Seseorang selalu ingin didengar dan punya tempat untuk bercerita. Sedang aku memilih berteman dengan sepi. Di satu ruang aku mampu menumpahkan segala lara yg tak mampu kuutarakan lewat kata. Tak apa, karna ini tentang dia yg membuatku jatuh cinta. Kadang kecewa, kadang juga bahagia. Meski dia sering kali menciptakan mendung dan airmata di langitku. Tapi, aku percaya bukankah akan ada pelangi setelahnya?

Kamis, 20 Oktober 2016

Tak ada persahabatan yang sempurna tanpa ada orang-orang yang berusaha untuk mempertahankannya dan membuat itu menjadi sempurna.

Oktober 20, 2016 Posted by Debby Nuramiruddin 1 comment
Sudah tahun kelima usia pertemanan ini bersama kalian. Apakah kalian ingat bagaimana awal mula kita saling bertegur sapa, lalu saling mengenal? Bukankah lucu bila dibayangkan kembali? Bila membuka memori-memori lama, membuat senyum-senyum sendiri.
Ada suka, duka, canda dan tawa dari kalian yang menemani selalu. Tertawa gila bareng kalian sudah bukan lagi hal yang tak lazim. Namun, semua itu tak semulus jalan. Terkadang bahkan ada perbedaan pendapat yang menghiasi lika-liku pertemanan yang kini berubah menjadi persahabatan itu. Namun, perbedaan itu bukan menjadi penghalang, bukan? untuk kita bersahabat dan saling mengerti. Bukankah perbedaan akan menjadi indah bila kita saling memahami dan melengkapi?
Bila orang-orang bertanya “itu temen lo?, berpikir dan memandang aneh terhadap kalian, maka aku akan jawab lantang “iya, dia temen gue, sahabat gue!”itulah arti kalian bagiku. Betapa berharganya mempunyai sahabat seperti kalian.
Kita sudah melewati berbagai peristiwa menyenangkan sekaligus menyebalkan. Kita lakukan bersama-sama, asalkan bersama rasa malu ataupun jaim tak lagi dipedulikan.
Itu bukanlah hal buruk. Masa-masa seperti itu takkan terulang dan bisa dirasakan lagi. Sekali bisa dilakukan daripada timbul penyesalan nantinya. Setelah berjalan lama waktu yang telah kita lalui bersama, tak selamanya waktu selalu berpihak pada kita. Tak selamanya lagi waktu itu bisa dihabiskan bersama.
Tiga tahun, waktu membuat kita tak ada lagi rasa sungkan, malu, baik dan buruk kita sudah tahu satu sama lain. Kebersamaan itu membuat kita lupa dengan jalannya kehidupan. Dinamika kehidupan, setiap pertemuan maka akan ada perpisahaan. Setiap yang datang akan ada yang pergi.
Iya, dengan berakhirnya perkuliahan maka membuat frekuensi pertemuan yang darinya sering menjadi bisa dihitung jari. Walaupun kuliah berakhir, bukan berarti pertemanan kita juga berakhir, bukan?
Sebisa mungkin bila ada waktu pasti kita sempatkan untuk bertemu, membicarakan hal-hal yang sebenarnya tidak penting juga namun menjadi bahan perbincangan yang tak ada habisnya. Bila pertemuan itu semakin sulit, ada media yang menjadi penghubung antara kita untuk sekedar bertanya sedang apa dan sibuk apa, bertanya kabarnya saat ini.
Namun, ku akui memang jarang bagiku untuk sekedar menyapa dan bertanya hal-hal kecil seperti itu. Aku sadar kalian menganggapku bukannya semakin dekat, namun semakin menjauh setelah hari kelulusan waktu itu.
Menganggapku telah berbeda, tak lagi sama seperti dulu. Mengganggapku paling sibuk. Padahal aku pun tahu semua orang juga mempunyai kesibukkannya masing-masing, bukan hanya aku tapi juga kalian.
Kalian ingat pepatah ini, “tak ada kesan tanpa kehadiranmu”, apakah tanpa kehadiranku dalam undangan pertemuan kalian itu terasa ada yang kurang? Terasa tak lengkap? Karena selama ini kita adalah 6 sejoli yang dulu selalu bersama tanpa kurang seorang pun. Karena kita mementingkan kebersamaan melebihi apapun. Bagaimana pun keadaannya dan apa yang akan dan ingin kita lakukan pada saat itu harus berenam, tak boleh kurang. Itu kemauan dan permintaanku, dan kalian mau tak mau menurutinya sebagai teman yang baik. Lucu sekali, bukan? Sungguh egoisnya diriku dan kalian mengerti bahkan menerimanya. Kurasa kalian mempermasalahkannya sewaktu-waktu namun, sudah seperti kebiasaan kalian tak pernah mengungkit atau bahkan memprotesnya. Terkadang, saat pikiranku sejalan, tak berseberangan dengan kalian, kalian malah menunjukkan sikap yang aneh. Mungkin kalian berpikir, jarang-jarang aku bisa sependapat dengan kalian. Bukankah itu aneh? Serba salah jadinya diriku.
Ya, itulah diriku, itulah kejelekkanku. Aku memang egois, tak mau mengalah dan menjadi yang selalu berbeda dalam hal pilihan seperti tempat, makanan dan kesukaan. Mungkin itu hanya masalah selera. Tetapi, sekali lagi bukankah perbedaan itu akan menjadi indah bila kita saling melengkapi? Benar, bukan?
Berkali-kali setiap kalian mengajak bertemu, aku tak pernah hadir. Tanpa ada kata-kata untuk menjadi suatu alasan untuk datang atau tidak. Layaknya orang yang menghilang tanpa kabar, menghilang dari peredaran bumi. Sekali aku muncul dimedia itu, lalu aku menghilang lagi tanpa memberi satu jawaban apapun. Walaupun begitu, kalian terkejut kan ketika tiba-tiba aku datang tanpa ada pemberitahuan lebih dulu. Pasti itu menjengkelkan.
Ada sebuah alasan yang membuatku berpikir untuk datang. Aku pernah membaca sebuah tulisan yang isinya
“Ada situasi yang aku rindukan dimana aku masih bisa berkumpul dengan teman-teman baikku. Sayangnya perlahan mereka menjauh, kemudian pergi dengan kesibukkannya masing-masing. Jika, persahabatan kita memang penting maka kesibukkan itu tidak akan menjadi penghalang untuk kita bertemu, bukan?”
Sungguh itu membuat hati tersentuh saat membacanya. Maka kuputuskan datang setelah sekian lama tak bertemu. Tetapi, ketika bertemu kulihat wajah kesal masih terpancar diwajah kalian, membuatku tertawa dalam hati. Apakah aku sudah membuat kalian sekesal itu?
Bila mengingat yang telah berlalu, hari-hari yang telah kita lalui bersama saat perkuliahan, kisah kita itu bukanlah kisah yang biasa saja, bukan?
Setiap moment yang pernah terjadi selalu dan tak lupa diabadikan dalam sebuah gambar yang akan menjadi pengingat bahwa kita pernah melalui masa-masa itu, dan tentunya menjadi kenangan terindah kelak usia semakin bertambah. Setiap melihat kenangan dalam gambar-gambar yang memenuhi ponselku, selalu membuat tersenyum geli sendiri dan kadang malah tertawa melihat betapa lucu dan anehnya pose kita kala itu.
Mungkin gambar-gambar itu bisa membuat kita sadar bahwa memang tak ada persahabatan yang sempurna tanpa ada orang-orang yang berusaha untuk mempertahankannya dan membuat itu menjadi sempurna.
Bila salah seorang menghilang tanpa kabar, bisakah kita saling mencari tanpa membiarkannya? Pura-pura tidak peduli, lalu melupakannya. Hanya memiliki satu teman di dunia ini yang tetap berada disisimu, dunia tidak akanlah kesepian.
Itu benar, bukan? Apalagi bukan hanya seorang teman, bila dia bisa menjadi sahabatmu.
Seorang sahabat, dia yang selalu ada dikala suka, duka, disetiap tangis juga tawa.
Seorang sahabat, dia yang berani gila-gilaan bareng.
Seorang sahabat, dia yang mau menerimamu apa adanya tanpa memikirkan tanggapan orang lain.
Seorang sahabat, dia yang memberi tanpa harus meminta, tak pernah memandang besar atau kecil nilainya.
Seorang sahabat, dia yang tak pernah jenuh mendengar kisah manis dan pahit hidupmu.
Seorang sahabat, dia yang selalu ada bila diperlukan, selalu menemani.
Seorang sahabat, dia yang disitu, yang selalu setia menunggumu.
Seorang sahabat, dia yang tak ragu dan berani mengatakan bila yang dilakukan adalah salah.
Seorang sahabat, dia yang meraih tangan sahabatnya bila ia terjatuh, karena hanya tangan sahabatlah yang dapat mencabut duri yang tertancap dihati.
Seorang sahabat, dia yang tak bisa berlama-lama marah dan langsung memaafkanmu hanya karena hal sepele.
Seorang sahabat, dia yang tak memerlukan seorang yang sempurna untuk menjadi sahabat. Bahkan bila dunia menganggapmu seseorang yang biasa saja, tapi bagi seseorang kau bisa menjadi dunianya.
Seorang sahabat, dia yang rela terlihat bodoh agar senyuman tersungging dibibirmu dan kau melupakan sejenak kesedihanmu itu.
Seorang sahabat, mereka yang tidak membutuhkan pengakuan orang lain bahwa mereka bukan sekedar teman biasa, cukup dunia saja tahu, bukan seisinya bahwa mereka bukanlah teman yang biasa.
Seorang sahabat, dia yang tidak akan melupakanmu, walau disela kesibukkannya, dia sekedar bertanya “apa kabar”
Seorang Sahabat, dia yang tak lekang oleh waktu, setia bersamamu hingga rambutmu memutih.

Aku tak menginginkan persahabatan yang sempurna, tapi orang-orang seperti kalian yang membuat persahabatan kita menjadi sempurna.


Maaf untuk segala kekuranganku, ketidakpekaanku sebagai seorang sahabat serta terimakasih sudah menerimaku menjadi sahabat. Bahagia mempunyai sahabat-sahabat aneh dan gila seperti kalian.
Berharap cerita persahabatan kita tak berhenti sampai disini, namun akan terus mempunyai cerita baru yang tak pernah jenuh untuk kuceritakan.


1 komentar:

  1. Aigooooo, sweet bgt bebiiii aaaaa semoga kita semua langgeng yaa amenn

    BalasHapus