Menggapaimu
Jika menggapaimu semudah yang kubayangkan,
sudah kulakukan sejak dulu.
Aku lupa, kau hanyalah sekedar mimpi terbesarku
dan aku hanya sebuah bayangan bagimu.
Aku hanyalah bagian dari mimpi-mimpi panjangmu
yang tak untuk jadi nyata.
Jika hanya mampu menjadi sebuah bayangan,
mengapa rasanya sesakit ini?
Terasa sesak ketika semakin besar hasrat ingin
menyentuhmu, hasrat ingin memilikimu seutuhnya.
Walaupun aku melupakan satu hal, bahwa
menggapaimu tak semudah merangkai kata tentangmu.
Menggapaimu tak semudah menjatuhkan hati, hanya
membuat dada terasa sesak hingga airmata jatuh menetes dipipi.
Bahkan menggapaimu tak semudah menyebut nama
dan mengingat wajahmu, memikirkanmu tanpa sebab.
Menggapaimu ternyata sesulit aku memendam rasa
dan menahan rindu yang menggebu-gebu.
Lalu, mengapa begitu besar rasa ingin memiliki
dirimu?
Mampu menggapaimu hanya sekedar mimpi indah
kala kutertidur lelap. Ketika kubangun, berharap kau hadir dan tersenyum
kearahku.
Namun, khayalan itu rupanya mesti kubuang-buang
jauh, tak perlu kubiarkan membuatku terperosok kedalam mimpi yang terlalu
dalam.
Aku memang terlalu bodoh, mengharapkan dirimu
untuk sekedar melirikku saja.
Bisakah sejenak saja melihatku disini?
Ada aku yang menjadi pengagum rahasiamu,
menyukai setiap gerak-gerikmu.
Harus kuakui, kehadiranmu ternyata memberikan
warna-warna cerah dihidupku dan aku bersyukur akan hal itu.
Walau menggapaimu membutuhkan usaha yang cukup keras,
tak mengapa asalkan masih bisa melihatmu dan merasakan bau harum tubuhmu.
0 komentar:
Posting Komentar