Seorang Programmer
Bagi banyak orang
sudah tak asing lagi dengan kata “programmer”, sebuah profesi dibidang
teknologi dan informasi dimana setiap kurun waktu perkembangannya sudah tak
diragukan lagi.
Namun, ini bukan
tentang ceritaku dan juga bidangku bukan itu. Aku yang sudah belajar dan
menekuni akuntansi sejak pendidikan di sekolah menengah atas hingga perguruan
tinggi, mengagumi profesi seorang programmer.
Bagiku, mereka yang
berkecimpung didunia itu adalah orang-orang hebat dan jenius.
Bagaimana tidak?
Bayangkan, mereka
mampu menciptakan sebuah sistem atau aplikasi yang dapat digunakan dan dimanfaatkan
bagi banyak orang dipenjuru dunia.
Sebagai contoh
“facebook”. Jutaan orang bahkan lebih telah menggunakan facebook, dari usia tua
hingga muda, dari kalangan biasa hingga pejabat tinggi, menjadikan facebook
sebagai media berinteraksi dengan banyak orang dari belahan dunia tanpa perlu
bertatap muka secara langsung.
Tidak hanya
facebook, banyak juga sistem atau aplikasi yang diciptakan oleh anak negeri,
sebuah karya anak bangsa yang tak kalah hebatnya.
Aku mengagumi
profesi yang bukan dibidangku. “Mengagumi”, apakah kau pikir berarti ada rasa
ketertarikan untuk mengenal dan mempelajari itu lebih dalam? atau apakah ada
niat dalam diriku?
Boleh ku katakan
jujur?
Walaupun aku
mengatakan kekagumanku, tak ada rasa ingin mempelajari lebih dalam ataupun lebih
jauh lagi.
lalu, kalau niat?
Jawabanku, ada. Walau hanya sebersit niat kecil dari hatiku.
Kau ingin tau,
sejak kapan rasa kekaguman dalam diriku itu ada?
Ku rasa belum lama,
baru tahun kemarin ketika masih berada dikantor lamaku. Iya, aku pernah bekerja
disebuah perusahaan IT dan mobile solution. Bukan sebuah perusahaan besar
ataupun terkenal. Tapi, dari situlah yang menjadi titik awalku sampai aku
bertemu banyak orang-orang hebat.
Dulu, aku hanya
sekedar tahu tentang IT, tapi ketika menjadi bagian dari perusahaan itu bagiku
IT itu seperti sebuah tongkat sihir. Kau pernah melihat itu di negeri dongeng,
bukan?
Sebelum seorang
peri membaca mantra, mengayunkan hingga mengetukkan tongkat sihir itu, kau akan
lebih dulu terpukau oleh sinarnya.
Benar, aku terpukau
ketika melihat teman-temanku begitu serius didepan layar komputer mengotak-atik
kata demi kata, karakter, kalimat menjadi seperti sebuah rumus layaknya rumus
matematika (tapi, bukan) yang tak ku mengerti. Mungkin, aku hanya bisa melongo
saja.
Mereka menyebutnya
“ngoding”. Dari coding-codingan itu bisa menciptakan sebuah sistem atau
aplikasi siap pakai, yang bisa dipergunakan untuk kepentingan internal ataupun
eksternal perusahaan. Bahkan perusahaan sendiri dapat meraup untung yang tidak
hanya sedikit selain bermanfaat bagi banyak orang.
Apakah kau setuju
denganku, bahwa programmer itu hebat?
Bila ku ingat,
seorang teman pernah berkata “kita programmer, kalau bisa milih engga mau
ngoding karna ngoding itu memusingkan”
Ternyata,
kata-katanya itu benar. Sewaktu kuliah aku pernah belajar “coding” itu walau
hanya dasar. Benar-benar itu sangat memusingkan lebih dari akuntansi.
Aku saja yang
sebagai penonton cukup melihat saja.
Tapi, lain hal
dengan temanku yang satu ini. Cara berpikirnya berbeda. Ku pikir dia adalah
manusia aneh dari planet lain yang menjejakkan kaki ke bumi.
Kala itu tengah
hujan yang cukup deras. Aku dan dia berbincang dan menerobos hujan. Hanya
sekedar pertanyaan spontan, aku bertanya sekaligus menebak bahwa ia akan lebih
memilih mengoding daripada bersenang-senang bersama teman-temannya. Ternyata
dugaanku itu benar. Ia langsung mengiyakan disertai sebuah tawa kecil. Menurut
dia, mengoding itu bukan lagi sekedar kegemarannya tetapi seperti seolah sudah
mendarah daging didalam dirinya.
Dimanapun dan
kapanpun kegemaran itu sudah melekat dalam dirinya. Hal itu pernah terjadi.
Jadi, ada sebuah
ruangan kecil dikantorku yang bisa dikatakan tempat mencari inspirasi,
mengistirahatkan sejenak pikirannya dari kerjaan dan tempat untuk merokok.
Aku pernah
melihatnya, tengah sendiri, seolah menyendiri, laptop dipangkuannya, dengan
kondisi ruangan yang panas tanpa pendingin ruangan sedang mengoding. Tatapan
matanya begitu serius seolah memancarkan ia mencari ketenangan yang ia dapatkan
seorang diri di ruangan itu.
Itu tidak hanya
sekali terjadi. Ada yang berbeda pada hari itu. Seorang temanku tiba-tiba
mengingatkan dia bahwa hari itu adalah hari bersejarahnya. Yang anehnya, ia
sendiri bahkan tak menyadarinya dan melupakan itu. Lalu, melalui inisiatifnya
ia meneraktir kita semua dua kotak paket pizza. Sebagai balasan aku dan
teman-temanku meberikan ucapan selamat atas hari kelahirannya.
Kami pun makan bersama
dalam sebuah ruangan. Namun, ada pemandangan aneh yang menarik perhatianku.
Ditengah
suara-suara antusias pada sebuah pizza, yang sedang ulang tahun malah asyik
sendiri dengan laptopnya sambil menikmati pizza pesanannya tanpa ingin menjadi
bagian dari kami yang tengah asyik mengobrol.
Tiba-tiba seorang
teman menepuk pundaknya, menyadarkan dia dan dia hanya tertawa saja. itu
pemandangan aneh sekaligus lucu buatku. Ia memang mempunyai dunianya sendiri.
Mencoba mengingat
kembali tentangnya, ia memang teman “aneh” yang hanya satu-satunya pernah ku
miliki. Tapi, harus ku akui pada teman seperti itu, kekagumanku karena keanehan
yang dimilikinya. Harus ku akui pula kecerdasannya.
Tidak hanya aku,
menurut teman-temanku ia adalah salah seorang programmer yang hebat dikantorku.
Dibalik itu,
sikapnya yang acuh, jarang bersosialisasi seolah menutup diri menjadi karakter
utamanya.
Kadang seseorang
hanya melihat bagaimana karakter seseorang hanya dari kesan pertama bertemu dan
menilai tanpa mengenal lebih jauh tentang orang itu.
Temanku itu memang
tak peduli dengan lingkungan sekitarnya tapi bukan berarti dia hanya
mempedulikan dirinya sendiri. Mungkin, bagi seseorang yang belum mengenalnya
lebih dekat akan mudah berpikiran seperti itu.
Bila kau sudah
mencoba mengenal lebih dekat dengannya, ia adalah manusia baik sebagai seorang
teman. Walaupun tingkahnya menyebalkan, terkadang itu membuatnya terlihat lucu.
Nasihat yang secara
tidak langsung pernah ia katakan bahwa aku juga harus mengejar apa yang menjadi
keinginanku, yang menjadi bidangku.
Kupikir banyak yang
ku pelajari darinya. Salah satunya jangan pernah menyerah untuk menggapai apa
yang menjadi cita-citamu. Selain itu, setelah kau mendapatkannya jangan jadikan
hal itu beban dihati dan pikiranmu. Tapi, jadikan “aku menyukai pekerjaan itu”
maka akan mudah melewati tantangan maupun hambatan yang ada.
_Sekian_
0 komentar:
Posting Komentar