Selamat Tinggal
Hari itu tak secerah biasanya. Langit sore tampak mendung.
Entah mengapa perasaan menjadi tak enak. Detak jantung menjadi tak
karuan,
Rupanya seperti sudah sebuah firasat. Hatiku tak dapat menahan
rasa sesak hingga rasanya ingin menangis sekencang mungkin.
Namun, tak bisa. Aku harus menahan karena situasi yang tak tepat.
Hari itu, menjadi hari perpisahanku dengannya. Tanpa berpikir panjang,
aku langsung berlari menemui dirinya.
Sikapnya kala itu sangat tenang, seperti tak terjadi apa-apa.
Tapi, hanya aku seorang yang menganggap itu tak biasa.
Andai saja jari ini bisa mendekap wajahnya dan membelai rambutnya.
Andai saja bisa kukatakan, tak bisa jauh darinya.
Andai saja aku punya keberanian, ingin kuungkap perasaan yang
kumiliki untuknya.
Semua itu bagai sebuah khayalan, ketika aku cuma bisa berdiri kaku
di depannya.
Aku mulai mengajaknya berbicara, bersikap wajar seperti teman
biasa yang sedang berusaha menahan diri.
Senyuman masih terhias di wajahnya. Tapi, hanya aku yang
berpura-pura. Aku menjadi manusia paling bodoh saat itu.
Mengapa waktu bersamanya terasa cepat?
Mengapa aku tak diberikan waktu lebih lama lagi mengenalnya?
Mengapa kepergiannya tak kuasa kuterima?
Tuhan tak adil. Ia adalah bahagiaku yang sederhana. Namun, waktu
merenggut kebahagiaan itu dariku.
Walaupun sangat sulit kuraih, aku hanya butuh waktu lebih lama
lagi sampai berpikir mengungkap rasa tak sesulit menyimpan rasa.
Sampai tiba saatnya waktu dan detik itu adalah saat yang tepat
untuk mengungkapkan perasaan.
Ingin kuhentikan waktu agar tak berlalu cepat.
Baru saja akan kulontarkan sebuah kata namun, tiba-tiba ia berdiri
dan mengajakku beranjak keluar.
Aku terdiam, mencoba menahannya.
Tapi, ia berlalu tanpa mempedulikan kata-kataku.
Waktu seolah menghentikan niatan dan usahaku.
Langkah kaki kami pun menjauh dan kembali ke ruangan itu.
Namun, aku mendapatkan sebuah pemandangan berbeda.
Entah hanya sebuah perasaan saja, ia menatapku dari kejauhan.
Bukan untuk waktu yang sebentar, hal itu membuatku salah tingkah.
Semua berpamitan dengannya dan mendoakan yang terbaik untuknya.
Waktu seakan berjalan cepat, hanya aku dan ia yang tersisa di ruangan
itu.
Akhirnya, aku dan dia meninggalkan tempat itu.
Tak kuasa menghadapi hari esok tanpa kehadirannya.
Malam itu akan menjadi malam terakhir bisa melihat dan mencium
aroma tubuhnya.
Aku bahkan tak bisa membuat dia tak pergi. Rasanya sulit
mengucapkan kata perpisahan.
Bibirku bungkam dan ia pun mulai pergi menjauh sampai bayangannya
mulai tak terlihat.
Airmata yang terlalu lama kutahan akhirnya menetes di pipi.
Tangisanku menjadi tak karuan, bercampur aduk dengan kenyataan
pahit yang terima.
Apakah kisahku dengannya harus berakhir seperti ini?
Apakah aku ditakdirkan hanya mencintai tanpa dicintai?
Aku bahkan belum sempat mengatakan bahwa aku menyukainya.
Aku bahkan belum sempat mengungkapkan perasaan yang sudah lama
kurasakan.
Bagaimana jantung ini berdebar-debar setiap kali melihat dan
berada di sekitarnya.
Bagaimana rasanya menyimpan dan menyembunyikan rasa terlalu lama.
Semua seolah terlambat dan pada akhirnya aku hanya akan merasakan
kehilangan.
“Selamat tinggal untukmu yang pernah mengisi dan membuat
hari-hariku indah seperti warna pelangi”
0 komentar:
Posting Komentar