menatap matanya, jantungku berdebar kencang dan timbul perasaan aneh seperti tiba-tiba aku memikirkannya tanpa sebab.
Awalnya kedekatan kami hanya sebagai partner kerja, ia adalah atasanku dan aku adalah bawahannya. Namun, waktu yang lebih banyak kuhabiskan dikantor, membuatku terjebak menghabiskan malamku bersamanya.
Mungkin, karena kebiasaan seperti itu timbul benih-benih cinta.
Itu adalah hal diluar kendaliku dan tanpa sengaja. Aku tak kuasa menahannya sampai memberanikan diri mengungkapkan isi hatiku dengan kenyakinan ia akan menolak perasaanku.
Seperti tersambar petir, ia malah memelukku dan membalas perasaanku. Sungguh diluar dugaanku, bukan?
Sepanjang apapun aku menjelaskan, tetap dimatamu aku adalah tersangka, aku yang salah telah merusak rumah tangga orang.
Ia pernah mengatakan, cinta itu kenyamanan, percaya dan dukungan. Kalau menurutmu tidak, aku tidak peduli.
Aku akan melanjutkan kisahku bersamanya di cerita selanjutnya.

Selamat menantikan..