Seseorang selalu ingin didengar dan punya tempat untuk bercerita. Sedang aku memilih berteman dengan sepi. Di satu ruang aku mampu menumpahkan segala lara yg tak mampu kuutarakan lewat kata. Tak apa, karna ini tentang dia yg membuatku jatuh cinta. Kadang kecewa, kadang juga bahagia. Meski dia sering kali menciptakan mendung dan airmata di langitku. Tapi, aku percaya bukankah akan ada pelangi setelahnya?

Senin, 07 Januari 2019

Tak ada yang abadi

Januari 07, 2019 Posted by Debby Nuramiruddin No comments

Tak ada yang abadi

Banyak cerita dan pengalaman yang kualami di tahun 2018. Dari pertemuan yang menyenangkan hingga berakhir pada sebuah perpisahan. Hampir sudah di penghujung tahun 2018, memori-memori suka maupun duka yang tersimpan dalam ingatan kini hanya menjadi sebuah kenangan masa lalu. Tak ada yang perlu disalahkan ataupun disesalkan disini, mungkin memang sudah masanya saja. Ada yang hadir lalu pergi, kembali lagi dan bahkan tak pernah kembali untuk selamanya, atau memang begitukah irama kehidupan?. Kurasa, aku sendiri tak mempunyai jawaban yang pasti.
            Satu yang pasti, setiap orang yang hadir di hidupmu mempunyai satu tujuan, agar kau belajar tentang makna dan arti dari kehidupan. Menghargai setiap waktu yang diberikan berikut pertemuan yang ditakdirkan, disengaja ataupun tidak. Ada cerita menarik sendiri yang kau dapatkan dari sebuah kisah, entah itu indah atau memberikan luka. Aku bersyukur atas serangkaian cerita yang tertulis sampai hari ini. Ada bahagia yang tercipta, sedih yang tak mampu diungkapkan, kecewa yang berkepanjangan, emosi yang tak tertahan dan tangis mengharukan dan tak berkesudahan. Semua itu bagai permen nano-nano, berjuta rasa ketika masuk ke dalam mulutmu.
            Berjuta rasa membuat siapa pun akan merasa ketagihan bahkan kecanduan ketika rasa bahagia menghampirinya. Namun, bagaimana ketika kau dihadapkan dengan kesedihan, membuat dirimu terluka bahkan derita yang kau rasakan. Sekali saja merasa terluka, apakah ada rasa ingin atau ketagihan yang berkepanjangan? Tentu saja, tak ada seorang pun berharap datang kesedihan yang pada akhirnya hanya membuat luka semata. Tak mungkin kan merasakan sakit berkali-kali, terus-menerus tanpa henti. Walaupun sakit, tetap harus bangkit, menata hari-hari ke depan menjadi lebih baik.
            Pastinya akan ada pembelajaran dari sebuah sakit yang dirasakan. Mungkin terasa perih awalnya, namun kau akan tau dan sadar hal itu untuk menguji seberapa kuat dirimu, mengajarkan bahwa hidup tak mudah, banyak rintangan di depan dan kau harus mampu menghadapi setiap halangan dan rintangan. Jika berkali-kali gagal, tak boleh putus asa dan menyerah. Segera dirimu bangkit dan jadikan sebagai satu pembelajaran untuk membuat dirimu semakin dewasa dalam menyikapinya. Begitu juga gagal karena putus cinta. Jangan berpikir bahwa tak akan ada lagi cinta yang lain, yang tercipta untukmu. Seperti kata pepatah, putus satu tumbuh seribu, bukan? J
            Sudah kukatakan, setiap orang yang hadir di hidupmu memberikan sebuah arti dan cerita untukmu. Namun, orang-orang ini tak akan selamanya menemanimu. Tak akan selamanya menghadirkan suka ataupun duka di hidupmu. Setiap orang mempunyai masanya, bukan?
Ketika aku beranjak remaja, tak ada yang kupikirkan selain belajar dan mempunyai banyak teman di sekolah. Semua terasa membahagiakan saat itu. Namun, ketika kelulusan di depan mata, aku berpikir bahwa hari itu mungkin menjadi hari-hari terakhir untuk bertemu, bercanda dan tertawa. Hingga akhirnya waktu perpisahan pun datang dan membuatku kehilangan mereka dan kebersamaan yang sudah lama ada.
            Masa-masa di Sekolah pun berakhir. Lalu, aku menginjak bangku kuliah. Kegiatanku sama seperti di sekolah dahulu. Belajar, mempunyai banyak teman dan mencari kagiatan di kampus untuk bekalku sebelum memasuki dunia kerja. Hal itu terpikirkan setelah berada di tingkat tiga. Aku semakin disibukkan oleh tugas-tugas kuliah baik individu ataupun kelompok. Waktuku juga kuhabiskan di ruang laboratorium ketika tak ada jadwal kuliah. Selain kuliah, aku juga menghabiskan waktu bersama teman-teman seperjuangan, mengukir banyak cerita membahagiakan dan memalukan, hanya untuk melupakan sejenak tugas-tugas yang memusingkan kepala.
            Sampai pada akhirnya, kami benar-benar sibuk menyelesaikan tugas akhir sebelum kami ditetapkan menjadi sarjana. Para calon sarjana ini mengerjakan siang dan malam skripsinya dan bolak-balik menemui dosen pembimbing untuk berkonsultasi mengenai sampai sejauh mana skripsi yang sudah dibuat. Tak mudah dan bahkan ada saja halangan yang kuhadapi saat itu. Sampai pada hari itu, dosen pembimbingku menyatakan skripsiku telah usai dan memintaku untuk segera mendaftarkan sidang kedua agar aku mendapatkan wisuda pertama di bulan Oktober. Waktu yang terkesan mendesak, membuatku berpikir apakah mungkin aku bisa mendaftar sidang kedua? Toh bagiku wisuda kedua yang diselenggarakan di bulan Desember pun tak menjadi masalah.
          Sungguh tak disangka, namaku terdaftar menjadi mahasiswi yang mengikuti sidang kedua. Proses ketika dan sesudah sidang skripsi penuh dengan drama dan airmata. Dosen pembimbingku tak memberikan kesulitan saat revisi skripsiku. Dengan cepat, aku bisa mengikuti wisuda pertama di bulan Oktober. Aku tak pernah membayangkan sekalipun. Beribu-ribu syukur yang kuucapkan saat itu. Aku mampu mewujudkan mimpiku dan memberikan satu kebahagiaan lagi untuk orangtuaku, yaitu menjadi seorang Sarjana Ekonomi. Walaupun aku bukan mahasiswi yang lulus dengan nilai Cum Laude, namun aku bangga menjadi mahasiswi yang lulus tepat waktu dan melihat kebahagiaan terpancar di wajah kedua orangtuaku. Setidaknya, aku telah mewujudkan salah satu impian mereka.
            Setelah lulus kuliah, teman-teman seperjuanganku mengikuti jejakku. Mereka menjadi wisudawan dan wisudawati di bulan desember. Walaupun aku tak bisa menghadiri acara kelulusan mereka seperti mereka menghadiri hari kelulusanku, aku mengirimkan ucapan bahagia dan selamat dari jarak jauh berikut permohonan maaf dikarenakan tak bisa menyaksikan moment bahagia mereka. Sebuah pertemanan tak akan berakhir kan jika salah satu temanmu tak bisa hadir di hari bahagiamu? Kita akan berteman bahkan ketika dunia kuliah pun berakhir. Selalu menjadi teman walaupun frekuensi pertemuan tak lagi sama seperti dulu. Itulah yang kurasakan ketika perkuliahan sudah berakhir dan kami sibuk dengan dunia kerja.
        Dunia kerja memang berbeda. Ketika sekolah dan kuliah, kau hanya memikirkan belajar dan berteman, ketika kau bekerja mulai memikirkan hal-hal untuk masa depanmu, mau bagaimana dan menjadi seperti apa. Tanggung jawabmu juga semakin besar disini. Di dunia kerja, kau akan bertemu banyak orang dengan karakter dan usia yang berbeda darimu dan bagaimana kamu bisa berkerja dengan baik serta beradaptasi dengan lingkungan kerjamu. Seseorang pernah berkata padaku “Saat kamu bekerja, cintai pekerjaanmu bukan lingkungannya”. Dulu aku tak mengerti maksudnya. Tapi, saat ini aku tau jika aku mencintai pekerjaanku maka aku juga akan mencintai lingkungan kerjaku. Bukankah benar begitu?
          Pengalaman kerjaku sudah berpindah-pindah ke berbagai tempat.  Namun, aku bukanlah kutu loncat, yang sebentar masuk kemudian keluar. Pengalaman pertamaku bekerja tidaklah menyenangkan. Setelah itu, aku bekerja di sebuah perusahaan IT untuk waktu yang cukup lama. Disitu seperti rumah kedua bagiku. Walaupun bukan sesuai passion, tapi banyak cerita dan moment-moment bahagia yang tercipta. Selain itu, aku bertemu orang-orang hebat di bidang Programming. Mungkin dari situlah muncul rasa kekaguman tersendiri dengan seorang Programmer. Tapi, sayang lingkungan kerja yang nyaman tak menjamin waktu kebersamaan yang lama juga. Satu persatu mengucapkan selamat tinggal, termasuk diriku. Terkadang aku merindukan masa-masa yang sudah lewat. Tapi, kehidupan sudah seharusnya berjalan terus, bukan? Terkadang aku hanya merindukan orang-orangnya saja. Mungkin dikarenakan telah sekian lama tak bertemu.

Aku melupakan sejenak kerinduanku dengan memulai aktivitas baru di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang edukasi keuangan. Aku bekerja sesuai passionku dan waktu yang kuhabiskan disana lebih lama dari sebelumnya. Pekerjaan dan lingkungan kerjaku menyenangkan. Aku juga mempunyai Boss yang terkadang menyebalkan. Namun, satu hal yang kusukai darinya adalah tidak adanya pembatas antara atasan dan bawahan. Selain menjadi Boss, ia bisa menjadi seorang partner yang menyenangkan. Ia adalah Boss yang bisa menerima segala keanehan dan keunikkanku. Selama aku pernah bekerja, dia adalah Boss terbaik yang pernah kumiliki. Aku tak selamanya bekerja di perusahaan itu. Sudah 3 bulan sejak aku menyatakan untuk mengundurkan diri. Awalnya mungkin terasa berat karena Bossku tak mengizinkanku meninggalkan dirinya. Tapi, hari ini aku sudah bernafas lega dan berkeliaran bebas, pergi jauh dari kehidupannya. Setelah hari itu, ia mengatakan "It was a big honour to have a chance work together with you". Aku pun begitu, bisa menjadi partner kerja sekaligus seorang teman adalah kesempatan terbesar yang diberikan Tuhan padaku. Dan untuk mencapai puncak terkadang dibutuhkan pengorbanan hingga kau perlu menantang dirimu dengan keluar dari zona nyaman. 

Begitulah cerita yang ingin kutuliskan tentang kehidupanku sampai dengan detik ini. Seperti kukatakan di awal apakah memang begitu irama kehidupan? Ada seseorang yang datang, ada juga seseorang yang harus pergi. Tampaknya memang begitulah dinamika kehidupan. Memang sudah masanya saja yang telah berakhir dan mesti berganti. Aku menyadari satu hal, seseorang yang berada di sampingmu tak akan selamanya selalu ada. Apa dan semua yang kau rasakan hari ini, itulah yang kau rasakan saat itu. Esok dan seterusnya kau tak akan pernah tau. Kehidupan memang seperti sebuah misteri. Kau akan merasakan sebuah pertemuan, perpisahan dan kehilangan. Waktu tak akan berhenti ketika kau merasa sudah nyaman di zona waktu tertentu.   
Kehidupan juga bagaikan sebuah panggung sandiwara. Kita hanyalah sekelompok pemain yang menjalankan skenario yang telah dituliskan oleh Tuhan selaku sutradara kehidupan. Tak ada yang abadi di dunia ini. Semua yang ada di dunia akan kembali lagi padaNya. Oleh karena itu, hargai waktumu selagi kamu bisa menghabiskan waktumu bersama orang-orang yang kau sayangi. Ciptakan moment-moment bahagia bersama mereka. Katakan bila perlu jika kau menyayangi mereka sebelum waktu terlambat dan perpisahan membuat kau tak akan bisa lagi melihatnya. Jika kau mempunyai sedikit waktu terkadang memang perlu mengatur jadwal pertemuan untuk sekedar bertemu dan menumpahkan rasa rindu, tak memutus tali silaturahmi yang sudah terjalin. Itu yang akan kulakukan ketika rasa rindu singgah di dada untuk mereka-mereka yang pernah hadir di hidupku. Aku tak akan segan-segan meluangkan waktu agar rasa rinduku terbayar.

0 komentar:

Posting Komentar