Seseorang selalu ingin didengar dan punya tempat untuk bercerita. Sedang aku memilih berteman dengan sepi. Di satu ruang aku mampu menumpahkan segala lara yg tak mampu kuutarakan lewat kata. Tak apa, karna ini tentang dia yg membuatku jatuh cinta. Kadang kecewa, kadang juga bahagia. Meski dia sering kali menciptakan mendung dan airmata di langitku. Tapi, aku percaya bukankah akan ada pelangi setelahnya?

Sabtu, 21 Desember 2019

Yang Kedua

Desember 21, 2019 Posted by Debby Nuramiruddin No comments
Yang Kedua


Aku, diantara benar dan salah.
Tak peduli siapa yang menang ataupun kalah. Aku hanya tak ingin mengalah.
Hanya saja, kenapa aku gelisah?
Kenapa begitu resah tentang apa kata semesta? Kenapa peduli?
Cukup aku dan kamu dengan rasa yang sama.
Kau bilang, aku menjadi wanita satu-satunya di hati. Meski, tetap saja aku tak bisa selalu di sisi.
Katanya, aku adalah dunia. Bagimu, aku adalah segalanya.
Nyatanya, aku hanya menjadi yang kedua.
Kuberikan sepenuh hatiku untuknya. Namun, setengah hatimu dimilikinya.
Lantas, mengapa aku memilih bersama jika hanya merasakan luka?
Jika karena mencinta, apakah layak diterima?
Aku hanya pecundang, tak kuasa tuk berhenti sayang.
Bukankah aku tampak menyedihkan?
Apakah aku harus mencari pembenaran? atau memasrahkan pada keadaan?
Memang manusia bodoh, aku berharap keajaiban.
Sekalipun mereka menyerapah ingin aku menyerah.
Untuk dia, aku tak mungkin melepaskan.
Namun, sewajarnya wanita aku juga membutuhkan kepastian.
Sampai kapan aku hanya menjadi tempat persinggahan?
Sedangkan aku ingin menjadi tempat ternyaman.
Sampai kapan aku menjadi orang asing yang menantimu datang?
Sedang aku ingin menjadi tempatmu pulang.
Sampai kapan kau membiarkanku berdiri bersama penantian?
Sementara kau tak jua memberiku jawaban, menggantungkan harapan tanpa tujuan.
Mengapa kau membuatku terjebak pada situasi menyulitkan?
Terkadang, aku lelah tanpa alasan.
Walau, aku sangat mendambanya, Tuhan.

Jangan Pergi

Desember 21, 2019 Posted by Debby Nuramiruddin No comments

Jangan Pergi




Ada prasangka yang kian tak menentu.
Langitku tiba-tiba saja kelabu. Suasana hati menjadi haru biru.
Hari dimana kau telah mencapai batasmu.
Serasa tak berperasaan, kau memilih menyudahi.
Mencoba menghiraukan. Walau sekedar mimpi, sayangnya bukan.
Pikiran semakin runyam. Kala rasa terbungkam begitu dalam, tak mampu tersampaikan.
Yang tersisa hanyalah rindu yang belum usai, meskipun kisah telah selesai.
Sampai-sampai aku lupa hari berlalu.
Dalam benak, ingin kukembalikan sang waktu.
Kalau saja tepat hari itu,
Bisakah kau beralih ketika aku hanya berdiam diri?
Jika kukatakan sudi menanti, dapatkah hatimu menepi?
Bahkan bila aku memohon, akankah kau tetap di sisi?
dan bila kau malah menjauh, aku akan menyejajarkan kaki hingga kau peduli.
Tapi, seolah memilih berlari aku pun turut berlari. Bukankah berlari sendirian itu menyakitkan?
Lantas, mengapa kau tak berhenti sejenak lalu mendekapku tanpa basa basi?
Jika bersikeras, tolong cepatlah kembali.

Kurasa, aku memang tak tau diri.