Seseorang selalu ingin didengar dan punya tempat untuk bercerita. Sedang aku memilih berteman dengan sepi. Di satu ruang aku mampu menumpahkan segala lara yg tak mampu kuutarakan lewat kata. Tak apa, karna ini tentang dia yg membuatku jatuh cinta. Kadang kecewa, kadang juga bahagia. Meski dia sering kali menciptakan mendung dan airmata di langitku. Tapi, aku percaya bukankah akan ada pelangi setelahnya?

Minggu, 26 Desember 2021

Cinta & Perjuangan

Desember 26, 2021 Posted by Debby Nuramiruddin No comments

Cinta & Perjuangan

 

            Ponsel Rhea berdering. Sebuah panggilan masuk dari sahabatnya, Meita membangunkan dirinya. Diraihnya ponsel yang terletak di meja dan mengangkatnya dengan keadaan setengah mengantuk.

“Halo..” jawab Rhea masih terkantuk-kantuk. Suara Meita sudah mengganggu jatah tidur panjangnya di hari libur.

“Rhe! Lo masih tidur? Nyokapnya Dimas meninggal..” walau kantuk menguasai dirinya, suara Meita dapat terdengar jelas. Rhea sontak terbangun dengan jantung berdebar kencang.

“Lo serius, Mei?” tanya Rhea masih tak percaya. Dia mengingat jelas semalam dia dan Dimas masih berbincang dan bercanda ria dari balik telepon.

“Gue sama anak yang lain mau ke rumah Dimas. Kita tunggu lo disana ya” telepon pun ditutup. Rhea segera mengecek ponselnya. Beberapa pesan masuk dari teman-temannya dan juga Dimas. Dia membuka dan membaca isinya “Mama aku meninggal..” membuat hatinya berkecamuk. Pesan itu dikirim 2 jam setelah mereka mengobrol semalam. Dia mencoba menekan nomor dan menghubungi Dimas, sang kekasih. Namun, berkali-kali tak mendapat jawaban. Sama hal dengannya, Dimas pasti masih shock atas kejadian ini. Rhea mempercepat langkahnya ke kamar mandi, bersih-bersih diri dan segera menemui kekasihnya disana.

*****

            Rhea tiba di rumah Dimas. Terdapat bendera kuning di depan rumah dan banyak orang keluar masuk, mungkin dari kerabat dekat dan tetangga sekitar. Ketika di dalam, tampak semua orang mengerubungi dan membacakan doa untuk Almarhum. Meita dan temen-teman sekelasnya sudah hadir lebih dulu dibanding dirinya. Melihat kedatangan Rhea, Meita menghampiri dan menepuk pundaknya.

“Mei, Dimas dimana?” Rhea mencari-cari keberadaan Dimas namun, tak jua ia temukan.

“Dia di dalam kamarnya, Rhe. Gue rasa dia butuh lo sekarang..” ucapan Meita benar. Rhea mengangguk dan berlari menunju kamar Dimas.

“Dimas..” Pintu tak dikunci rupanya. Rhea tertegun melihat dimas yang tengah duduk terdiam di tempat tidur. Pikirannya tampak kosong. Dimas pasti terpukul berat atas kepergian Mamanya. Rhea tahu kekasihnya itu sangat menyayangi Sang Mama. Semenjak ditinggalkan oleh Ayahnya, hanya Sang Mama yang menjadi penyemangat dan panutan baginya. Mamanya sudah berjuang keras untuknya.

Rhea membelai punggung Dimas. Tatapan matanya terpancar kesedihan yang mendalam.

“Maaf, aku datang terlambat. Sekarang aku disini..” ujar Rhea.

Dimas menghujamnya dengan sebuah pelukan. Dia menangis tersedu-sedu di balik punggung Rhea. Rhea masih membelai punggung Dimas dan mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja. Tak banyak kata yang bisa diberikan olehnya. Mungkin yang Dimas butuhkan adalah tempat bersandar untuk menumpahkan segala kesedihan dan kehilangan. Tempat yang menenangkan baginya untuk pulang.

*****

            Sudah seminggu semenjak peristiwa itu, Dimas masih belum menampakkan dirinya di sekolah. Teman-teman sekelasnya selalu menanyakan kondisi terkini Dimas pada Rhea. Kebetulan hari ini Rhea akan kembali menjenguk. Dia juga tak lupa membawakan makanan kesukaan Dimas yang mungkin bisa menghibur suasana hatinya saat ini. Ia menekan bel rumah namun, tak ada jawaban. Rhea mengambil ponsel dari saku seragamnya dan menelepon Dimas. Tetap sama, tak ada juga jawaban.

“Sepertinya memang engga ada siapa-siapa..” ujar Rhea. Lalu, menggantungkan kantong plastik berisi Hokben kesukaan Dimas di pagar pintu gerbang. Dia memutuskan untuk pulang dan kembali lagi esok. Saat ia melangkah, sosok Dimas telah berdiri di hadapannya. Rhea tersenyum. Rupanya dia habis dari mini market, terlihat dari kantong plastic bawaannya.

“Kamu dari mana aja? Aku telpon engga diangkat..” Rhea langsung menyambar ke dalam pelukan paling hangat menurutnya.

“Ayo, masuk ke dalam” jawab Dimas. Dimas berjalan mendahuluinya dan mengambil kantong plastik yang digantungkan Rhea. Entah mengapa Rhea merasa ada yang berbeda dari sikap Dimas atau mungkin hanya perasaannya saja.

Suasana rumah terlihat sepi. Rhea tak bisa membayangkan Dimas harus tinggal seorang diri, tak ada siapapun yang menemaninya di saat seperti ini.

“Kamu udah makan belum? Aku tadi bawain Hokben kesukaan kamu” ucap Rhea bersemangat sambil menyajikan makanannya di atas meja.

Dimas tak menjawab dan hanya diam. Seperti ada sesuatu yang sedang dia pikirkan. Rhea menghampiri Dimas yang termenung di sofa.

“Kamu kenapa? Kalau ada masalah cerita ke aku” Rhea meraih tangan Dimas seraya memberikan isyarat bahwa ia akan selalu ada untuknya kapan pun Dimas butuhkan.

“Ayahku tadi datang, Rhe. Dia pengen aku tinggal sama dia. Setelah sekian lama, dia muncul setelah Mama sudah engga ada” Dimas mulai bercerita. Ada airmata yang menumpuk di pelupuk matanya.

“Aku benci sama dia, Rhe. Dia udah meninggalkan aku dan Mama demi wanita lain” Dimas tertunduk dan melampiaskan seluruh kesedihan yang lama bersemayam di hatinya.

“Aku udah engga punya siapa-siapa lagi, Rhe..” Dimas masih hanyut dalam kesedihan yang belum juga pergi, masih menghantui.

Rhea memeluk Dimas sambil berkata “Kamu masih punya aku, Dim. Aku akan selalu ada buat kamu. Jangan sedih lagi, ya” Rhea ingin dia tahu bahwa dirinya tak sendirian. Masih ada hadirnya yang akan selalu di sisi Dimas.

“Makasih, Rhe” hanya itu yang dia katakan, sudah cukup mewakili bahwa Dimas mengerti kata-kata yang ia ucapkan.

*****

            “Rhe, Dimas belum juga masuk sekolah?” tanya Meita yang memperhatikan Rhea masih asyik menyalin materi di papan tulis ke dalam buku catatannya.

“Dia masih down, Mei..” Rhea menjawab. Dia juga tidak tahu sampai kapan Dimas akan bersikap seperti ini.

“Ini sudah 3 minggu lho, Rhe! Gue tau dia sedih atas kepergian nyokapnya. Tapi, kan engga berlarut-larut gini, Rhe. Lo udah coba ngomong ke dia?” Rhea terdiam. Perkataan sahabatnya itu memang benar. Apalagi tahun depan mereka sudah kelas 3 SMA.

“Lo bener, Mei. Setelah pulang sekolah gue ke rumah dia lagi deh” ucapan Rhea mendapat anggukan setuju dari Meita. Sebenarnya, ada hal yang belum diceritakan Rhea. Akhir-akhir ini Dimas sudah jarang menelepon ataupun sekedar mengirimkan pesan padanya. Rhea benar-benar kehilangan sosok kekasih yang dulu membuatnya tersenyum dan tertawa. Bahkan menghabiskan waktu bersama. Rhea mencoba bersabar dan membuat dirinya mengerti bahwa ini hanya masalah waktu saja. Bahwa semua akan baik-baik saja dan kembali seperti biasanya.

Rhea meraih ponselnya dan mengirimkan pesan ke Dimas yang isinya “Pulang sekolah, aku ke rumah kamu, ya”. Rhea menunggu, menantikan balasan. Tapi, ponselnya tak menunjukkan reaksi apa-apa.

“Lo kenapa, Rhe?” Meita seolah tahu suasana hatinya yang kini sedang tak baik. Dia tengah merindukan dan mencemaskan Dimas yang tak kunjung memberikan kabar.

“Engga papa, Mei..” jawab Rhea cengar-cengir. Dia tak ingin membuat sahabatnya khawatir. Cukup Rhea pendam saja dan selesaikan masalahnya sendiri.

*****

          Rhea sudah menginjakkan kakinya di depan rumah Dimas. Tapi, kali ini pintu rumah dalam keadaan terbuka, membuat Rhea sedikit lega. Dibukanya pintu gerbang dan masuk ke dalam. Ternyata Dimas sedang berbaring di sofa.

“Dimas..” Rhea berkata sambil mengetuk pintu. Sontak membuatnya terbangun dan menyadari kehadiran Rhea yang tersenyum ke arahnya. Rhea menghampiri Dimas dan duduk di sebelahnya.

“Gimana keadaan kamu, Dim? Udah baikan?” ucap Rhea. Dimas tetap diam.

“Mau sampai kapan kamu begini terus, Dim? Pasrah pada keadaan” sambungnya. Rhea menekankan kata-katanya, mengungkapkan sesuatu yang mengganjal hatinya belakangan ini.

“Kamu ngomong apa, Rhe?” akhirnya Dimas bersuara.

“Kapan kamu kembali ke sekolah, Dim? Teman-teman nanyain kamu” Rhea kembali bertanya. Satu-persatu pertanyaan yang menghantuinya akan ia keluarkan saat ini.

“Aku engga tau, Rhe” jawab Dimas. Sebuah jawaban yang tak memuaskan hati Rhea.

“Kamu bisa dikeluarkan dari sekolah, Dim”

“Aku engga peduli” sungguh Rhea tak bisa menerima jawaban Dimas kali ini.

“Apa? Kamu mau menghancurkan masa depan kamu sendiri?” nada suara Rhea mulai meninggi sambil menggelengkan kepala, tak percaya. Tak ada jawaban lagi dari Dimas.

“Kamu engga boleh begini terus, Dim! Kamu harus bangkit!” ujar Rhea menggebu-gebu.

“Kamu engga akan pernah ngerti apa yang aku rasain, Rhe!” bentak Dimas.

“Aku pernah di posisi kamu, Dim. 2 tahun lalu, Ayahku juga meninggal. Aku ngerti rasanya kehilangan orang yang paling kita sayang..” tanpa sadar airmata menetes di pipi Rhea. Dimas bahkan melupakan cerita itu. Cerita tentang Rhea yang merasakan kehilangan paling berat tapi, kehadiran Sang Mama membuat dirinya tegar dan bisa melewati semuanya.

“Aku cuma engga mau kamu terpuruk terus, Dim. Mama kamu juga sedih ngelihat kamu kayak gini..” nada Rhea merendah, mencoba menenangkan dirinya dan Dimas.

“Mending kamu pulang. Engga perlu kesini lagi. Aku bisa mengurus diriku sendiri” Rhea tak menyangka ucapan yang terlontar dari mulut Dimas. Entah mengapa, kata-kata itu begitu menyakitkan didengar. Kepeduliannya kini diacuhkan.

Rhea diam dan menatap Dimas yang tak memandang dirinya. Kemudian dia pergi tanpa mengatakan apa-apa. Mungkin Dimas membutuhkan waktu sendiri. Rhea juga membutuhkan waktu untuk mengerti yang sedang terjadi. Lagi dan lagi ini hanya masalah waktu.

Semesta, mengapa begini jadinya?

Mengapa jarak kini mulai terasa?

Aku harus bagaimana?

Pergi atau bertahan saja?

*****

            Malam ini turun hujan, menambah rasa pilu yang tersimpan di hati. Sekedar pesan ataupun telepon dari Dimas yang tak membuat kian cemas tak kunjung dia terima. Semenjak hari itu Dimas semakin bungkam. Pesan-pesan yang dikirimkan juga tak mendapat jawaban. Rhea semakin dibuat bingung oleh sikap Dimas yang seolah menutup diri. Kali ini, dia mencoba menelepon kekasihnya itu. Menunggu hingga suara yang paling ingin didengar menyapanya begitu hangat. Tidak lagi diangkat atau memang sengaja tak diangkat.

“Dimas, aku kangen kamu..” nada suara Rhea lirih. Airmata kembali jatuh di pipi.

Angin berbisik lirih di telingaku

Menembus celah hujan kala itu

Terlintas bayanganmu menyapaku

Ataukah hanya ilusi sebab setumpuk rindu?

Entah bagaimana Rhea menepis rindu yang kian menggebu. Entah apa yang sedang menyelimuti hati dan pikiran Dimas. Rhea tak mengenal lagi sosok itu. Dimas telah banyak berubah dan berbeda. Sosok yang dulu selalu ada untuknya, membuatnya tertawa, kini menghilang tanpa kata-kata.

Rhea mencoba mengirimkan pesan ke Dimas. Entah sudah keberapa kalinya. “Dimas, kamu baik-baik saja, kan? Tolong jangan buat aku semakin khawatir. Aku kangen kamu, Dim. Kangen kita menghabiskan waktu bersama kayak dulu..” pesan itu terkirim. Dia berharap kali ini dia mendapatkan jawaban yang menyenangkan hati.

Tiba-tiba ponselnya berbunyi, sebuah pesan masuk. Rhea meraih ponselnya dan betapa terkejutnya sebuah balasan dari Dimas yang telah ditunggu-tunggu selama ini. Ada senyum yang tersungging di bibirnya ketika membaca pesan yang berbunyi “Besok sore, aku ke rumah kamu”. Sungguh, inilah yang dia mau, berbaikan dengan Dimas dan kembali seperti sedia kala.

*****

            “Aku udah di depan rumahmu..” sebuah pesan masuk dari Dimas menyita perhatian Rhea. Dia begitu antusias menunggu hari ini tiba. Kedatangan Dimas yang paling ditunggu-tunggunya sedari tadi. Dia bahkan sudah berias sejak pagi. Pertemuan yang sangat istimewa dari biasanya. Jantungnya sedikit berdebar-debar ketika membuka pintu, sosok Dimas tengah berdiri di hadapannya. Wajah yang sudah lama tak dilihatnya. Rambutnya sedikit berantakan tapi, dia masih Dimas yang sama.

“Dimas..” sapa Rhea yang langsung menyambar ke pelukan Dimas. Ia merindukan tempat ternyaman itu.

“Ayo, masuk ke dalam..” Rhea melepaskan pelukannya. Dimas hanya diam dari tadi.

“Disini aja, Rhe. Ada yang pengen aku omongin” Dimas mulai berbicara. Tatapan matanya terlihat begitu serius, hingga mengundang tanya.

“Kita ngomong di dalam aja, Dim” jawab Rhea menarik tangan Dimas. Namun, tiba-tiba saja Dimas melepaskan genggamannya.

“Aku cuma sebentar saja kesini. Cuma mau bilang.. kita udahan saja, Rhe” ucapan Dimas seolah menghujam jantung Rhea dengan benda keras, terasa menyakitkan.

“Kamu ngomong apa sih, Dim?” Rhea bertanya, menggeleng kepala. Mungkin saja ia salah dengar atau Dimas mencoba mengerjainya.

“Kita putus saja, Rhe” Dimas mempertegas kalimatnya. Rhea semakin tak berdaya. Dimas berpaling, berniat pergi.

“Kamu kenapa sih, Dim? Aku kira kamu kesini buat baikan. Tapi, kenapa malah putus? Salah aku apa, Dim?” Rhea menghentikan langkah Dimas. Dia menoleh dan melihat Rhea sudah berlinang air mata. Lagi-lagi ia membuatnya menangis. Padahal Dimas hanya ingin membebaskan Rhea sepenuhnya yaitu dengan tidak bersamanya. Berhenti menyakiti hati gadis itu lagi.

“Maafin aku, Rhe. Aku engga pantas buat kamu. Kamu bisa mendapatkan cowok yang lebih baik dari aku. Aku pergi, Rhe.." ucap Dimas menyudahi kata-katanya.

“Kamu jahat, Dim..” airmata Rhea menetes tanpa henti. Tapi, Dimas tak juga menghentikan langkahnya. Ia berlalu pergi, meninggalkan Rhea dengan kesedihannya yang baru.

Mengapa rasanya sesakit ini?

Bukan memperbaiki, kamu malah menyudahi

Apakah menyerah jawabannya?

Ketika kita sudah tak lagi sama arahnya

Rhea melangkah masuk ke dalam kamarnya, mencari dan mengambil kotak yang berisi barang-barang pemberian Dimas. Hari itu dia sudah sangat melukai hatinya. Masih berat hati tapi, dia mencoba membuang semua kenangan bersama Dimas ke dalam tong sampah. Ceritanya bersama Dimas benar-benar telah berakhir.

*****

Rhea mencoba menghadapi hari-harinya seolah tak terjadi apa-apa. Namun, kabar putus Rhea dan Dimas sudah terdengar oleh Meita. Dia tak habis pikir Dimas berani melakukan hal yang menyakiti sahabatnya berulang kali. Sebagai sahabat yang baik, Meita mencoba menenangkan dan menghibur Rhea yang sedang gundah.

“Lupain Dimas, Rhe! Dia emang engga pantes buat lo. Masih banyak cowok yang lebih baik dari Dimas” Meita mengelus lembut punggung Rhea.

“Engga bisa. Aku engga bisa membiarkan Dimas nyelesaiin masalahnya sendiri. Gimana kalau Dimas nekat dan melakukan sesuatu yang bahaya buat dirinya sendiri?” begitu banyak pertanyaan-pertanyaan yang mengganggu pikiran Rhena seperti bom yang mau meledak.

Di sekolah, Rhea tak fokus belajar. Pikirannya terus tertuju pada Dimas, ditambah ketika dia tahu Dimas dikeluarkan dari sekolah. Semakin membuatnya khawatir tak karuan.

“Makan yuk, Rhe!” Ajakan Meita untuk makan siang di kantin ditolaknya mentah-mentah. Pada jam istirahat, Rhea memilih menyendiri di ruang kelas. Ia hanya ingin sendiri, menatap langit dari balik jendela ruang kelasnya. Bahkan, mentari begitu ceria siang hari ini. Berbeda dengan suasana hati Rhea. Di pikiran dan hatinya masih terselip satu nama, Dimas. Keputusannya mengakhiri hubungan nyatanya tak merubah keadaan. Padahal hatinya sudah sering disakiti. Tapi, tetap saja Dimas masih tersimpan di relung hati. Entah sampai kapan ia masih bertahan dengan rasa yang seharusnya sudah mati. Rhea hanya saja belum menemukan jawaban yang pasti.

Langit seolah merekah bahagia

Tapi, mengapa aku tak secerianya?

Mengapa yang singgah hanya sepi?

Meski tahu ia telah pergi

Mungkinkah yang disana merasa demikian?

Tapi, mengapa yang terucap kata perpisahan?

Kamu memilih menghilang dibanding berjalan berdampingan

*****

            Kini, Rhea sudah berada di depan rumah Dimas. Hatinya yang telah menuntunnya untuk menemui Dimas. Pintu rumah dalam keadaan tertutup. Rhea mengetuk pintu rumah. Namun, tak ada jawaban. Dia tahu Dimas sedang menutup diri dari dunia luarnya. Hal itu yang selalu mengganggu pikiran Rhea.

“Dim, Aku tau kamu ada di dalam. Buka pintunya, Dim. Aku pengen ngomong sama kamu” tak ada balasan dari ucapan Rhea. Hanya sunyi di sore hati.

“Aku engga terima kamu mutusin aku gitu aja. Kalo emang kamu engga mau ketemu hari ini, aku bakal terus dateng besok, besoknya lagi sampe kamu mau nemuin aku..” Rhea mengungkapkan seluruh isi hatinya. Dia ingin membantu Dimas melewati ini semua.

Rhea pun pergi dan esok akan kembali lagi. Di dalam rumah, dari balik jendela, Dimas memperhatikan langkah kaki Rhea yang mulai menjauh. Dia tak ingin menemui Rhea bahkan untuk sekedar menyapanya.

Hari-hati berikutnya Rhea kembali mengunjungi Dimas. Tanpa kata menyerah dan tekadnya sungguh kuat, dia tak akan meninggalkan Dimas sendirian. Rhea terus menunggu hingga pintu rumah itu terbuka. Berkali-kali dia mencoba menghubungi namun, nomornya tidak aktif.

“Dim, kamu dimana?” Rhea benar-benar khawatir. Dia akan menunggu Dimas sebentar lagi. Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Sebuah panggilan masuk dari “Mama” langsung dijawabnya.

“Sayang, kamu ko belum pulang?” sepertinya mamanya mencemaskan dirinya.

“Maaf, Rhea lupa bilang, Ma. Rhea lagi di rumah Dimas. Sebentar lagi Rhea pulang ya..”

“Jangan malam-malam pulangnya ya, Rhe” ujar mamanya. Rhea mengiyakan dan kemudian telepon ditutup.

Rhea sedari tadi duduk di lantai yang dingin sambil sesekali melihat ke arah pintu. “Apa Dimas bener engga ada di rumah?” tanyanya dalam hati. Tapi, dia tak mengurungkan niatnya untuk segera pulang. Dimas tak tahan, mendiamkan Rhea yang sedari tadi menunggu dirinya. Dia akhirnya berniat menemui Rhea untuk memintanya pulang dan tak menemuinya lagi.

Pintu pun terbuka. Begitu senangnya ketika sosok yang ditunggu-tunggu menampakkan dirinya.

“Dimas..” Rhea langsung berdiri. Senyumnya merekah ketika wajah yang selama ini ingin dilihat, di hadapannya saat ini.

“Pulang, Rhe! Kamu ngapain masih di sini?” kata Dimas bergetar.

“Kamu pucet, Dim. Kamu baik-baik aja, kan?” Rhea membelai wajah Dimas namun, Dimas langsung menangkisnya.

“Aku bilang kamu pulang. Kenapa kamu masih ngeyel sih!”

“Aku khawatir sama kamu, Dim. Biarin aku berada di samping kamu” Rhea berharap Dimas mengerti perkataannya kali ini.

“Aku engga butuh kamu, Rhe. Aku bisa urus diri aku sendiri” Dimas ternyata masih keras kepala.

“Kamu kenapa sih, Dim? Aku kesini buat kamu” Rhea mencoba memberi pengertian.

“Kita udah putus, Rhe!” Dimas seolah menekankan kata-katanya agar Rhea menyerah dan mengerti keadaannya saat ini.

“Aku engga pernah bilang iya” Rhea menyanggah ucapan Dimas.

“Terserah” Dimas menatap Rhea. Wajah yang selalu singgah di pikirannya setiap malam.

“Kamu udah makan belum, Dim? Aku bawain makanan dari warung Bu Ijah. Kamu pasti suka” di Kantin sekolah, Rhea dan Dimas selalu makan di warung Bu Ijah kalau jam istirahat. Selain masakannya yang enak, harganya juga murah meriah untuk kalangan pelajar seperti mereka.

Entah mengapa, pandangan Dimas seolah kabur. Rhea yang berdiri di hadapannya tak terlihat begitu jelas. Dimas terjatuh dan tersungkur.

“Dimas, kamu kenapa?” Rhea terkejut. Dia mencoba membantu Dimas berdiri.

“Rhe, aku..” ujar Dimas terbata-bata. Dalam sekejap Dimas tak sadarkan diri.

“Dimas! Bangun! Kamu kenapa?” Rhea trus memanggil namanya sambil menggoyang-goyangkan tubuh Dimas namun, tak bereaksi apa-apa. Dia segera mengambil ponselnya dan menghubungi orang yang dapat membantunya.

*****

            “Kamu yakin engga ikut Mama pulang?” tanya Mamanya ketika melihat kecemasan di wajah putri tunggalnya itu.

“Rhea mau nemenin Dimas sebentar ya, Ma” Mamanya mencoba mengerti keadaan yang sedang dialami Rhea. Dia mengangguk dan pergi.

Dimas masih belum sadarkan diri. Rhea kembali mengingat ucapan Dokter yang mengatakan bahwa Dimas kekurangan asupan makanan hingga tubuhnya lemas dan pingsan. Ia tak habis pikir dengan jalan yang Dimas pilih.

“Apa Dimas ingin pelan-pelan mengakhiri hidupnya?” Rhea terus memandang Dimas yang masih di ruang perawatan. Tangannya diinfus dan ia belum juga bangun. Karena kondisinya yang lemah, Dimas harus dirawat di Rumah Sakit.

Rhea masuk ke dalam ruangan, memperhatikan wajah Dimas yang sedang tertidur dan terbaring di ranjang. Rhea mendekat dan kemudian mencium kening Dimas. Tak sedikit pun hatinya ingin pergi. Hatinya terus berkata untuk bertahan.

“Aku sayang banget sama kamu, Dim” airmata Rhea tiba-tiba jatuh. Dia sungguh tak ingin kehilangan Dimas.

Malam sudah menampakkan dirinya. Rhea akan berjaga di Rumah Sakit hingga Dimas tersadar. Ia sudah memberitahukan Mamanya agar tidak perlu mencemaskan dirinya. Dia ingin ada di sini ketika Dimas membuka matanya. Rhea akan menemaninya sampai dia sembuh dan bisa kembali pulang.

Aku berada di titik paling berat yaitu merelakan

Tapi, bagaimana itu mudah jika kamu masih tersimpan dalam ingatan?

Bahwa aku tak pernah sepenuhnya mengikhlaskan

Bahwa aku benci mengakui kehilangannya begitu menyakitkan

Mungkin semesta senangnya menggoda atau membuat aku berduka

*****

            Dimas melihat Rhea tertidur di samping ranjang. Dia pasti lelah, sudah menjaganya semalaman. Seperti ada dorongan dari hatinya, Dimas membelai rambut gadis yang masih dicintainya itu. Rhea merasakan sesuatu yang menyentuh rambutnya. Dia pun terbangun dan melihat Dimas sudah sadarkan diri.

“Dimas, kamu udah sadar? Kamu engga papa? Aku panggilin Dokter ya” Dimas menarik tangan Rhea agar ia tak beranjak kemana-mana.

“Aku engga papa, Rhe” ucap Dimas pelan.

Rhea kembali duduk di sebelahnya dan memandangi wajah Dimas dengan sangat lega. Keduanya saling menatap satu sama lain. Keheningan tercipta ketika tak satu pun kata mampu terucap. Rhea mencoba mengeluarkan pikiran yang mengganggunya sejak malam. “Dl im, kenapa kamu jadi kayak gini? Kamu pengen kelarin hidup kamu pelan-pelan ya! Apa sih yang ada di pikiran kamu itu, Dim? Sampe-sampe aku engga ngerti sama jalan pikiran kamu” Rhea kembali menitikkan airmata. Jika sudah menyangkut isi hatinya, terkadang airmata juga menjadi saksi.

“Kenapa kamu engga sekalian minum Baygon atau loncat dari gedung tinggi biar mati sekalian!” Rhea melanjutkan kata-katanya dengan penuh emosi.

Dimas hanya diam. Lagi-lagi dia sudah membuat Rhea menangis. Dia sudah melepaskannya tapi, Rhea datang kembali mengisi kekosongan jiwanya.

“Kamu tau engga, sih? Mama kamu di atas sana engga akan seneng ngelihat kamu kayak gini! Kenapa kamu keras kepala banget sih, Dim!” Rhea meluapkan seluruh kekesalan di hatinya. Dia hanya ingin Dimas kembali seperti dulu, yang selalu membuatnya tersenyum.

“Aku juga belum siap kehilangan kamu..” tagisan Rhea semakin menjadi-jadi. Rhea menutup wajahnya, menyembunyikan tangis itu.

Dimas langsung menarik Rhea ke dalam pelukan dan berkata “Maafkan aku, Rhe. Kenapa kamu masih peduli sama aku?” Dimas menyerah. Karena sikap keras kepalanya, dia benar-benar sudah melukai hati Rhea terlalu dalam. Tangis Rhea pecah di balik punggungnya. Dimas membelai rambutnya begitu lembut dan mempererat pelukannya.

“Aku sayang sama kamu, Dim. Kamu jangan kayak gini lagi ya” Rhea berkata, masih dipenuhi isak tangis. Dimas mengangguk. Dia tak akan lagi membuat Rhea menangis. Rhea yang selalu ada untuknya meski Dimas memintanya pergi. Dia selalu di tempat yang sama, mengulurkan tangan untuknya. Saat ini, Dimas ingin menjalani hati-hari barunya bersama Rhea.

*****

            Dimas mengalami banyak perubahan baik. Setelah pulang dari Rumah Sakit, Rhea tak pernah absen mengunjungi Dimas di rumahnya. Dimas merasa dirinya tak sendirian lagi. Kehadiran Rhea memberi semangat baru baginya. Ponselnya bordering, sebuah panggilan masuk dari “Rhea” selalu membuat Dimas tersenyum.

“Iya, Rhe..” Dimas menjawab lembut.

“Pulang sekolah aku ada tugas kelompok. Jadinya aku engga bisa nemuin kamu” ada suara kecewa yang bisa ia rasakan.

“Engga papa, Rhe. Aku juga baru mau ngasih tau kamu. Aku juga mau pergi” kata-kata Dimas menggantung, membuat Rhea bertanya-tanya.

“Aku mau ke rumah Ayah, Rhe. Dia ngundang aku makan malam di rumahnya” mendengar ucapan Dimas membuat Rhea lega. Dimas sudah mulai berdamai dengan kehidupannya.

“Kamu hati-hati ya. Jangan lupa kabarin aku” akhirnya telepon pun ditutup. Dimas segera bergegas melangkah keluar, menyongsong hari yang baru.

Dimas telah sampai di rumah Ayahnya. Dia mengingat kembali di masa terpuruknya, Ayahnya selalu datang berkunjung. Namun, Dimas tak berani menemuinya. Selalu ada surat yang ditinggalkan di depan pintu rumah. Sebuah surat berisi permintaan maaf karena telah meninggalkan dia dan ibunya serta keinginan untuk memperbaiki kesalahannya di masa lalu. Ayahnya ingin Dimas tinggal bersamanya dan menjadi bagian dari keluarga kecilnya. Selain itu, nasehat-nasehat yang selalu Rhea berikan menjadi bahan pertimbangan baginya. Mungkin juga ini adalah keinginan Mamanya yang telah tiada. Bahwa Dimas harus bisa berdamai dengan hati dan masa lalunya. Kini, dia ingin menebus kesalahannya dan memulai kembali tanpa ada rasa kebencian dan dendam di hati.

“Ayah..” pintu rumah dibuka. Sosok Ayahnya kini berdiri di hadapannya.

“Dimas! Gimana kabar kamu, nak? Kamu sehat, nak?” tanya Ayahnya dengan penuh semangat.

“Baik, yah” jawab Dimas. Ayahnya langsung memeluk putra yang telah dia tinggalkan dulu.

“Ayo masuk, nak!” ayahnya mempersilakan dan menuntun Dimas masuk ke dalam rumah.

“Bu, Dafa, Luna! Ka Dimasnya udah dateng nih” teriakan Ayahnya seolah menggema seisi rumah.

“Gimana sekolah kamu, nak?” tatapan Ayahnya penuh cinta. Kedatangan Dimas disambut hangat olehnya.

“Aku dikeluarin dari sekolah, yah” mungkin ucapan Dimas akan membuat Ayahnya kecewa.

“Engga papa, nak. Nanti Ayah urus sekolah kamu yang baru disini ya” Dimas tersenyum mendengar perkataan Ayahnya.

“Halo! Ini yang namanya Ka Dimas, ya!” seruan bocah membuat Dimas sedikit terkejut. Mereka memberi salam dan memperkenalkan diri kepada Dimas lalu, mencium tangannnya seperti seorang adik yang menghormati kakaknya.

“Ka Dimas bakal tinggal sama kita kan, bu?” tanya Luna, si bungsu.

“Coba tanya sama Ka Dimasnya..” semua menatap ke arah Dimas.

“Ka Dimas mau kan, ya? Jadi bisa nemenin Dafa maen mobil-mobilan” perkataan Dafa membuat Dimas tersenyum. Dimas mengelus kepala si kecil Dafa.

“Iya, kalau boleh..” jawab Dimas malu-malu dan masih terlihat canggung.

“Tentu aja boleh, nak!” Ayahnya melanjutkan kata-kata Dimas.

Hati Dimas kini sudah benar-benar lega. Dia tak sabar menceritakan kepada Rhea tentang keluarga barunya. Tak ada lagi yang mengganjal di hati Dimas. Dia ingin melanjutkan hidupnya bersama orang-orang di sekitarnya yang menyayangi dirinya. Kini, Dimas sudah menemukan sepenuh kebahagiannya.

*****

Kehilangan mengajarkan kita untuk belajar mengikhlaskan walau terkadang menyakitkan. Bukan bersembunyi tapi, dihadapi! 

0 komentar:

Posting Komentar