Setiap hari terasa
sama
Apa yang lebih indah melihat mentari dipagi
hari bersinar seakan tersenyum padamu? Sinar teriknya yang membangunkanmu dari
balik jendela kamarmu.
Apa yang lebih indah masih bisa melihat langit
yang berwarna biru kecerahan?
Dan apa yang lebih indah masih bisa diberi
kesempatan menghirup udara namun kau masih belum bersyukur? Bukankah itu
termasuk nikmat dari tuhan?
Bukankah kau semestinya menikmati harimu selagi
Tuhan memberikan nikmat yang sesederhana itu?
Masihkah kau terus mengeluh? Tidakkah kau malu
pada matahari dengan wajahmu yang ditekuk seperti itu?
Apakah hanya karena sesuatu atau seseorang
membuatmu enggan menjalani kehidupan? Membuatmu terhenti seolah jarum jam ikut
berhenti dan kau tidak tau apa yang mesti dilakukan esok, lusa dan seterusnya?
Bukankah keluarga dan teman-teman terdekatmu
bisa menjadi alasan kau bertahan, tersenyum setiap pagi datang?
Apakah kepergian seseorang meruntuhkan duniamu?
Lalu kau menjadi seorang tanpa tujuan dan kehidupan hanya sekedar kehidupan
saja, tak berarti apa-apa buatmu?
Buang jauh-jauh pikiran seperti itu. Bahagia
itu sederhana. Kehadiran keluarga dan orang-orang yang menyayangimu selalu
berada disampingmu, bukankah itu sudah cukup?
Bila kepergian salah seorang dari mereka,
apakah itu berarti orang lain juga akan pergi meninggalkanmu?
Kenapa harus mengkhawatirkan seseorang yang
bahkan memikirkanmu saja tidak? Kenapa harus membuang-buang waktu berhargamu
hanya untuk memikirkan orang seperti itu?
Apakah kau tidak mempunyai kesibukkan lain
selain memikirkan hal yang tidak berguna?
Tapi, apakah salah bila menempatkan seseorang
sebagai penyemangatmu menyambut pagi hari? pemanis hari-harimu yang biasa saja
menjadi sesuatu yang istimewa karena dia?
Apakah salah bila dia dijadikan alasan kau
bergegas bahkan terburu-buru berangkat ke kantor lalu semua itu terbayar
setelah melihat kehadirannya yang membuatmu senyum-senyum sendiri?
Hal itu sangatlah sederhana, cukup melihatnya
duduk ditempatnya tanpa ucapan selamat pagi darinya.
Tapi, bukankah itu sama saja terlihat bodoh?
Seperti rutinitas harimu yang terjadi setiap
hari bahkan sama sekali tak terasa membosankan.
Lalu bagaimana bila takdir berkata lain?
Bagaimana takdir tanpa basa-basi dahulu merampasnya dari hidupmu? Membuat jarak
antara dia dan dirimu dari semakin dekat menjadi semakin jauh?
Apakah itu membuat hidupmu seketika berakhir?
Tidakkah itu berlebihan?
Tidak bisakah kau melanjutkan hidupmu, mencapai
cita-citamu dan melupakan kenangan itu?
Tidak bisakah kau tidak mengeluh hanya karena
tak lagi kau rasakan kehadirannya didekatmu, tak lagi bisa kau dengar suaranya,
dan tak lagi bisa kau lihat wajah bahkan senyumnya.
Tidak bisakah kau melupakan semuanya dan
membuka lembar hidupmu yang baru? Tak perlu begitu terhanyut terlalu dalam dan
melupakan bahwa kau masih mempunyai keluarga dan teman-teman yang menyayangimu.
Bahkan Tuhan pun akan selalu setia bersamamu walau tanpa kau pinta.
Apakah tuhan perlu mengetuk keningmu untuk
mengingatkanmu?
Atau Tuhan perlu menamparmu untuk menyadarkanmu
dari mimpi-mimpimu yang telah usai itu?
Aku bukannya tidak bersyukur atas nikmat yang
diberikan Tuhan. Aku bukannya tidak menghargainya memberikan keluarga dan
teman-teman yang menyayangiku.
Dan aku bukannya menyalahkan Tuhan atas
kepergiannya yang secara tiba-tiba merubah hidupku.
Aku bahkan berterimakasih padaNya karena ia
memberikanku kesempatan mengenal makhluknya yang lain. Memberikanku kenangan
telah melewatkan hari-hariku bersamanya.
Namun yang ku kesalkan adalah waktu yang terasa
singkat. Aku masih butuh waktu sehari lagi, tidak! seminggu lagi, tidak!
sebulan lagi, tidak! lebih lama lagi untuk berbagi duniaku bersamanya sebelum
Tuhan menakdirkan sebuah perpisahan.
Cuma itu yang kubutuhkan, waktu yang lebih lama
lagi. Setelah itu aku tidak peduli bila Tuhan tidak menakdirkanku bertemunya
lagi.
Waktu yang terlalu singkat itu, membuatku belum
bisa beranjak dari ingatan-ingatan masa lalu. Bukannya terpuruk dan mengabaikan
masa depan, hanya saja apakah salah bila mengingat masa lalumu yang begitu
indah tanpa ada keinginan untuk melupakan atau menghapusnya? Bukankah masa lalu
dijadikan sebagai pembelajaran untuk menyambut masa depan? Dan bukankah akan
ada hikmah dari setiap peristiwa yang telah terjadi?
Menurutku, kenangan dimasa lalu bukanlah untuk
dilupakan tapi, untuk dikenang. Dan apakah aku tidak boleh berharap pada
takdir? Bahwa bila dipertemukan kembali dengannya, banyak yang ingin ku
tanyakan.
“Hai, bagaimana kabarmu?”
“Apakah semua baik-baik saja? Apakah harimu
menyenangkan?”
“Apakah kau lelah?”
Hanya pertanyaan-pertanyaan sederhana seperti
itu. Mulutku bahkan tak akan mampu mengucapkan “apakah kau tidak merindukanku?
Aku sangat merindukanmu” bila ia dihadapanku kini.
Bagiku, setiap hari terasa sama. Tak ada
bedanya. Ketika masih bisa kurasakan kehadirannya, hariku tidaklah terasa sama.
Senin, selasa, rabu, kamis, jumat, hal yang ku
lakukan bersamanya, saling menyapa, berbicara, mengganggunya yang sedang
serius, membuatnya merasa jengkel, tertawa bersama dan terkadang, bukan! sering
ia bersikap menyebalkan padaku.
Itulah keseharian yang kujalani ketika dia
didekatku. Dan aku merindukan kebiasan-kebiasan kecil seperti itu.
Bukankah benar hal kecil adalah hal yang paling
sulit dilupakan?
Iya, aku masih belum bisa melupakan makhluk
seperti dia. Seolah masih mencari keberadaannya, aku bahkan melupakan
sekellilingku.
Aku memang salah. Terlalu memikirkannya tak
akan membuatnya kembali bukan?
Senin, aku masih menunggunya.
Selasa, aku bahkan masih menunggu untuk
melihatnya kembali, menunggu kabar bahwa ia baik-baik saja.
Rabu, kau masih tidak ada disini, bahkan di
pagi hari, atau pada saat hari sudah gelap.
Kamis, tempat itu sudah kosong. Tak lagi ku
lihat sosok makhluk sepertimu tengah duduk disitu.
Jumat, sabtu atau bahkan minggu, aku masih
tidak bisa menemukan bayanganmu.
Dan tidak ada satu pun hari dimana aku tidak
merindukanmu.
Dan tidak ada satu pun hari dimana akan membuatmu
menoleh dan kembali ke hari-hari yang telah berlalu saat masih bersamaku.
Hari dimana aku bertemu denganmu,
Hari dimana aku mulai dekat denganmu. Hari dimana kau menyentuh keningku,
membuatku serasa melayang diudara, membuatku senyum-senyum seperti orang gila.
Hari dimana berbicara denganmu,
Hari dimana kau mendengarkanku, sampai timbul pertanyaan, sampai kapan akan
seperti ini? aku sendiri tidak tahu jawabannya.
Berapa banyak bulan atau tahun, berapa banyak
jutaan memori kita yang lalu yang aku tidak pernah tidak merindukanmu.
Bulan Juli telah berlalu semenjak kepergianmu.
Agustus pun telah berlalu tanpa kehadiranmu
lagi dihidupku.
September, aku kehilangan harapanku untuk bisa
bertemu denganmu lagi.
Oktober, terasa tidak mudah melewatkan hari
tanpa dirimu didalamnya.
November, terasa kosong.
Jika kau bertanya, Butuh berapa lama akan
seperti ini? aku juga tidak tahu.
Jawaban yang ku tahu, tidak ada hari aku tidak
merindukannya. Benar, aku sangat merindukan makhluk itu.
Mengatakan padanya kalau aku merindukannya?
Kenapa aku begitu malu hanya untuk menanyakan kabarnya? Mengapa aku begitu malu
untuk mengetik pesan singkat dan mengirimkan padanya?
Karena aku takut ia memikirkan yang aneh-aneh
ketika sebuah nada pesan handphonenya berbunyi dan terlihat itu adalah pesan
singkat dariku.
Aku tidak ingin membayangkan reaksi wajahnya
itu. Bukahkah rasa takutku itu terlalu berlebihan?
Ia tidak mungkin akan langsung membenciku kan
hanya karena sapaan pesan singkatku padanya?
Aku berhubungan baik dengannya. Walau usia
pertemanan kita begitu singkat, tapi ia merupakan salah satu teman langka dari
daftar teman yang ku punya.
Jika aku mempunyai kesempatan, aku ingin
mengatakan perasaanku sesungguhnya padanya.
Bahwa aku sudah lama diam-diam menatapnya,
melihat ke arahnya.
Jika saja ia melihatku dan mengatakan apa yang
ia pikirkan, mungkin saat itu aku akan mempunyai keberanian dan menyingkirkan
rasa takutku itu.
Aku hanya berharap sebuah kemungkinan walaupun
itu kecil, aku ingin kembali bertemu dengannya.
Aku tidak meminta banyak pada Tuhan. Dimana pun
ia berada, semoga ia baik-baik saja dan hari-harinya menyenangkan.
Itu saja permintaanku kepada Tuhan.
0 komentar:
Posting Komentar