Ketika
kamu merasa bersedih
Apa yang membuatmu bersedih
hingga wajahmu ditekuk begitu? Apa yang membuat kamu terdiam, enggan berbicara?
Apa yang memenuhi isi kepalamu itu?
Apa yang membuatmu menderita hingga tak ingin
makan, mengurung diri di kamar, enggan berbagi cerita sama orang lain? Kenapa
kamu malah memilih menyimpan masalahmu seorang diri?
Bukankah akan terasa lega jika sudah
mengeluarkan semua unek-unek yang bersemayam di kepalamu? Bukankah itu bisa
sedikit mengurangi bebanmu?
Lantas mengapa kamu malah
memilih diam saja? Ungkapkan semua kekesalanmu, kesedihanmu jika itu bisa
membuat dirimu lebih baik. Kamu bisa bercerita semua kesedihanmu padaNya.
Menangis sejadi-jadinya. Setelah itu, kamu akan merasa perasaan yang lebih
baik, lebih tenang dari sebelumnya.
Jangan pernah berpikir lari
dari masalah yang kamu hadapi. Ketika kamu merasa Tuhan sedang memberikanmu
ujian berupa kesedihan, kecewa, ia hanya ingin melihat seberapa kuat kamu
melewatinya. Apakah ujian itu bisa membuatmu semakin dekat dengannya?
Aku selalu ingat akan satu hal yaitu Tuhan
tidak akan memberikanmu ujian di luar kemampuanmu. Ia sudah tau seberapa kuat
dan lemahnya dirimu. Ia hanya akan menguji tidak lebih dari itu.
Jadi, kamu harus menyakini
diri bahwa kamu mampu melewatinya. Walau kamu harus merasakan jatuh kemudian
jatuh lagi sampai akhirnya di satu titik membuat dirimu harus bangkit dari
keterpurukan selama ini. Bisa jadi itu juga sebagai tamparan bahwa kamu mulai
menjauh dariNya. Tuhan hanya membutuhkan perhatian. Jika dengan memberikanmu
ujian akan membuatmu mengingatNya, Ia tak akan segan-segan melakukan itu. Ia
memegang kuasa atas dirimu dan seluruh alam semesta ini.
Aku pernah berada di posisi seperti
itu. Ketika Tuhan membuatku terjebak dalam satu situasi yang sulit. Situasi dimana
aku harus memilih diantara dua pilihan. Ketika aku sudah menentukan pilihan
itu, aku juga harus siap menerima resiko yang baik atau bahkan buruk nantinya. Tetap
saja harus kuputuskan mana yang terbaik. Aku bahkan tidak bisa memastikan jika
keputusanku adalah memang yang terbaik untukku atau bukan yang terbaik untukku
menurutNya.
Aku hanya bisa berencana dan
berusaha yang terbaik menurutku namun, Ia lah yang menentukan akhirnya kan
seperti apa dan bagaimana. Pada akhirnya kehidupan tak sejalan dengan apa yang
aku inginkan dan apa yang menjadi pilihanku. Semua berbeda dari apa yang aku
bayangkan dan rencanakan dari awal. Ketika itu aku merasa pada posisi
ditinggalkan dan kehilangan. Bagaimana perasaanku ketika itu? Tentunya berjuta
rasanya. Sedih! Marah! Menyesal! Bahkan sampai menyalahkan diri sendiri!
Sedih, kenapa ini bisa terjadi
padaku? Kenapa harus aku yang mengalami ini semua? apa karena kesalahanku yang
kurang bersyukur?. Pertanyaan-pertanyaan seperti itu menempel di kepalaku ketika
tak bisa kusembunyikan kesedihanku dari dunia. Kesedihan karena apa yang sudah
menjadi pilihan untuk mengejar impianku harus berhenti di tengah jalan karena
tak mendapat dukungan dari orang-orang terdekatku. Sedih karena harus merasakan
kehilangan yang bukan menjadi pilihanku. Kupikir pilihanku adalah yang terbaik
tapi ternyata bukan yang terbaik menurutNya.
Marah, karena aku harus
mendengarkan anggapan-anggapan mereka tentang apa yang terbaik untukku. Hingga
akhirnya dari yang ragu untuk memilih, aku mantap memilih pilihan berdasarkan
saran dan masukan dari mereka. Tapi, bukan berarti karena mereka. Aku telah
memikirkan sekaligus mempertimbangkan hingga menemui jawaban yang sama.
Menyesal. Waktu tak berhenti
ketika kamu berpikir salah membuat keputusan. Apa yang sudah terjadi tak
mungkin kembali walaupun itu buruk sekalipun. Aku percaya setiap permasalahan
di hidup ini, suka dan tidak suka, akan selalu ada hikmah setelahnya. Kejadian
itu membuatku benar-benar terpuruk. Padahal semestinya aku tau Tuhan tak akan
meninggalkanku dan akan selalu bersamaku dalam keadaan apapun. Jangan merasa
sendiri, ketika kamu sendiri takut akan sepi.
Setelah menyesal, aku malah
hanya bisa menyalahkan diriku. Aku kembali pada potongan-potongan dari ingatan
kala itu, bagaimana seharusnya aku yang lebih tau mana yang terbaik untukku,
bukan orang lain. Tapi, mereka juga tidak memaksa untuk mengikuti sesuai
pilihannya. Disinilah kesalahanku. Aku tak menyalahkan mereka. Aku menyalahkan
diriku sendiri. Kejadian ini akan mengingatkanku terus akan satu hal “jika hati
kecilmu merasa yakin, maka ikutilah kata hatimu. Begitu pula sebaliknya. Jangan
ikuti yang lain”.
Begitulah ceritaku tentang
bagaimana kehidupan belum berpihak pada apa yang menjadi keputusanku. Saat ini,
aku merasa diriku lebih baik dari hari-hari terburuk itu. Aku juga mendapat
banyak dukungan dari orang-orang yang kusayangi. Kehadiran mereka sudah cukup
membuat diriku bahagia bahwa di Bumi ini aku tidaklah sendirian. Mungkin apa
yang sudah terjadi denganku adalah jalan yang sudah dituliskan Tuhan dan mungkin
Ia mempunyai rencana yang indah yang tidak aku ketahui. Apapun dan bagaimana
itu, aku berharap yang terbaik untuk masa depanku. Yang sudah terjadi biarlah
terjadi dan sudah waktunya untukku membuka lembaran baru dan menjadikan
pembelajaran serta pengalaman hidup. Jangan pernah berhenti berharap, terus
berusaha dan pantang menyerah mewujudkan impianmu. Satu hal lagi, selalu berdoa
dalam setiap langkahmu sekalipun kamu disibukkan oleh urusan dunia. J
0 komentar:
Posting Komentar