Rindu yang mengesalkan
Aku berdiri disepanjang jalan, memperhatikan lalu lalang yang tak
pernah sepi. Kadang menatap langit dan awan. Ada sebutir airmata dikelopak
mataku.
Hari-hariku sekarang tak seindah sewaktu dia masih hadir
dikehidupanku. Untuk kesekian kali yang tak terhitung, aku teringat makhluk
itu. Entah sudah berapa kali, puluhan kali, atau bahkan ratusan kali aku masih
bertahan dengan rasa yang tak pernah berkurang.
Sering kali aku bertanya dan memarahi diri ini, apakah aku sangat
bodoh? Masih saja memikirkannya.
Kadang kesal sendiri dengan keadaan hati dan pikiran yang
berlawanan. Hati yang terkadang tak bisa diajak kompromi.
Masih saja hatiku menyimpan nama dan perasaan untuk seseorang yang
jelas-jelas tidak memikirkanku. Padahal otakku sudah meminta dengan keras untuk
membuang perasaan itu jauh-jauh, membuang namanya.
Bukankah itu mengesalkan? Kalau
sudah seperti itu, apa yang bisa ku lakukan?
Rindu ini sangat mengesalkan. Aku bahkan tidak tahu apa yang
semestinya dilakukan. Hanya bisa menyimpannya dalam diam. Membiarkan sampai
sejauh mana rasa ini bersemayam dihatiku.
Terkadang aku lelah kala aku merindukannya, rindu ini tak
tersampaikan. Rindu ini hanya bisa dikatakan dalam diam.
Kala aku ingin melihat dan bertemu, hanya bisa memandang wajah
sendu itu dalam gambar yang tersimpan dalam handphoneku.
Terkadang makhluk itu hadir dalam mimpiku. Seperti nyata,
saat terbangun semua sirna, itu hanyalah sekedar mimpi yang bahkan kita
tak tau maknanya. Aku tak ingin segera terbangun dari tidurku, hanya untuk
melihatnya lebih lama lagi walau hanya dalam dimensi yang berbeda.
Tak masalah. Itu cukup mengobati rasa rinduku yang tak tertahan.
Aku sungguh.. sungguh.. sangat merindukan makhluk menyebalkan itu. Rindu
suaranya, tingkahnya yang menyebalkan menjadi seorang pengganggu. Itulah hal
yang paling kurindukan dari dirinya.
Setiap detik, menit, jam, hari, ia tak pernah tak terlintas
dipikiranku. Selalu saja hatiku berkata “aku merindukanmu”
Bayangan makhluk itu tak pernah jauh dari pikiranku. Dimana pun
aku berada, kadang mataku seperti menangkap kehadirannya. Aku pun tahu itu
hanya halusinasi saja, karena rindu yang tak terbendung yang sedang ku rasakan.
Makhluk itu, benar-benar memberikan kenangan singkat yang sangat
berarti dan sampai detik ini sulit terlupakan. Kalau waktu bisa kembali, aku
ingin waktu yang lebih lama lagi untuk mengenalnya, berbicara, bercanda,
tertawa dan mengahabiskan waktu bersamanya. Sungguh hanya itu keinginan
sederhanaku.
“Tuhan, bisakah ia hadir kembali di kehidupanku?”
0 komentar:
Posting Komentar