Desember
Desember? Ada cerita apa di
bulan desember? Apakah terjadi sesuatu yang istimewa? Ya begitulah, bukan
perihal satu atau dua perkara, bulan desember kali ini berbeda dari sebelumnya.
Desember kali ini terdapat awal dari sebuah cerita sedih dan kecewa yang tak
mampu diungkapkan, emosi yang tak tertahan, tangis yang tak berkesudahan dan
sebuah akhir bahagia yang tercipta. Selain itu, di bulan desember usiaku
bertambah satu. Dahulu aku yang masih kanak-kanak begitu bahagianya ketika
mendekati hari bahagia itu, berharap mendapatkan banyak hadiah. Namun, seiring
berjalannya waktu rasa itu semakin pudar dan sudah menjadi hal biasa ketika
usiamu bertambah satu. Hadiah berupa sebuah doa saja sudah cukup rasanya.
Desember ini, banyak
pembelajaran yang aku terima. Bahkan ada cerita sedih di bulan desember.
Tangisku tak berkesudahan bahkan ketika aku memejamkan mata sekalipun. Seperti
bermimpi buruk, aku berharap cepat terbangun. Tapi sayang itu bukanlah bunga
tidur, melainkan kenyataan yang mesti kuhadapi seorang diri. Dari luar aku
memang tampak cuek, tak peka terhadap lingkungan, namun hatiku sangat sensitif
ketika seseorang terdekatku berhasil menyakiti atau mematahkan hatiku. Aku akan
menjadi manusia terbodoh di dunia, menangis dan menyalahkan diriku sendiri.
Bila kuingat kembali
hari itu, keadaanku memang benar-benar terpuruk saat itu. Saat aku berhasil
bangkit namun, sebuah kata-kata saja mampu menggoyahkan diriku dan membuatku terjatuh
lagi. Terkadang, dari hanya sebuah kata mampu menusuk hatimu, sulit terlupakan
dan mungkin akan terus terkenang. Kata-katanya membuatku tak kuasa menyalahkan
diriku habis-habisan dan menangis sepanjang malam, berharap mimpi ini
berkesudahan. Jika belum, aku berharap mempunyai kantong milik doraemon dan
akan kukeluarkan pintu kemana saja, pintu untuk kembali ke waktu itu. Jika aku
bisa kembali dan memperbaiki waktu yang sudah berlalu, akan aku lakukan. Tapi
nyatanya hari itu menangis adalah satu-satunya yang bisa kulakukan ketika aku
sendiri tak mampu mengendalikan diri.
Apakah
aku melakukan kesalahan besar? Apakah aku melakukan sebuah dosa besar? Jika
menurutnya aku salah, apakah aku pantas diperlakukan seperti itu? Mengapa ia
tak berperasaan? Bukankah setiap manusia mempunyai hati. Apakah ia tak punya
hati dan tak peduli pada perasaanku?
Saat itu, dunia memang sedang tidak berpihak
padaku. Butuh waktu lama menenangkan diri. Tapi, malam itu aku tak merasa
sendirian. Kau hadir dari balik sambungan telepon itu, mendengar isak tangisku
yang menjadi-jadi dan berusaha menenangkan diriku. Malam itu, aku bersyukur
memilikimu di sampingku. Hingga keesokkan harinya, kamu mengajak bertemu. Kau
yang sedikit kata hari itu, akulah yang banyak bicara, menumpahkan kesedihan
dan kekesalanku yang menumpuk.
Kau
tau apa yang paling nyaman ketika kamu menangis dan ingin melampiaskan seluruh
emosimu? Sebuah pelukan dari seseorang adalah hal paling nyaman untuk meredakan
emosimu. Kala itu kau memelukku begitu erat, menghapus airmata yang jatuh di
pipiku. Kau membuatku di posisi ternyaman setelah melewati malam yang kelam.
Tuhan mendengarkan pintaku, ia menghadirkan dirimu untuk menemani kala bahagia
ataupun sedih dan menghapus airmataku. Entah bagaimana jadinya jika kala itu
aku menghadapinya sendirian tanpa adanya pelukan darimu. Sedikit juga
menyadarkanku, bahwa aku tak sendirian. Selain Tuhan disampingku, kehadirannya
menjadi pelengkap hidupku.
Lalu
bagaimana setelah hari itu? Aku yang hari ini menjadi jauh lebih baik. Aku tak
mau lagi mengingat kembali dan bahkan sampai hari ini aku ingin menghapus
kenangan buruk itu. Tak cuma kenangan buruk, kenangan baik pun terjadi di bulan
desember. Seperti yang kukatakan di awal, usia ku bertambah dan hal-hal
istimewa apa yang terjadi pada hari itu? Tidak ada yang begitu sangat istimewa
sampai aku tak bisa tidur memikirkannya. Hanya saja, ini tahun kedua aku
melewati hari bahagiaku bersamanya. Pada tgl 28, kau menemuiku di tempat itu.
Diam-diam, aku memasuki mobilmu dan dengan wajah tersenyum kau memberikan
sebuah kantong dan mengucapkan selamat ulang tahun. Kantong itu berisi kue
ulang tahun dengan tulisan yang salah, lilin yang belum terpasang dan tanpa
korek ditambah tanpa hadiah.
Dia
bukanlah sosok laki-laki dengan hal-hal romantis. Laki-laki dengan kata-kata
sederhana tapi aku menyukainya. Hal yang tak dilupakan, ia memelukku dan
kemudian menciumku. Bagiku, hadiah terindah di hidupku adalah pertemuan ajaib
dengannya hingga sampai hari ini aku masih bersamanya dan akan terus bersama.
Itulah keinginan sederhanaku di usiaku yang bertambah hari itu, selain
keinginan mendapatkan pekerjaan impian. Setelah itu, meluncur ke
sebuah mall untuk mewujudkan keinginanku. Kau tau apa yang paling
kuidam-idamkan sejak dulu ketika usiaku bertambah? Keinginanku mungkin sedikit
aneh, aku hanya menginginkan boneka beruang besar, pemberian seseorang yang
istimewa di hatiku.
Hari
itu ia mencoba mewujudkannya. Walaupun terkesan mendadak, aku menghargai
usahanya. Ia mengajakku dan membelikan boneka beruang besar yang kuinginkan. Alhasil
aku mendapatkannya dan menjadi sangat bahagia seperti anak kecil. Ia bahkan
bisa melihat rona bahagia terpancar di wajahku. Hari itu benar-benar istimewa
dan terindah di hidupku. Sekarang, aku tak lagi tidur sendirian. Boneka beruang
itu akan menemani kala malam dingin menyelimutiku. Boneka beruang itu akan
menjadi teman tidurku kala aku tiba-tiba merindukanmu. Boneka beruang itu akan
kujaga bersama barang-barang pemberianmu yang lain.
Hal yang terpenting yang ingin
kusampaikan adalah aku akan terus menuliskan banyak kenangan bersamamu di tahun
mendatang dan seterusnya. Hal yang kuharapkan adalah kita masih bersama-sama tanpa
kekurangan satu sedikitpun, mewujudkan impian bersama. Tanpa melihat ke
belakang atau yang sudah berlalu dan bangkit menatap masa depan, menggapai dan
membuktikan pada dunia bahwa aku bisa melewati hari-hari ke depan, bahkan hari buruk sekalipun.
0 komentar:
Posting Komentar