Seseorang selalu ingin didengar dan punya tempat untuk bercerita. Sedang aku memilih berteman dengan sepi. Di satu ruang aku mampu menumpahkan segala lara yg tak mampu kuutarakan lewat kata. Tak apa, karna ini tentang dia yg membuatku jatuh cinta. Kadang kecewa, kadang juga bahagia. Meski dia sering kali menciptakan mendung dan airmata di langitku. Tapi, aku percaya bukankah akan ada pelangi setelahnya?

Rabu, 20 Juni 2018

Ternyata bukan untukku

Juni 20, 2018 Posted by Debby Nuramiruddin No comments

Ternyata bukan untukku


Kau melupakan janji yang telah kau buat,
Malam itu kau memegang jemariku, menatap kedua bola mataku.
Tak seperti biasanya, membuatku merasa gugup saja,
Hingga tak kusangka, terucap kata-kata manis dari bibirmu, serasa membuat diriku terbang ke angkasa.
Kau mengeluarkan sesuatu dari balik kantong celanamu.
Kau membuatku takjup saat itu. Sebuah kotak cincin kau persembahkan di hadapanku.
“Maukah kamu menikah denganku? Menemaniku hingga kita menua bersama” sambil tersenyum, kau memakaikan cincin yang cocok di jari manisku.
Mataku berkaca-kaca, tak pernah memimpikan hari ini.
Hari yang telah lama kutunggu. Kata-kata yang telah kutunggu sejak dulu.
Aku menerimanya, memeluk pria yang sangat kucintai itu.
Malam itu, ia membuatku sangat bahagia. Kalau ini mimpi, mungkin ini adalah mimpi terindah dan tak ingin membuatku cepat terbangun.
Biarkan aku tidur lebih lama lagi. Tapi, ini bukanlah mimpi! Ini adalah kenyataan!
Tapi, sayang kenyataan yang kuidam-idamkan tak berlangsung lama, seperti yang diimpikan.
Kukira yang menjadi milikku akan selamanya menjadi milikku.
Kita tak akan pernah tau jalan hidup yang sudah dituliskan Tuhan.
Aku cuma bisa pasrah menerima ketika seseorang yang kau inginkan, tak ditakdirkan olehnya menjadi milikmu. Ketika takdir tak berpihak padaku, aku memang bisa apa?
Apakah harus meratapi, menjadikan sebuah kesedihan yang tak usai?
Apakah harus merasakan kesedihan yang berkepanjangan?
Apakah harus menyerah, tidak bergairah menjalani kehidupan?
Aku memang sedih tapi bukan berarti kesedihan itu merenggut kebahagiaanku yang lain.
Sejak pertama bertemu dan mengisi hari-hariku, tak pernah diriku meragu.
Sesungguhnya cinta ini memang hanya untukmu. Meski, kini kau tak lagi nyata untukku.
Tak pernah kusesali, mengenal dirimu, hingga kau meyakinkan diriku.
Tapi, mengapa bukan dirimu yang dituliskan untuk menjadi takdirku?
Mengapa juga harus dirimu yang membuatku terluka? 
Sungguh ku tak bisa menahan, bila ternyata Tuhan menuliskan dirimu memang bukan untukku.
Terkadang menerima sebuah kenyataan memang sungguh menyakitkan.

0 komentar:

Posting Komentar