Sudah tahun
kelima usia pertemanan ini bersama kalian. Apakah kalian ingat bagaimana awal
mula kita saling bertegur sapa, lalu saling mengenal? Bukankah lucu bila
dibayangkan kembali? Bila membuka memori-memori lama, membuat senyum-senyum
sendiri.
Ada suka, duka,
canda dan tawa dari kalian yang menemani selalu. Tertawa gila bareng kalian
sudah bukan lagi hal yang tak lazim. Namun, semua itu tak semulus jalan.
Terkadang bahkan ada perbedaan pendapat yang menghiasi lika-liku pertemanan
yang kini berubah menjadi persahabatan itu. Namun, perbedaan itu bukan menjadi
penghalang, bukan? untuk kita bersahabat dan saling mengerti. Bukankah
perbedaan akan menjadi indah bila kita saling memahami dan melengkapi?
Bila orang-orang
bertanya “itu temen lo?, berpikir dan memandang aneh terhadap kalian, maka aku
akan jawab lantang “iya, dia temen gue, sahabat gue!”itulah arti kalian bagiku.
Betapa berharganya mempunyai sahabat seperti kalian.
Kita sudah
melewati berbagai peristiwa menyenangkan sekaligus menyebalkan. Kita lakukan
bersama-sama, asalkan bersama rasa malu ataupun jaim tak lagi dipedulikan.
Itu bukanlah hal
buruk. Masa-masa seperti itu takkan terulang dan bisa dirasakan lagi. Sekali
bisa dilakukan daripada timbul penyesalan nantinya. Setelah berjalan lama waktu
yang telah kita lalui bersama, tak selamanya waktu selalu berpihak pada kita.
Tak selamanya lagi waktu itu bisa dihabiskan bersama.
Tiga tahun, waktu
membuat kita tak ada lagi rasa sungkan, malu, baik dan buruk kita sudah tahu
satu sama lain. Kebersamaan itu membuat kita lupa dengan jalannya kehidupan.
Dinamika kehidupan, setiap pertemuan maka akan ada perpisahaan. Setiap yang
datang akan ada yang pergi.
Iya, dengan
berakhirnya perkuliahan maka membuat frekuensi pertemuan yang darinya sering
menjadi bisa dihitung jari. Walaupun kuliah berakhir, bukan berarti pertemanan
kita juga berakhir, bukan?
Sebisa mungkin
bila ada waktu pasti kita sempatkan untuk bertemu, membicarakan hal-hal yang
sebenarnya tidak penting juga namun menjadi bahan perbincangan yang tak ada
habisnya. Bila pertemuan itu semakin sulit, ada media yang menjadi penghubung
antara kita untuk sekedar bertanya sedang apa dan sibuk apa, bertanya kabarnya
saat ini.
Namun, ku akui
memang jarang bagiku untuk sekedar menyapa dan bertanya hal-hal kecil seperti
itu. Aku sadar kalian menganggapku bukannya semakin dekat, namun semakin
menjauh setelah hari kelulusan waktu itu.
Menganggapku
telah berbeda, tak lagi sama seperti dulu. Mengganggapku paling sibuk. Padahal
aku pun tahu semua orang juga mempunyai kesibukkannya masing-masing, bukan
hanya aku tapi juga kalian.
Kalian ingat
pepatah ini, “tak ada kesan tanpa kehadiranmu”, apakah tanpa kehadiranku dalam
undangan pertemuan kalian itu terasa ada yang kurang? Terasa tak lengkap? Karena
selama ini kita adalah 6 sejoli yang dulu selalu bersama tanpa kurang seorang
pun. Karena kita mementingkan kebersamaan melebihi apapun. Bagaimana pun
keadaannya dan apa yang akan dan ingin kita lakukan pada saat itu harus
berenam, tak boleh kurang. Itu kemauan dan permintaanku, dan kalian mau tak mau
menurutinya sebagai teman yang baik. Lucu sekali, bukan? Sungguh egoisnya diriku
dan kalian mengerti bahkan menerimanya. Kurasa kalian mempermasalahkannya
sewaktu-waktu namun, sudah seperti kebiasaan kalian tak pernah mengungkit atau
bahkan memprotesnya. Terkadang, saat pikiranku sejalan, tak berseberangan
dengan kalian, kalian malah menunjukkan sikap yang aneh. Mungkin kalian
berpikir, jarang-jarang aku bisa sependapat dengan kalian. Bukankah itu aneh?
Serba salah jadinya diriku.
Ya, itulah
diriku, itulah kejelekkanku. Aku memang egois, tak mau mengalah dan menjadi
yang selalu berbeda dalam hal pilihan seperti tempat, makanan dan kesukaan.
Mungkin itu hanya masalah selera. Tetapi, sekali lagi bukankah perbedaan itu
akan menjadi indah bila kita saling melengkapi? Benar, bukan?
Berkali-kali
setiap kalian mengajak bertemu, aku tak pernah hadir. Tanpa ada kata-kata untuk
menjadi suatu alasan untuk datang atau tidak. Layaknya orang yang menghilang
tanpa kabar, menghilang dari peredaran bumi. Sekali aku muncul dimedia itu,
lalu aku menghilang lagi tanpa memberi satu jawaban apapun. Walaupun begitu,
kalian terkejut kan ketika tiba-tiba aku datang tanpa ada pemberitahuan lebih
dulu. Pasti itu menjengkelkan.
Ada sebuah alasan
yang membuatku berpikir untuk datang. Aku pernah membaca sebuah tulisan yang
isinya
“Ada situasi
yang aku rindukan dimana aku masih bisa berkumpul dengan teman-teman baikku.
Sayangnya perlahan mereka menjauh, kemudian pergi dengan kesibukkannya
masing-masing. Jika, persahabatan kita memang penting maka kesibukkan itu tidak
akan menjadi penghalang untuk kita bertemu, bukan?”
Sungguh itu
membuat hati tersentuh saat membacanya. Maka kuputuskan datang setelah sekian
lama tak bertemu. Tetapi, ketika bertemu kulihat wajah kesal masih terpancar
diwajah kalian, membuatku tertawa dalam hati. Apakah aku sudah membuat kalian
sekesal itu?
Bila mengingat
yang telah berlalu, hari-hari yang telah kita lalui bersama saat perkuliahan,
kisah kita itu bukanlah kisah yang biasa saja, bukan?
Setiap moment
yang pernah terjadi selalu dan tak lupa diabadikan dalam sebuah gambar yang
akan menjadi pengingat bahwa kita pernah melalui masa-masa itu, dan tentunya
menjadi kenangan terindah kelak usia semakin bertambah. Setiap melihat kenangan
dalam gambar-gambar yang memenuhi ponselku, selalu membuat tersenyum geli
sendiri dan kadang malah tertawa melihat betapa lucu dan anehnya pose kita kala
itu.
Mungkin
gambar-gambar itu bisa membuat kita sadar bahwa memang tak ada persahabatan
yang sempurna tanpa ada orang-orang yang berusaha untuk mempertahankannya dan
membuat itu menjadi sempurna.
Bila salah
seorang menghilang tanpa kabar, bisakah kita saling mencari tanpa
membiarkannya? Pura-pura tidak peduli, lalu melupakannya. Hanya memiliki satu
teman di dunia ini yang tetap berada disisimu, dunia tidak akanlah kesepian.
Itu benar, bukan?
Apalagi bukan hanya seorang teman, bila dia bisa menjadi sahabatmu.
Seorang sahabat,
dia yang selalu ada dikala suka, duka, disetiap tangis juga tawa.
Seorang sahabat,
dia yang berani gila-gilaan bareng.
Seorang sahabat,
dia yang mau menerimamu apa adanya tanpa memikirkan tanggapan orang lain.
Seorang sahabat,
dia yang memberi tanpa harus meminta, tak pernah memandang besar atau kecil
nilainya.
Seorang sahabat,
dia yang tak pernah jenuh mendengar kisah manis dan pahit hidupmu.
Seorang sahabat,
dia yang selalu ada bila diperlukan, selalu menemani.
Seorang sahabat,
dia yang disitu, yang selalu setia menunggumu.
Seorang sahabat,
dia yang tak ragu dan berani mengatakan bila yang dilakukan adalah salah.
Seorang sahabat,
dia yang meraih tangan sahabatnya bila ia terjatuh, karena hanya tangan
sahabatlah yang dapat mencabut duri yang tertancap dihati.
Seorang sahabat,
dia yang tak bisa berlama-lama marah dan langsung memaafkanmu hanya karena hal
sepele.
Seorang sahabat,
dia yang tak memerlukan seorang yang sempurna untuk menjadi sahabat. Bahkan
bila dunia menganggapmu seseorang yang biasa saja, tapi bagi seseorang kau bisa
menjadi dunianya.
Seorang sahabat,
dia yang rela terlihat bodoh agar senyuman tersungging dibibirmu dan kau
melupakan sejenak kesedihanmu itu.
Seorang sahabat,
mereka yang tidak membutuhkan pengakuan orang lain bahwa mereka bukan sekedar
teman biasa, cukup dunia saja tahu, bukan seisinya bahwa mereka bukanlah teman
yang biasa.
Seorang sahabat,
dia yang tidak akan melupakanmu, walau disela kesibukkannya, dia sekedar
bertanya “apa kabar”
Seorang Sahabat,
dia yang tak lekang oleh waktu, setia bersamamu hingga rambutmu memutih.
Aku tak
menginginkan persahabatan yang sempurna, tapi orang-orang seperti kalian yang
membuat persahabatan kita menjadi sempurna.

Maaf untuk segala
kekuranganku, ketidakpekaanku sebagai seorang sahabat serta terimakasih sudah
menerimaku menjadi sahabat. Bahagia mempunyai sahabat-sahabat aneh dan gila
seperti kalian.
Berharap cerita
persahabatan kita tak berhenti sampai disini, namun akan terus mempunyai cerita
baru yang tak pernah jenuh untuk kuceritakan.
Aigooooo, sweet bgt bebiiii aaaaa semoga kita semua langgeng yaa amenn
BalasHapus