Seseorang selalu ingin didengar dan punya tempat untuk bercerita. Sedang aku memilih berteman dengan sepi. Di satu ruang aku mampu menumpahkan segala lara yg tak mampu kuutarakan lewat kata. Tak apa, karna ini tentang dia yg membuatku jatuh cinta. Kadang kecewa, kadang juga bahagia. Meski dia sering kali menciptakan mendung dan airmata di langitku. Tapi, aku percaya bukankah akan ada pelangi setelahnya?

Selasa, 04 Mei 2021

Partner Hidup

Mei 04, 2021 Posted by Debby Nuramiruddin 1 comment

 Partner Hidup


Hmm.. mulai dari mana ya?

Mungkin ini tentang keisenganku yang tanpa kuduga ternyata merubah hidupku. Ini kisah tentangku atau mungkin beberapa orang yang bernasib sama.

Apa menurutmu tentang orang-orang yang kalian temui di dunia maya?

Kadang sebagian orang lebih nyaman mengekspresikan tentang diri mereka di dunia maya dibanding bercerita langsung dengan teman atau keluarga mereka. Kadang sebagian orang lebih mudah bergaul di dunia maya ketimbang di dunia nyata. Lebih asyik, katanya.

Dulunya aku berpikir dunia maya adalah hal yang tak lazim untukku. Bagaimana mungkin kamu berani bertemu dengan orang yang kamu tak tau nyatanya seperti apa. Lalu bagi sebagian orang, berpacaran dengan orang yang mereka temui di media sosial contohnya adalah sah-sah aja. Bahkan tidak jarang belum bertemu tapi sudah berpacaran katanya. Apakah itu masuk akal? Bagaimana cinta hadir diantara keduanya?

Aku tidak sampai sejauh itu. Awalnya aku hanya iseng ketika merasa tak percaya diri dengan diri sendiri. Berpikir lebih banyak kurangnya dibandng kelebihan. Merasa kisah cintaku selalu berujung kandas atau bisa dibilang kurang beruntung dalam hal percintaan. 

Lalu, ketika aku buka facebook sebuah iklan dari satu aplikasi dating online menarik perhatianku. Entah kesambet apa, aku mengunduh aplikasi itu dan mulai mencari tahu isi di dalamnya. Sejujurnya mudah tapi, aneh. Kamu hanya perlu menggeser ke kanan atau ke kiri kalau kamu merasa cocok dengan orang itu atau orang itu sesuai kriteria yang kamu mau. Semudah itu, bukan?

Sampai aku melihat foto orang ini. Senyumnya terlihat menawan dengan pipinya yang tembem dan matanya yang sipit. Lucu sih, kataku saat itu. Aku memang sedang suka-sukanya dengan pria berwajah oriental. Mungkin karena K-POP yang mulai booming pada tahun itu. Sampai aku bermimpi dan menjadikan visual mereka sebagai kriteria laki-laki yang aku cari. Karena hal itu, aku menggeser ke kanan yang artinya aku tertarik dan ingin berkenalan dengannya.

Kita mulai chat satu sama lain. Cuma hal-hal yang dibahas dengannya saat itu sangat berbeda. Lebih banyak ingin tahu soal hobbyku. Ketika aku katakan suka menulis, ia secara tiba-tiba ingin membaca tulisanku. Karena aku tidak mengarang, kukirimkan link blogku kepadanya. Aku pikir hanya sampai disitu saja. Ternyata ia memberikan komentar baik dan menyukai coretanku yang tak banyak pembacanya. Sebuah pujian ia ungkapkan dan entah mengapa membuat hatiku cukup berbunga-bunga. 

Setelah mengobrol singkat dengannya, ia mengajakku bertemu. Sungguh, itu adalah pengalaman pertama dan bingung harus bagaimana dan berbuat apa. Aku tidak mungkin menolak ajakannya. Aku juga ingin bertemu tapi, itu terlalu cepat bagiku. Aku belum lama mengenalnya. Namun, aku malah mengiyakan tawarannya dan permintaanku bertemu langsung di tempat, tanpa perlu menjemputku di rumah. Karena aku tak ingin dia tau alamat rumahku karena kita adalah orang asing satu sama lain dan belum sedekat itu. Setelah mulai terbuka satu sama lain, kita memutuskan mengakhiri obrolan di aplikasi itu dan berpindah ke Line agar lebih memudahkan sebenarnya.

Aku pun bertemu dengannya. Agenda hari itu minum chattime dan menonton bioskop. Kita berdua lebih banyak mengobrol hari itu. Lagi-lagi menceritakan kesibukan dan hobby masing-masing. Kesan pertama yang aku dapat sangat positif. Anak yang baik dan manis, pikirku. Jujur, aku suka sekali dengan senyuman yang terukir ketika kami bertemu. Aku kira setelah hari itu, ia tak akan menghubungiku kembali. Tapi, ternyata hubungan kami terus berlanjut sampai saat ini.

Ya, percaya engga percaya sejak sebulan setelah bertemu kami memutuskan berpacaran dan telah bersama sampai saat ini. Tahun pertama seperti kebanyakan orang yang baru berpacaran perjalanan masih belum mulus-mulusnya. Hal-hal kecil masih menjadi bahan perdebatan dan pertengkaran. Ia yang emosinya belum terkontrol dengan baik, pernah membuatku terbesit mencari orang lain. Tapi tetap saja yang aku tunggu adalah notifikasi pesan masuk darinya. Karena kemungkinan-kemungkinan itu, kami sempat berpisah sebentar namun kemudian berpacaran lagi.

Saat memutuskan kembali bersama, aku menegaskan bahwa saat itu aku mencari sosok laki-laki yang akan membawaku ke jenjang yang serius,  bukan waktunya main-main lagi. Usiaku saat itu 25 tahun yang mana sudah berpikiran "pacaran untuk menikah" . Walau sebenarnya tak ada desakan dari keluarga ataupun target menikah di umur kesekian. Namun, aku memang mencari laki-laki yang benar-benar serius dan berpegang dengan omongannya. Bukan laki-laki dengan rayuan gombal. Ia bukan laki-laki seperti itu. Bahkan awal pendekatan, ia sangatlah berbeda. Kami lebih banyak bercerita tentang diri masing-masing. Sangat jarang "Kamu lagi apa? sudah makan atau belum?" menjadi bahan pembicaraan. Disitulah aku mulai menyukainya.

Tahun kedua, hubungan kami semakin membaik. Walau, aku belum melihat "lampu hijau" untuk ke jenjang yang lebih serius. Aku juga bukan tipe orang yang memaksa dirinya untuk segera menikahiku. Seperti air mengalir saja, kataku dalam hati. Jika diingat kembali, beberapa orang di sekitarku beranggapan aku tak akan lama bersama dia. Tak mungkin bersama, kata mereka. Hubungan tak direstui keluarga besarnya, ada juga yang bilang begitu. Rasanya telingaku panas mendengarnya. Memang siapa mereka? berhak menghakimi dan menilai seseorang seakan-akan mereka lebih tau. Bodohnya diriku, kadang suka terngiang dan tanpa sadar memikirkan kata-kata yang seharusnya aku tak terima.

Pernah aku jadikan alasan untuk berpisah dengannya. Entah roh jahat mana yang merasuki otakku saat itu. Lalu apa reaksi dia? sungguh diluar dugaanku, ia meneteskan airmata. Tak mau pisah dan untuk apa mendengarkan omongan orang lain tentang kita, katanya. Jujur saja hatiku terenyuh dan sulit melepaskan dia. Karena aku akan sulit menemukan orang yang bisa menerimaku baik luar dan dalam seperti dia yang menerimaku apa adanya. Ia menerima sifatku yang manja dan kekanak-kanakan walau sebenarnya usiaku diatasnya. Pemikirannya lebih dewasa untuk orang seusianya. Bisa dibilang, ia yang banyak membimbingku.

Hari itu ditutup dengan kami berbaikan. Aku juga tak peduli lagi bagaimana tanggapan orang tentang hubunganku dengannya. Aku hanya berharap dan berdoa yang terbaik kepada Sang Pencipta. Tuhan maha pendengar yang baik, bukan? Jika hambanya bersungguh-sungguh, tak ada yang tak mungkin baginya. Benar adanya, doaku seketika dijawab olehNya tanpa aku duga. Karena satu peristiwa, ia secara tidak resmi melamarku. Dipikiranku saat itu, aku lebih mencemaskan dirinya ketimbang diriku sendiri. Aku tak bisa diam begitu saja, melihatnya kesulitan. Aku mencari bantuan dan akhirnya masalah itu selesai. 

Setelah mengantarku pulang, ia mengucapkan kata-kata yang membuatku tertegun. Dia ingin aku menikah dengannya dan memintaku menunggu sampai finansialnya terasa cukup. Cincinnya juga menyusul, katanya. Lucunya, dia bertanya apakah cara melamarnya sudah benar dan sesuai? Ia sendiri juga tidak mengerti. Bukan cuma dia, bagaimana aku tau? belum pernah ada laki-laki yang melamarku sebelumnya. Aku akhirnya menerima tawaran itu. Itulah moment yang aku tunggu-tunggu. Walaupun tidak direncanakan tapi cara kerja semesta memang luar biasa.

Banyak peristiwa-peristiwa yang merubah kehidupan kita setelah itu. Aku merasa Tuhan memudahkan jalan dan segala urusan serta memberikan apa yang kami butuhkan. Impian kami seolah hanya selangkah lagi dan sudah menunggu di depan mata. Tak henti-hentinya kami bersyukur atas karuniaNya. Tapi, tak ada yang berubah di rutinitas kami. Tempat yang kami kunjungi, makanan yang sering dimakan atau obrolan-obrolan yang tak ada habisnya dibicarakan. Kami tak pernah jenuh. Entah mengapa rasanya bahagia ketika bertemu walau ke tempat yang sama. Selalu dia dan dia yang menjadi tempat ternyaman.

Aku tak pernah lupa satu hal yang menjadi permintaanmu sejak awal bahwa kita harus saling terbuka satu sama lain. Apapun masalah atau hal yang mengganjal di hati mesti diceritakan dan tak boleh dipendam sendiri. Mencari solusi dan jalan keluar bersama. Itulah komitmen yang kita sepakati ketika memulai hubungan ini. Aku hampir lupa, kita bahkan mulai jarang bertengkar sejak lamaran spontan itu. Kalaupun selisih pendapat tak butuh waktu lama untuk berbaikan. Karena aku tak bisa sehari tanpa kabar darinya. Karena yang aku mau adalah dia.

Empat tahun sudah kami menjalani komitmen ini bersama. Empat tahun juga bertepatan dengan ia datang melamarku secara resmi. Pertemuan keluarga yang hangat seolah menyadarkanku bahwa ini bukan lagi sekedar bunga tidur, tanpa aku harus bangun karena ini adalah nyata. Langkah kami berdua menuju "pernikahan" semakin mendekat. Sungguh lega dan bahagianya diriku saat itu. Aku dan dia akan dihadapi dengan kesibukan-kesibukan menjelang hari bahagia kami. Meski menyita banyak waktu. Kadang ia suka mengeluh karena persiapan-persiapan itu. Alhasil aku juga dibuat kesal dengan sikapnya. Bukan cuma dia yang ingin ini cepat selesai. Aku pun begitu. Tapi ya namanya pasangan. Wajar berselisih paham. Kadang maunya pengen diturutin. Kita masih sama-sama belajar menjadi yang terbaik bagi satu sama lain.

Ada hal kecil yang kadang membuatku senyum-senyum sendiri. Yaitu kecemburuannya dengan coretan-coretanku di blog. Dibilang, aku masih memimpikan orang lain, masih belum move on. Padahal jelas-jelas aku memilih bersamanya. Artinya dia telah memiliki hatiku sepenuhnya. Tidakkah kamu percaya bahwa tak ada selain kamu yang memenuhi otakku? Percayalah, keinginanku masih sama dan akan selalu sama. Baik dulu ataupun sekarang. Tak pernah ada bedanya. Aku masih ingin berbagi duniaku denganmu. Karena inginku hanyalah bersamamu selamanya.

Ketika dia memintaku menikah dengannya, aku tengah memikirkan bahwa aku bukan mencari seorang suami. Tanggung jawabnya bukan hanya sekedar menafkahi atau memenuhi segala kebutuhanku. Aku mencari seorang partner di hidupku. Ketika aku memutuskan bersamanya, bukan berarti hidupku akan jauh lebih baik nantinya. Karena aku ingin berjuang bersama-sama dalam keadaan suka maupun susah. 

Apakah kamu ingin menghabiskan sisa waktumu bersamaku? Apa kamu ingat apa yang menjadi impian kita? Bilang ya kalau aku mengada-ada. Tinggal di sebuah pedesaan atau jauh dari keramaian kota. Merasakan udara yang belum becampur dengan polusi. Memiliki rumah yang nyaman dan dikelilingi tawa canda anak-anak yang manis. Bukankah bahagia sesederhana itu? Lalu, di akhir cerita menjadi pasangan yang saling setia hingga rambut memutih dan maut memisahkan. 

Aku tau sejatinya kehidupan bukan seperti cerita di negeri dongeng. Tapi, bukan berarti bermimpi itu salah. Apalagi kebanyakan mimpi, kata mereka. Asalkna percaya pada mimpi-miimpi itu perlahan, pelan-pelan kita wujudkan satu-persatu mimpi itu menjadi nyata.

Terakhir yang ingin kusampaikan "Terima kasih telah hadir di duniaku dan menjadi tempat ternyaman untukku pergi dan pulang. Aku bersyukur bertemu dengan manusia sepertimu diantara milyaran manusia di Bumi. Aku menyayangimu sepenuh hatiku. Aku berharap, aku menjadi satu-satunya wanita yang ada di hatimu untuk hari ini, esok dan sampai kapan pun.

1 komentar: