Sang Putri dari Sebuah
Kastil
Dahulu kala ada sebuah kastil tua di sebuah pelosok hutan yang berdiri kokoh tanpa ada penduduk di sekitarnya. Kastil itu dihuni sebuah keluarga, seorang Ayah, Ibu dan kedua putrinya yang sudah beranjak dewasa. Tak banyak orang tau tentang kastil ini. Mungkin karena letaknya di tempat terpencil atau memang hanya sebuah kastil tua biasa. Penduduk sekitar di luar kastil banyak beranggapan kastil ini tak berpenghuni atau berhantu dan banyak yang enggan melihat atau bahkan mendatangi kastil tua itu.
Keluarga ini seolah terlihat seperti keluarga bahagia. Bagaimana tidak? Sang Ayah yang bekerja sangat keras menginginkan kehidupan istri dan kedua putrinya dipenuhi sangat baik. Dari pangan yang berlimpah, gaun yang indah, perhiasan, serta mainan dan boneka. Tapi, sayangnya sang putri merasa kehidupannya begitu membosankan. Ia merasa kesepian, tidak mempunyai teman. Kesehariannya hanya di kastil itu, tidak diizinkan pergi keluar oleh sang ayah. Dari balik jendela kamarnya, ia selalu melihat pintu depan gerbang selalu digembok dan terkunci. Mungkin, itu adalah cara sang ayah agar tak satupun dari mereka berani melintasi pintu gerbang itu.
Di kamar, sang putri merasa sedih dan berpikir bagaimana kehidupan di luar sana? Apakah terasa menyenangkan? Sampai kapan ia akan berakhir menyedihkan di kastil ini? Bagaimana caranya ia keluar dan melarikan diri, melihat dunia luar yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Pertanyaan-pertanyaan aneh tiba-tiba menganggu pikirannya. Malam itu, ia tak bisa tidur nyenyak. Ia pun beranjak pergi ke kamar sang adik, melihat keadaannya. Ternyata dia sedang tertidur lelap dan tak tega membangunkannya hanya untuk mencurahkan isi hatinya. Akhirnya ia memutuskan kembali ke kamar dan membuang jauh-jauh pikiran buruknya.
Matahari bersinar terang dan cahayanya
masuk dari balik jendela kamar sang putri, membangunkan ia dari tidurnya.
Dilihatnya alarm yang sudah menunjukkan jam 9 pagi. Ia pun beranjak dari kasur dan
bergegas cepat ke kamar mandi lalu segera kebawah untuk sarapan pagi dengan
keluarganya. Ketika ia di ruang makan, wajah ayahnya sangat ketus melihat
kedatangannya. Ia tau bahwa ini adalah salahnya. Ia membuat mereka menunggu
hanya untuk sarapan bersama.
“Maaf Ayah, Ibu! Semalam aku tidak bisa
tidur dan telat bangun jadinya..” ujar sang putri.
“Kakak, aku lapar menunggu kakak lama
sekali!” ucap adiknya. Usia mereka hanya terpaut 2 tahun. Sang kakak kini
sudah berusia 20 tahun.
“Tidak apa-apa, sayang. Mungkin, tiap
malam ibu harus buatkan kamu jahe atau teh hangat agar kamu tidak susah tidur..”
Ibunya memang paling tau perasaan hatinya. Dari raut wajahnya sepertinya ibunya
tau ada masalah yang mengganggu pikiran anak sulungnya itu.
“Ayo kita makan! Sebelum makanan ini basi karena kelamaan” Sahut ayahnya. Ia tau perkataan ayahnya menyindir dirinya yang artinya kesalahan yang ia buat bukan masalah kecil.
Setelah makan, sang putri lekas beranjak
ke kamarnya. Sang adik mengikutinya dan ia pun bertanya “kenapa kamu
mengikutiku?”
“Karena kakak hanya satu-satunya temanku”
ucapan adiknya tiba-tiba membuatnya terkejut. Karena saling bergantung sama
lain, tanpa sadar mereka tak memiliki siapa-siapa lagi dan ia berpikir ini
tidak benar adanya.
Kakinya melangkah ke arah jendela dan lagi
melihat ke arah pintu gerbang. “kemarilah..” adiknya pun menghampiri sang
kakak.
“Apa kamu pernah berpikir kehidupan di
luar kastil ini? Pertanyaan sang kakak membuat adiknya aneh dan bertanya-tanya.
“Tidak. kenapa memangnya, kak? Sang adik
terus memandangi arah pntu gerbang yang sudah lama tertutup dan terkunci.
“Kakak ingin keluar dari sini. Kakak ingin
lihat dunia luar. Mungkin di luar sana, banyak penduduk atau hal menakjubkan yang
belum kita jumpai” kedua mata sang kakak berseri-seri. Seperti ada semangat
baru yang tumbuh dalam dirinya.
“Tapi, ayah pasti tidak akan menyukainya”
ucapan adiknya tiba-tiba menghilangkan senyum di pipinya.
“Kita harus cari cara dan jangan sampai
ketahuan” sang adik pun mengangguk. Ia berpikir omongan sang kakak ada benarnya
juga. Ia bisa merasakan apa yang tiba-tiba dirasakan olehnya. Ia pun mendukung
rencana kakaknya itu.
**********
Keesokkan harinya, sang putri mengajak
adiknya ke depan pintu gerbang ketika mereka tau ayahnya telah pergi keluar,
membawa barang untuk dijual ke pasar. Mereka juga tau bahwa ibunya sedang sibuk
memasak di dapur. Ini adalah waktu yang tepat untuk mencari cara
mengendap-endap keluar kastil tanpa ketahuan.
“Tinggi sekali, kak..” Mereka saling
melihat betapa tingginya pintu gerbang itu ternyata. Dengan rok yang mereka
kenakan sangat mustahil bisa memanjat pintu itu tanpa hambatan.
“Bagaimana kalau kita pakai tangga?” Sebuah ide muncul di pikiran sang putri. Adiknya hanya tersenyum lebar.
Mereka pun pergi ke Gudang untuk mencari
apa yang mereka butuhkan. Namun, sialnya pintu Gudangnya terkunci. Mereka menghela
nafas yang artinya gagal satu rencana mereka untuk keluar dari kastil ini. Mereka
menduga pasti ayahnya yang menyimpan seluruh kunci pintu di kastil ini termasuk
Gudang. Salahnya mereka lupa tidak mungkin ayahnya dengan mudahnya memberikan jawaban
atas pertanyaan mereka.
“Lalu sekarang bagaimana, kak?” tanya
adiknya. Ia pun meraih tangan adiknya dan kembali ke depan pintu gerbang.
Sang putri mengangkat roknya dan mulai
aba-aba untuk memanjat pintu gerbang itu.
“Kakak yakin? Hati-hati, kak..” ujar adiknya cemas ketika kakaknya benar-benar ingin memanjat.
Perlahan sang putri mulai memanjat dan awalnya terlihat mudah. Ia tersenyum lebar bahwa sebentar lagi ia akan sampai puncak dan bebas keluar dari kastil ini. Adiknya masih harap-harap cemas dan dalam hati ia berkata kakaknya akan berhasil. Namun, tiba-tiba kaki sang putri tergelincir dan jatuh. Sang putri pun berteriak. Adiknya terkejut bukan main melihat kakaknya mendarat dengan cara yang tidak ada di daftar rencana mereka.
“Kakak tidak apa-apa?” ia mencoba membopoh
kakaknya yang merasa kesakitan. Betapa kagetnya, ibunya menghampiri keduanya
tiba-tiba. Teriakan sang putri ternyata cukup kencang dan terdengar sampai ke
dalam.
“Ada apa ini? Kalian sedang apa?” Tampak
ibunya khawatir. Kedua putrinya hanya diam dan tak menjawab. Ibunya pun
membantu putrinya berjalan masuk ke dalam kastil.
Setelah kejadian hari itu, sang putri
hanya diam di kamar karena tubuhnya memar-memar karena kecerobohannya.
Beruntung ibunya segera mengobatinya dengan obat ramuannya. Karena hal itu,
ibunya terpaksa berbohong kepada ayahnya tentang kejadian itu. Anehnya, di
keluarga sang putri sekeras apapun penyakitnya tak ada yang berani memanggil
dokter. Ibunya selalu menggunakan obat ramuannya yang katanya turun menurun
dari kakek dan neneknya. Dan sayangnya sang putri telah gagal dengan rencananya.
“Sampai kapan pun aku akan berakhir di
kastil ini..” ujarnya dalam hati. Airmatanya tiba-tiba menetes.
**********
Apakah sungguh tidak ada jalan keluar untuknya? Sang putri kembali melamun seorang diri di kamarnya sambil otaknya bekerja keras memikirkan cara keluar dari kastil atau cara mengendap-endap pergi. Namun, memorinya kembali mengingat pertistiwa demi peristiwa yang ia lewati selama 20 tahun, terkurung di kastil ini. Sifat ayahnya yang keras dan susah dibantah membuatnya menghabiskan hari-harinya seperti di pengasingan layaknya seorang tahanan di penjara. Tiba-tiba airmatanya menetes. Kenapa ayah dan ibunya begitu jahat? Apa yang menjadi alasan mereka mengurung ia dan adiknya dari jangkauan dunia luar? Apakah selamanya ia akan terjebak di kastil ini?
Ini sangat tidak adil baginya. Sementara sang ayah dan ibunya bebas keluar masuk kastil. Meskipun ia tau ayahnya pergi hanya untuk mengantar barang dan menjualnya ke pasar. Sang ayah aktif bekerja di ruang belakang, mereparasi barang-barang yang telah rusak lalu mengantar ke rumah pemiliknya atau menjualnya ke pasar. Begitu juga dengan ibunya. Kadang hasil ia bercocok tanam dan berkebun, ia jual ke pasar. Sementara ia dan adiknya hanya berdiam diri di rumah. Sungguh membosankan.
TIba-tiba pintu kamarnya diketuk.
Dilihatnya sang ibu membawakan cemilan, pisang goreng untuknya. “Dimana adikmu”
tanyanya ketika dilihatnya putri sulungnya hanya sendirian di kamarnya.
“Mungkin sedang tidur di kamarnya, bu”
jawab sang putri. Ibunya meletakkan cemilan di atas meja belajar anaknya itu.
“Kamu kenapa, sayang? Kenapa akhir-akhir
ini terlihat murung?” Ia mengusap rambut putrinya dengan lembut. Ada sedikit
kecemasan yang terpancar di wajahnya.
“Bolehkah aku bertanya sesuatu pada ibu?
Si putri memberanikan diri, mencoba menyampaikan unek-unek dalam hatinya
belakangan ini. Ibunya hanya mengangguk.
“Kenapa aku tidak boleh keluar selama ini,
bu? Kenapa aku tidak mempunyai teman? Kenapa aku merasa bosan tinggal di kastil
ini? Pertanyaan bertubi-tubi dari putrinya lantas sama sekali tidak membuat
ibunya terkejut.
“Putri ibu sudah dewasa ya sekarang..”
Ibunya hanya tersenyum. Kelak, ia akan menghadapi pertanyaan karena rasa
keingintahuan putrinya yang sudah beranjak dewasa. Ia tidak menyalahkan
pemikiran putrinya itu.
Tiba-tiba ibunya merogoh saku roknya dan
memberikan sebuah kunci kepada putrinya itu.
“Ini adalah kunci pintu gerbang kastil
ini. Kamu bisa memilikinya tapi..” Sang putri memasang wajah aneh kepada
ibunya. Kenapa begitu tiba-tiba ibunya memberikan jawaban atas masalahnya
selama ini.
“Tapi apa, bu? Lalu ibu bagaimana? Hanya
keluar kata-kata itu. Dia tidak menyangka ibunya dengan mudah memecahkan
teka-teki yang selama ini ia cari.
“Ibu punya dua kunci, sayang. Jangan
sampai ayahmu tau mengenai hal ini” ujar ibunya sambil tersenyum. Sang putri
tak banyak tanya. Ia langsung menerima kunci itu dengan wajah gembira. Kemudian memeluk ibunya erat dan mengucapkan terima kasih. Ibunya hanya membalas dengan
kecupan hangat di kening putrinya itu.
Malam itu, di dalam kamar yang sunyi, sang
putri tak henti-hentinya berkelana lewat segudang asa di pikirannya. Senyum
bahagia merekah di wajahnya. Ia akan meninggalkan har-hari yang membosankan di
kastil ini, bertemu banyak penduduk yang belum pernah ia jumpai, atau sekedar
memandang langit biru yang tak akan sama dari biasanya. Sebuah helaan nafas panjang
keluar dari rongga dadanya. Sangat lega, pikirnya. Bayangkan hari yang telah
lama ia nanti, akan tiba esok dengan sekumpulan rencana yang sudah terkumpul
rapi dalam buku catatannya.
**********
Mentari bersinar hangat. Sinarnya menyapa
dari jendela sang putri, membangunnya yang terlalu lelap bersama sang mimpi. Ia
segera beranjak dari kasur dan mendekat ke arah jendela.
“Selamat pagi, putri..” senyuman masih
merekah di wajahnya. Dari balik jendelanya, ia melihat sang ayah telah pergi
dengan kudanya, melewati gerbang dan disambut senang oleh sang putri.
Sang putri langsung keluar kamar dan
bergegas ke kamar sang adik, menyapa sekaligus membawa berita menyenangkan.
“Hari ini kita siap-siap menjelajah
dunia..” ucapnya kegirangan. Ia berputar-putar dan menarik tangan adiknya,
merasakan getaran yang tak beraturan, saking ia tak bisa menahan gejolak
kebahagiaan di dalam dirinya.
Kedua alis sang adik mengkerut, tanda ia
belum mengerti. Ia berusaha bertanya “ada apa, kak? Sang putri pun berhenti dan
dilihat wajah adiknya dengan seksama. Ia pun tersenyum lebar, matanya berbinar-binar
sambil menunjukkan sebuah kunci di depan mata adiknya.
“Kita jalan-jalan keluar..” ucapan sang
kakak disambut dengan anggukan darinya. Adiknya pun bisa merasakan aura
kebahagiaan terpancar karena berita gembira itu, dipeluknya sang kakak dan kembali
menari-nari, tak terkendali. Teriakan-teriakan kecil juga menggema di dalam
ruangan. Pertanyaan-pertanyaan dan kegelisahan mereka sudah terjawab dan siap
berpetualang ke dunia yang belum pernah mereka pijaki. Tak peduli halangan,
hambatan sekalipun, mereka yakin mencari kehidupan yang belum pernah mereka rasakan
selama tinggal di kastilnya. Bukan berarti mereka sudah bebas. Hanya berusaha
tak terlihat dan menyimpan sendiri perjalanan mereka nantinya. Ayahnya tak
boleh tau mengenai hal ini, sekecil apapun rencanya.
**********
0 komentar:
Posting Komentar