Tentang Dia
Sore itu, pekerjaanku
tak terlalu banyak dan dapat kuselesaikan tepat waktu. Jam sudah menunjukkan
pukul 6 sore, jam pulang perkantoran di Jakarta. Aku pun menyambar tas, mulai
beranjak dan berpamitan pada teman-temanku yang masih betah rupanya.
“Pulang dulu ya, semuanya..” ujarku sambil
melambaikan tangan dan bergegas turun ke bawah.
“Hati-hati Ra..” sahut Winda,
membalas ucapanku.
Perkenalkan namaku Naura. Aku telah
bekerja selama 2 tahun di perusahaan Property dan kebetulan divisiku berada di
lantai 2 dari gedung bertingkat 4 ini. Lingkungan kerja dengan rekan-rekan dan
pekerjaan yang menyenangkan menjadi salah satu alasanku nyaman bekerja hingga
saat ini.
Sayang,
tiba-tiba hujan datang tanpa diundang. Ia menyapaku di sore menjelang malam.
Aku kelimpungan dan segera berlari menuju Halte Bus, tidak jauh dari kantor.
Bodohnya, aku suka teledor orangnya, tidak sedia payung sebelum hujan. Jarak
rumah dan kantor yang terletak di Jakarta Selatan, pusat perkantoran dengan
gedung-gedung bertingkat cukup jauh dan memakan waktu 1 jam di perjalanan. Rasanya,
aku akan pulang terlambat. Tak jadi masalah karena kurasa aku ingin menetap
sebentar saja. Aroma hujan terasa menggoda daripada biasanya. Entah mengapa aku
menyukai cara hujan turun ke bumi, tak mau melewatkannya dan merasakan setiap
partikel-partikel kecil yang jatuh dengan jemariku.
“Belum pulang nih” suara yang tak
asing olehku dan dari sepatu lusuhnya aku tahu siapa pemiliknya. Aku menoleh
dan benar dia sudah berdiri sambil tersenyum ke arahku. Dalam sekejap,
jantungku berdebar-debar kencang.
“Kamu sendiri belum pulang?” Tanyaku
mencoba bersikap wajar dan apa adanya.
Dia adalah Saga,
teman sekantorku dari divisi Technology.
Suatu kebetulan bisa berada di halte yang sama. Sebelumnya, aku tak melihatnya
di dalam dan pikirku mungkin ia sudah pulang sedari tadi. Kini, semesta
membuatku terjebak bersama Saga, manusia yang tak banyak bicara, suka
menyendiri, kurang bersosialisasi dengan teman sekantor ─
kalau itu kata mereka. Tapi, aku tak sependapat dengan mereka. Menurutku,
bukanlah hal buruk dan mungkin itu adalah salah satu keunikannya. Jika kamu
sudah mengenalnya lebih dekat, ia adalah seorang teman yang baik walaupun
terkadang menyebalkan. Ia cukup jahil dan aku adalah korban setiap
kejahilannya. “Kenapa ya? Aku selalu antusias ketika bercerita tentangnya”.
Mungkinkah karena aku mempunyai rahasia yang telah lama kusimpan rapat-rapat? Hanya
semesta yang tahu bahwa diam-diam aku memendam perasaan untuknya.
Kamu yang selalu
terlintas di benakku
Bagai pelangi yang datangnya
ditunggu-tunggu,
Memberi warna di hidupku
Seperti kopi yang
membuatku candu,
Aku ingin tahu segala tentangmu
“Hujan, kan. Jadi engga bisa
pulang..” Bodohnya aku, ucapku dalam hati. Sekian kalinya, ia tersenyum dan selalu
berhasil melelehkan hatiku bahkan untuk sekedar pertanyaan bodoh yang
kulontarkan.
“Paling bentar lagi juga reda ya” Aku
berharap langit kali ini setuju dengan perkataanku. Aku paling tidak bisa
berlama-lama bila berada di dekatnya, akan selalu ada kebodohan yang kuciptakan
tanpa sengaja.
Entah
mengapa seketika hujan mulai agak reda. Sulit dipercaya permintaanku seketika dikabulkan
semesta. Dalam hati, aku tertawa sendiri dan berpikir untuk segera pergi
menjauh dari medan yang penuh ketegangan ini. Baru saja ingin kupergi, langkah
kakiku sekejap terhenti. Sebuah kata-kata yang terucap darinya kembali membuat
jantungku berdebar-debar tak karuan. Itulah kehebatannya yang banyak orang tak
tahu.
“Makan dulu, yuk!” Hari ini aku
dibuat bahagia olehnya, selain hujan. Aku paling tak bisa menolak ajakan darinya
dan membuang kesempatan yang begitu langka. Tanpa pikir panjang aku mengangguk,
mengiyakan.
Kemudian, ia seolah memberiku kode untuk segera beranjak. Namun, kedua kalinya tanpa disangka ia menarik tanganku dan menggengamnya, membungkam bibirku yang kehilangan kata-kata. Dibawah rintik hujan dan berselimut kecemasan, kami berlarian kecil menuju sebuah cafe di ujung jalan. Tampak punggungnya yang indah dari belakang, membuatku mengkhayal yang bukan-bukan. Aku segera membuyarkan jauh-jauh khayalan itu.
Hujan, bisikkan kepadanya
Tentang rasa yang bersemayam
di dada
Tentang rindu yang
sering singgah tiba-tiba
Hanya karena dia, Saga..
Mungkinkah ada kisah antara aku dengannya?
Semesta
seolah memberi petujuk atas fenomena yang terjadi hari ini. Mungkin ini adalah
waktu yang tepat bagiku untuk memberanikan diri menjadi pejuang katakan cinta
dan pensiun menjadi seorang penakut atau pengecut.
“Apakah ini saatnya?” aku bertanya-tanya
dalam hati, berharap mendapatkan jawaban yang kubutuhkan tanpa ada rasa
penyesalan nantinya. Mulutku mulai terbuka dan keluarlah satu nama sebelum memulai
aksi yang tidak kurencanakan “Saga..” Ucapku. Disela-sela suara hujan, kuharap
suaraku terdengar lantang sampai ke telinganya.
“Kenapa? Cacing-cacing di perutmu
sudah kelaparan?” katanya dibarengi oleh segelintir tawa. Sayangnya, suara
hatiku tak menjawab apa-apa ataupun sekedar memberikan sinyal apakah ini
merupakan langkah yang tepat untuk menyatakan perasaan yang telah kupendam sekian
lama.
Aku memang tak
pernah bisa mengendalikan rasa takut yang terlanjur menetap di hati. Ketakutan-ketakutan seperti ia akan menjauh
dari sisi, berpura-pura tak mengenalku atau menghilang dari bumi, penuh di
pikiranku. Mungkin alasan-alasan klise seperti itu yang membuat hubungan ini
hanya akan sebatas teman sampai kapan pun. Tak masalah bagiku asalkan aku masih
bisa melihatnya di Bumi setiap hari, mendengar tawanya dan juga merasakan
hadirnya di dekatku. Bagiku, itu jauh lebih berarti.
“Iya. Kamu yang traktir, kan?” Kataku
menggoda dan bersemangat. Tanganku belum juga ia lepaskan. Tak apa. Aku
berharap sang waktu tak segera berakhir.
“Siaaapp….” Jawabnya lantang. Aku
hanya tersenyum mendengarnya.
Dia memang Saga, yang selalu menjadi bahan perbincangan orang-orang di kantor karena hak keistimewaan yang dia punya. Dia sering datang terlambat ke kantor dan menjadi karyawan yang pulang lebih awal. Padahal, aku tahu alasan di balik itu semua dan sekedar untuk membersihkan namanya, ia memintaku menutup mulut dan tak perlu memikirkan perasaannya, apalagi mendengarkan mereka yang tak tahu apa-apa. Sesungguhnya, aku senang menghabiskan waktu bersamanya walau kadang jantungku tidak bisa diajak kerja sama. Untungnya, Saga tak mendengar suara detakannya. Hari-hari bersamanya selalu menjadi hari termanis dan istimewa yang kutulis di diary kecilku tentang Saga. Waktu yang terus berjalan kedepan, membuatku harus merekam moment-moment yang sudah lewat dan di diary ini bisa menjadi pengingatku tentang dia dan cerita-cerita manis bersamanya, tak ada habisnya.
“Mungkin Sebagian orang lebih memilih memendam perasaannya karena menenangkan walau mereka tahu konsekuensinya yaitu penyesalan”
*****
Aku
meregangkan kedua tangan dan leherku, pertanda aku sudah lelah dengan pekerjaan
yang memaksaku untuk betah di kantor sampai dengan jam 9 malam.
“Sedikit, lagi. Semangat, Naura!” aku
memang suka menyemangati diri sendiri. Tidak ada salahnya, bukan? Aku melihat
sekeliling ruangan kosong, tak ada manusia lain. Hanya ditemani suara air dari
aquarium ikan di pojokan, yang memecah keheningan. Kupercepat pekerjaan agar
cepat selesai dan meninggalkan ruangan. Aku agak takut jika sendirian di suatu
tempat, seketika bulu kuduk merinding. Kubuang rasa kecemasan itu dan kembali
berkutik pada tugas di depan mata.
Dengan
sistem kebut semalam, akhirnya tugas itu rampung di jam 10 malam. Aku menghela
nafas kemudian mematikan laptop dan berberes, memeriksa barang-barangku, jangan
sampai ada yang tertinggal. Saat sedang memasukkan barang yang sekiranya perlu
ke dalam tas, sebuah suara yang tak asing mengagetkanku “Belum pulang juga,
ra?”
Aku menoleh dan mendapati seorang
Saga bisa menyapaku di jam orang-orang bergegas untuk tidur. Aku terheran-heran
dengan penampakan manusia satu itu, sungguh penampakan yang tidak biasa.
“Iya nih baru mau pulang. Kok masih
di kantor, Ga?” tanyaku meresleting tas, mengambil aba-aba untuk segera
beranjak dari tempat dudukku.
“Sama. Lagi males pulang..” jawab
Saga sambil tertawa ringan. Aku mengernyitkan alis kemudian menyusul langkahnya
yang hendak turun ke bawah.
“Terus kapan mau pulangnya? Emangnya
orang rumah engga nyariin?” aku penasaran tumben-tumbennya dia bergurau atau
memang sedang ada masalah?, pikirku.
Saga tak menjawab pertanyaanku.
Sambil menuruni anak tangga bibirku langsung menyosor, tak terkontrol,
menceritakan mengapa aku terjebak di kantor hingga malam. Tak butuh waktu lama,
kaki kami sudah menginjak lantai bawah.
“Saga! Kamu dengerin engga sih?”
Protesku ketika tak mendapat respon apa-apa darinya. Menyadarkanku bahwa sedari
tadi aku sedang berbicara dengan diriku sendiri. Hanya punggungnya yang
terlihat jelas olehku.
“Kamu ngomong apa sih, Ra?” Saga
membalikkan badannya. Dia tersenyum menawan bak pangeran. Wajahnya mendekat,
melekat, menatapku dalam hingga sontak membuat jantungku bergejolak tak karuan.
Aku menelan ludah, menahan jantung yang serasa mau copot atau perut yang
tiba-tiba mules.
Tuhan, kapan aku bisa
melihatnya dengan nyaman?
Mengapa meresahkan?
Dia membuatku tertegun
lama,
Ada yang membuncah di
dada,
Berkejar-kejaran di
kepala karena satu nama,
Senyuman yang kutahu
paling indah di dunia,
Kini ingin kumiliki seutuhnya..
“Kok mukanya merah, Ra?” Sahutannya
kali ini menyadarkanku yang sedari tadi diam mematung.
“Panas, Ga. Disini panas ya” Aku
berdehem sambil meniup-niup dan mengibas-ngibaskan tanganku seolah aku sedang
dipanggang di atas cinta yang membara.
“Kamu lucu juga ya, ra” Saga kembali
membuatku salah tingkah hingga nafasku terengah-engah. Lalu, Saga melengos
pergi, meninggalkanku seorang diri.
“Mau kemana, Ga?” sahutku tiba-tiba.
Akhirnya aku bisa bernafas lega.
“Ke rumah teman. Dah, Ra..” Dia
melambaikan tangannya. Lama-lama punggung itu tak terlihat lagi olehku.
“Dah, Saga..” suaraku pelan, terbawa
angin malam. Aku pun bergegas pergi dari kantor dan kemudian berpamitan kepada
security. Sebelum pulang, aku memutuskan ke alfa mart dekat kantor untuk
membeli susu dan cemilan kesukaanku. Karena sudah sangat malam, aku memilih
ojek online sebagai alternatif tercepat aku sampai ke rumah.
*****
Pukul
12 siang waktu yang kutunggu-tunggu. Cacing-cacing di perut sudah mengajak demo
sedari tadi. Temanku Winda, Sarah dan Tania mengajakku makan siang di warteg
yang biasa kami kunjungi, yang sesuai kantong “murah meriah”.
Karena warteg ini dikenal “self service”, aku mengambil nasi
ditambah sayur sup makaroni dan bakwan jagung menjadi menu andalanku hari ini.
Tidak seperti biasanya, warteg ini
tidak terlalu ramai. Mungkin karyawan-karyawan yang lain masih banyak pekerjaan
yang tidak bisa ditinggal. Hanya 3 orang yang duduk diseberang kami.
“Akhirnya kita makan juga” ucapan
Tania kusertai dengan anggukan kepala dariku.
Ketika tengah menyantap makanan,
Winda bertanya “semalam sampai jam berapa, ra?”
“Jam 10 win..” jawabku sambil tertawa
ringan. Aku kembali menyantap sup makaroni favoritku.
“Malem banget, ra. Emang engga bisa
dibesokin? Sarah menyambar.
“Si Boss minta diemail proposalnya
hari ini sebelum jam 9” itulah alasanku lembur semalam. Aku bekerja di divisi Business Development atau lebih dikenal Marketing.
“Oh iya by the way, pas gue mau nemuin Pak Riswanto di ruangannya, gue
ngelihat Saga habis ngasih surat gitu di mejanya. Kayaknya surat resign deh”
omongan Tania kali ini membuatku berhenti makan seketika.
“Beneran lo, Tan? Salah lihat kali”
ujar Sarah masih belum percaya.
“Yee, beneran. Makanya dengerin gue
dulu. Gue kan belom selesai ngomong” aku menunggu kelanjutan cerita Tania.
Hatiku berharap dia hanya bergurau atau jika ini lelucon, sangatlah tidak lucu
buatku.
“Kan pas keluar gue tanya – “lo mau resign, Ga?” dia cuma senyum saja.
Gue rasa bener deh, dia resign..” Deg. Ucapan Tania kali ini sungguh membuatku
terdiam. Pertanyaan-pertanyaan tentang kebenaran dari berita yang kudenger saat
ini seolah-olah menggema di kepalaku.
“Mungkin Tania bener. Nanti kita
lihat saja” Sarah setuju dengan argumen Tania.
“Lo kenapa, ra?” tiba-tiba pertanyaan
Winda menusuk ke arahku. Semuanya sekejap memperhatikanku. Aku memang diam
sejak tadi. Kurasa aku tak bisa bertahan disini untuk waktu yang lama.
“Engga papa. Tiba-tiba perut gue sakit.
Gue balik duluan ya” aku mencari-cari alasan dan mencoba bersikap biasa agar
tidak ada yang mencurigai ketidakwajaranku. Aku segera berlari pergi,
meninggalkan makananku yang masih tersisa.
“Ara yang aneh..” suara Sarah
samar-samar terdengar di telingaku. Aku yang terus berlari, kakiku seolah tahu
kemana yang kutuju. Kepalaku penuh diisi oleh Saga dan Saga. Aku belum bisa
bernafas lega sebelum mendapat keterangan dan kebenaran dari dia.
Aku mengambil ponsel dari saku dan
mengirim pesan ke Saga “Dimana?” kuharap ia segera membalas pesanku itu.
*****
Kaki
terus berlari dan tibalah di depan kantor. Aku terus melangkah ke atas, mungkin
saja dia masih di ruangannya. Aku tahu betul dia jarang istirahat tepat waktu
dan lebih mementingkan pekerjaaannya dibanding perut.
Mataku terus mencari keberadaannya
ketika kulihat mejanya kosong. Aku memutar otak, berpikir dimana Saga
sebenarnya. Tapi, yang kutemukan hanya Remy. Dia memang sedivisi dengan Saga
dan langsung kuhampiri tanpa pikir panjang.
“Rem, lo lihat Saga dimana?” tanyaku
cemas. Aku berharap mendapat jawaban yang tepat.
“Kayaknya di balkon deh. Paling
ngerokok” katanya.
“Kenapa emangnya?” katanya sekali
lagi yang tak gubris. Aku langsung melengos pergi dan naik ke lantai 4. Balkon
memang terletak di lantai paling atas.
Sebelum ke balkon, aku melewati
pantry. Ini adalah alasanku dan teman sekantor lebih memilih makan di luar
ketimbang di pantry. Dan benar adanya, aku mendapati sosoknya sedang duduk
dengan laptop di pangkuannya. Tapi, sebelum itu aku mengatur nafas terlebih
dahulu agar ia tak curiga nantinya, menganggapku habis lomba marathon antar
kampung.
“Saga...” panggilku. Kakiku
melangkah, mendekatinya.
“Eh, Ra. Kenapa?” Saga menyadari
kehadiranku. Aku mencoba duduk di kursi kosong, sebelahnya.
“Aku barusan ngechat kamu” jawabku.
Dia memang tak pernah membalas cepat pesan dariku.
“Oh ya?” Ia mengeluarkan ponsel dari
saku celananya. Aku tak sengaja melihat isi ponselnya. Banyak chat masuk yang
belum dibuka ataupun dibaca olehnya.
“Sorry, ra. Engga ngecek handphone
dari tadi” jawabnya cengar cengir.
“Kok kamu betah sih disini?” aku
mencoba mengalihkan pembicaraan. Inilah Saga. Dia memang tidak suka keramaian
dan lebih memilih sendiri seperti saat ini.
“Biar bisa ngerokok, ra” jawabnya. Dia
kemudian mematikan rokoknya.
“Ga, emang bener kamu mau resign?”
aku langsung bertanya hal yang mengganggu pikiranku saat ini. Berharap rumor
yang dikatakan Tania tidaklah benar.
“Sebenarnya udah kepikiran buat
resign dari beberapa bulan yang lalu. Aku pikir sekarang udah waktunya..”
Penjelasan dari orangnya langsung menampar hatiku. Rasanya perih sekali.
Seperti dihujani hujan yang panas.
“Kenapa harus resign, Ga? Gara-gara
omongan mereka? Kenapa kamu dengerin, sih!” Aku bertanya berharap kali ini dia
memikirkan ulang keputusannya. Alasan mengapa Saga datang terlambat dan selalu
pulang lebih awal merupakan kesepakatan antara dia dan Pak Riswanto, selaku
Manager perusahaan ketika dia diterima bekerja. Dia harus menjaga toko
percetakan milik keluarganya.
Saga menutup laptopnya dan berkata
“Bokap sakit, Ra. Kanker Tiroid. Kasian nyokap ngejagain bokap sendirian. Ade
juga sibuk kuliah. Mungkin aku bakal punya lebih banyak waktu kalau cuma jaga
toko” ujarnya panjang lebar. Aku tidak tahu-menahu hal ini. Untuk pertama
kalinya aku mendengar keluh kesah Saga. Aku tidak mungkin menyangkal omongannya
dan memintanya untuk berpikir lagi karena bisa kulihat Saga tulang punggung
keluarga.
“Jadi, kapan last daynya?” aku harus
menyiapkan mental untuk kemungkinan terburuk nantinya.
“Hari ini, Ra. Pak Riswanto juga udah
setuju” aku kaget setengah mati. Bagaimana mungkin hari ini adalah hari
terakhirku melihat Saga di kantor. Butir-butir airmata sudah mulai memenuhi
kelopak mataku. Aku tak bisa berkata apa-apa lagi.
“Udahan, yuk! Udah makan, Ra?” Saga
berdiri, mengambil langkah kakinya untuk beranjak pergi.
“Udah..” jawabku singkat, mengikuti
langkahnya. Aku benar-benar tak bisa berpikir apa-apa selain membayangkan bahwa
esok dan hari-hari berikutnya tak akan ada lagi sosok Saga yang sering
kuperhatikan diam-diam, yang membuatku bersemangat tiap kali datang ke kantor
hanya untuk memastikan sosoknya masih disana. Tapi, kini semesta tidak
sependapat denganku.
*****
Begitulah
semesta dengan caranya, selalu punya kejutan.
Kadang
bahagia dan duka selalu datang bersamaan.
******
“Ra, katanya ada
pizza di pantry. Ambil yuk!” ajak Sarah menyadarkanku yang sedari tadi hanya
melamun. Aku menoleh kearahnya, dan berkata dalam hati “Pizza?”. Seketika tanganku
sudah ditarik oleh Sarah, menuju pantry. Walaupun harus naik tangga ke lantai
4, untuk urusan makanan tak menjadi masalah untuk Sarah. Ternyata tidak hanya
dari divisi kami, semua mengambil bagiannya. Ada 2 kotak pizza yang siap
disantap.
“Pizza dari siapa?” tanya Sarah
kepada anak laki-laki divisi lain yang tak kukenal namanya. Sarah langsung
menyambar 1 potong pizza dan diberikan padaku dan satu lagi untuknya.
“Dari saga..” ujarnya. Ia menunjuk
sebuah notes yang tertempel di kotak pizza itu. Sebuah notes bertuliskan
“Silakan dinikmati. Thank you, Saga” begitulah notes singkat darinya.
Aku terkejut dan teringat kata-kata
Saga tadi di balkon. Aku segera beranjak dengan pizza di tangan. Yang
kubutuhkan saat ini hanyalah melihat Saga. Aku terus mencarinya bagai orang
bodoh. Aku ke mejanya dan lagi-lagi kulihat kosong. Seperti sebelumnya, ada
Remy yang masih duduk tenang di meja sebelah.
“Rem, lihat Saga? Dia dimana, ya?”
aku bertanya dan kuharap Remy tak berbalik nanya kepadaku. Aku sangat butuh
jawabannya yang mungkin dapat membantuku menemukan Saga.
“Barusan dia pulang. Kenapa emang,
Ra? Dari tadi nanyain Saga terus” aku yakin setelah ini ada gossip tentangku
yang kelimpungan mencari Saga seharian ini.
“Okay. Thanks, Rem!” hanya itu yang
bisa kujawab. Kuberikan sepotong pizza yang belum kumakan padanya. Selain itu,
pikiranku hanya tertuju pada dimana Saga. Aku berlari menuruni anak tangga satu
demi satu sambil berharap di dalam hati, memohon, aku bisa melihatnya walau
untuk terakhir kalinya. Itu saja yang kuminta pada semesta.
*****
Orang
yang kucari-cari hari ini kini di depan mataku. Syukurlah, aku masih dikasih
kesempatan oleh semesta untuk melihat wajah itu terakhir kalinya.
“Ga!” kupanggil dan saat itu juga dia
menoleh.
“Kok udah mau pulang?” aku berjalan
ke arahnya. Ada getaran di setiap langkahku saat ini. Terasa berat dan tak
kuasa menahan ini sendiri.
“Mau mampir ke toko, Ra. Biasa ada
masalah” ucap Saga. Aku melihat ada yang berbeda di sorotan matanya. Aku
sendiri tak bisa mengartikan. Seperti perasaan sedih yang sedang kurasakan
sekarang.
Jika ini terakhir kali aku
melihatnya, seharusnya aku mengungkapkan perasaanku padanya. Setidaknya ini yang
bisa kulakukan sebelum benar-benar diliputi oleh penyesalan nantinya. Kupikir,
aku tak akan bisa bertemu lagi dengannya. Entah mengapa, aku memiliki keyakinan
seperti itu.
“Ga, ada yang mau aku bilang” kataku
terbata-bata. Aku kumpulkan keberanianku untuk mengatakan kata-kata yang hanya
kusimpan di dalam hati untuk waktu yang lama.
“Mau bilang apa, Ra?” aku mencoba
menghilangkan ragu yang tiba-tiba muncul di benakku.
“Aku.. aku..” aku mencoba mencari dan
merangkai kata yang tepat agar dia bisa memahami maksud dari perkataanku.
Padahal hanya tiga kata saja, mengapa begitu sulit?
“Atas nama Mas Saga..” sebuah ojek
online membuyarkan keberanianku.
“Iya, pak” Saga mengangkat tangan dan
segera menghampiri ojek online yang sedari tadi ia tunggu.
Akhirnya kuurungkan niatku dan hanya
kata-kata ini yang bisa keluar dari mulutku “Ga! Kita masih bisa ketemu, kan?”
kuharap ia mendengar suaraku yang lantang.
Saga yang sedang memasang helm di kepalanya dan segera duduk di atas motor, berkata “Aku masih di Jakarta kok, Ra! Jaga diri baik-baik ya” itulah kata-kata terakhir yang kuterima darinya. Dalam hitungan detik, motor itu melesat pergi. Saga dan bayangannya benar-benar telah pergi dari kehidupanku untuk selamanya. Aku yang sedari tadi diam mematung tak kuasa menahan air mata yang jatuh di pipi.
Bawalah rasa ini ikut
bersamanya
Biarlah aku berkawan
dengan sepi setelahnya
Aku hanya tak kuasa saja
Kupasrahkan, biarkan
semesta yang bekerja
*****
Sudah 2 bulan
sejak kepergian Saga, membuat konsentrasiku berantakan. Aku mencoba
mengiriminya pesan namun sudah 3 hari dia tak kunjung membalas pesan dariku.
Bukan itu saja, aku jadi sering melamun, menyendiri sampai tiba-tiba Winda
mengajakku berbicara. Sepertinya dia menyadari perubahanku yang jarang ngumpul
ataupun makan siang bersama. Aku lebih memilih duduk sendiri dan makan di
mejaku. Aku juga tak banyak komentar ketika Sarah yang duduk di sebelahku
mengajakku mengobrol.
Aku dan Winda kini sedang di balkon,
tempat yang mungkin aman dari jangkauan orang. Aku diam, membiarkan Winda
memulai pembicaraan ini.
“Lo kenapa, Ra? Kok akhir-akhir ini
gue ngelihat lo murung” tanya Winda. Bisa dibilang Winda adalah sahabatku di
kantor tapi, walaupun begitu aku bukan tipikal orang yang bebas mengeluarkan
unek-uneknya dan ingin didengar. Aku lebih memilih menyimpannya sendirian.
“Hah? Engga papa ko, Win!” jawabku
pura-pura santai.
“Karena Saga?” mataku terbelalak
mendengar kalimatnya barusan. Aku bahkan tak pernah bercerita apa-apa padanya
tentang perasaanku dulu dan sekarang.
Winda menghela nafas, kemudian
berkata “Bener, kan? Kenapa cuma karena Saga, lo sampe harus kayak gini sih,
Ra” mungkin sudah waktunya aku jujur pada Winda.
“Gue engga tau, Win” hanya itu yang
bisa kukatakan ketika tak kuketahui lagi kabar Saga.
“Lo engga boleh kayak gini terus, Ra!
Masih banyak cowok di luar sana. Engga cuma Saga!” Winda menegaskan. Aku tahu
dia mencoba menghibur hatiku yang gundah, tetap saja omongannya seperti angin
lalu bagiku.
“Gue tau kalo dia juga suka sama gue,
Win” aku mencoba membuat Winda yakin bahwa perkataannya adalah salah. Dia tidak
mengenal Saga sepenuhnya.
“Buktinya? Dia pernah nembak lo?”
Winda mematahkan kata-kataku. Ucapannya memang benar tapi aku kembali
menyanggah “Lo engga ngerti, Win” tiba-tiba airmataku untuk kesekian kalinya
menetes hanya karena satu manusia yang entah dimana.
Aku menunduk dan menutup wajahku,
malu karena Winda harus menyaksikan aku yang cengeng dan menangis di depan
matanya. Winda memelukku. Kurasakan hangat pelukannya.
“Engga papa sekarang lo nangis, Ra.
Suatu hari nanti lo bakal ketemu cowok yang bisa bikin lo bahagia dan itu bukan
Saga” Ia mencoba menenangkanku.
Aku masih menangis dibalik punggungnya, kemudian membalas “Gue engga tau, Win” cuma itu yang bisa kukatakan karena aku sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya hati ini inginkan. Yang kutahu hati ini sangat ingin tahu kabarnya, apakah dia baik-baik saja disana.
Semesta, kemana harus
kutuju?
Ketika yang kutahu hanya
rindu
Sekeras apapun berlari
dan mencari
Satu yang pasti, dia
sudah tak lagi di sisi
*****
Itu adalah kisahku 3 tahun yang lalu. Potongan-potongan memori kembali menguak ketika aku tak sengaja membereskan kamar, rencananya aku akan segera pindah rumah. Aku sedang packing barang yang mana yang mau kubawa. Perhatianku tiba-tiba teralihkan dengan sebuah buku kecil lama, diary berisi kenangan-kenanganku bersama dia yang pernah mengisi hari-hariku dulu. Seolah tergerak hatiku untuk kembali membacanya lembar per lembar. Seolah mengantarkan diriku kembali ke masa-masa itu. Aku telah sampai pada halaman terakhir buku ini, sebuah puisi yang kutulis ketika aku memutuskan untuk benar-benar melupakan dia, mengubur perasaan itu dalam-dalam.
Bersama sang malam, aku
sendirian
Angin mengusik, berbisik
sang pujaan
Menguak jauh ke dalam
ingatan
Takdir yang
mempertemukan dua insan
Takdir dengan tega
memisahkan
Kala yang berjalan
Beriringan penyesalan
dan kehilangan
Rindu yang tiada henti
Meski hati terasa sepi,
sunyi bagai tak berpenghuni
Meski ku hilang arah,
Aku tahu bahwa ia baik-baik saja disana
Aku menutup buku yang penuh sejarah dan
memasukkannya ke dalam tas. Tak ada lagi airmata yang turun di pipi karena
kupikir kisahku dengannya telah usai bahkan belum sempat dimulai.
*****
“Begitulah kehidupan. Dimana ada pertemuan, ada perpisahan dan yang tersisa hanyalah kenangan. Kita hanyalah pemain yang menjalankan skenario yang dituliskan Sang Pencipta, sang sutradara kehidupan”
0 komentar:
Posting Komentar