Sebuah
Rasa
Semua salah.
Semua tidak benar.
Semua tidak pada tempatnya.
Aku dihadapkan diantara dua pilihan, antara
benar dan salah.
Semua terasa membingungkan.
Semua terasa menyakitkan.
Hanya karena sebuah rasa, aku melukai hati
seseorang. Bukan hanya dia, hatiku pun ikut terluka karena seseorang.
Aku mencintai dia, sangat mencintai dia. Namun,
rasa itu terhalang oleh dusta yang tercipta. Dunia begitu rumit hanya karena
sebuah rasa yang kuberikan untuk seseorang.
Karena sebuah rasa, aku mengambil kebahagiaan
milik seseorang. Aku bahkan telah merusak istana megah yang telah lama ia
bangun.
Tak peduli, aku hanya ingin memilik dia
seutuhnya. Hasrat yang besar untuk memilikinya telah menghancurkan pikiran yang
baik dan hati yang baik.
Seperti wanita jahat, aku juga akan membangun
istana dan hidup bersamanya.
Begitulah kehidupan yang kujalani hari ini. Aku
mencoba mengerti keadaan yang tengah kami rasakan.
Tak mudah untuk menghabiskan waktumu bersama
orang yang kamu cintai. Melihat bahwa cinta yang kau rasakan adalah cinta yang
tak semestinya dan tak seharusnya terjadi.
Lalu, apakah aku harus menyalahkan “rasa cinta”
yang tertanam dihatiku? Ataukah aku harus berlari dari kenyataan yang kejam
yang penuh dengan sebuah penghalang?
Bukankah sangat rumit hanya karena sebuah rasa
yang tercipta.
Aku hanya ingin menghabiskan waktu bersamanya
hari ini, esok dan seterusnya tanpa memikirkan yang menjadi penghalang cinta
kami berdua.
Jika tak cukup hanya dengan menggapainya, perlu
usaha keras, maka akan aku lakukan.
Jika perlu cara yang tak biasa, maka akan
kulakukan.
Sebuah rasa yang kurasakan untukmu tak boleh
menjadi sia-sia.

0 komentar:
Posting Komentar