Seseorang selalu ingin didengar dan punya tempat untuk bercerita. Sedang aku memilih berteman dengan sepi. Di satu ruang aku mampu menumpahkan segala lara yg tak mampu kuutarakan lewat kata. Tak apa, karna ini tentang dia yg membuatku jatuh cinta. Kadang kecewa, kadang juga bahagia. Meski dia sering kali menciptakan mendung dan airmata di langitku. Tapi, aku percaya bukankah akan ada pelangi setelahnya?

Rabu, 09 November 2016

Setiap hari terasa sama

November 09, 2016 Posted by Debby Nuramiruddin No comments

Setiap hari terasa sama


Apa yang lebih indah melihat mentari dipagi hari bersinar seakan tersenyum padamu? Sinar teriknya yang membangunkanmu dari balik jendela kamarmu.
Apa yang lebih indah masih bisa melihat langit yang berwarna biru kecerahan?
Dan apa yang lebih indah masih bisa diberi kesempatan menghirup udara namun kau masih belum bersyukur? Bukankah itu termasuk nikmat dari tuhan?
Bukankah kau semestinya menikmati harimu selagi Tuhan memberikan nikmat yang sesederhana itu?
Masihkah kau terus mengeluh? Tidakkah kau malu pada matahari dengan wajahmu yang ditekuk seperti itu?
Apakah hanya karena sesuatu atau seseorang membuatmu enggan menjalani kehidupan? Membuatmu terhenti seolah jarum jam ikut berhenti dan kau tidak tau apa yang mesti dilakukan esok, lusa dan seterusnya?
Bukankah keluarga dan teman-teman terdekatmu bisa menjadi alasan kau bertahan, tersenyum setiap pagi datang?
Apakah kepergian seseorang meruntuhkan duniamu? Lalu kau menjadi seorang tanpa tujuan dan kehidupan hanya sekedar kehidupan saja, tak berarti apa-apa buatmu?

Buang jauh-jauh pikiran seperti itu. Bahagia itu sederhana. Kehadiran keluarga dan orang-orang yang menyayangimu selalu berada disampingmu, bukankah itu sudah cukup?
Bila kepergian salah seorang dari mereka, apakah itu berarti orang lain juga akan pergi meninggalkanmu?
Kenapa harus mengkhawatirkan seseorang yang bahkan memikirkanmu saja tidak? Kenapa harus membuang-buang waktu berhargamu hanya untuk memikirkan orang seperti itu?
Apakah kau tidak mempunyai kesibukkan lain selain memikirkan hal yang tidak berguna?


Tapi, apakah salah bila menempatkan seseorang sebagai penyemangatmu menyambut pagi hari? pemanis hari-harimu yang biasa saja menjadi sesuatu yang istimewa karena dia?
Apakah salah bila dia dijadikan alasan kau bergegas bahkan terburu-buru berangkat ke kantor lalu semua itu terbayar setelah melihat kehadirannya yang membuatmu senyum-senyum sendiri?
Hal itu sangatlah sederhana, cukup melihatnya duduk ditempatnya tanpa ucapan selamat pagi darinya. 

Tapi, bukankah itu sama saja terlihat bodoh?

Seperti rutinitas harimu yang terjadi setiap hari bahkan sama sekali tak terasa membosankan.

Lalu bagaimana bila takdir berkata lain? Bagaimana takdir tanpa basa-basi dahulu merampasnya dari hidupmu? Membuat jarak antara dia dan dirimu dari semakin dekat menjadi semakin jauh?
Apakah itu membuat hidupmu seketika berakhir? Tidakkah itu berlebihan?
Tidak bisakah kau melanjutkan hidupmu, mencapai cita-citamu dan melupakan kenangan itu?
Tidak bisakah kau tidak mengeluh hanya karena tak lagi kau rasakan kehadirannya didekatmu, tak lagi bisa kau dengar suaranya, dan tak lagi bisa kau lihat wajah bahkan senyumnya.
Tidak bisakah kau melupakan semuanya dan membuka lembar hidupmu yang baru? Tak perlu begitu terhanyut terlalu dalam dan melupakan bahwa kau masih mempunyai keluarga dan teman-teman yang menyayangimu. Bahkan Tuhan pun akan selalu setia bersamamu walau tanpa kau pinta.
Apakah tuhan perlu mengetuk keningmu untuk mengingatkanmu?
Atau Tuhan perlu menamparmu untuk menyadarkanmu dari mimpi-mimpimu yang telah usai itu?


Aku bukannya tidak bersyukur atas nikmat yang diberikan Tuhan. Aku bukannya tidak menghargainya memberikan keluarga dan teman-teman yang menyayangiku.
Dan aku bukannya menyalahkan Tuhan atas kepergiannya yang secara tiba-tiba merubah hidupku.
Aku bahkan berterimakasih padaNya karena ia memberikanku kesempatan mengenal makhluknya yang lain. Memberikanku kenangan telah melewatkan hari-hariku bersamanya.
Namun yang ku kesalkan adalah waktu yang terasa singkat. Aku masih butuh waktu sehari lagi, tidak! seminggu lagi, tidak! sebulan lagi, tidak! lebih lama lagi untuk berbagi duniaku bersamanya sebelum Tuhan menakdirkan sebuah perpisahan.
Cuma itu yang kubutuhkan, waktu yang lebih lama lagi. Setelah itu aku tidak peduli bila Tuhan tidak menakdirkanku bertemunya lagi.

Waktu yang terlalu singkat itu, membuatku belum bisa beranjak dari ingatan-ingatan masa lalu. Bukannya terpuruk dan mengabaikan masa depan, hanya saja apakah salah bila mengingat masa lalumu yang begitu indah tanpa ada keinginan untuk melupakan atau menghapusnya? Bukankah masa lalu dijadikan sebagai pembelajaran untuk menyambut masa depan? Dan bukankah akan ada hikmah dari setiap peristiwa yang telah terjadi?
Menurutku, kenangan dimasa lalu bukanlah untuk dilupakan tapi, untuk dikenang. Dan apakah aku tidak boleh berharap pada takdir? Bahwa bila dipertemukan kembali dengannya, banyak yang ingin ku tanyakan.

“Hai, bagaimana kabarmu?”
“Apakah semua baik-baik saja? Apakah harimu menyenangkan?”
“Apakah kau lelah?”

Hanya pertanyaan-pertanyaan sederhana seperti itu. Mulutku bahkan tak akan mampu mengucapkan “apakah kau tidak merindukanku? Aku sangat merindukanmu” bila ia dihadapanku kini.
Bagiku, setiap hari terasa sama. Tak ada bedanya. Ketika masih bisa kurasakan kehadirannya, hariku tidaklah terasa sama.
Senin, selasa, rabu, kamis, jumat, hal yang ku lakukan bersamanya, saling menyapa, berbicara, mengganggunya yang sedang serius, membuatnya merasa jengkel, tertawa bersama dan terkadang, bukan! sering ia bersikap menyebalkan padaku.
Itulah keseharian yang kujalani ketika dia didekatku. Dan aku merindukan kebiasan-kebiasan kecil seperti itu.
Bukankah benar hal kecil adalah hal yang paling sulit dilupakan?
Iya, aku masih belum bisa melupakan makhluk seperti dia. Seolah masih mencari keberadaannya, aku bahkan melupakan sekellilingku.
Aku memang salah. Terlalu memikirkannya tak akan membuatnya kembali bukan?

Senin, aku masih menunggunya.
Selasa, aku bahkan masih menunggu untuk melihatnya kembali, menunggu kabar bahwa ia baik-baik saja.
Rabu, kau masih tidak ada disini, bahkan di pagi hari, atau pada saat hari sudah gelap.
Kamis, tempat itu sudah kosong. Tak lagi ku lihat sosok makhluk sepertimu tengah duduk disitu.
Jumat, sabtu atau bahkan minggu, aku masih tidak bisa menemukan bayanganmu. 

Dan tidak ada satu pun hari dimana aku tidak merindukanmu.
Dan tidak ada satu pun hari dimana akan membuatmu menoleh dan kembali ke hari-hari yang telah berlalu saat masih bersamaku.
Hari dimana aku bertemu denganmu, Hari dimana aku mulai dekat denganmu. Hari dimana kau menyentuh keningku, membuatku serasa melayang diudara, membuatku senyum-senyum seperti orang gila.
Hari dimana berbicara denganmu, Hari dimana kau mendengarkanku, sampai timbul pertanyaan, sampai kapan akan seperti ini? aku sendiri tidak tahu jawabannya.

Berapa banyak bulan atau tahun, berapa banyak jutaan memori kita yang lalu yang aku tidak pernah tidak merindukanmu.
Bulan Juli telah berlalu semenjak kepergianmu.
Agustus pun telah berlalu tanpa kehadiranmu lagi dihidupku.
September, aku kehilangan harapanku untuk bisa bertemu denganmu lagi.
Oktober, terasa tidak mudah melewatkan hari tanpa dirimu didalamnya.
November, terasa kosong.
Jika kau bertanya, Butuh berapa lama akan seperti ini? aku juga tidak tahu.
Jawaban yang ku tahu, tidak ada hari aku tidak merindukannya. Benar, aku sangat merindukan makhluk itu.

Mengatakan padanya kalau aku merindukannya? Kenapa aku begitu malu hanya untuk menanyakan kabarnya? Mengapa aku begitu malu untuk mengetik pesan singkat dan mengirimkan padanya?
Karena aku takut ia memikirkan yang aneh-aneh ketika sebuah nada pesan handphonenya berbunyi dan terlihat itu adalah pesan singkat dariku.
Aku tidak ingin membayangkan reaksi wajahnya itu. Bukahkah rasa takutku itu terlalu berlebihan?
Ia tidak mungkin akan langsung membenciku kan hanya karena sapaan pesan singkatku padanya?
Aku berhubungan baik dengannya. Walau usia pertemanan kita begitu singkat, tapi ia merupakan salah satu teman langka dari daftar teman yang ku punya.

Jika aku mempunyai kesempatan, aku ingin mengatakan perasaanku sesungguhnya padanya.
Bahwa aku sudah lama diam-diam menatapnya, melihat ke arahnya.
Jika saja ia melihatku dan mengatakan apa yang ia pikirkan, mungkin saat itu aku akan mempunyai keberanian dan menyingkirkan rasa takutku itu.
Aku hanya berharap sebuah kemungkinan walaupun itu kecil, aku ingin kembali bertemu dengannya.
Aku tidak meminta banyak pada Tuhan. Dimana pun ia berada, semoga ia baik-baik saja dan hari-harinya menyenangkan.
Itu saja permintaanku kepada Tuhan.

0 komentar:

Posting Komentar