Seseorang selalu ingin didengar dan punya tempat untuk bercerita. Sedang aku memilih berteman dengan sepi. Di satu ruang aku mampu menumpahkan segala lara yg tak mampu kuutarakan lewat kata. Tak apa, karna ini tentang dia yg membuatku jatuh cinta. Kadang kecewa, kadang juga bahagia. Meski dia sering kali menciptakan mendung dan airmata di langitku. Tapi, aku percaya bukankah akan ada pelangi setelahnya?

Senin, 07 November 2016

Origami

November 07, 2016 Posted by Debby Nuramiruddin No comments

Origami


Kala itu, sebuah kertas tissue kau lipat menjadi lipatan-lipatan dan terbentuk sebuah burung bangau yang indah. Dengan mudahnya jari-jari tanganmu merangkai menjadi sebuah origami indah, walau hanya terbuat dari kertas tissue. Tanpa sengaja dan ingin membuatkannya, kau memberikannya padaku. Sungguh hal kecil seperti itu pun tak membuatku mampu melupakan tentang dirimu.

Masih ingatkah kau?

Tahukah kamu, tanpa perlu kau tahu, aku yang bodoh ini masih menyimpan karya seni tanganmu yang indah. Setiap kali melihatnya, selalu saja teringat dirimu.
Ku tanyakan pada bangau kertas itu, “Hei, apa kabarnya penciptamu itu? Apakah ia sedang terbang bebas disana dan telah melupakanku?”

Bahkan bangau kertas itu tak mempunyai jawaban, ia tak tahu keberadaanmu.
Saat tak mendapatkan jawaban, ku katakan lagi pada bangau kertas  itu, “Aku merindukannya..”
Aku tahu ungkapanku itu pun tak akan mendapat sebuah jawaban.
Kalau saja mengungkapkan rasa semudah melipat kertas, semudah membuat origami, tak tahu seberapa banyak kertas lipat yang telah ku buat menjadi origami. Sebanyak itulah aku merindukan dirimu.

Dapatkah kau merasakannya bahkan dari kejauhan?

Walau jarak kini memisahkan, tetap saja pikiranku dan arahku masih tertuju padamu. Berat hati ku katakan, aku belum bisa melupakan, masih dengan perasaan yang sama, menyukaimu.

Kalau saja melupakanmu semudah melipat origami, mungkin sudah sejak lama aku mampu menghapus rasa itu tanpa ada bekas.
Namun pada kenyataannya, kepergianmu tak juga menyadarkanku, aku masih ditempat yang sama, merindukanmu tanpa batas. Dikehidupanku kini, tanpa keberadaanmu, tak terasa seistimewa saat senyum dan tawamu masih dapat ku lihat.

Dipagi hari mentari tersenyum bersinar, langit kebiru-biruan tampak cerah, namun, tanpa keberadaanmu, itu tidaklah berarti apa-apa untukku.
Hari-hariku terasa tak sempurna tanpa melihat wajah sendumu, mendengar tawa dan candamu. Mengetahui keberadaanmu saja sudah cukup buatku.

Melihatmu saja sudah membuatku bahagia. Aku menjadi manusia paling bersyukur dibumi ini. Ketika orang lain banyak meminta, maka permintaanku sederhana, bisa selalu melihatnya setiap hari, itu sudah lebih dari cukup. Bukankah bahagia sesederhana itu? Apa yang lebih menyenangkan dari mendapatkan bahagia yang sederhana? ^_^

Tetapi semua itu pupus. Kehidupan tak selamanya berpihak kepadaku. Tanpa belas kasihan takdir membuatku semakin jauh darimu. Apakah takdir bertanya bagaimana perasaanku? apakah aku tidak suka? Takdir bahkan basa-basi menyapa pun tidak. Tidak peduli bagaimana perasaanmu, terima ataupun tidak, yang terjadi begitulah terjadi. Itulah takdir yang memutuskan. Keberadaanmu tak lagi bisa ku rasakan. Radar dikepalaku tak mampu menangkap sinyal keberadaanmu.
Sepi, aku merasa sepi tanpa kehadiranmu. Walaupun kau menjadi makhluk paling menyebalkan, namun kau makhluk yang paling ku rindukan.

Apakah aku perlu melipat kertas dan membentuknya menjadi sebuah origami untuk menyampaikan perasaanku untukmu?
Butuh berapa banyak kertas lipat yang kubutuhkan untuk ku bentuk menjadi origami? Bila rasa rinduku tak dapat ku ukur?

Andaikan mengungkapkan rasa itu semudah melipat kertas, aku akan membentuk seribu lipatan kertas menjadi origami bangau hanya untuk menyampaikan perasaanku terhadapmu.
Tapi, itu hanyalah pengandaian yang kau sendiri pun tahu jawabannya. 

0 komentar:

Posting Komentar