Punggung
itu
Kau
tahu apa yang ku suka?
Kau
tahu apa yang ku lakukan dalam diam?
Kau
tahu ketika mulutku tak bisa bersua, ketika aku tak bisa mengatakan apa yang
ingin ku katakan?
Ketika
itu aku sedang memperhatikan punggungmu. Iya, aku menyukai setiap kali melihat
punggungmu dari belakang. Seperti kebiasaan yang diam-diam sering ku lakukan.
Ketika kau dan yang lainnya tengah sibuk dengan urusannya, aku sedang sibuk
dengan urusanku sendiri, sibuk mencuri-curi pandang hanya untuk melihat
punggungmu dari kejauhan.
Aku
menikmati kala itu, ketika aku tak mampu menatap wajahmu, aku lebih memilih
melihat punggungmu, membuatku tak berkutik dengan duniaku sendiri. Tak akan ada
orang yang tahu, begitu pula dirimu.
Entahlah
mengapa aku menyukai hal itu.
Disaat
seseorang lebih memilih menatap mata, aku mungkin berbeda. Aku akan memilih
menatap punggungmu lebih lama tanpa seorang pun yang tahu, mengkhayal tentang
khayalan gilaku tentangmu.
Pernah
akalku bertanya, apakah rasanya bila bersandar dipunggungmu? Apakah rasanya
seperti permen nano-nano? Berjuta rasanya, hingga hanya ada rasa bahagia
didalam hatiku?
Tuhan
andaikan khayalanku bisa bersandar dipunggungnya bukan hanya sekedar khayalan
dapatkah aku merasakannya? Apakah akan berdebar-debar sama seperti aku hanya
melihat dia?
Kadang
sesekali aku memejamkan mata, membayangkan bersandar tanpa beban dipunggungmu
dan kau sedang sibuk dengan duniamu. Lagi-lagi itu hanya sekedar khayalan,
hanya khayalan semata.
Tapi,
bila terbesit harapan kecil dihati ini, mungkinkah khayalan bukan hanya sekedar
khayalan?
0 komentar:
Posting Komentar