Seseorang selalu ingin didengar dan punya tempat untuk bercerita. Sedang aku memilih berteman dengan sepi. Di satu ruang aku mampu menumpahkan segala lara yg tak mampu kuutarakan lewat kata. Tak apa, karna ini tentang dia yg membuatku jatuh cinta. Kadang kecewa, kadang juga bahagia. Meski dia sering kali menciptakan mendung dan airmata di langitku. Tapi, aku percaya bukankah akan ada pelangi setelahnya?

Minggu, 26 Desember 2021

Tentang Dia

Desember 26, 2021 Posted by Debby Nuramiruddin No comments

Tentang Dia

 

Sore itu, pekerjaanku tak terlalu banyak dan dapat kuselesaikan tepat waktu. Jam sudah menunjukkan pukul 6 sore, jam pulang perkantoran di Jakarta. Aku pun menyambar tas, mulai beranjak dan berpamitan pada teman-temanku yang masih betah rupanya.

“Pulang dulu ya, semuanya..” ujarku sambil melambaikan tangan dan bergegas turun ke bawah.

“Hati-hati Ra..” sahut Winda, membalas ucapanku.

Perkenalkan namaku Naura. Aku telah bekerja selama 2 tahun di perusahaan Property dan kebetulan divisiku berada di lantai 2 dari gedung bertingkat 4 ini. Lingkungan kerja dengan rekan-rekan dan pekerjaan yang menyenangkan menjadi salah satu alasanku nyaman bekerja hingga saat ini.

       Sayang, tiba-tiba hujan datang tanpa diundang. Ia menyapaku di sore menjelang malam. Aku kelimpungan dan segera berlari menuju Halte Bus, tidak jauh dari kantor. Bodohnya, aku suka teledor orangnya, tidak sedia payung sebelum hujan. Jarak rumah dan kantor yang terletak di Jakarta Selatan, pusat perkantoran dengan gedung-gedung bertingkat cukup jauh dan memakan waktu 1 jam di perjalanan. Rasanya, aku akan pulang terlambat. Tak jadi masalah karena kurasa aku ingin menetap sebentar saja. Aroma hujan terasa menggoda daripada biasanya. Entah mengapa aku menyukai cara hujan turun ke bumi, tak mau melewatkannya dan merasakan setiap partikel-partikel kecil yang jatuh dengan jemariku.

“Belum pulang nih” suara yang tak asing olehku dan dari sepatu lusuhnya aku tahu siapa pemiliknya. Aku menoleh dan benar dia sudah berdiri sambil tersenyum ke arahku. Dalam sekejap, jantungku berdebar-debar kencang.

“Kamu sendiri belum pulang?” Tanyaku mencoba bersikap wajar dan apa adanya.

Dia adalah Saga, teman sekantorku dari divisi Technology. Suatu kebetulan bisa berada di halte yang sama. Sebelumnya, aku tak melihatnya di dalam dan pikirku mungkin ia sudah pulang sedari tadi. Kini, semesta membuatku terjebak bersama Saga, manusia yang tak banyak bicara, suka menyendiri, kurang bersosialisasi dengan teman sekantor ─ kalau itu kata mereka. Tapi, aku tak sependapat dengan mereka. Menurutku, bukanlah hal buruk dan mungkin itu adalah salah satu keunikannya. Jika kamu sudah mengenalnya lebih dekat, ia adalah seorang teman yang baik walaupun terkadang menyebalkan. Ia cukup jahil dan aku adalah korban setiap kejahilannya. “Kenapa ya? Aku selalu antusias ketika bercerita tentangnya”. Mungkinkah karena aku mempunyai rahasia yang telah lama kusimpan rapat-rapat? Hanya semesta yang tahu bahwa diam-diam aku memendam perasaan untuknya.

Kamu yang selalu terlintas di benakku

Bagai pelangi yang datangnya ditunggu-tunggu,

Memberi warna di hidupku

Seperti kopi yang membuatku candu,

Aku ingin tahu segala tentangmu

“Hujan, kan. Jadi engga bisa pulang..” Bodohnya aku, ucapku dalam hati. Sekian kalinya, ia tersenyum dan selalu berhasil melelehkan hatiku bahkan untuk sekedar pertanyaan bodoh yang kulontarkan.

“Paling bentar lagi juga reda ya” Aku berharap langit kali ini setuju dengan perkataanku. Aku paling tidak bisa berlama-lama bila berada di dekatnya, akan selalu ada kebodohan yang kuciptakan tanpa sengaja.

            Entah mengapa seketika hujan mulai agak reda. Sulit dipercaya permintaanku seketika dikabulkan semesta. Dalam hati, aku tertawa sendiri dan berpikir untuk segera pergi menjauh dari medan yang penuh ketegangan ini. Baru saja ingin kupergi, langkah kakiku sekejap terhenti. Sebuah kata-kata yang terucap darinya kembali membuat jantungku berdebar-debar tak karuan. Itulah kehebatannya yang banyak orang tak tahu.

“Makan dulu, yuk!” Hari ini aku dibuat bahagia olehnya, selain hujan. Aku paling tak bisa menolak ajakan darinya dan membuang kesempatan yang begitu langka. Tanpa pikir panjang aku mengangguk, mengiyakan.

            Kemudian, ia seolah memberiku kode untuk segera beranjak. Namun, kedua kalinya tanpa disangka ia menarik tanganku dan menggengamnya, membungkam bibirku yang kehilangan kata-kata. Dibawah rintik hujan dan berselimut kecemasan, kami berlarian kecil menuju sebuah cafe di ujung jalan. Tampak punggungnya yang indah dari belakang, membuatku mengkhayal yang bukan-bukan. Aku segera membuyarkan jauh-jauh khayalan itu.

Hujan, bisikkan kepadanya

Tentang rasa yang bersemayam di dada

Tentang rindu yang sering singgah tiba-tiba

Hanya karena dia, Saga..

Mungkinkah ada kisah antara aku dengannya?

            Semesta seolah memberi petujuk atas fenomena yang terjadi hari ini. Mungkin ini adalah waktu yang tepat bagiku untuk memberanikan diri menjadi pejuang katakan cinta dan pensiun menjadi seorang penakut atau pengecut.

“Apakah ini saatnya?” aku bertanya-tanya dalam hati, berharap mendapatkan jawaban yang kubutuhkan tanpa ada rasa penyesalan nantinya. Mulutku mulai terbuka dan keluarlah satu nama sebelum memulai aksi yang tidak kurencanakan “Saga..” Ucapku. Disela-sela suara hujan, kuharap suaraku terdengar lantang sampai ke telinganya.

“Kenapa? Cacing-cacing di perutmu sudah kelaparan?” katanya dibarengi oleh segelintir tawa. Sayangnya, suara hatiku tak menjawab apa-apa ataupun sekedar memberikan sinyal apakah ini merupakan langkah yang tepat untuk menyatakan perasaan yang telah kupendam sekian lama.

Aku memang tak pernah bisa mengendalikan rasa takut yang terlanjur menetap di hati.  Ketakutan-ketakutan seperti ia akan menjauh dari sisi, berpura-pura tak mengenalku atau menghilang dari bumi, penuh di pikiranku. Mungkin alasan-alasan klise seperti itu yang membuat hubungan ini hanya akan sebatas teman sampai kapan pun. Tak masalah bagiku asalkan aku masih bisa melihatnya di Bumi setiap hari, mendengar tawanya dan juga merasakan hadirnya di dekatku. Bagiku, itu jauh lebih berarti.

“Iya. Kamu yang traktir, kan?” Kataku menggoda dan bersemangat. Tanganku belum juga ia lepaskan. Tak apa. Aku berharap sang waktu tak segera berakhir.

“Siaaapp….” Jawabnya lantang. Aku hanya tersenyum mendengarnya.

Dia memang Saga, yang selalu menjadi bahan perbincangan orang-orang di kantor karena hak keistimewaan yang dia punya. Dia sering datang terlambat ke kantor dan menjadi karyawan yang pulang lebih awal. Padahal, aku tahu alasan di balik itu semua dan sekedar untuk membersihkan namanya, ia memintaku menutup mulut dan tak perlu memikirkan perasaannya, apalagi mendengarkan mereka yang tak tahu apa-apa. Sesungguhnya, aku senang menghabiskan waktu bersamanya walau kadang jantungku tidak bisa diajak kerja sama. Untungnya, Saga tak mendengar suara detakannya. Hari-hari bersamanya selalu menjadi hari termanis dan istimewa yang kutulis di diary kecilku tentang Saga. Waktu yang terus berjalan kedepan, membuatku harus merekam moment-moment yang sudah lewat dan di diary ini bisa menjadi pengingatku tentang dia dan cerita-cerita manis bersamanya, tak ada habisnya.  

“Mungkin Sebagian orang lebih memilih memendam perasaannya karena menenangkan walau mereka tahu konsekuensinya yaitu penyesalan”

 *****

          Aku meregangkan kedua tangan dan leherku, pertanda aku sudah lelah dengan pekerjaan yang memaksaku untuk betah di kantor sampai dengan jam 9 malam.

“Sedikit, lagi. Semangat, Naura!” aku memang suka menyemangati diri sendiri. Tidak ada salahnya, bukan? Aku melihat sekeliling ruangan kosong, tak ada manusia lain. Hanya ditemani suara air dari aquarium ikan di pojokan, yang memecah keheningan. Kupercepat pekerjaan agar cepat selesai dan meninggalkan ruangan. Aku agak takut jika sendirian di suatu tempat, seketika bulu kuduk merinding. Kubuang rasa kecemasan itu dan kembali berkutik pada tugas di depan mata.

            Dengan sistem kebut semalam, akhirnya tugas itu rampung di jam 10 malam. Aku menghela nafas kemudian mematikan laptop dan berberes, memeriksa barang-barangku, jangan sampai ada yang tertinggal. Saat sedang memasukkan barang yang sekiranya perlu ke dalam tas, sebuah suara yang tak asing mengagetkanku “Belum pulang juga, ra?”

Aku menoleh dan mendapati seorang Saga bisa menyapaku di jam orang-orang bergegas untuk tidur. Aku terheran-heran dengan penampakan manusia satu itu, sungguh penampakan yang tidak biasa.

“Iya nih baru mau pulang. Kok masih di kantor, Ga?” tanyaku meresleting tas, mengambil aba-aba untuk segera beranjak dari tempat dudukku.

“Sama. Lagi males pulang..” jawab Saga sambil tertawa ringan. Aku mengernyitkan alis kemudian menyusul langkahnya yang hendak turun ke bawah.

“Terus kapan mau pulangnya? Emangnya orang rumah engga nyariin?” aku penasaran tumben-tumbennya dia bergurau atau memang sedang ada masalah?, pikirku.

Saga tak menjawab pertanyaanku. Sambil menuruni anak tangga bibirku langsung menyosor, tak terkontrol, menceritakan mengapa aku terjebak di kantor hingga malam. Tak butuh waktu lama, kaki kami sudah menginjak lantai bawah.

“Saga! Kamu dengerin engga sih?” Protesku ketika tak mendapat respon apa-apa darinya. Menyadarkanku bahwa sedari tadi aku sedang berbicara dengan diriku sendiri. Hanya punggungnya yang terlihat jelas olehku.

“Kamu ngomong apa sih, Ra?” Saga membalikkan badannya. Dia tersenyum menawan bak pangeran. Wajahnya mendekat, melekat, menatapku dalam hingga sontak membuat jantungku bergejolak tak karuan. Aku menelan ludah, menahan jantung yang serasa mau copot atau perut yang tiba-tiba mules.

Tuhan, kapan aku bisa melihatnya dengan nyaman?

Mengapa meresahkan?

Dia membuatku tertegun lama,

Ada yang membuncah di dada,

Berkejar-kejaran di kepala karena satu nama,

Senyuman yang kutahu paling indah di dunia,

Kini ingin kumiliki seutuhnya..

“Kok mukanya merah, Ra?” Sahutannya kali ini menyadarkanku yang sedari tadi diam mematung.

“Panas, Ga. Disini panas ya” Aku berdehem sambil meniup-niup dan mengibas-ngibaskan tanganku seolah aku sedang dipanggang di atas cinta yang membara.

“Kamu lucu juga ya, ra” Saga kembali membuatku salah tingkah hingga nafasku terengah-engah. Lalu, Saga melengos pergi, meninggalkanku seorang diri.

“Mau kemana, Ga?” sahutku tiba-tiba. Akhirnya aku bisa bernafas lega.

“Ke rumah teman. Dah, Ra..” Dia melambaikan tangannya. Lama-lama punggung itu tak terlihat lagi olehku.

“Dah, Saga..” suaraku pelan, terbawa angin malam. Aku pun bergegas pergi dari kantor dan kemudian berpamitan kepada security. Sebelum pulang, aku memutuskan ke alfa mart dekat kantor untuk membeli susu dan cemilan kesukaanku. Karena sudah sangat malam, aku memilih ojek online sebagai alternatif tercepat aku sampai ke rumah.

*****

            Pukul 12 siang waktu yang kutunggu-tunggu. Cacing-cacing di perut sudah mengajak demo sedari tadi. Temanku Winda, Sarah dan Tania mengajakku makan siang di warteg yang biasa kami kunjungi, yang sesuai kantong “murah meriah”.

Karena warteg ini dikenal “self service”, aku mengambil nasi ditambah sayur sup makaroni dan bakwan jagung menjadi menu andalanku hari ini.

Tidak seperti biasanya, warteg ini tidak terlalu ramai. Mungkin karyawan-karyawan yang lain masih banyak pekerjaan yang tidak bisa ditinggal. Hanya 3 orang yang duduk diseberang kami.

“Akhirnya kita makan juga” ucapan Tania kusertai dengan anggukan kepala dariku.

Ketika tengah menyantap makanan, Winda bertanya “semalam sampai jam berapa, ra?”

“Jam 10 win..” jawabku sambil tertawa ringan. Aku kembali menyantap sup makaroni favoritku.

“Malem banget, ra. Emang engga bisa dibesokin? Sarah menyambar.

“Si Boss minta diemail proposalnya hari ini sebelum jam 9” itulah alasanku lembur semalam. Aku bekerja di divisi Business Development atau lebih dikenal Marketing.

“Oh iya by the way, pas gue mau nemuin Pak Riswanto di ruangannya, gue ngelihat Saga habis ngasih surat gitu di mejanya. Kayaknya surat resign deh” omongan Tania kali ini membuatku berhenti makan seketika.

“Beneran lo, Tan? Salah lihat kali” ujar Sarah masih belum percaya.

“Yee, beneran. Makanya dengerin gue dulu. Gue kan belom selesai ngomong” aku menunggu kelanjutan cerita Tania. Hatiku berharap dia hanya bergurau atau jika ini lelucon, sangatlah tidak lucu buatku.

“Kan pas keluar gue tanya – “lo mau resign, Ga?” dia cuma senyum saja. Gue rasa bener deh, dia resign..” Deg. Ucapan Tania kali ini sungguh membuatku terdiam. Pertanyaan-pertanyaan tentang kebenaran dari berita yang kudenger saat ini seolah-olah menggema di kepalaku.

“Mungkin Tania bener. Nanti kita lihat saja” Sarah setuju dengan argumen Tania.

“Lo kenapa, ra?” tiba-tiba pertanyaan Winda menusuk ke arahku. Semuanya sekejap memperhatikanku. Aku memang diam sejak tadi. Kurasa aku tak bisa bertahan disini untuk waktu yang lama.

“Engga papa. Tiba-tiba perut gue sakit. Gue balik duluan ya” aku mencari-cari alasan dan mencoba bersikap biasa agar tidak ada yang mencurigai ketidakwajaranku. Aku segera berlari pergi, meninggalkan makananku yang masih tersisa.

“Ara yang aneh..” suara Sarah samar-samar terdengar di telingaku. Aku yang terus berlari, kakiku seolah tahu kemana yang kutuju. Kepalaku penuh diisi oleh Saga dan Saga. Aku belum bisa bernafas lega sebelum mendapat keterangan dan kebenaran dari dia.

Aku mengambil ponsel dari saku dan mengirim pesan ke Saga “Dimana?” kuharap ia segera membalas pesanku itu.

*****

            Kaki terus berlari dan tibalah di depan kantor. Aku terus melangkah ke atas, mungkin saja dia masih di ruangannya. Aku tahu betul dia jarang istirahat tepat waktu dan lebih mementingkan pekerjaaannya dibanding perut.

Mataku terus mencari keberadaannya ketika kulihat mejanya kosong. Aku memutar otak, berpikir dimana Saga sebenarnya. Tapi, yang kutemukan hanya Remy. Dia memang sedivisi dengan Saga dan langsung kuhampiri tanpa pikir panjang.

“Rem, lo lihat Saga dimana?” tanyaku cemas. Aku berharap mendapat jawaban yang tepat.

“Kayaknya di balkon deh. Paling ngerokok” katanya.

“Kenapa emangnya?” katanya sekali lagi yang tak gubris. Aku langsung melengos pergi dan naik ke lantai 4. Balkon memang terletak di lantai paling atas.

Sebelum ke balkon, aku melewati pantry. Ini adalah alasanku dan teman sekantor lebih memilih makan di luar ketimbang di pantry. Dan benar adanya, aku mendapati sosoknya sedang duduk dengan laptop di pangkuannya. Tapi, sebelum itu aku mengatur nafas terlebih dahulu agar ia tak curiga nantinya, menganggapku habis lomba marathon antar kampung.

“Saga...” panggilku. Kakiku melangkah, mendekatinya.

“Eh, Ra. Kenapa?” Saga menyadari kehadiranku. Aku mencoba duduk di kursi kosong, sebelahnya.

“Aku barusan ngechat kamu” jawabku. Dia memang tak pernah membalas cepat pesan dariku.

“Oh ya?” Ia mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Aku tak sengaja melihat isi ponselnya. Banyak chat masuk yang belum dibuka ataupun dibaca olehnya.

“Sorry, ra. Engga ngecek handphone dari tadi” jawabnya cengar cengir.

“Kok kamu betah sih disini?” aku mencoba mengalihkan pembicaraan. Inilah Saga. Dia memang tidak suka keramaian dan lebih memilih sendiri seperti saat ini.

“Biar bisa ngerokok, ra” jawabnya. Dia kemudian mematikan rokoknya.

“Ga, emang bener kamu mau resign?” aku langsung bertanya hal yang mengganggu pikiranku saat ini. Berharap rumor yang dikatakan Tania tidaklah benar.

“Sebenarnya udah kepikiran buat resign dari beberapa bulan yang lalu. Aku pikir sekarang udah waktunya..” Penjelasan dari orangnya langsung menampar hatiku. Rasanya perih sekali. Seperti dihujani hujan yang panas.

“Kenapa harus resign, Ga? Gara-gara omongan mereka? Kenapa kamu dengerin, sih!” Aku bertanya berharap kali ini dia memikirkan ulang keputusannya. Alasan mengapa Saga datang terlambat dan selalu pulang lebih awal merupakan kesepakatan antara dia dan Pak Riswanto, selaku Manager perusahaan ketika dia diterima bekerja. Dia harus menjaga toko percetakan milik keluarganya.

Saga menutup laptopnya dan berkata “Bokap sakit, Ra. Kanker Tiroid. Kasian nyokap ngejagain bokap sendirian. Ade juga sibuk kuliah. Mungkin aku bakal punya lebih banyak waktu kalau cuma jaga toko” ujarnya panjang lebar. Aku tidak tahu-menahu hal ini. Untuk pertama kalinya aku mendengar keluh kesah Saga. Aku tidak mungkin menyangkal omongannya dan memintanya untuk berpikir lagi karena bisa kulihat Saga tulang punggung keluarga.

“Jadi, kapan last daynya?” aku harus menyiapkan mental untuk kemungkinan terburuk nantinya.

“Hari ini, Ra. Pak Riswanto juga udah setuju” aku kaget setengah mati. Bagaimana mungkin hari ini adalah hari terakhirku melihat Saga di kantor. Butir-butir airmata sudah mulai memenuhi kelopak mataku. Aku tak bisa berkata apa-apa lagi.

“Udahan, yuk! Udah makan, Ra?” Saga berdiri, mengambil langkah kakinya untuk beranjak pergi.

“Udah..” jawabku singkat, mengikuti langkahnya. Aku benar-benar tak bisa berpikir apa-apa selain membayangkan bahwa esok dan hari-hari berikutnya tak akan ada lagi sosok Saga yang sering kuperhatikan diam-diam, yang membuatku bersemangat tiap kali datang ke kantor hanya untuk memastikan sosoknya masih disana. Tapi, kini semesta tidak sependapat denganku.

*****

Begitulah semesta dengan caranya, selalu punya kejutan.

Kadang bahagia dan duka selalu datang bersamaan.

 ******

“Ra, katanya ada pizza di pantry. Ambil yuk!” ajak Sarah menyadarkanku yang sedari tadi hanya melamun. Aku menoleh kearahnya, dan berkata dalam hati “Pizza?”. Seketika tanganku sudah ditarik oleh Sarah, menuju pantry. Walaupun harus naik tangga ke lantai 4, untuk urusan makanan tak menjadi masalah untuk Sarah. Ternyata tidak hanya dari divisi kami, semua mengambil bagiannya. Ada 2 kotak pizza yang siap disantap.

“Pizza dari siapa?” tanya Sarah kepada anak laki-laki divisi lain yang tak kukenal namanya. Sarah langsung menyambar 1 potong pizza dan diberikan padaku dan satu lagi untuknya.

“Dari saga..” ujarnya. Ia menunjuk sebuah notes yang tertempel di kotak pizza itu. Sebuah notes bertuliskan “Silakan dinikmati. Thank you, Saga” begitulah notes singkat darinya.

Aku terkejut dan teringat kata-kata Saga tadi di balkon. Aku segera beranjak dengan pizza di tangan. Yang kubutuhkan saat ini hanyalah melihat Saga. Aku terus mencarinya bagai orang bodoh. Aku ke mejanya dan lagi-lagi kulihat kosong. Seperti sebelumnya, ada Remy yang masih duduk tenang di meja sebelah.

“Rem, lihat Saga? Dia dimana, ya?” aku bertanya dan kuharap Remy tak berbalik nanya kepadaku. Aku sangat butuh jawabannya yang mungkin dapat membantuku menemukan Saga.

“Barusan dia pulang. Kenapa emang, Ra? Dari tadi nanyain Saga terus” aku yakin setelah ini ada gossip tentangku yang kelimpungan mencari Saga seharian ini.

“Okay. Thanks, Rem!” hanya itu yang bisa kujawab. Kuberikan sepotong pizza yang belum kumakan padanya. Selain itu, pikiranku hanya tertuju pada dimana Saga. Aku berlari menuruni anak tangga satu demi satu sambil berharap di dalam hati, memohon, aku bisa melihatnya walau untuk terakhir kalinya. Itu saja yang kuminta pada semesta.

*****

            Orang yang kucari-cari hari ini kini di depan mataku. Syukurlah, aku masih dikasih kesempatan oleh semesta untuk melihat wajah itu terakhir kalinya.

“Ga!” kupanggil dan saat itu juga dia menoleh.

“Kok udah mau pulang?” aku berjalan ke arahnya. Ada getaran di setiap langkahku saat ini. Terasa berat dan tak kuasa menahan ini sendiri.

“Mau mampir ke toko, Ra. Biasa ada masalah” ucap Saga. Aku melihat ada yang berbeda di sorotan matanya. Aku sendiri tak bisa mengartikan. Seperti perasaan sedih yang sedang kurasakan sekarang.

Jika ini terakhir kali aku melihatnya, seharusnya aku mengungkapkan perasaanku padanya. Setidaknya ini yang bisa kulakukan sebelum benar-benar diliputi oleh penyesalan nantinya. Kupikir, aku tak akan bisa bertemu lagi dengannya. Entah mengapa, aku memiliki keyakinan seperti itu.

“Ga, ada yang mau aku bilang” kataku terbata-bata. Aku kumpulkan keberanianku untuk mengatakan kata-kata yang hanya kusimpan di dalam hati untuk waktu yang lama.

“Mau bilang apa, Ra?” aku mencoba menghilangkan ragu yang tiba-tiba muncul di benakku.

“Aku.. aku..” aku mencoba mencari dan merangkai kata yang tepat agar dia bisa memahami maksud dari perkataanku. Padahal hanya tiga kata saja, mengapa begitu sulit?

“Atas nama Mas Saga..” sebuah ojek online membuyarkan keberanianku.

“Iya, pak” Saga mengangkat tangan dan segera menghampiri ojek online yang sedari tadi ia tunggu.

Akhirnya kuurungkan niatku dan hanya kata-kata ini yang bisa keluar dari mulutku “Ga! Kita masih bisa ketemu, kan?” kuharap ia mendengar suaraku yang lantang.

Saga yang sedang memasang helm di kepalanya dan segera duduk di atas motor, berkata “Aku masih di Jakarta kok, Ra! Jaga diri baik-baik ya” itulah kata-kata terakhir yang kuterima darinya. Dalam hitungan detik, motor itu melesat pergi. Saga dan bayangannya benar-benar telah pergi dari kehidupanku untuk selamanya. Aku yang sedari tadi diam mematung tak kuasa menahan air mata yang jatuh di pipi.

Bawalah rasa ini ikut bersamanya

Biarlah aku berkawan dengan sepi setelahnya

Aku hanya tak kuasa saja

Kupasrahkan, biarkan semesta yang bekerja

*****

Sudah 2 bulan sejak kepergian Saga, membuat konsentrasiku berantakan. Aku mencoba mengiriminya pesan namun sudah 3 hari dia tak kunjung membalas pesan dariku. Bukan itu saja, aku jadi sering melamun, menyendiri sampai tiba-tiba Winda mengajakku berbicara. Sepertinya dia menyadari perubahanku yang jarang ngumpul ataupun makan siang bersama. Aku lebih memilih duduk sendiri dan makan di mejaku. Aku juga tak banyak komentar ketika Sarah yang duduk di sebelahku mengajakku mengobrol.

Aku dan Winda kini sedang di balkon, tempat yang mungkin aman dari jangkauan orang. Aku diam, membiarkan Winda memulai pembicaraan ini.

“Lo kenapa, Ra? Kok akhir-akhir ini gue ngelihat lo murung” tanya Winda. Bisa dibilang Winda adalah sahabatku di kantor tapi, walaupun begitu aku bukan tipikal orang yang bebas mengeluarkan unek-uneknya dan ingin didengar. Aku lebih memilih menyimpannya sendirian.

“Hah? Engga papa ko, Win!” jawabku pura-pura santai.

“Karena Saga?” mataku terbelalak mendengar kalimatnya barusan. Aku bahkan tak pernah bercerita apa-apa padanya tentang perasaanku dulu dan sekarang.

Winda menghela nafas, kemudian berkata “Bener, kan? Kenapa cuma karena Saga, lo sampe harus kayak gini sih, Ra” mungkin sudah waktunya aku jujur pada Winda.

“Gue engga tau, Win” hanya itu yang bisa kukatakan ketika tak kuketahui lagi kabar Saga.

“Lo engga boleh kayak gini terus, Ra! Masih banyak cowok di luar sana. Engga cuma Saga!” Winda menegaskan. Aku tahu dia mencoba menghibur hatiku yang gundah, tetap saja omongannya seperti angin lalu bagiku.

“Gue tau kalo dia juga suka sama gue, Win” aku mencoba membuat Winda yakin bahwa perkataannya adalah salah. Dia tidak mengenal Saga sepenuhnya.

“Buktinya? Dia pernah nembak lo?” Winda mematahkan kata-kataku. Ucapannya memang benar tapi aku kembali menyanggah “Lo engga ngerti, Win” tiba-tiba airmataku untuk kesekian kalinya menetes hanya karena satu manusia yang entah dimana.

Aku menunduk dan menutup wajahku, malu karena Winda harus menyaksikan aku yang cengeng dan menangis di depan matanya. Winda memelukku. Kurasakan hangat pelukannya.

“Engga papa sekarang lo nangis, Ra. Suatu hari nanti lo bakal ketemu cowok yang bisa bikin lo bahagia dan itu bukan Saga” Ia mencoba menenangkanku.

Aku masih menangis dibalik punggungnya, kemudian membalas “Gue engga tau, Win” cuma itu yang bisa kukatakan karena aku sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya hati ini inginkan. Yang kutahu hati ini sangat ingin tahu kabarnya, apakah dia baik-baik saja disana.

Semesta, kemana harus kutuju?

Ketika yang kutahu hanya rindu

Sekeras apapun berlari dan mencari

Satu yang pasti, dia sudah tak lagi di sisi

*****

            Itu adalah kisahku 3 tahun yang lalu. Potongan-potongan memori kembali menguak ketika aku tak sengaja membereskan kamar, rencananya aku akan segera pindah rumah. Aku sedang packing barang yang mana yang mau kubawa. Perhatianku tiba-tiba teralihkan dengan sebuah buku kecil lama, diary berisi kenangan-kenanganku bersama dia yang pernah mengisi hari-hariku dulu. Seolah tergerak hatiku untuk kembali membacanya lembar per lembar. Seolah mengantarkan diriku kembali ke masa-masa itu. Aku telah sampai pada halaman terakhir buku ini, sebuah puisi yang kutulis ketika aku memutuskan untuk benar-benar melupakan dia, mengubur perasaan itu dalam-dalam.

Bersama sang malam, aku sendirian

Angin mengusik, berbisik sang pujaan

Menguak jauh ke dalam ingatan

Takdir yang mempertemukan dua insan

Takdir dengan tega memisahkan

Kala yang berjalan

Beriringan penyesalan dan kehilangan

Rindu yang tiada henti

Meski hati terasa sepi, sunyi bagai tak berpenghuni

Meski ku hilang arah,

Aku tahu bahwa ia baik-baik saja disana

Aku menutup buku yang penuh sejarah dan memasukkannya ke dalam tas. Tak ada lagi airmata yang turun di pipi karena kupikir kisahku dengannya telah usai bahkan belum sempat dimulai.

*****

“Begitulah kehidupan. Dimana ada pertemuan, ada perpisahan dan yang tersisa hanyalah kenangan. Kita hanyalah pemain yang menjalankan skenario yang dituliskan Sang Pencipta, sang sutradara kehidupan”

0 komentar:

Posting Komentar