Seseorang selalu ingin didengar dan punya tempat untuk bercerita. Sedang aku memilih berteman dengan sepi. Di satu ruang aku mampu menumpahkan segala lara yg tak mampu kuutarakan lewat kata. Tak apa, karna ini tentang dia yg membuatku jatuh cinta. Kadang kecewa, kadang juga bahagia. Meski dia sering kali menciptakan mendung dan airmata di langitku. Tapi, aku percaya bukankah akan ada pelangi setelahnya?

Sabtu, 12 Mei 2018

Sang Penggoda

Mei 12, 2018 Posted by Debby Nuramiruddin No comments

Sang Penggoda


Dulu, semua terasa baik-baik saja.
Namun, sekarang semua terasa tidak baik-baik saja. Sekarang, semua tak lagi sama, semua berubah.
Mimpi indah kini berubah menjadi mimpi buruk.
Menyakitkan bila tiba-tiba saja teringat hal yang rasanya ingin kau lupakan.
Waktu tidur pun mata sulit dipejamkan. Kembali terngiang wajah-wajah bahagia yang berdiri diatas penderitaan.
Apa yang menjadi milikku, telah dirampas paksa tanpa meminta izin dariku.
Istana yang telah kubangun, kau biarkan hancur begitu saja.
Airmata, kecewa bahkan amarah, tak kau hiraukan. Kau telah menganggap semua tak berarti lagi bagimu.
Aku bukan lagi tempat untuk kau pulang dan tempat kau bersandar.
Semua lagi bukan tanpa alasan, karena kau lebih memilih bersamanya.
Ketika sang penggoda itu datang, kau biarkan dia merusak istana kita berdua.
Kau biarkan sang penggoda itu merebutmu dariku.
Disini, aku yang paling terluka dan kau mengabaikan rasa sakit ini.
Aku pernah menjadi yang tersayang dan paling kau cinta.
Mungkinkah kau melupakannya? Mungkinkah kau lupa bahwa aku yang menjadi ratu dihatimu?
Lupakah kau janji setia yang telah kita ikrarkan bersama? Janji sehidup semati ketika pernikahan?
Mengapa kau tega mengkhianati janji suci itu?
Mengapa kau tega menyakiti tanpa memikirkan perasaan?
Mengapa sekarang kau menjadi manusia tanpa berperasaan?
Mengapa kau melupakan susah senang yang telah kita habiskan bersama?
Tak terhitung, telah berapa banyak kau membuatku menangis, airmata ini terus menetes ketika teringat kau bermesraan dengannya.
Tak terhitung, sudah berapa banyak pengorbanan yang kulakukan untuk memperbaiki suasana yang telah berbeda sejak waktumu terganggu olehnya.
Tak terhitung, telah berapa banyak hatiku mengatakan menyerah dan memilih untuk berpisah tanpa berusaha lagi untuk memperjuangkan dan bertahan.
Kini, kubiarkan wanita itu mengambil dan memiliki dirimu. Kubiarkan sang penggoda itu menempati posisiku dihatimu.
Kini, aku rela dan sudah merelakan kau pergi dan memilih bersamanya.
Aku pasrah dengan perpisahan, jalan yang kita pilih bersama. Mungkin, jalan itu yang ditakdirkan dan ditentukan Tuhan.

0 komentar:

Posting Komentar