Seseorang selalu ingin didengar dan punya tempat untuk bercerita. Sedang aku memilih berteman dengan sepi. Di satu ruang aku mampu menumpahkan segala lara yg tak mampu kuutarakan lewat kata. Tak apa, karna ini tentang dia yg membuatku jatuh cinta. Kadang kecewa, kadang juga bahagia. Meski dia sering kali menciptakan mendung dan airmata di langitku. Tapi, aku percaya bukankah akan ada pelangi setelahnya?

Jumat, 04 Juni 2021

Menunggu atau menyerah?

Juni 04, 2021 Posted by Debby Nuramiruddin No comments

Menunggu atau menyerah?





Langit seolah merekah bahagia
Tapi, mengapa aku tak secerianya?
Mengapa yang singgah hanya sepi?
Meskipun kutau ia telah lama pergi
Jika aku menilik kembali, hari itu aku benar-benar benci semesta, 
karena bahagiaku telah diambil sepenuhnya
Kala itu aku ingin memeluknya sekali dan untuk terakhir kalinya
Tapi, rasa takutku lebih besar rupanya
Takut kenyataan berubah menyeramkan, bahwa esok wajah itu cuma bisa kurindukan keberadaannya
Airmata turun tanpa aku minta, melihat bayangannya kian menjauh dari mata
Aku memangnya bisa apa kalau semesta sudah ikut campur tangan? semesta selalu punya kejutan
Setelahnya, aku merasa seperti tak berkawan
Manusia tak hanya dia seorang bukan?
Tapi, mengapa yang tinggal hanya kekosongan?
Dia meninggalkan cerita yang ia menjadi tokoh utamanya, manusia biasa tapi di dekatnya bahagiaku 
begitu hebat rasanya
Mengapa memikirkannya menjadi hal paling menarik? setiap kali aku berusaha menampik
Tapi, kian waktu perasaanku semakin menjadi-jadi
Entah mantra apa sebenarnya yang ia miliki
Sejak melihatnya,aku jatuh hati pada pandangan pertama
Jantungku berdebar-debar tak karuan karenanya, hingga aku senang terjebak di bumi bersamanya
Senang melihat bulan sabit yang melengkung di wajahnya, pemandangan indah yang ingin aku bawa  pulang saja
Apa rasanya menjadi dirimu, Tuan?
Mungkinkah merasakan apa yang kurasakan?
Jika demikian, mengapa yang kamu berikan kata perpisahan? kamu lebih memilih menghilang  dibanding berjalan berdampingan
Bahkan kini aku belum bisa berdamai dengan kenyataan, mengapa sulit untukku merelakan?
Musim saja telah berganti, tapi bayangannya masih saja mengikuti
Pertanyaan-pertanyaan tentang bagaimana dia dan apa kabarnya, menumpuk jadi satu di isi kepalaku
Apa sebegitu besar rasa ingin tahuku?
Yang aku tau, merindukannya adalah cara terakhir yang kubisa meski kutau kita sudah tak sama 
arahnya
Ia dengan dunianya, sedang aku yang tak pernah beranjak kemana-mana
Apa salah bila aku masih menggantungkan duniaku padanya?
Lantas, apakah semestinya menyerah begitu saja? Jika aku tak bisa memilih, aku ingin tinggal diantara
keduanya
Selebihnya pasrahkan saja dan biarkan semesta yang bekerja
Hanya yang kuinginkan bahwa ia baik-baik saja
Bahwa ia akan selalu menjadi cerita yang kutulis, meski aku belum tau akhirnya seperti apa
Karena selamanya dia tetap menjadi tokoh utama