Sang
Penggoda
Dulu, semua terasa baik-baik saja.
Namun, sekarang semua terasa tidak baik-baik
saja. Sekarang, semua tak lagi sama, semua berubah.
Mimpi indah kini berubah menjadi mimpi buruk.
Menyakitkan bila tiba-tiba saja teringat hal
yang rasanya ingin kau lupakan.
Waktu tidur pun mata sulit dipejamkan. Kembali
terngiang wajah-wajah bahagia yang berdiri diatas penderitaan.
Apa yang menjadi milikku, telah dirampas paksa
tanpa meminta izin dariku.
Istana yang telah kubangun, kau biarkan hancur
begitu saja.
Airmata, kecewa bahkan amarah, tak kau
hiraukan. Kau telah menganggap semua tak berarti lagi bagimu.
Aku bukan lagi tempat untuk kau pulang dan tempat
kau bersandar.
Semua lagi bukan tanpa alasan, karena kau lebih
memilih bersamanya.
Ketika sang penggoda itu datang, kau biarkan
dia merusak istana kita berdua.
Kau biarkan sang penggoda itu merebutmu dariku.
Disini, aku yang paling terluka dan kau
mengabaikan rasa sakit ini.
Aku pernah menjadi yang tersayang dan paling
kau cinta.
Mungkinkah kau melupakannya? Mungkinkah kau lupa
bahwa aku yang menjadi ratu dihatimu?
Lupakah kau janji setia yang telah kita
ikrarkan bersama? Janji sehidup semati ketika pernikahan?
Mengapa kau tega mengkhianati janji suci itu?
Mengapa kau tega menyakiti tanpa memikirkan perasaan?
Mengapa sekarang kau menjadi manusia tanpa
berperasaan?
Mengapa kau melupakan susah senang yang telah
kita habiskan bersama?
Tak terhitung, telah berapa banyak kau
membuatku menangis, airmata ini terus menetes ketika teringat kau bermesraan dengannya.
Tak terhitung, sudah berapa banyak pengorbanan
yang kulakukan untuk memperbaiki suasana yang telah berbeda sejak waktumu
terganggu olehnya.
Tak terhitung, telah berapa banyak hatiku
mengatakan menyerah dan memilih untuk berpisah tanpa berusaha lagi untuk
memperjuangkan dan bertahan.
Kini, kubiarkan wanita itu mengambil dan
memiliki dirimu. Kubiarkan sang penggoda itu menempati posisiku dihatimu.
Kini, aku rela dan sudah merelakan kau pergi
dan memilih bersamanya.
Aku pasrah dengan perpisahan, jalan yang kita
pilih bersama. Mungkin, jalan itu yang ditakdirkan dan ditentukan Tuhan.
0 komentar:
Posting Komentar