Seseorang selalu ingin didengar dan punya tempat untuk bercerita. Sedang aku memilih berteman dengan sepi. Di satu ruang aku mampu menumpahkan segala lara yg tak mampu kuutarakan lewat kata. Tak apa, karna ini tentang dia yg membuatku jatuh cinta. Kadang kecewa, kadang juga bahagia. Meski dia sering kali menciptakan mendung dan airmata di langitku. Tapi, aku percaya bukankah akan ada pelangi setelahnya?

Sabtu, 13 Mei 2017

Mimpi itu pernah ada

Mei 13, 2017 Posted by Debby Nuramiruddin No comments
Mimpi itu pernah ada



Ketika ingin menulis, aku menemukan sebuah tulisan yang belum ku terbitkan di blogku,. Sebuah tulisan lama dari kisah lama yang sudah ku tutup dan ku akhiri.
Tak bermaksud apa-apa, hanya ingin sekedar berbagi cerita tentang kisah lama itu bagi para pembaca blogku. Ini tentang sebuah mimpi yang nyata, bukan sebuah bunga tidur belaka.

Aku pernah bermimpi tentang dirimu. Mungkin aku yang terlalu memikirkanmu hingga sosokmu hadir dalam mimpiku setiap malam.
Aku pernah bermimpi mebuat jarak itu semakin dekat, membuatmu sedikit saja melihatku walau hanya sekedar melirik.
Aku pernah bermimpi memegang tanganmu walau terpaksa kulepaskan agar kau tak tahu betapa bahagianya hatiku kala itu.
Aku pernah bermimpi duduk disebelahmu, bercanda dan tertawa bersama. Namun, lagi-lagi aku harus menahan diri, bersikap seolah-olah biasa saja, tanpa ada reaksi berlebihan dari sikapku agar kau tak menyadari perasaan yang menjadi rahasiaku yang kumiliki untukmu.
Aku pernah bermimpi menyentuhmu. Menyentuh keningmu untuk pertama kali. Apa kau tahu bagaimana rasanya? Apakah seperti rasa nano-nano? Jantungku bahkan berdebar sangat kuat. Apakah kau bisa mendengarnya?
Aku pernah bermimpi berjalan berdampingan denganmu. Seolah berimajinasi, ingin ku pegang jemari tanganmu tapi aku malah mengacuhkan kehadiranmu saat itu.
Aku pernah bermimpi menari bersamamu ditengah hujan. Ketika itu kita bersama menerjang rintik-rintik hujan. Ada perasaan bahagia yang tersembunyi. Rasanya ingin ku hentikan waktu agar tak cepat berlalu. Hujan selalu mengingatkanku kembali tentang dirimu.
Aku pernah bermimpi memelukmu ketika ku harus menerima kepergianmu yang tak pernah sama sekali ku duga. Aku harus menahan diriku untuk tetap tegar, tersenyum walaupun hal itu berbanding terbalik dengan kenyataan. Airmataku dari kelopak mataku seolah ingin jatuh menetes tanpa henti dan hatiku seolah menangis dengan kepergiannya. Namun, tak bisa ku perlihatkan itu padamu.
Aku pernah bermimpi menatapmu lebih lama dari biasanya hanya untuk terakhir kali. Karena aku menyadari esok tak akan ada lagi kehadiranmu yang akan membuat hari-hariku tampak berbeda. Makhluk seperti dirimu sudah tak lagi menjadi pelengkap dan pewarna dihidupku.
Aku pernah bermimpi untuk menghentikan langkahmu yang mulai menjauh dan tak terlihat lagi bayanganmu. Ingin aku berteriak, memanggil namamu dan menghentikan kamu pergi.
Namun, aku membiarkan waktu yang mengambil alih peranku. Waktu yang mengambil kesempatan terakhirku yang semestinya ku lakukan tanpa berpikir panjang tapi, tidak ku lakukan. Aku kalah oleh sang waktu. Tapi, hati kecilku bertanya “tidak bisakah kau menoleh sekali saja?”
Berat, aku melepaskan kepergianmu yang tiba-tiba tanpa direncanakan. Sampai detik ini bayangan itu tak pernah sepenuhnya pergi. Bayanganmu masih disekitarku, membuatku sekali-kali merindukanmu dan menyadari aku belum melupakan makhluk sepertimu yang pernah membuat jantungku berdebar-debar setiap kali berada didekatmu.
Kenyataannya saat ini, kini itu hanya sekedar mimpi masa lalu yang harus ku tutup ceritanya. Waktu tak memberikanku kesempatan kedua untuk sekedar bertemu denganmu.
Tapi, setidaknya mimpi itu pernah ada. Setidaknya aku pernah bermimpi tentang sosok yang pernah menyita waktuku walau hanya dengan memikirkannya saja.

Tapi, pernahkah kau bermimpi menjadi diriku? J



Note : Oktober 2016

0 komentar:

Posting Komentar