Seseorang selalu ingin didengar dan punya tempat untuk bercerita. Sedang aku memilih berteman dengan sepi. Di satu ruang aku mampu menumpahkan segala lara yg tak mampu kuutarakan lewat kata. Tak apa, karna ini tentang dia yg membuatku jatuh cinta. Kadang kecewa, kadang juga bahagia. Meski dia sering kali menciptakan mendung dan airmata di langitku. Tapi, aku percaya bukankah akan ada pelangi setelahnya?

Sabtu, 13 Mei 2017

Seorang Programmer

Mei 13, 2017 Posted by Debby Nuramiruddin No comments

Seorang Programmer



Bagi banyak orang sudah tak asing lagi dengan kata “programmer”, sebuah profesi dibidang teknologi dan informasi dimana setiap kurun waktu perkembangannya sudah tak diragukan lagi.
Namun, ini bukan tentang ceritaku dan juga bidangku bukan itu. Aku yang sudah belajar dan menekuni akuntansi sejak pendidikan di sekolah menengah atas hingga perguruan tinggi, mengagumi profesi seorang programmer.
Bagiku, mereka yang berkecimpung didunia itu adalah orang-orang hebat dan jenius. 

Bagaimana tidak?
Bayangkan, mereka mampu menciptakan sebuah sistem atau aplikasi yang dapat digunakan dan dimanfaatkan bagi banyak orang dipenjuru dunia.
Sebagai contoh “facebook”. Jutaan orang bahkan lebih telah menggunakan facebook, dari usia tua hingga muda, dari kalangan biasa hingga pejabat tinggi, menjadikan facebook sebagai media berinteraksi dengan banyak orang dari belahan dunia tanpa perlu bertatap muka secara langsung.
Tidak hanya facebook, banyak juga sistem atau aplikasi yang diciptakan oleh anak negeri, sebuah karya anak bangsa yang tak kalah hebatnya.

Aku mengagumi profesi yang bukan dibidangku. “Mengagumi”, apakah kau pikir berarti ada rasa ketertarikan untuk mengenal dan mempelajari itu lebih dalam? atau apakah ada niat dalam diriku?
Boleh ku katakan jujur?

Walaupun aku mengatakan kekagumanku, tak ada rasa ingin mempelajari lebih dalam ataupun lebih jauh lagi. 
lalu, kalau niat? Jawabanku, ada. Walau hanya sebersit niat kecil dari hatiku.

Kau ingin tau, sejak kapan rasa kekaguman dalam diriku itu ada?

Ku rasa belum lama, baru tahun kemarin ketika masih berada dikantor lamaku. Iya, aku pernah bekerja disebuah perusahaan IT dan mobile solution. Bukan sebuah perusahaan besar ataupun terkenal. Tapi, dari situlah yang menjadi titik awalku sampai aku bertemu banyak orang-orang hebat.
Dulu, aku hanya sekedar tahu tentang IT, tapi ketika menjadi bagian dari perusahaan itu bagiku IT itu seperti sebuah tongkat sihir. Kau pernah melihat itu di negeri dongeng, bukan?
Sebelum seorang peri membaca mantra, mengayunkan hingga mengetukkan tongkat sihir itu, kau akan lebih dulu terpukau oleh sinarnya.

Benar, aku terpukau ketika melihat teman-temanku begitu serius didepan layar komputer mengotak-atik kata demi kata, karakter, kalimat menjadi seperti sebuah rumus layaknya rumus matematika (tapi, bukan) yang tak ku mengerti. Mungkin, aku hanya bisa melongo saja.
Mereka menyebutnya “ngoding”. Dari coding-codingan itu bisa menciptakan sebuah sistem atau aplikasi siap pakai, yang bisa dipergunakan untuk kepentingan internal ataupun eksternal perusahaan. Bahkan perusahaan sendiri dapat meraup untung yang tidak hanya sedikit selain bermanfaat bagi banyak orang.

Apakah kau setuju denganku, bahwa programmer itu hebat?

Bila ku ingat, seorang teman pernah berkata “kita programmer, kalau bisa milih engga mau ngoding karna ngoding itu memusingkan”
Ternyata, kata-katanya itu benar. Sewaktu kuliah aku pernah belajar “coding” itu walau hanya dasar. Benar-benar itu sangat memusingkan lebih dari akuntansi.
Aku saja yang sebagai penonton cukup melihat saja.

Tapi, lain hal dengan temanku yang satu ini. Cara berpikirnya berbeda. Ku pikir dia adalah manusia aneh dari planet lain yang menjejakkan kaki ke bumi.
Kala itu tengah hujan yang cukup deras. Aku dan dia berbincang dan menerobos hujan. Hanya sekedar pertanyaan spontan, aku bertanya sekaligus menebak bahwa ia akan lebih memilih mengoding daripada bersenang-senang bersama teman-temannya. Ternyata dugaanku itu benar. Ia langsung mengiyakan disertai sebuah tawa kecil. Menurut dia, mengoding itu bukan lagi sekedar kegemarannya tetapi seperti seolah sudah mendarah daging didalam dirinya.

Dimanapun dan kapanpun kegemaran itu sudah melekat dalam dirinya. Hal itu pernah terjadi.
Jadi, ada sebuah ruangan kecil dikantorku yang bisa dikatakan tempat mencari inspirasi, mengistirahatkan sejenak pikirannya dari kerjaan dan tempat untuk merokok.
Aku pernah melihatnya, tengah sendiri, seolah menyendiri, laptop dipangkuannya, dengan kondisi ruangan yang panas tanpa pendingin ruangan sedang mengoding. Tatapan matanya begitu serius seolah memancarkan ia mencari ketenangan yang ia dapatkan seorang diri di ruangan itu.

Itu tidak hanya sekali terjadi. Ada yang berbeda pada hari itu. Seorang temanku tiba-tiba mengingatkan dia bahwa hari itu adalah hari bersejarahnya. Yang anehnya, ia sendiri bahkan tak menyadarinya dan melupakan itu. Lalu, melalui inisiatifnya ia meneraktir kita semua dua kotak paket pizza. Sebagai balasan aku dan teman-temanku meberikan ucapan selamat atas hari kelahirannya.
Kami pun makan bersama dalam sebuah ruangan. Namun, ada pemandangan aneh yang menarik perhatianku. 

Ditengah suara-suara antusias pada sebuah pizza, yang sedang ulang tahun malah asyik sendiri dengan laptopnya sambil menikmati pizza pesanannya tanpa ingin menjadi bagian dari kami yang tengah asyik mengobrol.
Tiba-tiba seorang teman menepuk pundaknya, menyadarkan dia dan dia hanya tertawa saja. itu pemandangan aneh sekaligus lucu buatku. Ia memang mempunyai dunianya sendiri.

Mencoba mengingat kembali tentangnya, ia memang teman “aneh” yang hanya satu-satunya pernah ku miliki. Tapi, harus ku akui pada teman seperti itu, kekagumanku karena keanehan yang dimilikinya. Harus ku akui pula kecerdasannya.
Tidak hanya aku, menurut teman-temanku ia adalah salah seorang programmer yang hebat dikantorku.
Dibalik itu, sikapnya yang acuh, jarang bersosialisasi seolah menutup diri menjadi karakter utamanya. 

Kadang seseorang hanya melihat bagaimana karakter seseorang hanya dari kesan pertama bertemu dan menilai tanpa mengenal lebih jauh tentang orang itu.

Temanku itu memang tak peduli dengan lingkungan sekitarnya tapi bukan berarti dia hanya mempedulikan dirinya sendiri. Mungkin, bagi seseorang yang belum mengenalnya lebih dekat akan mudah berpikiran seperti itu.
Bila kau sudah mencoba mengenal lebih dekat dengannya, ia adalah manusia baik sebagai seorang teman. Walaupun tingkahnya menyebalkan, terkadang itu membuatnya terlihat lucu.

Nasihat yang secara tidak langsung pernah ia katakan bahwa aku juga harus mengejar apa yang menjadi keinginanku, yang menjadi bidangku.
Kupikir banyak yang ku pelajari darinya. Salah satunya jangan pernah menyerah untuk menggapai apa yang menjadi cita-citamu. Selain itu, setelah kau mendapatkannya jangan jadikan hal itu beban dihati dan pikiranmu. Tapi, jadikan “aku menyukai pekerjaan itu” maka akan mudah melewati tantangan maupun hambatan yang ada.

_Sekian_

0 komentar:

Posting Komentar