Origami
Kala itu, sebuah kertas tissue kau lipat menjadi lipatan-lipatan
dan terbentuk sebuah burung bangau yang indah. Dengan mudahnya jari-jari
tanganmu merangkai menjadi sebuah origami indah, walau hanya terbuat dari
kertas tissue. Tanpa sengaja dan ingin membuatkannya, kau memberikannya padaku.
Sungguh hal kecil seperti itu pun tak membuatku mampu melupakan tentang dirimu.
Masih ingatkah kau?
Tahukah kamu, tanpa perlu kau tahu, aku yang bodoh ini masih
menyimpan karya seni tanganmu yang indah. Setiap kali melihatnya, selalu saja
teringat dirimu.
Ku tanyakan pada bangau kertas itu, “Hei, apa kabarnya penciptamu
itu? Apakah ia sedang terbang bebas disana dan telah melupakanku?”
Bahkan bangau kertas itu tak mempunyai jawaban, ia tak tahu
keberadaanmu.
Saat tak mendapatkan jawaban, ku katakan lagi pada bangau
kertas itu, “Aku merindukannya..”
Aku tahu ungkapanku itu pun tak akan mendapat sebuah jawaban.
Kalau saja mengungkapkan rasa semudah melipat kertas, semudah
membuat origami, tak tahu seberapa banyak kertas lipat yang telah ku buat
menjadi origami. Sebanyak itulah aku merindukan dirimu.
Dapatkah kau merasakannya bahkan dari kejauhan?
Walau jarak kini memisahkan, tetap saja pikiranku dan arahku masih
tertuju padamu. Berat hati ku katakan, aku belum bisa melupakan, masih dengan
perasaan yang sama, menyukaimu.
Kalau saja melupakanmu semudah melipat origami, mungkin sudah
sejak lama aku mampu menghapus rasa itu tanpa ada bekas.
Namun pada kenyataannya, kepergianmu tak juga menyadarkanku, aku
masih ditempat yang sama, merindukanmu tanpa batas. Dikehidupanku kini, tanpa
keberadaanmu, tak terasa seistimewa saat senyum dan tawamu masih dapat ku lihat.
Dipagi hari mentari tersenyum bersinar, langit kebiru-biruan
tampak cerah, namun, tanpa keberadaanmu, itu tidaklah berarti apa-apa untukku.
Hari-hariku terasa tak sempurna tanpa melihat wajah sendumu,
mendengar tawa dan candamu. Mengetahui keberadaanmu saja sudah cukup buatku.
Melihatmu saja sudah membuatku bahagia. Aku menjadi manusia paling
bersyukur dibumi ini. Ketika orang lain banyak meminta, maka permintaanku
sederhana, bisa selalu melihatnya setiap hari, itu sudah lebih dari cukup.
Bukankah bahagia sesederhana itu? Apa yang lebih menyenangkan dari mendapatkan
bahagia yang sederhana? ^_^
Tetapi semua itu pupus. Kehidupan tak selamanya berpihak kepadaku.
Tanpa belas kasihan takdir membuatku semakin jauh darimu. Apakah takdir
bertanya bagaimana perasaanku? apakah aku tidak suka? Takdir bahkan basa-basi
menyapa pun tidak. Tidak peduli bagaimana perasaanmu, terima ataupun tidak,
yang terjadi begitulah terjadi. Itulah takdir yang memutuskan. Keberadaanmu tak
lagi bisa ku rasakan. Radar dikepalaku tak mampu menangkap sinyal keberadaanmu.
Sepi, aku merasa sepi tanpa kehadiranmu. Walaupun kau menjadi
makhluk paling menyebalkan, namun kau makhluk yang paling ku rindukan.
Apakah aku perlu melipat kertas dan membentuknya menjadi sebuah
origami untuk menyampaikan perasaanku untukmu?
Butuh berapa banyak kertas lipat yang kubutuhkan untuk ku bentuk
menjadi origami? Bila rasa rinduku tak dapat ku ukur?
Andaikan mengungkapkan rasa itu semudah melipat kertas, aku akan
membentuk seribu lipatan kertas menjadi origami bangau hanya untuk menyampaikan
perasaanku terhadapmu.
Tapi, itu hanyalah pengandaian yang kau sendiri pun tahu
jawabannya.
0 komentar:
Posting Komentar