Mimpi itu
pernah ada
Ketika ingin menulis, aku menemukan sebuah tulisan
yang belum ku terbitkan di blogku,. Sebuah tulisan lama dari kisah lama yang
sudah ku tutup dan ku akhiri.
Tak bermaksud apa-apa, hanya ingin sekedar berbagi
cerita tentang kisah lama itu bagi para pembaca blogku. Ini tentang sebuah
mimpi yang nyata, bukan sebuah bunga tidur belaka.
Aku pernah bermimpi tentang dirimu. Mungkin aku yang
terlalu memikirkanmu hingga sosokmu hadir dalam mimpiku setiap malam.
Aku pernah bermimpi mebuat jarak itu semakin dekat,
membuatmu sedikit saja melihatku walau hanya sekedar melirik.
Aku pernah bermimpi memegang tanganmu walau terpaksa
kulepaskan agar kau tak tahu betapa bahagianya hatiku kala itu.
Aku pernah bermimpi duduk disebelahmu, bercanda dan
tertawa bersama. Namun, lagi-lagi aku harus menahan diri, bersikap seolah-olah
biasa saja, tanpa ada reaksi berlebihan dari sikapku agar kau tak menyadari
perasaan yang menjadi rahasiaku yang kumiliki untukmu.
Aku pernah bermimpi menyentuhmu. Menyentuh keningmu
untuk pertama kali. Apa kau tahu bagaimana rasanya? Apakah seperti rasa
nano-nano? Jantungku bahkan berdebar sangat kuat. Apakah kau bisa mendengarnya?
Aku pernah bermimpi berjalan berdampingan denganmu. Seolah
berimajinasi, ingin ku pegang jemari tanganmu tapi aku malah mengacuhkan
kehadiranmu saat itu.
Aku pernah bermimpi menari bersamamu ditengah hujan.
Ketika itu kita bersama menerjang rintik-rintik hujan. Ada perasaan bahagia
yang tersembunyi. Rasanya ingin ku hentikan waktu agar tak cepat berlalu. Hujan
selalu mengingatkanku kembali tentang dirimu.
Aku pernah bermimpi memelukmu ketika ku harus
menerima kepergianmu yang tak pernah sama sekali ku duga. Aku harus menahan
diriku untuk tetap tegar, tersenyum walaupun hal itu berbanding terbalik dengan
kenyataan. Airmataku dari kelopak mataku seolah ingin jatuh menetes tanpa henti
dan hatiku seolah menangis dengan kepergiannya. Namun, tak bisa ku perlihatkan
itu padamu.
Aku pernah bermimpi menatapmu lebih lama dari
biasanya hanya untuk terakhir kali. Karena aku menyadari esok tak akan ada lagi
kehadiranmu yang akan membuat hari-hariku tampak berbeda. Makhluk seperti
dirimu sudah tak lagi menjadi pelengkap dan pewarna dihidupku.
Aku pernah bermimpi untuk menghentikan langkahmu
yang mulai menjauh dan tak terlihat lagi bayanganmu. Ingin aku berteriak,
memanggil namamu dan menghentikan kamu pergi.
Namun, aku membiarkan waktu yang mengambil alih
peranku. Waktu yang mengambil kesempatan terakhirku yang semestinya ku lakukan
tanpa berpikir panjang tapi, tidak ku lakukan. Aku kalah oleh sang waktu. Tapi,
hati kecilku bertanya “tidak bisakah kau menoleh sekali saja?”
Berat, aku melepaskan kepergianmu yang tiba-tiba
tanpa direncanakan. Sampai detik ini bayangan itu tak pernah sepenuhnya pergi. Bayanganmu
masih disekitarku, membuatku sekali-kali merindukanmu dan menyadari aku belum
melupakan makhluk sepertimu yang pernah membuat jantungku berdebar-debar setiap
kali berada didekatmu.
Kenyataannya saat ini, kini itu hanya sekedar mimpi
masa lalu yang harus ku tutup ceritanya. Waktu tak memberikanku kesempatan
kedua untuk sekedar bertemu denganmu.
Tapi, setidaknya mimpi itu pernah ada. Setidaknya aku
pernah bermimpi tentang sosok yang pernah menyita waktuku walau hanya dengan
memikirkannya saja.
Tapi, pernahkah kau bermimpi menjadi diriku? J
0 komentar:
Posting Komentar