Seseorang selalu ingin didengar dan punya tempat untuk bercerita. Sedang aku memilih berteman dengan sepi. Di satu ruang aku mampu menumpahkan segala lara yg tak mampu kuutarakan lewat kata. Tak apa, karna ini tentang dia yg membuatku jatuh cinta. Kadang kecewa, kadang juga bahagia. Meski dia sering kali menciptakan mendung dan airmata di langitku. Tapi, aku percaya bukankah akan ada pelangi setelahnya?

Minggu, 13 November 2016

Ingatkah kita?? (SoulMateStupa)

November 13, 2016 Posted by Debby Nuramiruddin No comments
Ingatkah kita?? (SoulMateStupa)


Waktu terasa begitu cepat, bahkan belum siap rasanya menerima kenyataan bahwa harus “berpisah”. Bukankah waktu tanpa permisi, tanpa berkata-kata lalu memutuskan, frekuensi pertemuan ini akan menjadi tidak sesering biasanya.
Tidak bisakah seminggu lagi, sebulan lagi, tidak! Lebih lama lagi merasakan kebersamaan ini?

Apakah hanya tersisa beberapa hari saja? Seolah-olah hanya menghitung hari saja, siap atau tidak itu yang akan terjadi. Inilah hari yang paling ku cemaskan.
Mengapa setiap pertemuan selalu berakhir pada perpisahan? Tak akan lagi ku lihat senyum kalian, canda dan tawa kalian lagi yang ku rasakan. Haruskah berakhir seperti ini? apakah ini jalan kehidupan yang telah ditakdirkan untuk kita?

Apakah tidak ada pilihan lain untuk ku dan kalian tetap bertahan disini?
Cukup bersamamu aku merasa bahagia. Tak membutuhkan orang lain, cukup denganmu duniaku serasa hidup, walau untuk sejenak aku mampu untuk tidak mengingat dan memikirkan makhluk itu.

Cukup seorang teman sepertimu yang kubutuhkan, untuk melengkapi cerita dikehidupanku. Cukup seorang tangan teman sepertimu, yang akan selalu berada disisiku walaupun jarak memisahkan.

"Ingatkah hari-hari yang selalu kita lalui bersama?"
"Ingatkah tangisan pertama yang kita rasakan?"
"Ingatkah saat aku duduk disampingmu?"
"Ingatkah kita saling menjahili saat sibuk dengan dunianya sendiri?"
"Ingatkah kita bermain ditaman rekreasi hanya untuk menghilangkan penat?"
Menghilang pikiran bahwa kebersamaan ini tak akan lama lagi.

Ada cerita manis dan pahit  yang telah kita ukir bersama. Walaupun tak dapat ku rasakan lagi, akan ku ingat dan kenang dihatiku.
Rasanya begitu nyata bahwa kita harus sama-sama pergi. Kita berpisah lebih cepat dari yang ku duga.

"Tapi, akankah kita bisa tersenyum dan tertawa bersama lagi seperti hari ini?"

Walau nanti sulit bertemu, bisakah kita menyempatkan diri?
Bisakah tidak saling lupa untuk menghubungi? Bisakah ditengah kesibukkan, tidak membuat ikatan persahabatan ini menjadi renggang?
Walaupun tak banyak kata yang bisa terungkap, aku pernah memiliki hari-hari bahagia bersama teman sepertimu.

Kau begitu istimewa sehingga bukan ku anggap teman lagi, melainkan salah satu orang terpenting dihidupku, sahabatku. Walaupun pergi, banyak kenangan yang ku bawa tentang dirimu.
Aku akan merindukan saat-saat bersama lagi seperti itu.

Tak perlu khawatir, walau jarang bertemu nantinya, masih ku simpan gambar-gambar kita yang memenuhi memori ponselku.
Betapa cerianya dan bahagianya saat kita masih bersama. Asalkan bersama kalian berdua, hari-hariku dikantor terasa menyenangkan dan berwarna (ditambah lagi kehadiran makhluk yang satu itu ^_^)

Setelah dari kita ada yang pergi, membuat airmata pun harus mengiringi kepergiannya yang secara tiba-tiba, bahkan tak memberikan aba-aba untuk sekedar menghabiskan waktu bersama, mengadakan pesta perpisahan.
Seperti drama sinetron, kita bahkan tak mempunyai malu mengantarkan kepergian teman dengan tangis.

Seperti sudah firasat dan pertanda, ia menghadapinya dengan baik-baik saja. Padahal sebelumnya aku berbagi cerita bahagiaku padanya. Lalu aku dihadapkan dengan kabar buruk, dengan kepergian salah satu temanku.
Aku tau saat itu hatinya sedang tidak baik-baik saja walaupun ia mencoba menutupinya dengan senyuman tersungging diwajahnya.

Ketika kepergiaannya telah diputuskan, seakan tidak bisa dipertimbangkan lagi, mungkin kala itu terpikirkan, bagaimana hari esok tanpanya?
Apakah akan terasa sepi? Apakah akan terasa ada yang hilang? Tak ada lagi manusia unik dan langka seperti dia.

Stupa, kami benar-benar kehilangan sosoknya dikantor. Suasana terasa sepi. Dia sudah seperti hiburan yang dapat menghilangkan penat dikantor.
Stupa, nama yang kami berikan kala ia berpenampilan aneh waktu itu. Bila ku ingat, saat itu ia menguncir rambutnya ke atas dan tampak seperti stupa sebuah candi borobudur (hahahaha)
Sejak saat itu aku dan dia memanggilnya stupa, tanpa merasa diejek atau dihina, temanku yang satu itu malah senang dirinya dipanggil dengan sebutan “stupa”.
Bukankah itu lucu? Melihat ekspresi gembiranya ia saat dipanggil stupa.
Stupa adalah “mainan”, dalam arti tanpa kehadirannya terasa tak sempurna. Dia mampu membuat kami tersenyum, tertawa dan melupakan bahwa bahagia dalam pertemanan tidaklah selalu hal-hal yang manis.
Stupa adalah orang “gila”.
Stupa adalah orang yang tidak tau “malu”.
Itulah karakternya, tapi kami berdua sangat menyayanginya.
Berteman dengannya membuat kami sadar, berteman tak memandang latar belakang seseorang atau apa pun.

Apakah ia membawa pengaruh buruk atau baik padamu, lagi-lagi itu kembali pada dirimu sendiri. Kau yang menentukan. Selama kau sudah berpikiran dewasa, kau sudah bisa menentukan mana yang baik, mana yang buruk.
Orang-orang berpikiran buruk tentangnya, tapi kami lebih tau dari mereka.
Hari esok, setelah kepergiannya, aku dan dia benar-benar merasakan kehilangannya. Tak ada lagi yang membuat kami ceria dan tertawa hanya dengan melihat tingkahnya. Semua itu telah hilang dan semakin hari kami perlu membiasakan diri tanpa kehadirannya.

Setelah kepergian seorang teman berhargaku, lagi-lagi takdir menamparku dengan kepergian makhluk itu. Membuatku seolah-olah tersambar petir, membuyarkan segala angan-anganku tentangnya.
Sangat ku sesali, mengapa Tuhan memisahkan jarak antara aku dan orang-orang yang berharga didalam dihidupku?
Tidak bisakah Tuhan tak merampas mereka yang sudah menjadi bagian yang berarti dalam hidupku sehingga untuk bertemu dan melihat saja sudah tidak akan bisa sesering dulu.
Aku hanya butuh orang-orang seperti mereka yang membuat hari-hariku terasa biasa menjadi luar biasa.
Tapi, kenapa sebuah perpisahan membuatku harus terima, bahwa inilah kehidupan. Tak selamanya seperti ini.

Lagi dan lagi, aku harus dipaksakan oleh kehidupan yang kadang tak sejalan dengan keinginan. Keinginan yang ingin bersama setiap saat. Keinginan yang tidak ingin tergantikan dengan kehilangan.
Kehilangan yang akan dirasakan setelah perpisahan, yang akan membuat mengerti betapa penting arti sebuah pertemuan.
Kadang hanya sebuah duka yang akan ditemui kala perpisahaan itu datang. Walau dengan adanya perpisahan, bukankah akan ada kenangan yang tersimpan saat masih bersama dulu?

Setelah temanku stupa pergi, kini giliran ku mengucapkan selamat tinggal pada temanku yang satu itu.
Dia, ku habiskan waktu bersama dengan suka dan tawa. Hal-hal yang menjengkelkan sekali pun kita lewati bersama.
Bersamanya, aku dan ia saling bercerita tentang banyak hal, bahkan tentang seseorang yang bahkan sudah bukan menjadi rahasia diantara kami.
Seperti mempunyai kartu mati satu sama lain, itulah kami berdua.
Dia, “soul” panggilanku padanya. Dan ia memanggilku “mate”.
Bila nama panggilan kami bertiga digabungkan, “Soul-Mate-Stupa” yang artinya soul mate adalah belahan jiwa Stupa. Tanpa ada soul mate, maka tak akan ada stupa.

Setelah stupa pergi, maka kini giliran soul mate mengikuti jejaknya.
Soul mate stupa sering kali mulut kami berkata pedas menyebalkan, namun tak pernah dimasukkan hati.
Bohong, bila kami tidak pernah berselisih paham. Bohong, bila tak pernah berbeda pendapat. Namun, semua itu tak menjadi alasan untuk menjauh, untuk memutus ikatan yang sudah terjalin ini.
Bukankah hal seperti itu adalah hal manis dalam sebuah persahabatan yang selalu akan dikenang ketika perpisahan?

Kini, kita harus mengucapkan salam perpisahan. Hari-hari yang begitu singkat dikantor, tak akan membuat persahabatan ini hanya berakhir sampai disini saja, bukan?
Kita mungkin akan segera merasakan udara pagi hari ditempat yang berbeda, menatap langit biru ditempat yang berbeda, merasakan makanan ditempat yang berbeda, bahkan berjalan pun ditempat yang berbeda. 

"Bukankah kita akan merindukan kebiasaan yang sering kita lakukan bersama?" Iya, jawabannya pasti aku merindukannya.

Hal-hal yang biasanya ku lakukan bersamamu, kini akan ku lewati seorang diri. Tak ada lagi ku dengar ocehan bahkan omelan darimu.Telingaku yang sudah terbiasa mendengarnya akan merindukan itu.
Dan tentunya kau akan merindukan wajah lugu, polos, manis dan imut ini (hahaha).
Kau akan rindu memarahi keluguanku, kebodohanku, kecerobohanku dan diriku yang menjadi alasanmu tertawa, bukankah begitu? ^^
Karena sama halnya denganmu, aku akan merindukan hal-hal yang kau lakukan padaku, sekecil apapun itu.

Terlebih lagi, peristiwa-peristiwa yang telah terjadi selama ini. Pergi ke dufan saat itu, adalah moment terindah yang soul mate stupa lakukan bersama. Bahkan puluhan gambar, tidak! lebih dari puluhan gambar, kita abadikan sebagai pengingat kita pada hari bersejarah itu. Bukankah saat itu kita benar-benar melepaskan semua beban?

Bukankah hari itu terasa begitu cepat sampai tak sadar kita diburu oleh sang waktu? kenapa saat menghabiskan waktu bersama, waktu serasa begitu cepatnya?
Aku tidak hanya ingin pergi ke dufan saja, pergi ke suatu tempat, menghabiskan waktu bersama dengan sentuhan dan petualangan yang berbeda. Tidakkah itu akan terasa menyenangkan? Membayangkannya saja sudah membuatku senyum-senyum sendiri.

Soul mate stupa, akan selalu menjadi soul mate stupa, kan? Walau waktu dan jarak memisahkan? Tak peduli dimana pun soul mate stupa berada, soul mate stupa akan menjadi soul mate stupa yang seperti biasanya dan tak akan berubah.
Benar, kan? Aku harap persahabatan yang terjadi dikantor ini, tidak membuat kita akan saling melupakan. Berakhirnya hari-hari kita dikantor ini, bukan berarti persahabatan kita juga berakhir, kan?

Soul mate stupa akan selamanya menjadi soul mate stupa. Tak membutuhkan pandangan orang lain. Karena hanya kita bertigalah yang mengerti dan merasakan.
Aku bahkan akan merindukan lagu soul mate stupa yang selalu didengarkan dan pula didendangkan. Dapatkan lagi kita menyanyikannya bersama? Dapatkah lagi kita bergoyang bersama? Serasa semua beban hilang.

Soul mate stupa akan menjadi bagian dari cerita panjang hidupku, yang pernah hadir dan menghiasi hari-hariku yang penuh arti. Perpisahan bukan menjadi penutup cerita manis kita, tapi akan menjadi pembuka cerita-cerita baru lagi yang mungkin tidak terjadi disini, tapi diluar sana, sebuah tempat indah yang sedang direncanakan Tuhan, yang kita bertiga pun tidak tahu akhir dari kisah ini.

Beberapa gambar dari moment-moment yang pernah kita lewatkan bersama, akan membuatku mengenang bahwa aku pernah memiliki hari-hari bersama kalian dengan senyuman.


Cerita indah ketika jam pulang kantor telah tiba, kita malah membuat sebuah video iseng dan tidak penting sampai lupa waktu ^^










Foto ini diambil saat kita jalan-jalan bersama ke sebuah mall *I*R*L*N*. Makan, belanja dan nyalon (hahaha)

Dan terakhir moment yang tak akan pernah terlupakan sepanjang sejarah (hahaha). Seharian kita bersenang-senang didufan, melepaskan penat dan beban, dan sadar kita sedang dikejar oleh waktu dan sebuah video pun menjadi saksi bersejarah kala itu.


0 komentar:

Posting Komentar