Mungkinkah ada kisah untuk kita tanpa
mempedulikan perbedaan?
Aku terbangun. Ku lihat alarm diatas meja, jam masih menunjukkan
pukul 2 pagi. Tidurku terasa tak begitu nyenyak. Pikiranku seakan menerawang,
mengingat percakapanku dengannya semalam.
Aku menghela nafas dan menghembuskannya.
Entahlah.
Sebuah cairan keluar dari mataku, tiba-tiba menetes jatuh dipipiku.
Percakapan denganmu, membuat sesak didada. Kau tau, bagaimana bisa
melepaskan jika kau sendiri tak ingin melepaskan.
Apakah mesti ku lakukan padahal ku tak ingin?
Apa yang sudah ku gengam erat, kini harus ku lepaskan bukan tanpa
alasan tapi perbedaan yang mungkin menentang kisah ini.
Perbedaan? Apakah hal itu yang menjadi penghalang kisah diantara
kita?
Walau tak ingin, tapi apakah perbedaan itu akan tetap memaksa
tanpa memikirkan bahwa akan ada hati yang terluka.
Siapa yang menginginkan perbedaan kalau perbedaan itu hanya
membuatmu dan dia menjauh, menjadi tembok penghalang yang tak mudah kau
hancurkan, membuatmu berpikir mungkinkah ada kisah untukmu dan dirinya,
membuatmu tak lagi bisa disisinya di waktu yang ada.
Apakah tuhan sudah menakdirkannya? Atau apakah kita sendiri yang
menginginkan perbedaan itu?
Bukan keinginanku memiliki mata yang besar, warna kulit sawo
matang dan islam yang ku yakini menjadi keyakinanku.
Apakah aku yang memilih dari mana ku berasal, di keluarga apa ku
dilahirkan, dan keyakinan yang ku miliki.
Lalu, bagaimana dengannya? Apakah menjadi salahnya memiliki mata
yang sipit dengan warna kulit kuning langsat?
Apakah itu menjadi salah kita berdua? Sehingga perbedaan seperti
itu membuat kita sulit bersama walau keyakinan kita sama?
Sehingga tak mudah meruntuhkan pemikiran-pemikiran mereka yang
meyakini bahwa hal seperti itu tak mungkin dapat diwujudkan, tak mungkin untuk
bersama.
Bukankah semua itu adalah warisan yang telah digariskan Tuhan?
Lalu bagaimana itu menjadi sebuah masalah bagi sebagian orang?
Ketika itu menjadi masalah, waktu dan perasaan yang dipertaruhkan.
Tak peduli seberapa besar keinginan untuk bersama selamanya, tak peduli
seberapa kuat perjuangan yang dilakukan, tetap saja perbedaan menjadi
penghalang.
Lalu, kalau begitu apakah sudah seharusnya menyerah saja? Yang
artinya aku akan merasakan kehilangan. Kata-kata “kehilangan” membuat dadaku
semakin sesak dan tanpa sadar airmata jatuh tanpa henti.
Baru memikirkannya saja, hal yang belum terjadi membuatku sulit
untuk melupakan.
Apakah aku benar-benar harus melepaskan hal yang tak ingin ku
lepaskan? Walaupun terpaksa, harus ku lakukan.
Apakah begitu yang benar?
Atau apakah aku harus berdiam diri dan menunggu takdirku
diputuskan? Dan apakah hal seperti itu yang salah?
Bimbang dan ragu yang terpendam didalam hati. Saat hati tak
sejalan dengan pikiran dan kenyataan.
Apakah aku sanggup membiarkan dia pergi walau sebenarnya hati tak
ingin.
Apakah aku dapat menghadapi dan melewati mereka yang memandang dan
beranggapan perbedaan tak mungkin bersama?
Apakah dia tahu, ketika memikirkan hal ini sangat menyakitkan hati.
Padahal aku tetap ingin bertahan dan membagi duniaku sepenuhnya
hanya untuk dirinya.
Lalu mengapa aku ragu? Aku takut saat kau lelah berjuang denganku,
kau akan memilih perbedaan itu dan pergi meninggalkanku dengan rasa yang sudah
terlanjur mendalam.
Airmataku jatuh tak terbendung. Sungguh, sungguh, aku tak ingin
hal yang ku takutkan terjadi.
Kau pasti bertanya, lantas bagaimana dengan dirinya? Apakah hanya
aku saja yang merasakan?
Kau salah besar. Jauh sebelum kisah ini dimulai, ia lah yang jauh
lebih dulu memikirkannya. Dulu, tekad untuk terus bersamaku belum pernah
terpikirkan.
Namun, suatu hari kau membuatku tertegun dengan kata-kata spontan
yang tercetus dari mulutmu.
Kau ingin membina hubungan ke jenjang yang lebih serius dan
menjalaninya bersamaku.
Sungguh, secepat itu pikiran itu terlintas dipikiranmu dan
terbesit dihatimu.
Tak pernah terduga olehku dan diam-diam tanpa sengaja hatiku
bahagia mendengarnya. Walaupun kau sendiri tahu sebuah perjuangan keras perlu
kita lakukan untuk menepis bahwa perbedaan tak memungkinkan untuk bersama.
Ketika raut wajahku malah menyinarkan sebuah keraguan, membuat
dirimu lemas, tak bisa berkata, pikiran bercampur aduk, bahkan pikiran untuk
berpisah adalah hal yang membuat matamu berkaca-kaca dan meneteskan airmata
didepanku. Walau kau berusaha tegar namun rasa kekhawatiran dihatimu jauh lebih
bersar sehingga membuat tangismu pecah.
Sebesar itukah rasa ingin bersamaku?
Sebesar itukah rasa cinta yang kau miliki terhadapku?
Seorang gadis yang tak secantik putri di negeri dongeng, seorang
gadis yang jauh dari kesempurnaan.
Kau menangisi hanya untuk gadis seperti itu.
Lalu, kau beranggapan bahwa yang merasakan rasa cinta itu hanya
dirimu seorang sehingga dengan mudahnya aku merasa ragu untuk terus bersama
denganmu.
Langsung ku dekap wajahmu ke dalam pelukanku.
Apakah hal itu bisa menjadi alasan untuk menepis anggapanmu yang
salah?
Sudah pernah ku katakana, aku jatuh cinta padamu dan akan selalu
cinta dan terus cinta padamu.
Selama kita masih ingin bersama, selama rasa itu masih ada di hati
tanpa berkurang sedikit pun, walau kau begitu menyebalkan namun aku tetap saja
merindukanmu, selama itu masih ada, kisa itu masih dituliskan.
Tuhan yang mengatur scenario ini, maka Tuhan pula yang menuliskan
akhir dari cerita ini.
Hatiku selalu berkata, “Tuhan, ijinkan aku merasakan cinta yang
seperti ini”
“Utuhkan selalu hatinya hanya untuk diriku”
“Aku hanya ngin merasakan lebih lama lagi hidup bersama dengannya”
Aku tak tahu skenario seperti apa yang Tuhan rencanakan. Dapat
melewati hari-hari bersamamu di sepanjang usiaku, sesederhana itulah
permintaanku padaNya.
Bukan hanya sebatas harapan, namun bisa menjadi sebuah kenyataan
itu yang aku dan ia nantikan.
0 komentar:
Posting Komentar