Aku melupakan sejenak kerinduanku dengan memulai aktivitas baru di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang edukasi keuangan. Aku bekerja sesuai passionku dan waktu yang kuhabiskan disana lebih lama dari sebelumnya. Pekerjaan dan lingkungan kerjaku menyenangkan. Aku juga mempunyai Boss yang terkadang menyebalkan. Namun, satu hal yang kusukai darinya adalah tidak adanya pembatas antara atasan dan bawahan. Selain menjadi Boss, ia bisa menjadi seorang partner yang menyenangkan. Ia adalah Boss yang bisa menerima segala keanehan dan keunikkanku. Selama aku pernah bekerja, dia adalah Boss terbaik yang pernah kumiliki. Aku tak selamanya bekerja di perusahaan itu. Sudah 3 bulan sejak aku menyatakan untuk mengundurkan diri. Awalnya mungkin terasa berat karena Bossku tak mengizinkanku meninggalkan dirinya. Tapi, hari ini aku sudah bernafas lega dan berkeliaran bebas, pergi jauh dari kehidupannya. Setelah hari itu, ia mengatakan "It was a big honour to have a chance work together with you". Aku pun begitu, bisa menjadi partner kerja sekaligus seorang teman adalah kesempatan terbesar yang diberikan Tuhan padaku. Dan untuk mencapai puncak terkadang dibutuhkan pengorbanan hingga kau perlu menantang dirimu dengan keluar dari zona nyaman.
Tak ada yang abadi
Tak ada yang abadi
Banyak cerita dan pengalaman yang
kualami di tahun 2018. Dari pertemuan yang menyenangkan hingga berakhir pada
sebuah perpisahan. Hampir sudah di penghujung tahun 2018, memori-memori suka
maupun duka yang tersimpan dalam ingatan kini hanya menjadi sebuah kenangan
masa lalu. Tak ada yang perlu disalahkan ataupun disesalkan disini, mungkin
memang sudah masanya saja. Ada yang hadir lalu pergi, kembali lagi dan bahkan
tak pernah kembali untuk selamanya, atau memang begitukah irama kehidupan?.
Kurasa, aku sendiri tak mempunyai jawaban yang pasti.
Satu yang pasti, setiap orang yang
hadir di hidupmu mempunyai satu tujuan, agar kau belajar tentang makna dan arti
dari kehidupan. Menghargai setiap waktu yang diberikan berikut pertemuan yang
ditakdirkan, disengaja ataupun tidak. Ada cerita menarik sendiri yang kau
dapatkan dari sebuah kisah, entah itu indah atau memberikan luka. Aku bersyukur
atas serangkaian cerita yang tertulis sampai hari ini. Ada bahagia yang
tercipta, sedih yang tak mampu diungkapkan, kecewa yang berkepanjangan, emosi
yang tak tertahan dan tangis mengharukan dan tak berkesudahan. Semua itu bagai
permen nano-nano, berjuta rasa ketika masuk ke dalam mulutmu.
Berjuta
rasa membuat siapa pun akan merasa ketagihan bahkan kecanduan ketika rasa bahagia
menghampirinya. Namun, bagaimana ketika kau dihadapkan dengan kesedihan,
membuat dirimu terluka bahkan derita yang kau rasakan. Sekali saja merasa
terluka, apakah ada rasa ingin atau ketagihan yang berkepanjangan? Tentu saja,
tak ada seorang pun berharap datang kesedihan yang pada akhirnya hanya membuat
luka semata. Tak mungkin kan merasakan sakit berkali-kali, terus-menerus tanpa
henti. Walaupun sakit, tetap harus bangkit, menata hari-hari ke depan menjadi
lebih baik.
Pastinya
akan ada pembelajaran dari sebuah sakit yang dirasakan. Mungkin terasa perih
awalnya, namun kau akan tau dan sadar hal itu untuk menguji seberapa kuat
dirimu, mengajarkan bahwa hidup tak mudah, banyak rintangan di depan dan kau
harus mampu menghadapi setiap halangan dan rintangan. Jika berkali-kali gagal, tak
boleh putus asa dan menyerah. Segera dirimu bangkit dan jadikan sebagai satu pembelajaran
untuk membuat dirimu semakin dewasa dalam menyikapinya. Begitu juga gagal
karena putus cinta. Jangan berpikir bahwa tak akan ada lagi cinta yang lain, yang
tercipta untukmu. Seperti kata pepatah, putus satu tumbuh seribu, bukan? J
Sudah
kukatakan, setiap orang yang hadir di hidupmu memberikan sebuah arti dan cerita
untukmu. Namun, orang-orang ini tak akan selamanya menemanimu. Tak akan
selamanya menghadirkan suka ataupun duka di hidupmu. Setiap orang mempunyai
masanya, bukan?
Ketika aku beranjak remaja, tak ada yang
kupikirkan selain belajar dan mempunyai banyak teman di sekolah. Semua terasa
membahagiakan saat itu. Namun, ketika kelulusan di depan mata, aku berpikir
bahwa hari itu mungkin menjadi hari-hari terakhir untuk bertemu, bercanda dan
tertawa. Hingga akhirnya waktu perpisahan pun datang dan membuatku kehilangan
mereka dan kebersamaan yang sudah lama ada.
Masa-masa
di Sekolah pun berakhir. Lalu, aku menginjak bangku kuliah. Kegiatanku sama
seperti di sekolah dahulu. Belajar, mempunyai banyak teman dan mencari kagiatan
di kampus untuk bekalku sebelum memasuki dunia kerja. Hal itu terpikirkan
setelah berada di tingkat tiga. Aku semakin disibukkan oleh tugas-tugas kuliah
baik individu ataupun kelompok. Waktuku juga kuhabiskan di ruang laboratorium
ketika tak ada jadwal kuliah. Selain kuliah, aku juga menghabiskan waktu
bersama teman-teman seperjuangan, mengukir banyak cerita membahagiakan dan
memalukan, hanya untuk melupakan sejenak tugas-tugas yang memusingkan kepala.
Sampai
pada akhirnya, kami benar-benar sibuk menyelesaikan tugas akhir sebelum kami
ditetapkan menjadi sarjana. Para calon sarjana ini mengerjakan siang dan malam
skripsinya dan bolak-balik menemui dosen pembimbing untuk berkonsultasi
mengenai sampai sejauh mana skripsi yang sudah dibuat. Tak mudah dan bahkan ada
saja halangan yang kuhadapi saat itu. Sampai pada hari itu, dosen pembimbingku
menyatakan skripsiku telah usai dan memintaku untuk segera mendaftarkan sidang kedua
agar aku mendapatkan wisuda pertama di bulan Oktober. Waktu yang terkesan
mendesak, membuatku berpikir apakah mungkin aku bisa mendaftar sidang kedua?
Toh bagiku wisuda kedua yang diselenggarakan di bulan Desember pun tak menjadi
masalah.
Sungguh
tak disangka, namaku terdaftar menjadi mahasiswi yang mengikuti sidang kedua. Proses
ketika dan sesudah sidang skripsi penuh dengan drama dan airmata. Dosen
pembimbingku tak memberikan kesulitan saat revisi skripsiku. Dengan cepat, aku
bisa mengikuti wisuda pertama di bulan Oktober. Aku tak pernah membayangkan
sekalipun. Beribu-ribu syukur yang kuucapkan saat itu. Aku mampu mewujudkan mimpiku
dan memberikan satu kebahagiaan lagi untuk orangtuaku, yaitu menjadi seorang Sarjana
Ekonomi. Walaupun aku bukan mahasiswi yang lulus dengan nilai Cum Laude, namun
aku bangga menjadi mahasiswi yang lulus tepat waktu dan melihat kebahagiaan
terpancar di wajah kedua orangtuaku. Setidaknya, aku telah mewujudkan salah
satu impian mereka.
Setelah
lulus kuliah, teman-teman seperjuanganku mengikuti jejakku. Mereka menjadi
wisudawan dan wisudawati di bulan desember. Walaupun aku tak bisa menghadiri
acara kelulusan mereka seperti mereka menghadiri hari kelulusanku, aku
mengirimkan ucapan bahagia dan selamat dari jarak jauh berikut permohonan maaf
dikarenakan tak bisa menyaksikan moment bahagia mereka. Sebuah pertemanan tak
akan berakhir kan jika salah satu temanmu tak bisa hadir di hari bahagiamu?
Kita akan berteman bahkan ketika dunia kuliah pun berakhir. Selalu menjadi
teman walaupun frekuensi pertemuan tak lagi sama seperti dulu. Itulah yang
kurasakan ketika perkuliahan sudah berakhir dan kami sibuk dengan dunia kerja.
Dunia
kerja memang berbeda. Ketika sekolah dan kuliah, kau hanya memikirkan belajar
dan berteman, ketika kau bekerja mulai memikirkan hal-hal untuk masa depanmu,
mau bagaimana dan menjadi seperti apa. Tanggung jawabmu juga semakin besar
disini. Di dunia kerja, kau akan bertemu banyak orang dengan karakter dan usia
yang berbeda darimu dan bagaimana kamu bisa berkerja dengan baik serta
beradaptasi dengan lingkungan kerjamu. Seseorang pernah berkata padaku “Saat
kamu bekerja, cintai pekerjaanmu bukan lingkungannya”. Dulu aku tak mengerti
maksudnya. Tapi, saat ini aku tau jika aku mencintai pekerjaanku maka aku juga
akan mencintai lingkungan kerjaku. Bukankah benar begitu?
Pengalaman
kerjaku sudah berpindah-pindah ke berbagai tempat. Namun, aku bukanlah kutu loncat, yang
sebentar masuk kemudian keluar. Pengalaman pertamaku bekerja tidaklah
menyenangkan. Setelah itu, aku bekerja di sebuah perusahaan IT untuk waktu yang
cukup lama. Disitu seperti rumah kedua bagiku. Walaupun bukan sesuai passion,
tapi banyak cerita dan moment-moment bahagia yang tercipta. Selain itu, aku
bertemu orang-orang hebat di bidang Programming. Mungkin dari situlah muncul
rasa kekaguman tersendiri dengan seorang Programmer. Tapi, sayang lingkungan
kerja yang nyaman tak menjamin waktu kebersamaan yang lama juga. Satu persatu
mengucapkan selamat tinggal, termasuk diriku. Terkadang aku merindukan
masa-masa yang sudah lewat. Tapi, kehidupan sudah seharusnya berjalan terus,
bukan? Terkadang aku hanya merindukan orang-orangnya saja. Mungkin dikarenakan
telah sekian lama tak bertemu.
Begitulah cerita yang ingin kutuliskan
tentang kehidupanku sampai dengan detik ini. Seperti kukatakan di awal apakah memang
begitu irama kehidupan? Ada seseorang yang datang, ada juga seseorang yang
harus pergi. Tampaknya memang begitulah dinamika kehidupan. Memang sudah masanya
saja yang telah berakhir dan mesti berganti. Aku menyadari satu hal, seseorang
yang berada di sampingmu tak akan selamanya selalu ada. Apa dan semua yang kau
rasakan hari ini, itulah yang kau rasakan saat itu. Esok dan seterusnya kau tak
akan pernah tau. Kehidupan memang seperti sebuah misteri. Kau akan merasakan
sebuah pertemuan, perpisahan dan kehilangan. Waktu tak akan berhenti ketika kau
merasa sudah nyaman di zona waktu tertentu.
Kehidupan juga bagaikan sebuah
panggung sandiwara. Kita hanyalah sekelompok pemain yang menjalankan skenario
yang telah dituliskan oleh Tuhan selaku sutradara kehidupan. Tak ada yang abadi
di dunia ini. Semua yang ada di dunia akan kembali lagi padaNya. Oleh karena
itu, hargai waktumu selagi kamu bisa menghabiskan waktumu bersama orang-orang
yang kau sayangi. Ciptakan moment-moment bahagia bersama mereka. Katakan bila
perlu jika kau menyayangi mereka sebelum waktu terlambat dan perpisahan membuat
kau tak akan bisa lagi melihatnya. Jika kau mempunyai sedikit waktu terkadang memang
perlu mengatur jadwal pertemuan untuk sekedar bertemu dan menumpahkan rasa
rindu, tak memutus tali silaturahmi yang sudah terjalin. Itu yang akan
kulakukan ketika rasa rindu singgah di dada untuk mereka-mereka yang pernah
hadir di hidupku. Aku tak akan segan-segan meluangkan waktu agar rasa rinduku
terbayar.
0 komentar:
Posting Komentar